Tentang Al Fatihah dan Basmalah

Bismillahirrahmaanirrahim.

  • Apa arti Al Fatihah?

    Surat Al Fatihah diturunkan di Mekah, karenanya termasuk golongan surat Makkiyah. Disebut al Fatihah(Pembuka) karena ia terletak di awal Al Qur’an, juga sebagai pembuka shalat. 

 

  • Bolehkah kita berdzikir Al Fatihah?

Boleh. Diqiyaskan seperti pada amalan shalat, surat Al Fatihah juga boleh dibaca sebagai pembuka dari segala amal kebajikan. Amal kebajikan tidak selalu bersifat ibadah seperti membaca Al Qur’an atau shalat. Tetapi saat kita berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga, memeriksa pasien, memasang infus, menuliskan resep, mencarikan rekam medik, mendorong pasien di kursi roda, semua adalah amal kebajikan yang kita harapkan balasannya di sisi Allah swt. Harapannya adalah saat melakukan semua aktifitas tersebut, Allah senantiasa menjadi tujuan dan membimbing kita.

 

  • Siapa ulama yang berwirid surat Al Fatihah? 

Ibnu Taimiyah(wafat 728 H), sering sekali berdzikir membaca surat Al Fatihah. Salah seorang muridnya menulis, “Ketika sedang berada di Damaskus, saya selalu mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah, bisa dikatakan hampir sepanjang siang dan malam. Suatu ketika saya diminta duduk di samping beliau. Saya mendengar apa yang beliau dzikirkan, yaitu beliau selalu mengulang-ulang bacaan surat al-Fatihah, mulai dari fajar sampai matahari mulai meninggi di pagi hari.” (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib ibn Taimiyyah, hal. 38).

Wirid Al Fatihah ini juga biasa diijazahkan oleh ulama Indonesia seperti KH Abdul Hamid Pasuruan, Gus Miek, Gus Dur dll. Ini menunjukkan, meski tidak ada riwayat dari Nabi bahwa beliau berdzikir Al Fatihah, beberapa ulama membaca Al Fatihah hingga ratusan dan ribuan kali dalam sehari, dan berharap dengan bacaan tersebut akan makin mendekatkan pada Allah swt.

 

  • Apa Keistimewaan Surat Al Fatihah?

Rasulullah saw bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggamanNya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an suatu surat seperti as Sab ‘al-Mats’ani(Al Fatihah)”.(HR Turmudzi). 

Juga hadits yang lain. Satu hari ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi Saw, ia mendengar  suara gemuruh dari atas lalu Jibril melihat ke atas sambil berkata, “Itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini. Sebelumnya tidak pernah terbuka sama sekali.” Lalu turunlah malaikat darinya. Jibril berkata, ‘Inilah malaikat yang turun dari langit, ia belum pernah sama sekali turun ke bumi sebelumnya.” Lalu Sang Malaikat mengucap salam kemudian berkata, ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, keduanya belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang Nabi sebelum Engkau. Yaitu surat Al Fatihah dan penutup surat Al Baqarah. Jika kamu membacanya pasti akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Begitu besar khasiat Al Fatihah, karena saat membacanya seakan kita membaca saripati dari Al Qur’an, bahkan dari semua kitab Allah terdahulu. Tabi’in Hasan Al Basri berkata, “Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur’an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).

 

  • Benarkah Al Fatihah juga bisa menjadi obat?

Benar. Al Fatihah juga berfungsi sebagai obat. Jadi saat kita menolong pasien, kita bisa memulainya dengan bacaan Al Fatihah.  Diceritakan bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah  saw sedang berjalan melewati suatu kampung. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung  tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata kepada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati? Karena pembesar kampung  tersengat binatang dan demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu iapun mendatangi pembesar kampung tersebut dan ia membacakannya surat Al Fatihah. Maka pembesar kampung itupun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan 30 ekor kambing. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliaupun bersabda, “Ambil satu kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagian darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Qoyyim berkata,“Aku pernah menginap di Makkah selama beberapa saat lalu aku jatuh sakit, aku tidak mendapatkan satupun dokter di sana, maka aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan membaca surat Al-Fatihah, dan aku dapati perubahan yang sangat menakjubkan, sejak saat itu aku sering memberikan saran kepada orang-orang yang mengeluh akan penyakitnya untuk membaca Al-Fatihah dan banyak dari mereka mendapatkan kesembuhan dengan cepat.” 

