Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta

Terkutuk hidup di bumi. Mata peluru. Satu-satunya pohon tersisa.

Listen to Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta by Yusuf Suseno on #SoundCloud https://soundcloud.com/usufuseno/ketika-ada-yang-bertanya-tentang-cinta

Matur Nuwun..

Membaca potongan tulisan dalam bukuku sendiri. Membuatku sedih.

Aku tahu momen2 itu belum tentu bisa terulang lagi…
Matur nuwun pada Bapak Ibu pasien saya di Purwokerto dan Purbalingga..
Matur nuwun sudah percaya pada Yusuf Suseno..

Saya akan selalu kangen pada Bapak Ibu semua..
Bukan Bapak Ibu yang membutuhkan saya, tapi sayalah yang membutuhkan Bapak dan Ibu…
Semoga Allah senantiasa menjaga Bapak dan Ibu semua..

Matur nuwun sanget…

m.y.s

Ranu Kumbolo Suatu Waktu…

Satu waktu.. Ketika hidup masih begitu berani…

Ingat pada almarhum Gea, Anggek dan Reni. Semoga kalian tenang.. Kami selalu kangen kalian…

Covid-19 dan Kebahagiaan

Apapun yang kita dapat dalam hidup, itu pasti lebih baik dari kematian yang bisa saja kita alami. Kesadaran itu saja seharusnya sudah jadi sumber kebahagiaan.

Tapi mengapa kita tak bahagia2 juga? Atau kalau toh bahagia, kenapa tak bahagia sepenuhnya??

Ngendikanipun Gus Baha, kunci bahagia itu gampang. “Jadikanlah yang sedikit sebagai sumber senangmu.” Artinya, kita nggak usah punya standar tinggi pada apapun di dunia ini selama itu untuk diri kita sendiri.

Seperti saat ini. Saat melihat gadis kecilku shalat dhuha.
Kalau saya mau sadar, sebenarnya momen ini jauh lebih berharga dari hadiah apapun. Apa artinya punya dunia dan seisinya jika anak kita tidak mengenal TuhanNya? Jadi, ketika Allah menakdirkan anak kita mau sujud, itu sebenarnya adalah satu hal yang sangat keren. Dan mestinya peristiwa ini saya syukuri.

Masalahnya adalah kita terlanjur merasa bahagia kalau A kalau B atau kalau C. Atau bahagia kalau A dan B.
Sedangkan A, B, atau C ini kadang syaratnya tinggi, dan sering tidak tercapai karena dunia ini memang tidak bisa kita kontrol.

Memangnya kita bisa mengontrol hujan yang membatalkan acara piknik? Memangnya bisa kita mengontrol wabah Covid-19 yang membuat kita nggak bisa tarawih di masjid? Wabah yang memaksa kita di rumah, wabah yang membuat tabungan menyusut, wabah yang membuat kita batal mudik, wabah yang …. dan …. dan ….
NGGAK BISA.

Lagi pula, sebagai seorang muslim katanya nikmat paling besar, nikmat level tertinggi itu iman dan islam..
Tapi kenapa kok saya masih sering nggerundel dan mecucu? Termasuk gara-gara Covid dan segala embel2nya?

Wis. Mulai sekarang saya putuskan untuk bahagia. Dan siapapun tidak berhak mengganggu keputusan itu. Termasuk urusan Covid.

Alhamdulillah.. ☺️😛🤪🥰😍😁
Itu saja.

Apa Yang Akan Kulakukan Jika Hidupku Tinggal 1 Minggu Lagi?

Ini adalah kisah menyentuh dari Dr Yuan Haitao, Director of ICU, Wuhan Dongxihu Hospital di CGTN TV. https://youtu.be/4wyAKEsUkVY

Dr Yuan tanggal 14 Januari masih merawat pasien severe Covid-19, ketika malamnya mulai merasa demam dan nyeri otot. Keesokan harinya dilakukan CT scan, didapat ground glass opacification(GGO), lekopenia dan limfositopenia. Alih-alih membaik, dalam 10 hari perawatan kondisinya makin buruk. Serial CT scan menunjukkan GGO yang meluas. Akhirnya dilakukan intubasi. Setelah puluhan hari perawatan, Dr Yuan baru keluar dari RS tanggal 21 Februari 2020. Keluar RS bukan berarti dr Yuan sembuh total, ia masih membawa bayangan putih di parunya.

Apa yang disarankan oleh dokter Yuan untuk mereka yang tertular Covid-19?

  1. Keyakinan. Kita membutuhkan keyakinan yang kuat kalau kita bisa mengalahkan Covid. Jika kita tak punya keyakinan itu, kita akan kalah di babak-babak awal. Kita harus berusaha tenang dan punya suasana hati yang baik supaya imunitas kita baik.
  2. Percayalah pada dokter yang merawat, mereka akan memberikan terapi terbaik.
  3. Bekerja samalah dengan dokter yang merawat. Setiap dokter pasti menginginkan pasiennya sembuh. Dr Yuan bercerita tentang seorang pasien muda di samping bednya yang tak mengikuti perintah dokter, dan akhirnya kondisinya makin memburuk.
  4. Tetaplah rasional. Jangan emosi. Supaya tidak mudah cemas dan bersikap buruk yang membuat kondisi imunitas tubuh makin jelek.

Kalau Anda seorang muslim, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa saya tambahkan. Tentu saja ini bukan dari saya pribadi, Ini rangkuman bacaan yang pernah saya baca dan tausiyah yang pernah saya dengar.

Pertama. Kita harus percaya dan berusaha ridha akan qadha dan qadar dari Allah. Bahwa segala sesuatu telah ditulis di Lauh Mahfudz. Hidup kita, mati kita, semua sudah ditulis. Tidak ada yang bisa mematikan kita meskipun semua makhluk di dunia(termasuk Covid-19) memburu kita. Tak ada yang bisa menolong kita meski semua makhluk(termasuk dokter spesialis paling pintar) turun tangan. Allah, Al Hayyu dan Al Qoyyum lah yang memelihara kita setiap waktu. Allah juga punya sifat Al Mumiit, Maha Mematikan. Itu tak boleh kita ingkari.

Kedua, keyakinan bahwa jika saat ini kita sehat, berarti ini kesempatan bagi kita untuk sujud kepada Allah Yang Menentukan Mati dan Hidup. Kesempatan untuk berbuat baik, kesempatan untuk mengingat Allah dan melakukan sesuatu untuk keluarga dan orang lain. Kesempatan untuk menebus dosa-dosa kita.

Lantas, lakukan skala prioritas. Enyahkan hal-hal yang tak perlu. Malaikat Izrail dengan menumpang Covid-19 bisa menjemput kita sewaktu-waktu. Apa yang akan saya lakukan jika hari ini adalah hari terakhirku dalam kondisi sehat? Apa yang akan saya lakukan jika 3 hari lagi saya diintubasi? Apa yang akan saya lakukan jika ini minggu terakhir saya hidup? Jawab pertanyaan ini dan mari kita perjuangkan hidup yang terbaik.

Ketiga, jika saat ini atau nanti kita sakit, maka yakinlah bahwa sakit kita akan merontokkan dosa-dosa kita seperti angin kencang yang menjatuhkan daun-daun kering. Pada zaman dahulu bahkan beberapa ulama merasa sedih jika dalam beberapa waktu tak merasakan sakit. Dan mereka tak mencari obat untuk mengurangi sakitnya. Karena para ulama tahu kalau sakit adalah salah satu cara mengurangi timbangan dosa mereka di Hari Akhir. Kita tak harus sekeren mereka. Tapi setidaknya berusaha sedikit mirip dengan melatih sabar, tak mengeluh dengan sakit yang ditakdirkan Allah.

Keempat, jika akhirnya kita harus menghadapi sakaratul maut(dan ini pasti), entah karena Covid-19, karena sopir mobil angkot yang remnya blong, atau yang lain, percayalah bahwa kita kembali pada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang Maha Mengatur. Yang Maha Pengampun.

Dulu kita mati di alam ruh dan tiba-tiba saja kita dilahirkan di dunia. Bahkan kita tak bisa memilih siapa orang tua kita, tak bisa memilih dimana kita akan lahir. Allah yang Maha Mengatur Segala Sesuatu. Jadi tidak usah takut. Kematian dan kehidupan kita setelah mati pun jua Allah yang mengatur. Kita cuma ‘nderek’ saja. Dan siapa yang bisa memastikan bahwa kita akan tetap jadi orang baik kalau kita bertahan hidup? Jadi anggap saja kematian kita adalah pemutus dari segala kemungkinan maksiat yang bisa saja kita lakukan kalau kita masih bernyawa.

Sekali lagi, kematian adalah pemutus dari segala kemaksiatan. Ini membuat kematian kita jadi keren.

