Kesedihan akan Menyakitimu, Menghentikan Jantungmu (Majalah Mimbar, Surabaya, edisi Juni 2010)

oleh M. Yusuf Suseno

Judul artikel ini terdengar seperti kalimat gombal bila keluar dari mulut seorang lelaki muda pada kekasihnya. Tapi kalau ia muncul dari seorang suami pada istrinya yang berusia 50 tahun, menopause, dan memiliki riwayat darah tinggi, maka itu bukan rayuan semata. Apalagi bila kesedihan sang istri tercinta disertai rasa putus asa dan hilang harapan, yang merupakan salah satu gejala awal dari depresi.

Beberapa penelitian rata-rata menunjukkan bahwa depresi meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner antara 1,5 hingga 2 kali lipat. Bahkan salah satu penelitian menghasilkan data yang lebih menghentak. Resiko kematian karena penyakit jantung meningkat hingga 3,9 kali pada penderita depresi dibandingkan yang tidak! Angka yang cukup mengagetkan ya?

Bagaimana dengan Anda yang terlanjur memiliki penyakit jantung koroner, tetapi tak bersedia melakukan kateterisasi jantung, memasang stent untuk membuka pembuluh darah yang menyempit, apalagi bedah jantung untuk memperbaiki pembuluh darah yang terlanjur buntu di beberapa tempat? Bila kita membiarkan depresi menggerogoti jiwa, maka sebuah penelitian menghasilkan resiko kematian hingga 69 %! Hmm, mengapa hal itu bisa terjadi?

Depresi menyerang jantung melalui dua pintu. Pintu pertama adalah dari pengaruh depresi terhadap kehidupan sosial dan kebiasaan sehari-hari. Penderita depresi mudah terjebak dalam kebiasaan merokok, dan rokok membuat penyakit jantung koroner datang menghampiri. Selain itu depresi juga membuat kita lengah. Penderita darah tinggi yang depresi malas meminum obatnya. Diabetisi yang depresi tidak mengontrol pola makan dan lupa anjuran dokter. Dan penderita jantung dengan depresi akan melupakan obat-obat jantung yang seharusnya diminum secara teratur.

Pintu kedua adalah dari pengaruh depresi terhadap tubuh kita. Depresi membuat kadar hormon kortisol meningkat. Ia juga mengganggu fungsi sel beku darah (trombosit). Perpaduan antara peningkatan hormon kortisol dan gangguan fungsi sel beku darah mempercepat proses penyempitan pembuluh darah, memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah jantung.

Depresi juga menyebabkan terjadinya peningkatan reaksi radang dalam tubuh, yang ternyata juga menjadi salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Terakhir, depresi juga menyebabkan terganggunya fungsi otonom tubuh.

Fungsi otonom ini digambarkan lewat variabilitas denyut jantung. Pada orang normal, frekuensi denyut jantung yang rendah saat istirahat, kemampuan jantung untuk segera meningkatkan denyutnya saat aktivitas dan secepatnya menurunkan frekuensi denyut setelah aktivitas berakhir, menunjukkan fungsi otonom yang masih baik. Depresi mengganggu benteng alamiah jantung ini. Akibatnya, jantung jadi mudah mengalami gangguan irama jantung, dan bisa mengakibatkan kematian mendadak.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Pertama, kenalilah bibit gejala depresi dalam diri Anda. Anda sedih? Itu wajar kok. Sedih tidak selalu berarti depresi. Terutama bila memang ada yang patut disedihkan, serta tidak berlangsung berlarut-larut. Dan kesedihan seharusnya bisa dikurangi, meski sedikit demi sedikit, dengan dukungan atau simpati. Tapi bila Anda tetap merasa sedih setelah berpisah dengan orang yang Anda cintai, apalagi dengan kadar yang tak habis-habis, maka Anda patut mulai curiga pada diri Anda.