Apa makna Bismillaahirrahmaanirrahiim ?

Kalimat Basmalah sering diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Dan Nabi kita bersabda, Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya. (HR. Al-Khatib). Beliau juga bersabda, Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya.” (HR Ahmad). 

Utsman bin Affan pernah bertanya tentang makna basmalah, maka beliau Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia adalah salah satu dari nama-nama Allah yang agung, begitu dekatnya basmalah dengan nama Allah, seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.”(HR Al Hakim).  Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin diselamatkan Allah dari 19 malaikat penghuni neraka, hendaklah ia membaca, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’.”. 

 

  • Mengapa kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim” ini sangat hebat? 

Pertama, karena saat kita mengucap kalimat Basmalah dengan penuh penghayatan, maka sebenarnya kita tengah menyatakan tauhid kita. Karena kita yakin kalau apa yang kita lakukan saat ini tidak lepas dari kekuasaan Allah. Kita butuh Allah. Dan dengan nama Allah kita menyatakan pada alam semesta bahwa kita bisa bekerja, bisa makan, bisa tidur, bisa datang ke pengajian, semua atas izin Allah. Di sinilah inti ilmu tauhid. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak terjadi atas sepengetahuan Allah. Karena Allahlah Tuhan Yang Maha Memelihara alam semesta. 

Kedua, kita hidup pasti selalu melewati tiga momen. Masa lalu(past), masa kini(present) dan masa nanti(future). Contoh, saat kita melakukan tindakan pada pasien, misalnya saat kateterisasi jantung. Seharusnya kita memulai kateterisasi dengan kalimat ‘Bismillah’. Ini artinya kita mengingat Allah Sang Pemelihara saat awal memulai(past). Lantas kita juga terus mengingat Allah saat sedang melakukannya(present). Akhirnya kita juga bertawakkal menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah(future). Tugas kita hanya melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. 

Ketiga, menyebut ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ berarti kita sadar bahwa apa yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk ibadah mencari ridha Allah, karena dengan Basmalah inilah ia akan menjadi kebaikan yang kekal di di sisi Allah. Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” QS Ad Dzariyat : 56. Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah bernilai ibadah dan kita mengekalkannya dengan Bismillah. Kita menyuapi anak dengan “Bismillah”, karena kita berharap ridha Allah. Kita menolong pasien dengan “Bismillah” karena kita berharap pertolongan Allah di dunia dan di akhirat.  Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”? (HR Muslim).

Keempat, saat mengucap bismillah kita menyebut dua dari nama Allah yang sangat mulia. Yakni sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim. Dua nama Allah ini adalah asmaul Husna yang terbanyak disebut dalam Al Qur’an’. Ar-Rahman adalah curahan rahmat-Nya yang diberikan di dunia ini kepada semua makhluk-Nya. Dan Allah memberikan rahmat-Nya sesuai sifat Ar-Rahman kepada semua makhluknya, tanpa pandang bulu. Baik itu binatang, tumbuhan, juga manusia. Baik manusia itu beriman maupun tidak. Allah Maha Pemurah. Siapa saja akan diberi rahmat oleh Allah. Dengan menyebut Ar-Rahman kita bersyukur atas rahmat Allah di dunia.

Sedangkan, Ar-Rahim adalah curahan rahmat-Nya khusus bagi mereka yang beriman. Terutama di akhirat. Bukti kasih sayang Allah adalah Allah telah memberikan nikmat iman, dan mengutus Rasulullah saw kepada kita karena rahmat-Nya. Allah memberi kita petunjuk iman yang sebagian orang lain tak merasakannya. Allah memberi kita kenikmatan lahir batin yang halal dan berkah karena rahmat-Nya. Semua rahmat Allah yang terkait dengan nasib kita di akhirat ini dikarenakan Allah memiliki sifat Ar-Rahim. Tanpa sifat Ar-Rahim dari Allah, kita akan dibiarkan menjadi manusia tanpa iman yang hidup tanpa tujuan. Dengan mengucap basmalah kita memanggil Ya Rahiim, berharap selalu diselimuti rahmatNya.

 

  • Adakah syarat agat rahmat Allah yang merupakan bagian dari sifat Rahiim-Nya selalu tercurah pada kita?

Ada. Salah satunya adalah dengan bertakwa dan berbuat baik. “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56). ”Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmatKu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami: (Al A’raf: 156). 