Ya Hayyu Ya Qoyyuum. YA Allah yang Maha Hidup dan Tak Henti Mengurus Segala Sesuatu. Uruslah kami sesuai kehendakMu..

Semarang, 6 April 2020.
Dr M. Yusuf Suseno SpJP

Bismillah. Tawakkal..

Ingat ngendikanipun ulama,

1.’Upaya mencegah penularan Corona itu ibarat orang bercocok tanam. Usaha sebaik mungkin. Ditanduri bibit sing apik, disiram, dipupuk. Masalah hasile akeh, sithik, opo gatot alias gagal total kuwi manut kersane Gusti Allah”

  1. ‘Yen kamu usaha tenanan ben ora ketularan kuwi kudu diniati ben sehat ben iso ibadah. Ben iso sujud. Ben iso ngrumat wong liya.’

Sesuai dg advis kolega kardiolog di Wuhan, kita yang bekerja di Poli Jantung juga harus memakai APD lengkap.

Semoga dengan dua alasan di atas itulah saya memakai APD lengkap di Poli Jantung…

Ya Allah.. Ampuni kami.. Sehatkan kami.. Ridhoi kami..

@RS Telogorejo
Semarang
@RS Harapan Ibu Purbalingga

Sajak Ketika Kami Bertumbangan

Pelan-pelan.
Satu-satu.
Kami bertumbangan.

Ada yang kukenal.
Ada yang tidak.
Tapi mereka saudaraku.

Ya Allah, berilah ampunan dan keluasan kubur bagi teman-teman kami yang Kau panggil.

Kuatkan dan beri kesehatan pada kami yang ditinggalkan untuk tetap merawat makhluk-Mu yang sakit.

Tunjukilah kami jalan yang lurus..
Wafatkanlah kami sebagai seorang yang Engkau ridhai..

Ya Hayyu.. Ya Qoyyum…
Ya Hayyu.. Ya Qoyyum..
Ya Allah yang Maha Kekal dan Selalu Mengurus kami..
Ampuni kami..

Semarang, 26 Maret 2020.

Akankah Nasib Indonesia Lebih Baik, atau Lebih Buruk dari Italia?

Maaf kalau judul tulisan ini terkesan memprovokasi. Tapi terus terang saya geram bukan main. Karena sampai hari ini, masih saja banyak orang yang meremehkan wabah Covid-19. Bahkan ada beberapa orang yang meremehkan bahaya pandemi Covid-19 dengan alasan bahwa obat dari Covid-19 sudah ditemukan. Seakan dengan obat Chloroquin dan Avigan (Favipiravir) yang sebentar lagi didatangkan besar-besaran ini, ada kepastian bahwa pasien Covid-19 akan sembuh. Ah, sebagai dokter yang sayang pada pasien-pasien saya, saya sangat berharap angan-angan ini bisa terwujud. Tapi saya tahu, kalau ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien.

Korea Selatan, sebagai salah satu negara yang terbilang berhasil mengatasi wabah Covid-19, masih belum mau menggunakan Avigan sebagai salah satu terapi untuk pasien Covid-19. Mereka masih menunggu penelitian lebih lanjut terkait efek samping Avigan pada binatang coba. Ini menunjukkan bahwa obat ini bukan segala-galanya.

Berikut adalah transkrip bebas bahasa Indonesia dari kuliah Profesor Stefano Nava, Chief of Respiratory and Critical Care Unit dari Bologna Italy dalam sebuah telekonferens yang bisa diakses di youtube( link : https://youtu.be/rMT97toZNJw). Prof Nava mulai berbicara di menit ke 21:54. Jika kita mau mendengarkan(dan ini kadang susah dilakukan oleh kita), kuliah beliau akan menyadarkan kita bahwa wabah Covid-19 ini sangatlah serius. Kasus kematian yang tinggi di Iran mungkin karena fasilitas kesehatan Iran yang terbatas akibat embargo Amerika. Tapi bagaimana dengan Italia, salah satu negara dengan fasilitas kesehatan terbaik di dunia?

Berikut terjemah bebas dari kuliah Prof Nava dengan istilah medis yang sebagian saya awamkan.

Saat pandemi mulai terjadi, kami hanya menangani, sebagian besar pasien dengan usia lanjut dengan banyak penyakit penyerta sebelumnya. Dalam 3 minggu pertama, rata-rata berusia 75 tahun. Biasanya dengan hipertensi, obesitas dan atau diabetes. Tetapi pada seminggu sampai 10 hari terakhir, gambarannya berubah. Saat ini semakin banyak pasien usia muda yang masuk dalam kondisi kritis. Di unit kami ada pasien 30 tahun yang sebelumnya sangat-sangat sehat.  Dan begitu pula saat ini makin banyak pasien kritis yang berusia 40-50 tahun. Mereka yang berusia tua tetap ada, tapi epidemiologinya sangat berubah dalam 7-10 hari.

 “Saat ini fenotipe pasien juga berubah. Pada mulanya kami masih punya waktu 2,3, sampai 4 hari untuk melihat apakah seorang pasien akan berespon baik atau tidak terhadap pengobatan. Tapi 10 hari terakhir ini tidak. Sekarang pasien memburuk sangat-sangat-sangat cepat(beliau menyebut kata ‘very’ 3 kali). Seperti seakan sebelumnya Anda melihat pasien ini masih bisa membaca surat kabar, tapi tiba-tiba dalam 3,4, sampai 5 jam kemudian tiba-tiba pasien tersebut harus dilakukan intubasi(pemasangan selang untuk mesin alat bantu napas lewat mulut). Sekarang pasien kami memburuk sangat-sangat cepat dan tak terduga. Jika 12 sd 24 jam sebelumnya pasien datang ke RS dalam kondisi stabil dengan kadar oksigen 94 %, tapi tiba-tiba saja mereka memburuk dan jatuh dalam kondisi kritis ‘gagal napas’ yang berat.

Perlu diketahui, Italia memiliki problem yang berbeda dengan China. Di Eropa, Italia memiliki kebutuhan ruang perawatan intensif yang paling sedikit dibanding negara lain. Sepersepuluhnya dibanding Amerika. Dan ini menyebabkan saat pandemi terjadi ruang rawat intensif kami segera penuh dalam waktu sangat singkat. Kami terpaksa merawat pasien di ruang UGD, ruang operasi, bangsal bedah, bangsal THT, semua tempat yang ada di RS.

Contohnya adalah di RS di tempat saya bekerja. Dengan 60 tempat tidur ICU dari 1250 tempat tidur RS, maka ICU kami sangat cepat penuh dan akhirnya kami harus merawat pasien kritis di bangsal. Di sinilah keputusan untuk melakukan intubasi, misalnya pada pasien yang sangat tua menjadi dipertanyakan. Dan kami melihat trend penurunan usia pada kebijakan “Tidak usah intubasi” pada pasien yang sebenarnya membutuhkan (yang artinya membiarkan pasien tersebut meninggal).

 Mula-mula pada batas usia 80 tahun, kemudian turun menjadi 75 tahun, dan turun lagi hingga maksimal usia 70 tahun. Ini sangat menakutkan… Kami harus memutuskan apakah seorang pasien yang dalam kondisi ‘gagal napas’ harus kami masukkan ke ICU dan dipasang ventilator (mesin alat bantu napas) atau tidak (yang akhirnya berarti membiarkan pasien tersebut meninggal) berdasar usia dan kemungkinan ia akan bertahan hidup. Ini sangat menakutkan..”

Akankah nasib Indonesia lebih baik atau lebih buruk dari Italia? Jika masyarakat kita masih menganggap enteng wabah ini, jika Pemerintah masih kurang tegas pada mereka yang melanggar aturan “social distancing”, maka bisa saja kita akan berakhir lebih buruk. Perlukah opsi “lockdown’ dilakukan di sini seperti di Italia dan negara-negara lain? Jawabannya adalah entah, dan pasti  menuai perdebatan panjang seperti di TV.

Jadi, cara paling mudah adalah dengan menghitung jumlah tenpat tidur ICU di RS terbaik di kota tempat kita tinggal. RS terbaik dengan dokter-dokter terbaik. Berapa jumlah bed ICU di sana? Mungkin ada sepuluh, bisa saja 20, atau bahkan 30 bed. Tapi apakah itu cukup? Jika bahkan di RS Prof Nava dengan 60 tempat tidur ICU saja dokter tetap harus memilih, pasien mana yang diperjuangkan dan mana yang harus dibiarkan meninggal..

Akankah kita satu hari harus merelakan paman, bibi, bahkan ayah atau ibu kita meninggal di depan mata kita tanpa pertolongan yang layak karena ICU yang penuh? Bagaimana jika ternyata bahkan kita sendiri yang terinfeksi dan tiba-tiba memburuk dalam hitungan jam sedangkan ICU penuh? Hanya waktu yang bisa menjawab…

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh bangsa Indonesia. Semoga Allah menolong kita. Hanya saja, ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum yang tidak berusaha mengubah apa yang ada pada diri mereka…

Dr. M. Yusuf Suseno, SpJP.