Nafsu makan yang menurun dalam jangka waktu lama juga bisa menjadi gejala dari depresi. Tubuh mengurus, dan tiap saat merasa lesu dan mudah lelah. Sulit tidur, sulit konsentrasi dan berpikir. Juga bila Anda kehilangan minat terhadap kegiatan yang dulunya Anda nikmati, seperti pekerjaan di kantor, hubungan suami istri, hobi memancing misalnya, atau sekedar ngobrol dengan keluarga. Atau entah mengapa selalu ada perasaan bersalah dalam diri Anda. Dan jika selintas saja dalam diri Anda pernah berkelebat wacana untuk bunuh diri, maka sangat besar kemungkinan Anda menderita depresi.

Tapi perlu diingat bahwa penyakit jantung tidak akan menunggu hingga gejala depresi menghebat. Salah satu sisi dari depresi, yakni hilang harapan alias putus asa, ternyata berhubungan dengan terjadinya kematian mendadak.

Silakan Anda jawab pertanyaan ini. “Pernahkah Anda dalam satu bulan ini merasa begitu sedih, kecewa, tanpa harapan dan memiliki begitu banyak masalah hingga seakan semua terasa tak berharga?” Apa jawaban Anda? Menurut suatu penelitian, jawaban “ya” pada pertanyaan tersebut, akan meningkatkan resiko serangan jantung hingga 2 kali lipat. Hmm, kesedihan ternyata betul-betul bisa menghentikan jantung ya?

Jadi ada baiknya Anda banyak tersenyum, juga tertawa untuk menghilangkan kesedihan dari hati Anda. Jika ternyata ia tetap mengendap dan enggan menghilang, segeralah mencari pertolongan. Orang tua, pasangan, sahabat, saudara dekat, pemuka agama, psikolog, mungkin bisa membantu. Tetapi bila terus menghebat, janganlah ragu untuk menghubungi dokter keluarga Anda.

Masih ingat lagu anak-anak yang dulu sering kita nyanyikan? Ternyata ia mengandung kebenaran yang terlupakan setelah kita dewasa. ”Susah itu tak ada gunanya… Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang…”

Hidup hanya sekali. Kesedihan hanya akan menyakiti, bahkan menghentikan jantungmu. Tersenyumlah 🙂  …

Syaukani, Antara Singapura dan Ponari (Kaltim Post 27/2/09)

Mengapa keluarga Pak Syaukani Hasan Rais, mantan bupati Kutai Kartanegara, ingin membawa beliau ke Singapura?(Kaltim Post 25/2/09) Apakah dokter di RS Pusat Pertamina tidak cukup kompeten untuk menangani Pak Syaukani? Apa mereka sudah angkat tangan? Meski kurang nyaman didengar, sangat wajar bila pertanyaan itu muncul. Apalagi karena keluarga merasa kondisi mantan pejabat yang tersandung kasus korupsi tersebut tak kunjung membaik setelah berminggu-minggu perawatan di rumah sakit.

Bagaimana jika kita bawakan air dari dukun cilik Ponari Jombang? Siapa tahu sembuh? Bukankah menurut kabar burung Ponari juga ampuh? Bukankah ia dipercayai beribu manusia?

Meski berbeda tempat, Singapura dan Jombang, keduanya menunjukkan satu sisi yang sama. Penurunan tingkat kepercayaan pada dunia kedokteran di Indonesia. Juga kegagalan Pemerintah, profesi dokter dan industri kesehatan dalam meyakinkan masyarakat tentang mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan yang paripurna.

Kita harus akui itu. Bukan buruk muka cermin dibelah. Tapi muka kitalah yang mesti dipoles dan diobati jerawat batunya.

Ada beberapa jerawat yang membuat muka dunia kedokteran dan pelayanan kesehatan di negeri kita kurang nyaman dipandang pasien. Akibatnya mereka pun lari ke Singapura, Penang, atau ke ‘dunia lain’, Jombang.

