Jalan Pulang

Ada hal-hal yang kusesali dalam hidup.
Ada hal-hal yang harus kuterima.
Hari ini, apapun yang kudapat.
Itu lebih baik dari kematian yang dulu hampir berkali diberikan padaku.
Dan pasti. Satu hari ia akan datang juga.
Sakaratul maut itu.

Ada hal-hal yang kini harus kujalani.
Beberapa hal berubah.
Diterima saja.
Mungkin, itu semua karma masa.

Kini saatnya berpendek angan.
Sekadar menerima apa yang ada.
Menjadi pohon yang lebih besar.
Agar lebih banyak menaungi orang lain dari panas dan hujan.

Sadar, bahwa aku tidak lebih lambat dari orang lain.
Tidak pula lebih cepat.
Aku menapaki jalanku sendiri.

Bayangan adalah satu-satunya teman.
Jalan pulang adalah satu-satunya jalan kukenal.

Xi’an, China, 15 November 2017

 

Sebuah Pengakuan

Entah kenapa. Tiba-tiba aku ingin menulis. Sudah lama tidak. Kesibukan lain yang entah membuatku lalai dari menulis. Yakni pekerjaanku sebagai dokter jantung yang tak kenal usai.

Aku tenggelam dan menenggelamkan diri dalam ribuan pasien di Purwokerto, Purbalingga dan Semarang setiap bulannya. Di Purwokerto aku menemui minimal 600-an pasien tiap bulan, lantas 300-an pasien per bulan di Purbalingga, dan 500-an pasien di Semarang. Sebagian besar menggunakan BPJS. Dan aku tak mempermasalahkan itu. Sudah empat tahun aku membagikan waktu dan hidupku di tiga kota. Itu belum termasuk perjalanan panjang via darat pulang pergi Semarang-Purbalingga-Purwokerto yang menguras waktu dan energi setiap minggu.

Penguras energi yang lain adalah tindakan kateterisasi jantung dan pemasangan stent di Semarang. Kadang tindakannya beresiko tinggi hingga menghabiskan emosi. Ketakutan-ketakutan akan kegagalan masa lampau. Ilmu dan teknik baru yang terus memaksaku belajar dan belajar.

Beberapa kematian pasien juga membuatku terbebani beberapa hal. Kadang begitu berat hingga membuat emosiku tidak stabil. Mungkin karena aku menyayangi mereka. Dan kurasa, sebagian besar dari mereka menyayangiku.

Kematian pasien-pasien lama di Purwokerto dan Purbalingga membuatku merasa bersalah karena tak bisa menyertai mereka di saat akhir. Sebagian harus berhenti di teman lain karena aku tak ada di sana. Tiap kali berkelebat nama-nama dan wajah dari mereka. Itu membuatku sedih dan ingin menangis. Cengeng memang. Tapi itu tak bisa kuubah. Sedang kematian pasien-pasien di Semarang membuatku merasa bersalah karena kadang aku merasa seharusnya aku membuat pilihan lain yang lebih baik.

Dari kalimat di atas terlihat ada perbedaan tipe hubunganku sebagai dokter dan pasien di Purwokerto-Purbalingga dengan pasien-pasien di Semarang. Pasien-pasien Purwokerto-Purbalingga lebih dekat denganku secara emosional. Mereka lebih percaya, lebih loyal dan itu membuatku merasa lebih bahagia.

Pasien-pasien Semarang lebih berjarak dan rasional, mungkin karena pilihan dokter jantung di Semarang lebih banyak, jadi mudah saja bagi mereka untuk pindah ke dokter lain saat aku dirasa tak sesuai dengan hati mereka. Meski itu tak selalu. Karena ada juga pasien Semarang yang cukup dekat denganku secara emosional.

Tapi apapun dan bagaimanapun aku senang berbagi. Berbagi hidup. Berbagi waktu dan umur. Termasuk dengan mereka. Pasien-pasien yang mempercayakan hidupnya padaku. Seorang dokter jantung yang kadang bisa saja salah. Salah mengambil keputusan. Salah memperkirakan lawan. Dan kadang kalah. Kadang malaikat maut lebih pintar dariku. Atau sebenarnya tidak? Ia selalu lebih pintar, hanya saja bermain cantik dengan membiarkanku menang untuk beberapa waktu.

Sering di saat-saat terberat aku menjalankan profesiku, aku ingin sembunyi. Ingin tak harus menjadi dokter jantung. Ingin tak harus menjadi cardiac intervensionist yang memasukkan kawat ke pembuluh jantung koroner pasien.