Semarang, dini hari 22 Maret 2020.

 

 

 

 

 

 

 

Surat Tentang COVID 19 Untuk Pasien2

Kepada Yth Bapak Ibu Pasien Poli Jantung RS Telogorejo Semarang, RS DKT Purwokerto, dan RS Harapan Ibu Purbalingga yang saya kasihi..

Assalamu alaikum wr wb.
Bersama tulisan ini, saya hanya bermaksud mengingatkan kepada Bapak Ibu pasien saya tentang keseriusan dari wabah virus COVID 19.

Mohon dengan sangat agar jangan menganggap remeh, salah satu analisa memperkirakan kalau wabah Covid 19 di Indonesia seperti fenomena gunung es. Dimana kelihatannya tidak banyak tapi sebenarnya banyak sekali. Dan demi Allah, virus ini tidak mengenal ras suku maupun agama. Semua orang bisa terkena.

Harus Bapak Ibu ketahui, salah satu faktor resiko yang menyebabkan komplikasi dan kematian akibat infeksi virus Covid 19 adalah pasien dengan masalah jantung sebelumnya. Selain juga diabetes, usia lanjut, dan kelainan paru.

Jadi adalah sangat sangat sangat penting bagi Bapak Ibu untuk menjaga diri agar tidak tertular virus ini.

Apapun, saya mohon tetap waspada. Karena, ingat, masa INKUBASI atau masa pertumbuhan virus dari terkena kontak sampai menimbulkan gejala antara 2 sd 14 hari!
Artinya : Bisa saja orang yang tampak sehat menjadi sumber penularan karena ia memang belum menunjukkan gejala.

Saya mohon agar Bapak Ibu sekalian melakukan langkah-langkah pencegahan terbaik yang bisa Bapak Ibu lakukan.

  1. Seringlah mencuci tangan dengan sabun. Terutama setelah keluar rumah. Setelah menyentuh barang yang bersifat ‘umum’ atau ‘bersama’. Sediakan hand sanitizers dan seringlah memakainya.
  2. Mohon menghindari kontak fisik ‘berjabat tangan’ dengan orang lain. Jika terpaksa, segera mencuci tangan setelah itu. Pikirkan keluarga kita. Siapa tahu tetangga kita tadi baru saja bersalaman dengan orang lain pembawa virus Covid 19.
  3. Jangan menyentuh area wajah Bapak Ibu kecuali dengan tangan yang sangat bersih.
  4. Pakailah masker ketika terpaksa pergi ke tempat umum. Kalau perlu tetaplah berada di rumah.
  5. Jaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain. Agar jika ternyata orang tersebut tiba2 batuk atau bersin, virus tidak langsung mengenai kita.
  6. Usahakan shalat dengan memakai sajadah Bapak Ibu sendiri. Terutama jika Bapak Ibu memutuskan untuk tetap shalat berjamaah di masjid. Kurangi kontak dengan siapapun selama melakukan ibadah.
  7. Hindari bepergian ke tempat umum kecuali jika sangat perlu.
  8. Setelah Bapak Ibu keluar rumah, segera cuci pakaian yang dipakai.
  9. Jaga kondisi dengan banyak istirahat, gunakan waktu untuk berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan dan tetap minum obat.

Lantas apa yang harus dilakukan jika Bapak Ibu mengalami gejala flu?
Saran saya, tetaplah konsumsi obat-obat jantung rutin Bapak Ibu, dan pakailah masker. Minum obat penurun demam untuk mengurangi gejala. Segera konsultasi dengan dokter jika kondisi memburuk terutama jika ada keluhan sesak. Jaga kesehatan, tidur cukup, minum vitamin, dan bagi yg ada diabetes, usahakan agar kadar gula benar-benar terkontrol.

Bismillah, saya berdoa semoga Allah melindungi kita semua. Semoga kita selalu dalam kondisi sehat.
Aaminn.

Wassalamu alaikum wr wb.

Dr. M Yusuf Suseno, SpJP.

Bagaimana Cara Saya Menjaga Ibu Bapak dari Pandemi COVID 19?

Ayah saya kelahiran 1940. Jadi usia beliau 80 tahun. Ibu saya usia 69 tahun dan ada kelainan jantung. Kebetulan beliau tinggal di rumah berdua saja.

Bagaimana cara saya menjaga Bapak Ibu saya dalam Pandemi Covid ini?

1. Beliau berdua saya anjurkan tetap di rumah. Tidak shalat berjamaah di masjid.

2. Tidak ada yg boleh berkunjung kecuali berbicara jarak jauh dan di halaman saja. Kemarin ada yang mengantar paket dan beliau saya anjurkan memakai sarung tangan sekali pakai dan paket disemprot dengan alkohol 70 % sebelum masuk rumah. Sebelum dan sesudah menerima paket memakai hand sanitizer.

3. Semua persediaan makanan saya supply. Jadi beliau tidak harus pergi ke toko manapun.

4. Jika saya membawa 1 bungkus telur, maka plastik telur harus disemprot dengan alkohol 70%. Dan saya sebagai pembawa harus mencuci tangan dan menggunakan hand sterilizer. Karena tidak ada yg menjamin kalau saya bukan carrier. Saat membawakan telur saya juga tidak masuk rumah.

5. Vitamin dan berbagai suplemen saya siapkan jauh2 hari.

6. Bahan makanan saya siapkan jauh2 hari supaya tidak perlu membeli barang di hari2 yang sudah terlalu banyak carrier di kota kami.

7. Saya mendoakan mereka. Semoga Allah memperpanjang usia Bapak Ibu saya dalam kesehatan yang baik agar bisa banyak beribadah kepada Allah..

Aaminn..

Semoga tulisan ini menginspirasi teman2 yang masih diberi kesempatan merawat orang tua yang lanjut usia…

M. Yusuf Suseno.

Tentang Al Fatihah dan Basmalah

Bismillahirrahmaanirrahim.

  • Apa arti Al Fatihah?

    Surat Al Fatihah diturunkan di Mekah, karenanya termasuk golongan surat Makkiyah. Disebut al Fatihah(Pembuka) karena ia terletak di awal Al Qur’an, juga sebagai pembuka shalat. 

 

  • Bolehkah kita berdzikir Al Fatihah?

Boleh. Diqiyaskan seperti pada amalan shalat, surat Al Fatihah juga boleh dibaca sebagai pembuka dari segala amal kebajikan. Amal kebajikan tidak selalu bersifat ibadah seperti membaca Al Qur’an atau shalat. Tetapi saat kita berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga, memeriksa pasien, memasang infus, menuliskan resep, mencarikan rekam medik, mendorong pasien di kursi roda, semua adalah amal kebajikan yang kita harapkan balasannya di sisi Allah swt. Harapannya adalah saat melakukan semua aktifitas tersebut, Allah senantiasa menjadi tujuan dan membimbing kita.

 

  • Siapa ulama yang berwirid surat Al Fatihah? 

Ibnu Taimiyah(wafat 728 H), sering sekali berdzikir membaca surat Al Fatihah. Salah seorang muridnya menulis, “Ketika sedang berada di Damaskus, saya selalu mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah, bisa dikatakan hampir sepanjang siang dan malam. Suatu ketika saya diminta duduk di samping beliau. Saya mendengar apa yang beliau dzikirkan, yaitu beliau selalu mengulang-ulang bacaan surat al-Fatihah, mulai dari fajar sampai matahari mulai meninggi di pagi hari.” (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib ibn Taimiyyah, hal. 38).

Wirid Al Fatihah ini juga biasa diijazahkan oleh ulama Indonesia seperti KH Abdul Hamid Pasuruan, Gus Miek, Gus Dur dll. Ini menunjukkan, meski tidak ada riwayat dari Nabi bahwa beliau berdzikir Al Fatihah, beberapa ulama membaca Al Fatihah hingga ratusan dan ribuan kali dalam sehari, dan berharap dengan bacaan tersebut akan makin mendekatkan pada Allah swt.

 

  • Apa Keistimewaan Surat Al Fatihah?

Rasulullah saw bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggamanNya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an suatu surat seperti as Sab ‘al-Mats’ani(Al Fatihah)”.(HR Turmudzi). 