Masalah pertama dan terbesar adalah komunikasi. Menurut Emanuel, ada beberapa model komunikasi antara pasien dan dokter. Tipe tertua dalam tradisi kedokteran adalah model paternalistik, satu model yang masih banyak dipakai di Indonesia. Pada model itu, interaksi antara dokter dan pasien laksana orang tua dengan anaknya. Dokter memastikan bahwa pasien mendapat terapi terbaik. Tapi, jika terjadi efek samping, hubungan dokter-pasien itu pun bisa memburuk dengan cepat. Tuduhan malpraktek sangat mudah berkembang. Isu yang makin menurunkan tingkat kepercayaan.

Saat ini, sesuai perkembangan globalisasi dan media informasi, hubungan dokter-pasien dituntut untuk berubah. Salah satu model lain yang bisa menjadi pilihan adalah model informatif yang setara. Model informatif tersebut menciptakan transaksi terapetik yang lebih terbuka antara pemberi jasa dan konsumen, meski kadang terasa dingin dan tak melibatkan pribadi.

Risiko model informatif itu adalah waktu konsultasi jadi lebih lama, satu hal yang belum didukung oleh sistem kesehatan di Indonesia. Dokter spesialis di Indonesia harus bekerja di beberapa rumah sakit, praktek dari pagi hingga dini hari agar bisa hidup layak. Keramahan dan pendekatan personal yang diajarkan oleh para guru besar di fakultas kedokteran kadang terlupa.

Begitu pula dengan teman sejawat dokter umum. Siapa yang bisa menjamin para dokter di puskesmas, dengan jumlah pasien puluhan, akan sanggup memberikan informasi lengkap serta memberikan sambutan yang ramah pada pasien-pasiennya?

Hal yang mirip terjadi pula pada profesi paramedis, terutama yang bekerja di rumah sakit milik pemerintah. Menumpuknya pasien, berjubelnya pasien yang tidur di lorong rumah sakit, semua memberi beban kerja yang tinggi. Pendekatan pribadi kadang terlupakan. Rumah sakit pun terasa kering dan tak lagi ramah.

Masalah komunikasi akibat beban kerja tinggi tersebut sangat terkait dengan problem diagnosa dan terapi. Beban tersebut menyebabkan sebagian dokter dan perawat mengalami penurunan kinerja. Diburu-buru waktu. Berpindah dari satu pasien ke pasien lain. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Akibatnya pun jelas. Beberapa pasien merasa tidak puas, dan lari ke rumah sakit di luar negeri. Atau ke rumah Ponari.

Masalah keterbatasan alat dan teknologi kedokteran juga cukup mengganggu. Kita harus mengakui bahwa peralatan di puskesmas dan rumah sakit daerah belum cukup memadai dalam penanganan beberapa kasus rumit. Sehingga pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap, dengan dokter yang lebih ahli.

Sayangnya, tidak semua dokter merasa perlu membeberkan fakta tersebut. Sebagian dokter memiliki asumsi bahwa masyarakat Indonesia tidak akan sanggup membiayai pengobatan paripurna tersebut, dan mereka memang benar. Program Jamkesmas dari Pemerintah tidak menanggung biaya untuk transplantasi ginjal maupun transplantasi hati seperti yang dijalani Pak Dahlan Iskan. Namun, mulai kini ada baiknya profesi kedokteran memberikan informasi tentang penanganan maksimal yang bisa ditawarkan oleh dunia kedokteran modern. Informasi ini akan membuat masyarakat sadar bahwa bukan dokter Indonesia yang ‘kuper’, tapi memang ada keterbatasan dalam hal sarana yang terkait dana.

Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Kualitas fakultas kedokteran kita pun cukup baik. Banyak mahasiswa Malaysia yang belajar kedokteran ke Indonesia. Alat-alat di rumah sakit rujukan pun cukup lengkap. Bahkan Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik berada di luar keahlian mereka. Dalam jurnal-jurnal ilmiah mereka menyatakan hal itu.

Namun kelebihan mereka adalah dalam usaha untuk menyamankan pasien dan keluarganya. Jujur saja kita kalah dalam kesadaran dan kesiapan berbisnis kesehatan dibanding Singapura dan Penang. Begitu pasien datang di bandara mereka sudah siap mengantar. Pelayanan di rumah sakit pun begitu cepat. Mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi yang tak kembali.

