Roma 2016

Aku tak tahu kenapa tulisan ini kuberi judul Roma 2016. Apakah akan ada Roma 2017? Entahlah.

Kota ini terasa sepi. Beda dengan Paris yang hiruk pikuk dan high tech. Roma sunyi dan sepi. Tua.

Kebetulan aku tinggal di hotel Domus Aventina. Sisi kota yang tak terlalu pikuk. Kamarku juga ada di lantai bawah. Dengan taman berbalkon yang kurang terawat. Pohon tua di samping bangunan lama tak berwarna.

20160827_080940

Tapi aku tak peduli. Aku cuma butuh ketenangan yang sunyi. Mencekam yang diam. Ditemani  Olafur Arnalds, musiknya mengiris, tak lekang dipecah kepakan burung di taman luar.

Diam-diam, lirih kubaca puisi M Aan Mansyur.

Silakan klik judul puisinya jika ingin.

Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta. 

Surat yang Terlambat

untuk Dr Dyah

Dokter..
Aku cuma ingin minta maaf.
Karena surat ini terlambat.
Seharusnya ditulis sejak dulu.
Sejak lulus kuliah spesialis dan meninggalkan Surabaya.
Tapi Dokter sangat tahu kalau muridmu ini sangat sibuk.
Dan Dokter pasti tak pernah berharap surat ini datang tepat waktu.
Aku yang salah Dok.
Aku yang harus membayar mahal karenanya.
Membayar mahal karena surat ini jadi terlambat.
Sangat terlambat hingga hari saat Izrail menjemputmu.

Dokter..
Aku cuma ingin berterima kasih.
Terima kasih karena telah percaya pada muridmu ini.
Terima kasih karena telah membantu keluarga kami saat hidup kami kesusahan dulu.
Terima kasih karena menghidupi keluarga Yusuf dengan memberikan jatah menjadi tutor pengajar EKG, meski Dokter tahu aku masih belum cukup senior. Belum pantas untuk itu.
Tapi Dokter tahu aku butuh uang honor itu untuk hidup.
Untuk menyekolahkan anakku Cinta.
Untuk bisa hidup cukup layak di Surabaya.

Dokter..
Terima kasih karena telah memarahiku.
Terima kasih karena telah mendidikku dengan selayaknya.
Terima kasih karena telah menginspirasiku.
Maaf kalau aku belum cerita kalau kini aku juga membuka kursus EKG seperti Dokter dulu.
Cuma kecil-kecilan Dok. Gratis pula.
Aku pingin bisa menjadi bermakna untuk banyak orang seperti Dokter.

Dokter..
Aku minta maaf karena surat ini terlambat.
Aku minta maaf.

m.y.s

 

Hidup Hanya 3 Hari.

2016/03/img_7068.jpg

Saat Profesi Saya Dihujat

Sedih rasanya melihat profesi dokter dihujat seperti ini. Tidakkah mereka yang membenci kami sadar bahwa tubuh yang rapuh tak mungkin selamanya sehat? Bahwa bisa saja satu hari mereka membutuhkan dokter jantung untuk menyelamatkan hidup?

Dokter yang dituntut melakukan terbaik tanpa salah, memiliki ilmu terbaru, dan diharuskan mempunyai hati malaikat dengan honor seadanya?

Menurut saya, hubungan antara dokter dengan perusahaan farmasi sangat tergantung pada hati nurani.
Sebagai industri yang membutuhkan pengguna, farmasi akan berusaha memikat hati dengan memberikan segala yang dibutuhkan seorang dokter.
Di sisi lain, seorang dokter juga butuh tiket pesawat ketika harus mengikuti konferensi di luar negeri untuk update ilmu. Karena kami memang bukan malaikat yang bisa terbang.

Dan akhirnya, seperti saya katakan semua kembali kepada hati nurani. Saat menulis resep, adakah lembaran tiket pesawat yang ada di laci mempengaruhi keputusan itu atau tidak.

Itu sebabnya saya hanya mau disponsori perusahaan yang bonafide. Kalau bisa original produk dengan riset mereka. Bukan produk paten tapi ‘me too’. Saya akan memilih original produk karena saya menghargai usaha mereka untuk riset.
Tapi tentu saja saya tetap berusaha ada pada koridor indikasi, guideline ilmiah, evidence base terbaru.
Dan sekali lagi, pada koridor hati nurani.
Selalu meresepkan yang memang pasien benar2 butuhkan. Tidak over terapi.

Pertarungan menjaga nurani ini lebih rumit saat memilih antara obat paten dan generik.
Jujur, saya tidak begitu percaya pada obat generik. Saya ingat artikel bertahun lalu saat ada perusahaan farmasi di Amerika yang dituntut karena ternyata produk obat generiknya kurang dosis dari yang seharusnya.
Itu Amerika Bung! Bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak tahu.