Juga hadits yang lain. Satu hari ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi Saw, ia mendengar  suara gemuruh dari atas lalu Jibril melihat ke atas sambil berkata, “Itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini. Sebelumnya tidak pernah terbuka sama sekali.” Lalu turunlah malaikat darinya. Jibril berkata, ‘Inilah malaikat yang turun dari langit, ia belum pernah sama sekali turun ke bumi sebelumnya.” Lalu Sang Malaikat mengucap salam kemudian berkata, ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, keduanya belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang Nabi sebelum Engkau. Yaitu surat Al Fatihah dan penutup surat Al Baqarah. Jika kamu membacanya pasti akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Begitu besar khasiat Al Fatihah, karena saat membacanya seakan kita membaca saripati dari Al Qur’an, bahkan dari semua kitab Allah terdahulu. Tabi’in Hasan Al Basri berkata, “Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur’an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).

 

  • Benarkah Al Fatihah juga bisa menjadi obat?

Benar. Al Fatihah juga berfungsi sebagai obat. Jadi saat kita menolong pasien, kita bisa memulainya dengan bacaan Al Fatihah.  Diceritakan bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah  saw sedang berjalan melewati suatu kampung. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung  tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata kepada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati? Karena pembesar kampung  tersengat binatang dan demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu iapun mendatangi pembesar kampung tersebut dan ia membacakannya surat Al Fatihah. Maka pembesar kampung itupun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan 30 ekor kambing. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliaupun bersabda, “Ambil satu kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagian darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Qoyyim berkata,“Aku pernah menginap di Makkah selama beberapa saat lalu aku jatuh sakit, aku tidak mendapatkan satupun dokter di sana, maka aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan membaca surat Al-Fatihah, dan aku dapati perubahan yang sangat menakjubkan, sejak saat itu aku sering memberikan saran kepada orang-orang yang mengeluh akan penyakitnya untuk membaca Al-Fatihah dan banyak dari mereka mendapatkan kesembuhan dengan cepat.” 

Apa makna Bismillaahirrahmaanirrahiim ?

Kalimat Basmalah sering diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Dan Nabi kita bersabda, Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya. (HR. Al-Khatib). Beliau juga bersabda, Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya.” (HR Ahmad). 

Utsman bin Affan pernah bertanya tentang makna basmalah, maka beliau Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia adalah salah satu dari nama-nama Allah yang agung, begitu dekatnya basmalah dengan nama Allah, seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.”(HR Al Hakim).  Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin diselamatkan Allah dari 19 malaikat penghuni neraka, hendaklah ia membaca, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’.”. 

 

  • Mengapa kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim” ini sangat hebat? 

Pertama, karena saat kita mengucap kalimat Basmalah dengan penuh penghayatan, maka sebenarnya kita tengah menyatakan tauhid kita. Karena kita yakin kalau apa yang kita lakukan saat ini tidak lepas dari kekuasaan Allah. Kita butuh Allah. Dan dengan nama Allah kita menyatakan pada alam semesta bahwa kita bisa bekerja, bisa makan, bisa tidur, bisa datang ke pengajian, semua atas izin Allah. Di sinilah inti ilmu tauhid. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak terjadi atas sepengetahuan Allah. Karena Allahlah Tuhan Yang Maha Memelihara alam semesta. 

Kedua, kita hidup pasti selalu melewati tiga momen. Masa lalu(past), masa kini(present) dan masa nanti(future). Contoh, saat kita melakukan tindakan pada pasien, misalnya saat kateterisasi jantung. Seharusnya kita memulai kateterisasi dengan kalimat ‘Bismillah’. Ini artinya kita mengingat Allah Sang Pemelihara saat awal memulai(past). Lantas kita juga terus mengingat Allah saat sedang melakukannya(present). Akhirnya kita juga bertawakkal menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah(future). Tugas kita hanya melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. 

Ketiga, menyebut ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ berarti kita sadar bahwa apa yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk ibadah mencari ridha Allah, karena dengan Basmalah inilah ia akan menjadi kebaikan yang kekal di di sisi Allah. Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” QS Ad Dzariyat : 56. Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah bernilai ibadah dan kita mengekalkannya dengan Bismillah. Kita menyuapi anak dengan “Bismillah”, karena kita berharap ridha Allah. Kita menolong pasien dengan “Bismillah” karena kita berharap pertolongan Allah di dunia dan di akhirat.  Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”? (HR Muslim).

Keempat, saat mengucap bismillah kita menyebut dua dari nama Allah yang sangat mulia. Yakni sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim. Dua nama Allah ini adalah asmaul Husna yang terbanyak disebut dalam Al Qur’an’. Ar-Rahman adalah curahan rahmat-Nya yang diberikan di dunia ini kepada semua makhluk-Nya. Dan Allah memberikan rahmat-Nya sesuai sifat Ar-Rahman kepada semua makhluknya, tanpa pandang bulu. Baik itu binatang, tumbuhan, juga manusia. Baik manusia itu beriman maupun tidak. Allah Maha Pemurah. Siapa saja akan diberi rahmat oleh Allah. Dengan menyebut Ar-Rahman kita bersyukur atas rahmat Allah di dunia.

Sedangkan, Ar-Rahim adalah curahan rahmat-Nya khusus bagi mereka yang beriman. Terutama di akhirat. Bukti kasih sayang Allah adalah Allah telah memberikan nikmat iman, dan mengutus Rasulullah saw kepada kita karena rahmat-Nya. Allah memberi kita petunjuk iman yang sebagian orang lain tak merasakannya. Allah memberi kita kenikmatan lahir batin yang halal dan berkah karena rahmat-Nya. Semua rahmat Allah yang terkait dengan nasib kita di akhirat ini dikarenakan Allah memiliki sifat Ar-Rahim. Tanpa sifat Ar-Rahim dari Allah, kita akan dibiarkan menjadi manusia tanpa iman yang hidup tanpa tujuan. Dengan mengucap basmalah kita memanggil Ya Rahiim, berharap selalu diselimuti rahmatNya.

 

  • Adakah syarat agat rahmat Allah yang merupakan bagian dari sifat Rahiim-Nya selalu tercurah pada kita?

Ada. Salah satunya adalah dengan bertakwa dan berbuat baik. “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56). ”Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmatKu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami: (Al A’raf: 156). 

Maka marilah kita selalu berbuat baik, selalu berusaha untuk menambah ketakwaan, dan salah satunya dimulai dengan bacaan, “Bismillahirrahmaanirrahiiim.” Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

Sumber bacaan: Tafsir Al Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Qur’an UII, Tafsir Al Jailani, Tafsir Jalalain, Tafsir Al Munir Marah Labid, Tafsir Ibnu Mas’ud, Tafsir Al Ibriz, The Essential Message of Qur’an, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Tafsir Al Asas. Buku-buku lain khusus tentang Tafsir Al Fatihah oleh Bey Arifin, Idrus Abidin, Jalaludin Rahmat, dll. Juga sumber lain dari internet(rumahfiqih, tafsirweb, muslim.or.id, rumaysho, asysyariah,com, nuonline, dll).

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan saya dalam menulis tulisan ini. Semoga Allah memberikan jalan untuk mengamalkannya. 

 

     

 

Aku Ingin Bisa Menyayangi Kalian Semua..

Kalau ditanya, kenapa saya bisa bertahan bekerja di Purbalingga dan Purwokerto dengan ratusan pasien dan jam kerja yang panjang? Atau bekerja di Semarang, merawat dan melakukan tindakan dengan mandi radiasi selama berjam-jam?

Mungkin karena saya sayang kepada hampir 95% pasien2 saya di Purwokerto dan Purbalingga. Lho kok 95%? Lha wong saya juga manusia, pasti kadang ada yang nggak ‘klik’ sama beberapa pasien. Yang setelah saya hitung beneran, ternyata jumlahnya mengecil. Dari estimasi 20-an persen menjadi hanya 5 persen saja.

Pada beliau2 yang saya kurang ‘klik’ ini biasanya saya menempatkan diri sebagai profesional semata. Hubungan kami lebih secara kontrak profesi, melakukan yang terbaik, tapi bukan sebagai sahabat karib atau saudara seperti yang sering saya lakukan saat menghadapi sebagian besar pasien2 saya. Pasien2 yang saya ikut sedih ketika mereka tak kunjung membaik, pasien2 yang saya ikut menangis saat Allah menentukan takdir mereka. Tapi ya gimana lagi? Ini akibat jika kita menempatkan diri menjadi keponakan, adik atau kakak dari seorang pasien…

Tapi sejak membaca kisah ini, saya jadi ingin menyayangi kalian semuanya…

Kisah ini dimulai dari sebuah hadits Nabi..

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi)

Dan berlanjut dengan Khalifah Umar..

Ketika berjalan di kota Madinah, Khalifah Umar r.a. melihat seorang bocah tengah mempermainkan seekor burung pipit. Merasa iba melihat burung itu, beliau membelinya dan melepasnya ke angkasa. Ketika Umar wafat, salah seorang ulama terkemuka melihat Umar dalam mimpi.