Bagaimana dengan Ponari? Setali tiga uang dengan jalan pikiran keluarga Pak Syaukani, para pasien Ponari pun merasakan ketidakpuasan. Hanya saja mereka tak beruang. Rumah Ponari adalah rumah sakit rujukan mereka, Mount Elizabeth dan Singapore General Hospital mereka.

Sebagian dari mereka sembuh, banyak juga yang tidak. Inilah yang disebut dengan efek placebo. Efek plasebo adalah efek yang terjadi pada terapi tanpa substansi yang sesungguhnya. Pil palsu yang berisi gula dan gandum. Operasi tanpa pisau, bahkan tanpa menyentuh kulit pasien. Seorang ahli jiwa, Shapiro, mendefinisikan plasebo sebagai terapi apapun yang menggunakan efek psikologis dan reaksi fisiologi tubuh. Di sini hubungan antara pikiran dan tubuh diuji, hasil interaksi rumit antara si penyembuh, proses terapi, dan pasien itu sendiri.

Mereka yang berbondong mencari Ponari adalah mereka yang putus asa pada dunia kedokteran modern, lantas berpaling pada ‘dunia lain’. Dan menggunungnya harapan, disertai keyakinan yang tulus membuat mereka peka pada efek plasebo sebuah batu. Sebuah efek yang terbukti pada beberapa kasus bisa menyembuhkan. Akhirnya, praktek Ponari pun memiliki gaung yang melebihi terapi kedokteran konvensional

Akankah Pak Syaukani sembuh setelah sampai di Singapura? Akankah mereka yang berduyun ke Jombang menerima manfaat dari batu Ponari? Wallahu’alam.

Penulis :

dr. M. Yusuf Suseno, tengah bertugas di RSUD Taman Husada Bontang, Kalimantan Timur.

1965-1966, Hitam Putih (Surabaya Post 29/9/08)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Beberapa puluh tahun lalu seorang anak membuat ibunya menangis. Saat itu mereka tengah berziarah kubur, dan ia hanya bertanya. “Ibu, dimana makam kakek? Mengapa tiap menjelang Ramadan kita hanya mengunjungi nisan nenek Bu?” Sang Ibu terhenyak. Ia terduduk, termenung lama. Air mata menetes dalam diam.

Terkejut dengan tangis tanpa suara itu, baru beberapa tahun kemudian ia mencari tahu kembali. Beberapa orang memilih diam yang sama. Saat akhirnya seseorang menceritakan penjemputan itu. Kepergian yang tak kenal pulang.

Lebaran ini tepat 43 tahun lalu peristiwa tahun 1965 terjadi. Diawali dengan pembunuhan para jendral tanggal 30 September 1965, diikuti pemusnahan 500 ribu hingga 1 juta jiwa rakyat Indonesia dalam periode tahun 1965-1966. Inilah konflik horisontal terdahsyat dalam sejarah NKRI. Pertumpahan darah yang menempatkan tetangga, sahabat karib, bahkan saudara dalam posisi berseberang. Momen dimana seorang manusia merasa berhak membunuh manusia lain.

Lantas, apa yang terjadi setelah mereka yang hitam kita punahkan? Bukannya puas, malangnya perasaan hitam putih ini terus dipelihara oleh Orde Baru, dan kita sebagai rakyatnya ikut menumbuhkannya dalam hati. Posisi menang dan kalah menjadi sangat penting, karena dari sanalah kita menciptakan harga diri.
Akibatnya dalam skala nasional peristiwa penumpasan sejenis pemusnahan massa pro PKI dan Sukarnois tahun 1965-1966 tak kunjung berhenti. Orde Baru menghasilkan represi penguasa seperti peristiwa Tanjung Priok dan DOM di Aceh, serta konflik horisontal sejenis kerusuhan Ambon. Juga banyak penculikan dan pembunuhan orang-orang.