Saya sendiri jika kolesterol saya abnormal dan ngeyel tak bisa diet, saya akan memilih obat paten original, bukan Atorvastatin generik. Saya membutuhkan obat yang terpercaya untuk diri saya sendiri.
Saat Ibu saya sakit radang tenggorok yang berat, saya akan membelikan Zithromax dan bukan azithromicin generik. Itu karena saya sayang pada Ibu. Dan saya ingin Ibu mendapat yang terbaik.

Tapi saya tahu tidak semua pasien saya mampu membeli obat paten. Dan alhamdulillah, sebagian besar obat generik masih lumayan ampuh. So, generik tetap menjadi pilihan utama saya hingga hari ini.

Tapi ketika penyakitnya sangat berat dan saya membutuhkan ‘tali’ pertolongan yang sangat terpercaya, saya akan bertanya, ‘Maaf, Bapak atau Ibu memilih obat generik atau paten?’ Di situlah saya akan menuliskan resep. Jika memang pasien meminta obat generik, saya akan tuliskan generik.

Jika pasien meminta obat paten, maka saya akan katakan alasan mengapa saya menuliskan paten dan tidak generik. Alasan ini sangat penting disampaikan. Agar pasien tidak salah paham. Agar pasien tahu kenapa harus membayar lebih.

Lepas dari itu semua, saya ingat kalimat yang disampaikan salah seorang guru saya di bagian jantung FK Unair.
‘Anggaplah pasien itu keluargamu. Ayah, Ibu, Eyang, Istri, anak atau adikmu. Hingga kau selalu dituntun untuk melakukan dan memberi yang terbaik.’

Jadi jika ada seorang pasien serangan jantung yang akan saya pasang stent, maka saya akan resepkan Clopidogrel paten dan original, bukan generik untuk loading awal.
Maaf, itu saya lakukan karena jika yang sakit Ayah saya, saya akan melakukan hal yang sama. Sama persis.

Saya rasa itu saja. Sekian.

Buku Belajar Menjadi Daun

Akhirnya buku Belajar Menjadi Daun sudah terbit.. Ada di toko buku Gramedia terdekat atau pesan via email ke ksatriacahaya@gmail.com

2015/05/img_3537.jpg

Irisan dan Doa. Ya Allah kabulkanlah..

Satu hal yang mengiris tiap kali berbincang dengan pasien yang sakit adalah karena kadang saya melihat diri saya di sana. Apalagi sebagai dokter yang hampir 75 % mereka yang datang dan percaya pada saya adalah lansia. Saya melihat hidup yang rapuh. Masa jaya yang akhirnya harus mengalah pada proses degeneratif. Tapi terkadang proses ‘melihat’ masa depan itu tak terlalu sakit.

Tapi ketika datang hari bersejarah saat satu hari saya harus merawat hampir 300 pasien poli jantung dalam 20 jam, maka irisan itupun sangat terasa.

Adalah salah saya karena memilih menutup praktek minggu kemarin dan minggu depan. Dan jadilah Sabtu 28 Maret 2015 ini saya diberi Allah ujian harus membuka poli sejak jam 8 pagi hingga jam 21 malam di RS DKT Purwokerto, lantas melanjutkan jam 22 hingga jam 4 pagi minggu dini hari tadi di RS Harapan Ibu Purbalingga. Betapa Allah sangat sayang pada saya dengan memberikan irisan itu.. Mengingatkan saya pada hidup yang tak abadi. Sekaligus terharu karena kesetiaan puluhan lansia yang tersenyum lega saat nama mereka dipanggil. Juga seruan, ‘Alhamdulillah..’ ketika mereka memasuki ruang praktek, lantas doa mereka, ‘Mugi2 Pak dokter diparingi sehat..’ saat melihat mata saya yang kadang sayu.

Saya selalu ingin menangis saat mendengar ucapan itu..

Matur nuwun sanget pada Ibu2 dan Bapak2 sepuh yang rela menunggu berjam-jam, menghabiskan siang atau malamnya untuk sekadar 5 menit bertemu saya.. Matur nuwun sudah merasa sayang pada saya..

Semoga Allah memberikan kesehatan pada Ibu2 dan Bapak2 semua.. Amin ya rabbal alamiin…

Kabulkanlah doa kami ya Allah, dan sehatkanlah saya agar dengan cara ini bisa Kau ringankan beban hamba di akhirat nanti..

Hidup yang Biasa Saja..

Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin dicari, semakin entah kemana. Itu prinsip kebahagiaan. Jadi mungkin seharusnya kita hidup yg biasa saja. Asal manfaat. Toh sebentar lagi kita mati.
Mungkin prinsip dasarnya seharusnya kita hidup cuma belajar menjadi daun. As simple as that. Daun yang selama hidup menyejukkan, membagi oksigen. Dan saat mati, kering dan layu, ia jatuh ke tanah, membusuk, menjadi kompos bagi orang lain. Itu saja cukup.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 815 pengikut lainnya