“Apa kabar, Umar?” tanya sang ulama. “Apa yang telah dilakukan Allah kepadamu?“

“Allah telah mengampuniku dan menghapus segala dosaku, jawab Umar”

“Mengapa? Sebab kedermawanmu, keadilanmu, atau karena zuhudmu terhadap dunia?”

Umar menggeleng.

Kemudian ia berkata, “Ketika kalian menguburkanku dan menutupiku dengan tanah dan meninggalkanku sendiri, dua malaikat datang yang membuatku takut. Bulu kudukku berdiri. Sendi-sendi tulangku gemetaran. Dua malaikat itu mendudukkanku untuk ditanya.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara tanpa sosok yang menghardik keduanya:

“Tinggalkan hamba-Ku ini, jangan kalian takut-takuti. Aku menyayanginya dan dosa-dosanya telah Kuampuni karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia…”

Jika Khalifah Umar bisa diampuni dosa-dosanya karena telah menolong seekor burung pipit, semoga dosa-dosa saya yang jauhhh lebih banyak bisa juga dimaafkan dengan cara saya sendiri…

(Dari terjemahan kitab Ushfuriyah oleh Penerbit Qalam, Cetakan I hal 14)

M. Yusuf Suseno, Purwokerto, 5 Okt 2019.

Ketika Kangen Kanjeng Nabi..

Siapa yang kangen beri’tikaf di masjid Nabawi? Siapa yang kangen mendulang pahala shalat, tadarus Al Quran dan dzikrullah di masjid Nabawi? Siapa yang kangen sowan Kanjeng Nabi sallalahu alaihi wassalam?
Sepertinya kita semua kangen dan berharap bisa berlama-lama di masjid Rasulullah sallalahu alaihi wassalam.

Kalau saja ada program gratis utk sebulan i’tikaf di masjid Nabawi bersama seluruh keluarga dan semua keperluan hidup di sana ditanggung, kira-kira berapa banyak yang akan berangkat? Pasti jutaan umat muslim akan langsung mendaftar.

Tapi sebenarnya pahala i’tikaf di masjid Nabi kita tercinta dengan ratusan ribu rakaat itu sangat mudah didapat.

Bagaimana caranya?

Pergilah keluar rumah, carilah saudara kita yang membutuhkan pertolongan, dan tolonglah.
Tidak sempat? Kalau begitu, bukalah HP, cari nomor saudara atau teman yang sering mengalami kesusahan(baik fisik, finansial, maupun rohani), hubungi dan tanyakan, apa yang bisa kita bantu dari rumah? Lantas buatlah hatinya gembira dengan kata-kata yang baik, dan jika kita mampu, ringankanlah bebannya dengan membantu sedikit membayarkan hutangnya..

Dari Ibnu Umar Radiyallaahu ‘anhu bahwasanya dikisahkan suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam lalu dia pun bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? Dan adakah suatu amalan yang paling dicintai Allah?”

Maka Rasulullah menjawab, “Orang yang paling Allah cintai adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesamanya. Sedangkan amalan yang paling Allah SWT cintai adalah engkau menggembirakan hati seseorang muslim, atau engkau menghilangkan suatu kesukaran dalam hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya.

Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara di dalam sebuah keperluan itu lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ku (Masjid An-Nabawi) ini selama sebulan.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka”
(HR Thabrani)

Begitu juga dikisahkan saat sahabat Abu Hurairah i’tikaf di masjid sepeninggal Rasulullah sallalahu alaihi wassalam wafat. Abu Hurairah tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

“Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah. “Apakah kau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut.
“Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan’”. ( HR Thabrani & Ibnu Asakir)

Sudahkah kita berbuat baik kepada seseorang hari ini?

Kalau saja kita meniatkan untuk menolong saudara kita sekali saja dalam sehari untuk mencari ridha Allah? Berapa tabungan pahala kita untuk bekal di Hari Perhitungan nanti setelah sebulan merutinkannya?

Sesungguhnya Hari Perhitungan itu sangatlah berat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:

Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.”

Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.”
(HR Ahmad dan Al Hakim)

Sesungguhnya ampunan dan rahmat Allah terserak di seluruh alam raya.

Wallahu a’lam bis
shawab.

M. Yusuf Suseno
Purwokerto, 5 Okt 2019

Matur Nuwun…

Dua hari yang lalu, tepatnya Jumat, 6 September 2019, saya kembali praktek di RS Harapan Ibu Purbalingga, Jawa Tengah.

Dan seperti diduga, pasien melimpah ruah. Ada 250 lebih. Tepatnya 259 pasien. Akibatnya saya harus bekerja mulai jam 9 pagi hingga pukul 2 dini hari. Tentu saja dipotong waktu shalat dan istirahat.

Dengan tubuh yang masih flu berat dan fisik tak bersahabat, perjalanan hampir 17 jam bersama 259 pasien terasa lambat. Ada beberapa saat saya harus berhenti praktek karena batuk-batuk tak tertahankan, istirahat minum obat, sampai minta ijin 10 menit untuk menutup mata karena pengaruh obat flu. Tentu saja saya tak pernah berhasil tidur. Terutama karena hati saya tidak tega pada simbah-simbah yang lama menunggu di luar.

Salah satu pasien simbah-simbah itu adalah Mbah Djuri. Kalau di status sih beliau kelahiran 1946. Jadi masih berusia 73 tahun.

Mbah Djuri sudah menjadi pasien saya selama 2 tahun lebih. Dulu beliau pertama kali ke Poli Jantung HI awal tahun 2017. Saat itu beliau terlihat sesak dan sakit. Dan ketika pertama kali bertemu, kalimat Mbah Djuri yang paling berkesan adalah, “Aduh Pak Dokter, kulo sampun madosi Pak Dokter meh sekawan tahun. Riyin kulo ke RS P tahun 2013 dan ternyata Pak Dokter sampun mboten wonten.. Insha Allah setelah ketemu Pak Dokter di sini, saya pasti sembuh!” Nada bahasa campuran khas Purbalingga itu sangat hangat dan ramah.

Saat itu saya kira pernyataan Mbah Djuri cuma basa-basi saja. Memang sejak tahun 2012, karena pengangkatan PNS yang tidak kunjung berhasil setelah dua kali periode pendaftaran, saya memutuskan resign dari RS P dan sekolah lagi. Jadi beliau salah satu pasien yang kecelik.

Tapi ternyata ucapan beliau bukan basa-basi. Wajah Mbah Djuri selalu bertambah sumringah setiap kali hadir ke Poli. Dan meski dengan kondisi jantung yang cukup berat, alhamdulillah kondisinya berangsur membaik.

Ada beberapa hipotesa mengapa beliau cepat pulih. Pertama, kebetulan komposisi obat-obat saya bisa ‘klik’ dengan kebutuhan tubuh beliau. Kedua, karena ternyata beliau sungguh-sungguh percaya dengan ucapannya, bahwa ada keyakinan akan kesembuhan setelah bertemu saya. Apapun itu, tentu saja perbaikan kondisi Mbah Djuri terjadi karena Allah Azza wa Jalla memutuskan demikian.

Di hari Jumat itu kondisi Mbah Djuri sebenarnya tidak terlalu bagus. Beliau harus menunggu hampir 12 jam sejak pagi hari, dan baru masuk menjelang shalat Isya. Dengan gangguan irama jantung dan pompa jantung yang tidak terlalu bagus, beliau harus berjalan perlahan untuk masuk ke ruang praktek. Setelah pemeriksaan selesai, Mbah Djuri tersenyum dan menjabat tangan saya, mengucapkan sederet doa agar haji saya kemarin menjadi haji mabrur. Aaminn.. Aaminn ya Rabbal alamiin..

Tapi yang tak saya sangka adalah kalimat terakhir selangkah sebelum keluar dari pintu praktek. “Pak Dokter, saat Pak Dokter haji kemarin, saya terussss wiriddd buat Pak Dokter..” Tangannya memperagakan gerakan memutar tasbih berulang-ulang. “Alhamdulillah kalau semuanya lancar.. Alhamdulillah… Alhamdulillah…..” Sambil mengucap itu beliau berjalan tertatih, dan pintu praktek menutup perlahan.

Terhenyak di kursi, tak terasa ada air mata menggenang di sudut mata saya. Sore itu saya baru tahu, bahwa ternyata ada doa banyak orang di balik haji saya kemarin. Allah mungkin bisa saja memberi cobaan yang berat karena dosa-dosa saya yang bertumpuk. Tapi mungkin karena doa-doa merekalah saya diringankan dan dimudahkan.

Mungkin secara wadag kemarin saya mengembarai Mekah dan Madinah selama 25 hari tanpa keluarga. Seakan semua saya putuskan dan lakoni sendiri. Mulai dari keputusan berat untuk memilih haji Ifrad dan berihram selama 8 hari, keputusan untuk bolak-balik ke Masjidil Haram selama menunggu hari Arafah, keputusan untuk Tawaf Ifadah sendiri karena takut akan maut. Dan banyak yang hal lain yang kadang terasa berat dilakukan.