Era reformasi tak serta merta memperbaiki keadaan. Munir diracun orang, dan tahun lalu insiden Alastlogo terjadi. Bila kita cermati, ada satu hal yang selalu menyertai peristiwa tersebut. Yakni adanya pihak yang merasa ‘putih’, dan pihak yang dianggap berdosa alias ‘hitam’. Mirip dengan pemusnahan massal tahun 1965-1966.

Mengapa? Karena pola pikir hitam putih ini memang sekilas mempermudah segalanya. Bukankah jika semua orang sepaham dengan kita, berasas tunggal, satu arah satu tujuan, semua jadi baik-baik saja? Jika demikian, untuk mendapatkan dunia yang damai, adalah sah untuk memaksa orang mengikuti paham kita. Karena kita benar dipandang dari sudut moral dan hukum, selaras dengan nilai agama. Jadi tidaklah salah jika sesekali kita menindas mereka yang tidak sesuai hukum, tidak mengikuti kaidah moral, tidak memiliki semangat beragama yang benar. Mereka berseberangan dan karenanya menjadi ‘hitam’. Benarkah?

Seharusnya tidak. Pandangan hitam putih membuat bumi menjadi sempit. Dan itu bukanlah bumi yang secara fitrah diturunkan Tuhan kepada kita yang berbeda. Terlalu banyak lawan dan terlalu sedikit kawan. Lantas kita berubah menjadi seorang ‘pembunuh’. Jika tidak dengan tangan dan senjata, kita membunuhi mereka dengan kata-kata.

Pernahkah Anda membaca berita tentang kunjungan kerja anggota dewan ke luar negeri dengan biaya rakyat? Apa yang ada di dalam kepala Anda? Jika Anda merasa marah dan seketika menganggap semua anggota dewan adalah politikus yang mencoba memperkaya diri, maka mungkin pola pikir hitam putih masih ada di benak.

Pertama karena jelas tidak semua anggota dewan seburuk itu. Kedua, kalau toh ada yang khilaf dan saat ini berpikir ingin kaya, tidakkah itu manusiawi? Coba telusuri masa lalu Anda. Tidakkah Anda pernah berbuat kesalahan?

Saya teringat dengan deskripsi Goenawan Mohamad tentang perlawanannya terhadap Orde Baru. “Jangan memaki-maki kegelapan, tapi nyalakanlah lilin.”

Sikap beberapa anggota dewan yang nirpeka terhadap kesulitan hidup rakyatnya memang perlu kita koreksi. Tapi bukan dengan mencap mereka sebagai pendosa sedang kita adalah malaikat pembersih. Pandangan tersebut mirip dengan alasan para pelaku pemusnahan massa pro PKI dan Sukarnois tahun 1965-1966, ditambah semangat balas dendam atas pemberontakan PKI tahun 1948 dan gerakan PKI lainnya dalam sengketa tanah.

Saya membaca kembali tulisan-tulisan lama, dan terlihat di sana kalau kadang saya pun masih berpikir hitam putih. Sering saya lupa melihat isi hati para penguasa, menemui sisi manusiawi dari orang-orang yang kadang lupa dan ‘menindas’ rakyat kecil seperti saya. Ah, kalau saja saya sudah lahir di tahun 1965 dengan posisi sebagai pemenang, siapa tahu tangan saya juga ikut bersimbah darah, bergotong royong menyerbu mereka yang saya anggap berhati hitam.

Martin Aleida menulis di Malam Kelabu. Partini, Ibu dan anak-anaknya jadi korban. Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis. Politik tak punya mata. Mereka pun hilang di tepi bengawan.(Leontin Dewangga, 2003)

Untuk menenangkan hati, saya bertanya kembali pada seseorang yang pernah membuat sang Ibu menangis di masa kecilnya. Apakah engkau mendendam? Bertahun-tahun ia tak menjawab. Tiba-tiba pagi ini ia menuliskan sepotong kalimat Paulo Coelho. Forgiveness is a two-way street. Each time we forgive someone, we are also pardoning ourselves.