Kadang aku cuma ingin tidur dan bahagia. Tapi sungguhkah aku akan bahagia jika aku berhenti bekerja? Sehari mungkin. Dua hari bisa. Tapi seminggu setelah itu aku pasti rindu. Rindu perasaan bermakna. Kangen pada perasaan berhasil melakukan sesuatu. Semacam kecanduan akut pada hormon katekolamin yang menyedot umurku. Aku tahu itu.

Dan akhirnya aku tak pernah bisa berhasil sembunyi. Walau sebenarnya aku cuma ingin tenang beberapa waktu. Masalahnya adalah karena aku juga bahagia saat bersama mereka. Para pasien yang bilang kalau hidupnya lebih baik setelah bertemu denganku. Pasien-pasien yang aku tahu suatu hari aku akan berpisah dengan mereka. Setelah kami bersama mencoba mengalahkan malaikat maut yang sengaja bermain jelek, atau pura-pura cantik. Sebenarnya aku benci dengan kalimat ini. Tapi memang benar, kadang aku merasa ia membuatku merasa menang di satu waktu, lantas kalah di ronde berikut.

Dan aku tahu, satu hari aku akan kalah selama-lamanya. Aku akan terkubur di tanah dan tak bisa menemui mereka kembali.

Ah, hidup jalan terus. Umur yang lama-lama habis. Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil.  Kita bisa memilih menjadi matahari, bintang, bulan, lampu neon, lilin, atau sekadar korek api. Sialnya, banyak orang memilih menjadi gelap. Tapi tak apa. Tanpa gelap, terang tak bisa didefinisikan.

Juga karena pada akhirnya segala sesuatunya akan dihitung. Segala sesuatunya akan ditanya.

Purwokerto-Jakarta 6 Okt 2017.

Jawaban atas Pertanyaan : Kenapa Aku Menjadi Cardiac Intervensionist?

Sebenarnya apa yang terjadi dalam dunia kita ini? Ketika kebenaran hanya menjadi milik sebagian orang. Dan kita terbagi menjadi dua belahan dunia. Kau dan aku. Bila tak bersamaku. Kau bersama mereka.

Pikiran tentang cuaca di tanah air itu bahkan terbawa hingga aku di sini. Di Paris EuroPCR 2017. Tempat berkumpulnya ribuan ahli jantung intervensi dari berbagai belahan dunia.

Aku bersyukur, di sini aku masih melihat banyak orang yang sangat antusias menyelamatkan nyawa manusia. Meski tetap saja ada orang-orang yang hasrat utamanya adalah mencari uang. Sedang yang lain mencari popularitas. Sebagian yang tersisa mencari hidup yang lebih berarti. Lebih bermakna.

Aku? Lantas kenapa aku menjadi cardiac intervensionist?

Aku ingat pertanyaan Prof Iwan, dokter Budi Bakti dan dokter Yudi Her sekian tahun lalu saat aku masih menjadi residen. Kenapa kau ingin menjadi seorang pemanjat Suf? Kenapa? Hmm. Jujur, mungkin semua alasan di atas itu bercampur baur dalam diriku. Berpilin.

Ada rasa senang karena aku bisa menghidupi keluargaku dari pekerjaan ini. Tapi yang lebih membahagiakan adalah ketika seorang Ibu sepuh yang pernah kupasang stent berkata sambil menahan tangis saat pamit dan menyentuh tanganku. “Dokter yang sehat ya, saya masih butuh Dokter..” Ah momen itu tak tergantikan. Terima kasih Bu.. Terima kasih sekali…

Satu hal, mungkin aku juga ingin dunia yang tak terbelah. Aku tak memandangmu sebagai Islam atau bukan. Aku tak bertanya kau mendukung Ahok atau mencercanya. Aku tak pernah bertanya kau akan membayarku dengan daun atau dengan uang.

Kalau kau sakit, semampuku aku akan menolongmu wahai saudaraku. Menyelamatkan nyawamu.

Itu janjiku.

Paris, Mei 2017

Sumber Kesedihan

​Kematian. Akhir2 ini aku sering berpikir tentang mati. Dan betapa ia sangat mudah menghampiri.

Mungkin memang dunia ini adalah sumber kesedihan. Dan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Dan pula kata Iwan Fals, keinginan adalah sumber penderitaan.

Ah teori. Karena meski tahu semua itu, toh tetap saja aku sering membiarkan diriku sendiri sedih dan menderita..
Tapi saat aku gundah itulah aku makin sering mengingat mati. Mungkin kegundahan ada gunanya.