Satu hal yang sangat saya takutkan adalah jika Allah tidak mau menerima haji saya. Selama delapan hari berihram saya selalu dihantui oleh kisah seorang yang berhaji dan bertalbiyah, tapi talbiyahnya tak disambut oleh para malaikat. “Hartamu haram, niatmu riya’ dan hajimu tak mungkin diterima!”ujar para malaikat. Saya sangat takut ada bagian dari harta dan niat saya untuk berhaji yang tak baik dan akibatnya para malaikat tak mau menyambut.

Tapi kini saya merasa lebih tenang. Sepertinya saja kemarin saya berhaji sendiri, tapi sebenarnya saya tak sendiri. Ada tangan lain yang menengadah, menyentuh pintu langit. Memohonkan ampun agar saya tak diazab di Tanah Suci. Memohonkan ampun agar haji saya dimaafkan atas segala kekurang tulusan niat dan tercampurnya harta syubhat dan mungkin haram.

Ternyata selain doa dari Bapak Ibu, keluarga, teman, dan kerabat, ada doa dari pasien-pasien yang kasihan pada saya. Salah satunya adalah wirid Mbah Djuri yang saya yakin lebih bisa menembus pintu-pintu rahmat di langit daripada wirid saya.

Labbaik Allahumma labbaik… Mungkinkah malaikat yang mau menolak saya terhenyak karena melihat kesungguhan Mbah Djuri memutar biji-biji tasbihnya di tengah malam untuk saya?

Air mata itu menderas di pipi saya.

Matur nuwun Mbah. Matur nuwun sanget….

Bersama Mbah Djuri, Jumat, 4 Oktober 2019. Semoga kita semua sehat dan bahagia dunia dan akhirat..

Lima Hari Pertama Sepulang Haji..

Lima Hari Pertama Sepulang Haji

Lima hari setelah kembali ke rumah, aku telah 3 kali ketinggalan shalat fardu berjamaah. Dua kali karena sibuk dengan pekerjaan. Sekali karena ketiduran. Ini berarti Arbain yang kuusahakan selama di masjid Nabi tercinta telah kukhianati.

Lima hari setelah sampai rumah, aku sudah beberapa kali membicarakan orang lain. Ghibah. Memakan bangkai saudara sendiri. Ini berarti latihan ihram yang diberikan Allah saat haji telah kulanggar dengan senang hati.

Lima hari setelah sampai rumah, halaman tadarus Al Qur’an mulai berkurang. Yang dulu sekian lembar, cuma jadi sekian baris dalam sehari. Alasannya komplit. Mulai dari sibuk kerja, keluarga yang masih kangen, tamu yang tak berhenti, atau tubuh yang masih jetlag dan kurang sehat. Ini berarti harapanku pada syafaat Al Quran di Hari Akhir mulai pudar. Aku mulai lupa pada ketakutanku pada neraka. Mulai merasa sombong berhadapan dengan apinya yang menyala-nyala.

Lima hari sepulang haji, shalat sunnahku makin pendek. Cuma yang muakkad saja, itupun tak cukup tumakninah. Tahajjud makin singkat. Kalau perlu witir 1 rakaat.
Apa arti ini semua?
Apa aku mulai menjauh lagi dariMu ya Allah? Gusti Allahku? Rabbku?

Yang kutahu, ada rasa sedih. Rasanya ingin menangis.
Aku rindu tersedu di depan Ka’bahMu. Aku rindu terisak di ArafahMu.
Aku rindu rasa tentram saat memakai ihramku.
Haji yang kuharapkan pertolongannya di Hari Akhir ternyata pelan-pelan kukhianati dan kutinggalkan.

Ya Allah..
Aku ingin kembali.
Aku ingin berihram lagi.
Aku ingin bertalbiyah lagi.
Aku ingin bisa menangis lagi.

Labbaik Allahumma labbaik.
Labbaika laa syarika laka labbaik.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak..

Panggillah aku ya Allah…
Panggillah aku kembali…
Ya Allah..
Panggillah aku…
Panggillah aku kembali..

Ijinkan aku berihram lagi…

Semarang, 4 Sept 2019.

Kepada Simbah2 yang Sudah Percaya.

Tiba2 mendengar kabar kalau ada pasien setia yang meninggal, dan entah kenapa saya ingin tuliskan ini..

Beberapa kali, saat tubuh saya terasa sangat lelah, saya meminta didoakan oleh pasien-pasien saya. ‘Mbah, nyuwun pangapunten sampun nengga dangu.. Dalem didongakke nggih, supados sehat..’

Mereka yang sudah menunggu berjam-jam, kadang hingga tengah malam itu tersenyum. ‘Nggih Nak dokter, Simbah mesti ndonggakke Nak dokter terus.. Mugi2 Nak dokter sehat terus.. Saged ngrumat simbah terus…’ Selalu air mata saya menetes mendengar doa mereka.

Mungkin karena sebagai manusia, saya tahu dosa2 saya sangat banyak. Dan hanya doa dari mereka, orang2 kecil yang merasa terbantu dan tertolonglah maka azab Allah itu tak diturunkan pada saya. Saya percaya, bahwa saya bisa hidup, naik mobil tanpa kecelakaan, melakukan tindakan invasif tanpa komplikasi, semua karena doa pasien2 tidak mampu yang berterima kasih. Doa tulus yang didengar Gusti Allah..

Matur nuwun sanget nggih Mbah… Kula tansah kangen kalih Simbah..

#in memoriam pasien2 setia saya yang sudah meninggal, guru2 saya yang sejati, yang bahkan saat saya menulis ini, ingatan akan mereka membuat saya menangis.. Kula tansah kangen kaliyan Simbah.. Mugi2 ketemu malih nggih Mbah ting swarganipun Gusti Allah… Kula dipadosi nggih Mbah, matur Gusti Allah yen kula dereng ketingal2…

Bakda subuh, 29 Ramadhan 1440

di Masjid, di Masjid (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin..

clone tag: 890859975819132359

Yang Terampas dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Chairil Anwar, 1949

Setelah Sekian Tahun yang Entah.

20120816-043551.jpg

Setelah sekian tahun yang entah, apa yang berubah dari diriku? Banyak. Aku makin tua. Makin sibuk. Makin sedikit waktu untuk anak-anak. Makin tak punya waktu buat diri sendiri. Makin tak sempat menulis. Hidupku ditelan ribuan pasien. Ribuan radiasi. Ribuan pikuk dunia. Inikah yang sungguh-sungguh kuinginkan? Entah.

Salah satu kalimat yang sejak lama ada di kepalaku adalah, “Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti.” Sudah berartikah hidupku? Mungkin iya kalau dilihat dari kaca mata orang lain yang kebetulan Allah menakdirkan aku membantu mereka. Tapi berartikah buat diriku sendiri? Entah.

Aku merasa begitu kecil di dunia kedokteran yang besar. Merasa begitu rapuh di hadapan maut yang tak bisa kulawan. Dan jujur, aku kangen masa-masa ketika anak-anak masih kecil, ketika mereka tak terlalu kompleks sebagai remaja.

Setelah sekian tahun yang entah, apa yang berubah dari diriku? Banyak. Tapi ada satu hal yang sama dengan 10 tahun lalu. Yakni selalu ada hasrat untuk berhenti.

Kadang saat aku bepergian dengan kereta, kulihat rumah-rumah sederhana di kota-kota kecil yang kulewati. Dan layaknya seorang pengembara, sering aku ingin berhenti, tinggal di sebuah sudut desa, dan menjadi seorang pegawai biasa. Berangkat pagi, pulang sore, tanpa tanggung jawab terhadap banyak manusia.

Tapi seperti juga 10 tahun lalu, itu tak jua kulakukan. Dan tetaplah aku di sini. Terseok-seok di tengah padang pertempuranku sendiri.

 

Tentang Buku Belajar Menjadi Daun

Beberapa tahun lalu, saat saya masih sempat mengumpulkan tulisan yang tercecer. Dan jadilah kumpulan tulisan dg judul ‘Belajar Menjadi Daun’. Beberapa buku ternyata masih tersisa di rak penerbit. Rasanya eman2..  Harga 45.000 diskon 10 % (belum termasuk ongkir). Silakan bagi yang berminat untuk WA ke nomor +6281240421158 (Mbak Tri). Semua hasil penjualan buku akan diberikan untuk membantu pasien yang kekurangan, dan untuk pengelolaan Rumah Baca Kopi Cokelat. Matur nuwun…

Ada berapa Tuhan?

Ada berapa Tuhan dalam diriku? Banyak. Tuhan dalam wujud anak2. Dalam wujud tabungan, investasi, mobil, angsuran rumah. 