Lelaki yang pernah membuat ibunya menangis itu percaya pada kata-kata ini. Ia memilih untuk memaafkan, berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan diri sendiri. Adakah pilihan yang lebih baik?

Puskesmas yang ‘Sakit’ (Surabaya Post 13/8/08)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Di tengah sorotan publik terhadap pelaku korupsi, beberapa waktu lalu kota Surabaya diramaikan oleh isu pungli di sebagian Puskesmas. Campur aduk isi berita tentang instansi pelayanan kesehatan primer itu. Ada keprihatinan, tersirat permakluman, tapi jelas terasa kritik yang mengiris. Lepas dari peraturan daerah yang mungkin perlu direvisi, isu pungli di Puskesmas tetaplah menyengat kalangan kesehatan di Surabaya. (Surabaya Post 5/8/08)

Bagi penulis, bekerja di Puskesmas adalah periode hidup dimana idealisme harus bertarung dengan kenyataan tentang cara menghidupi institusi. Masalah menumpuk tinggi. Hormon stres meningkat. Mulai dari tenaga honorer yang terlalu tua untuk diangkat. Pertemuan informal dukun bayi yang butuh konsumsi dan ongkos transport. Atap ruang rawat inap yang hampir runtuh. Tabung oksigen yang rusak tak kunjung diganti. Sedang dana dari Pemerintah Daerah kadang tersendat tak kunjung turun.

Tapi semua itu tak seberapa dibanding teror moral menjelang Lebaran. Belasan pasang mata menatap, bertanya, bisakah sang pemimpin memberi sedikit tambahan tunjangan hari raya?

Ah, dua ribu lima ratus rupiah yang memalukan. Coba bandingkan dengan iklan di surat kabar besar tentang klinik pengobatan Cina. Atau rumah sakit Tiongkok yang rajin menjaring pasien di Surabaya. Hampir tiap minggu mereka mematut diri di media. Besar, sepertiga halaman, menyedot perhatian. Terlihat hebat. Pelan-pelan memaksa kita jadi penonton. Inilah efek industrialisasi layanan kesehatan. Mereka kelihatan berkelas. Sedang Puskesmas kita kampungan. Cuma dua ribu lima ratus saja. Lebih murah dari semangkok mie ayam. Itupun masih diisukan pungli! Baca lebih lanjut

Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) untuk Pak Harto(Suara Pembaruan 25/1/08)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Mengapa kondisi mantan Presiden Soeharto memburuk dan mengalami kegagalan fungsi multi organ? Pertanyaan tersebut banyak dilontarkan masyarakat. Berbagai sumber menyebut adanya diabetes mellitus, batu ginjal, gangguan fungsi ginjal, kelainan irama jantung disertai penurunan fungsi pompa jantung, dan adanya riwayat stroke. Semua itu menyumbang terjadinya perburukan status kesehatan Pak Harto. Dan sebagai sebuah organ penentu kehidupan, berkali pula tim dokter menyebut Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), sebagai salah satu pilihan untuk memulihkan jantung Pak Harto.

Tim yang beranggotakan para pakar ini berharap dengan CRT, jantung Pak Harto bisa memompa darah lebih efektif, dan ujung-ujungnya bisa memulihkan fungsi organ yang lain. Mengapa jantung Pak Harto membutuhkan CRT? Benarkah CRT seampuh itu? Bagaimana cara kerja CRT di jantung Pak Harto nantinya?