Aku mencoba mengingat teman2 dan pasien2ku yang lebih dulu dipanggil Allah, dan akhirnya aku kembali berpikir, bahwa apapun yang kudapatkan hari ini, itu masih sedikit lebih baik.
Setidaknya aku masih punya kesempatan memperbaiki nasib di Hari Akhir.. Aminn..

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran:185].

Kebahagiaan dan Keselamatan

Tidak ada kebahagiaan dan keselamatan bagimu, hingga engkau lebih mementingkan Dia daripada selainNya. 

Tidak ada kebahagiaan dan keselamatan bagimu, hingga engkau lebih mementingkan agama daripada syahwatmu, akhiratmu daripada duniamu, dan Penciptamu daripada mahluk sesamamu. 

-Syekh Abdul Qadir Al Jailani, 14 Rajab 545 H-

Ampuni Aku.

Aku mengucapkan syahadat tiap kali shalat. Laa Ilaaha Illallah. Tiada Tuhan selain Allah.

Tapi berapa berhala yang kutaruh dalam hatiku? Banyak sekali. Aku sering menyembah mereka dan melupakan Allah.

Uang, tabungan, asuransi, pasien, orang lain, istri, bos di kantor, semua sering kujadikan berhala. Semuanya sering mengalahkan Allah dalam hidup.

Berapa kali kuabaikan pangggilan adzan demi pekerjaan? Tak terhitung.

Berapa kali kutahan dompetku karena takut kekurangan? Tak terhitung.

Ya Allah. Ampuni aku menjelang hari kematianku.⁠⁠⁠⁠

Bismillah

Bismillah. Ini amanatku pada diriku dan keluargaku.

  1. Mengucapkan Bismillah setiap akan melakukan apapun. Kita tidak belajar semata agar lulus menjadi yang terbaik. Kita tidak bekerja hanya untuk mencari uang dan pengakuan. Tapi kita belajar agar menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat untuk sesama. Kita bekerja untuk membantu dan menolong orang lain agar kita diringankan di Hari Perhitungan. Kita hidup untuk sesuatu yang lebih luhur, lebih mulia dari sekedar mencari dunia yang hina. Yang terpenting, kita akan niatkan segala sesuatu yang akan kita lakukan di dunia untuk mencari bekal hidup setelah mati yang pasti. Kita melakukan segala sesuatu karena dan untuk mencari ridha Allah.
  1. Berusaha ingat Allah sepanjang waktu. Kita selalu merasa diawasi oleh Allah. Allah Maha Tahu bahkan isi hati kita yg terdalam. Tak ada ruang untuk segala niat buruk karena kita malu pada Allah yang Maha Melihat.
  1. Sering-sering mengingat mati. Agar kita tak melakukan hal-hal yang dimurkai Allah. Agar kita tak berlebihan dalam makan, tidur, dan bicara. Agar kita banyak beramal sholeh. Maut bisa datang sewaktu-waktu. Tak menunggu tua. Tak menunggu sakit. Tak menunggu siap. Berbuat baik pada siapapun. Siapa tahu hari ini hari terakhir kita bertemu mereka.
  1. Ketika dalam posisi mengambil pilihan apapun, kita akan mengambil keputusan yang membuat hati lebih tentram di Hari Perhitungan nanti. Keputusan yang akan membuat kita sekeluarga tersenyum di hari yang sangat berat itu.
  1. Bersyukur atas segala sesuatu. Kita sudah diberi banyak hal lebih dari yang dibutuhkan. Kita akan lebih banyak bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhitung. Dzikir ‘Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah’ adalah kunci kebahagiaan di masa sulit. Bacalah dengan penuh rasa syukur pada Allah yang sudah memberi kita sehat di saat ada saudara kita yang tak bisa lepas dari selang oksigen. Memberi kita keluarga di saat ada orang lain hidup sebatang kara.
  1. Ketika hari terasa berat, apapun tetaplah shalat. Tetaplah berdzikir. Tetaplah mengaji Al Qur’an. Kalau suami dan ayahmu ini meninggal satu hari nanti, berdoalah untukku setiap selesai shalat 5 waktu. Pendek saja tak apa. Kalau sempat, kirimilah Al Fatihah sekali waktu, agar aku tak mengais-ngais doa dari umat muslimin.

Itu saja.

Semoga Allah memberi petunjuk dan ampunan pada keluarga kita di hari yang perhitunganNya sangat keras nanti. Aminn.

15 Maret 2016.

m.y.s.