Ada berapa Tuhan dalam hatiku? Banyak. Berbentuk istri. Berupa pasien2. Berwajah manusia2. Termasuk sebagian orang2 di dunia maya yang kuperTuhankan.

Ada berapa Tuhan dalam hidupku? Banyak.

Dan tiap kali kukhianati Tuhan, Ia masih saja memberi. 

Dengan menuhankan yang lain, Tuhanku yang Maha Pencemburu tetap mencintaiku.

Dan itu seharusnya membuatku malu. Seharusnya. Semestinya. Tapi kenapa aku terus mempermalukan diriku? Kemana urat maluku?

EKG = Eh Kok Gampang…

Terinspirasi oleh beberapa guru saya di alam maya. Terutama kuliah dari Dr Emmanoulis S Brilakis di youtube tentang intervensi koroner, akhirnya kuberanikan membuka sebuah channel youtube.

Saat ini isinya tentang pembelajaran pembacaan EKG alias elektrokardiografi. Harapannya sih besok2 akan lebih banyak ilmu perjantungan yg bisa aku share..
Silakan diklik nggih…
Dr MYS (youtube channel).

Jalan Pulang

Ada hal-hal yang kusesali dalam hidup.
Ada hal-hal yang harus kuterima.
Hari ini, apapun yang kudapat.
Itu lebih baik dari kematian yang dulu hampir berkali diberikan padaku.
Dan pasti. Satu hari ia akan datang juga.
Sakaratul maut itu.

Ada hal-hal yang kini harus kujalani.
Beberapa hal berubah.
Diterima saja.
Mungkin, itu semua karma masa.

Kini saatnya berpendek angan.
Sekadar menerima apa yang ada.
Menjadi pohon yang lebih besar.
Agar lebih banyak menaungi orang lain dari panas dan hujan.

Sadar, bahwa aku tidak lebih lambat dari orang lain.
Tidak pula lebih cepat.
Aku menapaki jalanku sendiri.

Bayangan adalah satu-satunya teman.
Jalan pulang adalah satu-satunya jalan kukenal.

Xi’an, China, 15 November 2017

 

Sebuah Pengakuan

Entah kenapa. Tiba-tiba aku ingin menulis. Sudah lama tidak. Kesibukan lain yang entah membuatku lalai dari menulis. Yakni pekerjaanku sebagai dokter jantung yang tak kenal usai.

Aku tenggelam dan menenggelamkan diri dalam ribuan pasien di Purwokerto, Purbalingga dan Semarang setiap bulannya. Di Purwokerto aku menemui minimal 600-an pasien tiap bulan, lantas 300-an pasien per bulan di Purbalingga, dan 500-an pasien di Semarang. Sebagian besar menggunakan BPJS. Dan aku tak mempermasalahkan itu. Sudah empat tahun aku membagikan waktu dan hidupku di tiga kota. Itu belum termasuk perjalanan panjang via darat pulang pergi Semarang-Purbalingga-Purwokerto yang menguras waktu dan energi setiap minggu.

Penguras energi yang lain adalah tindakan kateterisasi jantung dan pemasangan stent di Semarang. Kadang tindakannya beresiko tinggi hingga menghabiskan emosi. Ketakutan-ketakutan akan kegagalan masa lampau. Ilmu dan teknik baru yang terus memaksaku belajar dan belajar.

Beberapa kematian pasien juga membuatku terbebani beberapa hal. Kadang begitu berat hingga membuat emosiku tidak stabil. Mungkin karena aku menyayangi mereka. Dan kurasa, sebagian besar dari mereka menyayangiku.

Kematian pasien-pasien lama di Purwokerto dan Purbalingga membuatku merasa bersalah karena tak bisa menyertai mereka di saat akhir. Sebagian harus berhenti di teman lain karena aku tak ada di sana. Tiap kali berkelebat nama-nama dan wajah dari mereka. Itu membuatku sedih dan ingin menangis. Cengeng memang. Tapi itu tak bisa kuubah. Sedang kematian pasien-pasien di Semarang membuatku merasa bersalah karena kadang aku merasa seharusnya aku membuat pilihan lain yang lebih baik.

Dari kalimat di atas terlihat ada perbedaan tipe hubunganku sebagai dokter dan pasien di Purwokerto-Purbalingga dengan pasien-pasien di Semarang. Pasien-pasien Purwokerto-Purbalingga lebih dekat denganku secara emosional. Mereka lebih percaya, lebih loyal dan itu membuatku merasa lebih bahagia.

Pasien-pasien Semarang lebih berjarak dan rasional, mungkin karena pilihan dokter jantung di Semarang lebih banyak, jadi mudah saja bagi mereka untuk pindah ke dokter lain saat aku dirasa tak sesuai dengan hati mereka. Meski itu tak selalu. Karena ada juga pasien Semarang yang cukup dekat denganku secara emosional.

Tapi apapun dan bagaimanapun aku senang berbagi. Berbagi hidup. Berbagi waktu dan umur. Termasuk dengan mereka. Pasien-pasien yang mempercayakan hidupnya padaku. Seorang dokter jantung yang kadang bisa saja salah. Salah mengambil keputusan. Salah memperkirakan lawan. Dan kadang kalah. Kadang malaikat maut lebih pintar dariku. Atau sebenarnya tidak? Ia selalu lebih pintar, hanya saja bermain cantik dengan membiarkanku menang untuk beberapa waktu.

Sering di saat-saat terberat aku menjalankan profesiku, aku ingin sembunyi. Ingin tak harus menjadi dokter jantung. Ingin tak harus menjadi cardiac intervensionist yang memasukkan kawat ke pembuluh jantung koroner pasien.

Kadang aku cuma ingin tidur dan bahagia. Tapi sungguhkah aku akan bahagia jika aku berhenti bekerja? Sehari mungkin. Dua hari bisa. Tapi seminggu setelah itu aku pasti rindu. Rindu perasaan bermakna. Kangen pada perasaan berhasil melakukan sesuatu. Semacam kecanduan akut pada hormon katekolamin yang menyedot umurku. Aku tahu itu.

Dan akhirnya aku tak pernah bisa berhasil sembunyi. Walau sebenarnya aku cuma ingin tenang beberapa waktu. Masalahnya adalah karena aku juga bahagia saat bersama mereka. Para pasien yang bilang kalau hidupnya lebih baik setelah bertemu denganku. Pasien-pasien yang aku tahu suatu hari aku akan berpisah dengan mereka. Setelah kami bersama mencoba mengalahkan malaikat maut yang sengaja bermain jelek, atau pura-pura cantik. Sebenarnya aku benci dengan kalimat ini. Tapi memang benar, kadang aku merasa ia membuatku merasa menang di satu waktu, lantas kalah di ronde berikut.

Dan aku tahu, satu hari aku akan kalah selama-lamanya. Aku akan terkubur di tanah dan tak bisa menemui mereka kembali.

Ah, hidup jalan terus. Umur yang lama-lama habis. Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil.  Kita bisa memilih menjadi matahari, bintang, bulan, lampu neon, lilin, atau sekadar korek api. Sialnya, banyak orang memilih menjadi gelap. Tapi tak apa. Tanpa gelap, terang tak bisa didefinisikan.

Juga karena pada akhirnya segala sesuatunya akan dihitung. Segala sesuatunya akan ditanya.

Purwokerto-Jakarta 6 Okt 2017.

Jawaban atas Pertanyaan : Kenapa Aku Menjadi Cardiac Intervensionist?

Sebenarnya apa yang terjadi dalam dunia kita ini? Ketika kebenaran hanya menjadi milik sebagian orang. Dan kita terbagi menjadi dua belahan dunia. Kau dan aku. Bila tak bersamaku. Kau bersama mereka.

Pikiran tentang cuaca di tanah air itu bahkan terbawa hingga aku di sini. Di Paris EuroPCR 2017. Tempat berkumpulnya ribuan ahli jantung intervensi dari berbagai belahan dunia.

Aku bersyukur, di sini aku masih melihat banyak orang yang sangat antusias menyelamatkan nyawa manusia. Meski tetap saja ada orang-orang yang hasrat utamanya adalah mencari uang. Sedang yang lain mencari popularitas. Sebagian yang tersisa mencari hidup yang lebih berarti. Lebih bermakna.

Aku? Lantas kenapa aku menjadi cardiac intervensionist?

Aku ingat pertanyaan Prof Iwan, dokter Budi Bakti dan dokter Yudi Her sekian tahun lalu saat aku masih menjadi residen. Kenapa kau ingin menjadi seorang pemanjat Suf? Kenapa? Hmm. Jujur, mungkin semua alasan di atas itu bercampur baur dalam diriku. Berpilin.