Jantung sebagai sebuah organ vital dalam tubuh terdiri atas empat ruang. Ruang pertama adalah atrium(bilik) kanan, yang berfungsi menerima darah ‘kotor’ dari seluruh tubuh. Darah ini kemudian masuk ke ruang kedua, ventrikel(serambi) kanan, yang memompa darah ke paru-paru. Paru-paru mengisi darah dengan oksigen, mengirimnya ke ruang ketiga, atrium kiri jantung. Atrium kiri memompa darah ’bersih’ melewati sebuah pintu yang disebut katup mitral, menuju ventrikel kiri, ruang terpenting dari jantung. Mengapa disebut terpenting? Karena ventrikel kiri inilah yang bertugas memompa darah, menyalurkannya ke seluruh tubuh, termasuk organ penting seperti ginjal, otak dan paru-paru. Baca lebih lanjut

Penyebab Askeskin Tak Sakti (Surya, 5 Nov 07)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Seorang pembaca Surya mengeluhkan pelayanan sebuah rumah sakit Pemerintah di Surabaya. Surat pembaca itu diberi judul, ‘Sengsaranya Berobat Pakai Kartu Gakin’(Surya, 30 Oktober 2007). Di tengah carut marut dana klaim Askeskin yang tak kunjung turun, ini adalah pernyataan sungguh membuat gundah. Benarkah berobat dengan kartu gakin/Askeskin membawa kesengsaraan?

Kenyataannya adalah, berobat dengan Askeskin pada hari-hari ini memang tak senikmat dulu lagi. Sebagian pemeriksaan, obat-obatan dan biaya operasi yang dulu ditanggung oleh Pemerintah saat ini terpaksa harus dibiayai sendiri oleh pasien. Mengapa? Karena Askeskin saat ini adalah sumber badai besar masalah keuangan rumah sakit Pemerintah di seluruh Indonesia.

RS Dr Soetomo Surabaya sebagai rumah sakit terbesar di Jawa Timur bahkan menanggung hutang dari pelayanan Askeskin hingga 51 milyar(suarasurabaya.net). Ini jelas bukan jumlah yang sedikit. Siapa yang harus membayarnya? Pemerintah pusat sebagai sumber dana utama program ini belum bergeming. Sedang Pemerintah daerah yang ‘katanya’ siap membantu ternyata tak kunjung mengucurkan dana. Hal ini menyebabkan rumah sakit Pemerintah terpaksa memakai model minimalis untuk mencegah makin besarnya hutang yang luar biasa ini.

Tapi sebenarnya, apa yang menyebabkan hutang tersebut bisa membengkak dan menumpuk sedemikian rupa? Jawabannya tak jelas. Semua orang menunjuk hidung orang lain. Pihak rumah sakit yang tertimbun hutang dan PT Askes menyalahkan Pemerintah Pusat yang tak kunjung menurunkan dana. Sedang Menkes menuding oknum pelayanan dan penyelenggara sistem asuransi, serta oknum pengguna Askeskin yang mengaku ‘miskin’.

Dari semua oknum yang disinyalir oleh Menkes, maka oknum yang terakhir inilah yang sangat aneh. Biasanya manusia senang mengaku dirinya kaya, tetapi sejak adanya Askeskin banyak sekali orang Indonesia yang lebih senang disebut miskin.

Padahal menjadi miskin itu sungguh tak enak. Baca lebih lanjut

Anak Merokok Jangan Diancam(Intisari Mei 2007-setelah setahun menunggu..)

oleh M. Yusuf Suseno

Stop dulu niat itu. Simpan dalam relung hati terdalam dan mulai berpikir jernih. Merokok bukanlah kebiasaan buruk yang datang secara tiba-tiba. Seorang perokok dewasa biasanya sudah mulai mencoba merokok sejak usia muda. Di Amerika Serikat (AS), 90% dari perokok dewasa mulai merokok sejak anak-anak.

Data dari Central for Disease Control AS menunjukkan, satu dari lima remaja SMU yang merokok menyatakan, pertama kali menghisap rokok ketika usianya belum 13 tahun. Bahkan dari sebuah penelitian terungkap, ada yang merokok sebelum menginjak usia delapan tahun! Di AS hampir tiap hari 2.000-an anak usia belasan tahun menjadi perokok.
Memang, data tadi berasal dari AS yang memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa. Okelah, dengan penduduk 200-an juta itu, berarti sekitar 1.000 anak per hari menjadi perokok. Bukankah angka ini cukup mengagetkan? Baca lebih lanjut