Ada rasa senang karena aku bisa menghidupi keluargaku dari pekerjaan ini. Tapi yang lebih membahagiakan adalah ketika seorang Ibu sepuh yang pernah kupasang stent berkata sambil menahan tangis saat pamit dan menyentuh tanganku. “Dokter yang sehat ya, saya masih butuh Dokter..” Ah momen itu tak tergantikan. Terima kasih Bu.. Terima kasih sekali…

Satu hal, mungkin aku juga ingin dunia yang tak terbelah. Aku tak memandangmu sebagai Islam atau bukan. Aku tak bertanya kau mendukung Ahok atau mencercanya. Aku tak pernah bertanya kau akan membayarku dengan daun atau dengan uang.

Kalau kau sakit, semampuku aku akan menolongmu wahai saudaraku. Menyelamatkan nyawamu.

Itu janjiku.

Paris, Mei 2017

Sumber Kesedihan

​Kematian. Akhir2 ini aku sering berpikir tentang mati. Dan betapa ia sangat mudah menghampiri.

Mungkin memang dunia ini adalah sumber kesedihan. Dan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Dan pula kata Iwan Fals, keinginan adalah sumber penderitaan.

Ah teori. Karena meski tahu semua itu, toh tetap saja aku sering membiarkan diriku sendiri sedih dan menderita..
Tapi saat aku gundah itulah aku makin sering mengingat mati. Mungkin kegundahan ada gunanya.

Aku mencoba mengingat teman2 dan pasien2ku yang lebih dulu dipanggil Allah, dan akhirnya aku kembali berpikir, bahwa apapun yang kudapatkan hari ini, itu masih sedikit lebih baik.
Setidaknya aku masih punya kesempatan memperbaiki nasib di Hari Akhir.. Aminn..

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran:185].

Kebahagiaan dan Keselamatan

Tidak ada kebahagiaan dan keselamatan bagimu, hingga engkau lebih mementingkan Dia daripada selainNya. 

Tidak ada kebahagiaan dan keselamatan bagimu, hingga engkau lebih mementingkan agama daripada syahwatmu, akhiratmu daripada duniamu, dan Penciptamu daripada mahluk sesamamu. 

-Syekh Abdul Qadir Al Jailani, 14 Rajab 545 H-

Ampuni Aku.

Aku mengucapkan syahadat tiap kali shalat. Laa Ilaaha Illallah. Tiada Tuhan selain Allah.

Tapi berapa berhala yang kutaruh dalam hatiku? Banyak sekali. Aku sering menyembah mereka dan melupakan Allah.

Uang, tabungan, asuransi, pasien, orang lain, istri, bos di kantor, semua sering kujadikan berhala. Semuanya sering mengalahkan Allah dalam hidup.

Berapa kali kuabaikan pangggilan adzan demi pekerjaan? Tak terhitung.

Berapa kali kutahan dompetku karena takut kekurangan? Tak terhitung.

Ya Allah. Ampuni aku menjelang hari kematianku.⁠⁠⁠⁠

Bismillah

Bismillah. Ini amanatku pada diriku dan keluargaku.

  1. Mengucapkan Bismillah setiap akan melakukan apapun. Kita tidak belajar semata agar lulus menjadi yang terbaik. Kita tidak bekerja hanya untuk mencari uang dan pengakuan. Tapi kita belajar agar menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat untuk sesama. Kita bekerja untuk membantu dan menolong orang lain agar kita diringankan di Hari Perhitungan. Kita hidup untuk sesuatu yang lebih luhur, lebih mulia dari sekedar mencari dunia yang hina. Yang terpenting, kita akan niatkan segala sesuatu yang akan kita lakukan di dunia untuk mencari bekal hidup setelah mati yang pasti. Kita melakukan segala sesuatu karena dan untuk mencari ridha Allah.
  1. Berusaha ingat Allah sepanjang waktu. Kita selalu merasa diawasi oleh Allah. Allah Maha Tahu bahkan isi hati kita yg terdalam. Tak ada ruang untuk segala niat buruk karena kita malu pada Allah yang Maha Melihat.
  1. Sering-sering mengingat mati. Agar kita tak melakukan hal-hal yang dimurkai Allah. Agar kita tak berlebihan dalam makan, tidur, dan bicara. Agar kita banyak beramal sholeh. Maut bisa datang sewaktu-waktu. Tak menunggu tua. Tak menunggu sakit. Tak menunggu siap. Berbuat baik pada siapapun. Siapa tahu hari ini hari terakhir kita bertemu mereka.
  1. Ketika dalam posisi mengambil pilihan apapun, kita akan mengambil keputusan yang membuat hati lebih tentram di Hari Perhitungan nanti. Keputusan yang akan membuat kita sekeluarga tersenyum di hari yang sangat berat itu.
  1. Bersyukur atas segala sesuatu. Kita sudah diberi banyak hal lebih dari yang dibutuhkan. Kita akan lebih banyak bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhitung. Dzikir ‘Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah’ adalah kunci kebahagiaan di masa sulit. Bacalah dengan penuh rasa syukur pada Allah yang sudah memberi kita sehat di saat ada saudara kita yang tak bisa lepas dari selang oksigen. Memberi kita keluarga di saat ada orang lain hidup sebatang kara.
  1. Ketika hari terasa berat, apapun tetaplah shalat. Tetaplah berdzikir. Tetaplah mengaji Al Qur’an. Kalau suami dan ayahmu ini meninggal satu hari nanti, berdoalah untukku setiap selesai shalat 5 waktu. Pendek saja tak apa. Kalau sempat, kirimilah Al Fatihah sekali waktu, agar aku tak mengais-ngais doa dari umat muslimin.

Itu saja.

Semoga Allah memberi petunjuk dan ampunan pada keluarga kita di hari yang perhitunganNya sangat keras nanti. Aminn.

15 Maret 2016.

m.y.s.

Di Depan Kabah

Di Depan Kabah

Tuhan, kami tahu Engkau ada dimana-mana. Tapi maafkan khilaf kami karena merasa Engkau hanya ada di sini.

Maafkan dosa kami karena merasa lebih dekat denganMu di depan MultazamMu. Padahal kami tahu, Engkau ada dimana-mana..

Maafkan kebodohan kami. Ampuni kesombongan kami karena memilih bertamu ke rumahMu saat tetangga kami bingung membayar hutang, juga saat saudara kami tak punya pekerjaan.

Ampuni ketidakpedulian kami dengan tidur di hotel saat saudara-saudara kami di Suriah berceceran di reruntuhan, dibunuhi pelan-pelan.

“Kan kita capek Tuhan bertamu padaMu, kami butuh istirahat yang nyaman,” alasan kami sambil WA teman kantor, ‘Eh, hotelku cuma selemparan granat lho dari Kabah’

Tuhan, kami tahu Engkau ada dimana-mana. Tapi tolong ampuni hati kami yang sering lupa padaMu.

Ampuni hati kami yang lupa pada kepastian hari kematian kami. Ampuni lupa kami pada setumpuk kain kafan yang telah Kau siapkan di gudang toko dekat Bergota itu.

Ampuni hati kami yang hanya ingat tentang masa depan anak istri, kerja, jenjang karier, tambahan gelar, tagihan pajak, juga saldo bank penuh riba kami..

Jangan kaget ya Tuhan, dan titip ampuni Kami yang pasti lupa padaMu setelah tiba di rumah nanti. Karena selangkah keluar masjidMu pun yang kami pikirkan cuma beragam titipan oleh-oleh yang bisa kami pamerkan.

Tuhan, kami tahu Engkau ada dimana-mana. Tapi kami selalu lupa engkau lebih dekat dari detak nadi leher kami.

Tuhan, ampuni kami..
Ampuni kami..
Ampuni kami..
Ampuni kami yang ternyata masih jauh dariMu di rumahMu..

Tuhan, Aku Lupa

​Tuhan, Aku Lupa

Tuhan, aku lupa. 

Aku lupa kalau hidup ternyata hitungan mundur. Sehari lewat, seminggu entah, sebulan tak terasa. Tahun berganti, tetiba saja menua.

Tiap tarikan napas, kuhabiskan waktu terbatas.
Boleh aku tak memakainya Tuhan? Aku takut kehabisan.

Boleh aku berhenti sebentar saja? Kau tekan tombol pause itu, aku pingin tidur barang sebentar pula.
Tuhan, aku takut waktuku kadaluarsa tiba-tiba. 

Karena aku ternyata masih belum sampai kemana-mana. Masih di sini. Berliat dosa gelimang waktu tersia. 
Tuhan, maafkan aku yang sering lupa. 

Tentang jam hitung mundur yang kita sepakati dulu. Perjanjian di alam tak terperiMu. 
Tuhan, maafkan aku. Aku lupa tak membaca lampirannya. Boleh kita ganti sebagian pasalnya? 
-m.y.s-