Maka marilah kita selalu berbuat baik, selalu berusaha untuk menambah ketakwaan, dan salah satunya dimulai dengan bacaan, “Bismillahirrahmaanirrahiiim.” Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

Sumber bacaan: Tafsir Al Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Qur’an UII, Tafsir Al Jailani, Tafsir Jalalain, Tafsir Al Munir Marah Labid, Tafsir Ibnu Mas’ud, Tafsir Al Ibriz, The Essential Message of Qur’an, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Tafsir Al Asas. Buku-buku lain khusus tentang Tafsir Al Fatihah oleh Bey Arifin, Idrus Abidin, Jalaludin Rahmat, dll. Juga sumber lain dari internet(rumahfiqih, tafsirweb, muslim.or.id, rumaysho, asysyariah,com, nuonline, dll).

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan saya dalam menulis tulisan ini. Semoga Allah memberikan jalan untuk mengamalkannya. 

 

     

 

Aku Ingin Bisa Menyayangi Kalian Semua..

Kalau ditanya, kenapa saya bisa bertahan bekerja di Purbalingga dan Purwokerto dengan ratusan pasien dan jam kerja yang panjang? Atau bekerja di Semarang, merawat dan melakukan tindakan dengan mandi radiasi selama berjam-jam?

Mungkin karena saya sayang kepada hampir 95% pasien2 saya di Purwokerto dan Purbalingga. Lho kok 95%? Lha wong saya juga manusia, pasti kadang ada yang nggak ‘klik’ sama beberapa pasien. Yang setelah saya hitung beneran, ternyata jumlahnya mengecil. Dari estimasi 20-an persen menjadi hanya 5 persen saja.

Pada beliau2 yang saya kurang ‘klik’ ini biasanya saya menempatkan diri sebagai profesional semata. Hubungan kami lebih secara kontrak profesi, melakukan yang terbaik, tapi bukan sebagai sahabat karib atau saudara seperti yang sering saya lakukan saat menghadapi sebagian besar pasien2 saya. Pasien2 yang saya ikut sedih ketika mereka tak kunjung membaik, pasien2 yang saya ikut menangis saat Allah menentukan takdir mereka. Tapi ya gimana lagi? Ini akibat jika kita menempatkan diri menjadi keponakan, adik atau kakak dari seorang pasien…

Tapi sejak membaca kisah ini, saya jadi ingin menyayangi kalian semuanya…

Kisah ini dimulai dari sebuah hadits Nabi..

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi)

Dan berlanjut dengan Khalifah Umar..

Ketika berjalan di kota Madinah, Khalifah Umar r.a. melihat seorang bocah tengah mempermainkan seekor burung pipit. Merasa iba melihat burung itu, beliau membelinya dan melepasnya ke angkasa. Ketika Umar wafat, salah seorang ulama terkemuka melihat Umar dalam mimpi.

“Apa kabar, Umar?” tanya sang ulama. “Apa yang telah dilakukan Allah kepadamu?“

“Allah telah mengampuniku dan menghapus segala dosaku, jawab Umar”

“Mengapa? Sebab kedermawanmu, keadilanmu, atau karena zuhudmu terhadap dunia?”

Umar menggeleng.

Kemudian ia berkata, “Ketika kalian menguburkanku dan menutupiku dengan tanah dan meninggalkanku sendiri, dua malaikat datang yang membuatku takut. Bulu kudukku berdiri. Sendi-sendi tulangku gemetaran. Dua malaikat itu mendudukkanku untuk ditanya.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara tanpa sosok yang menghardik keduanya:

“Tinggalkan hamba-Ku ini, jangan kalian takut-takuti. Aku menyayanginya dan dosa-dosanya telah Kuampuni karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia…”

Jika Khalifah Umar bisa diampuni dosa-dosanya karena telah menolong seekor burung pipit, semoga dosa-dosa saya yang jauhhh lebih banyak bisa juga dimaafkan dengan cara saya sendiri…

(Dari terjemahan kitab Ushfuriyah oleh Penerbit Qalam, Cetakan I hal 14)

M. Yusuf Suseno, Purwokerto, 5 Okt 2019.

Ketika Kangen Kanjeng Nabi..

Siapa yang kangen beri’tikaf di masjid Nabawi? Siapa yang kangen mendulang pahala shalat, tadarus Al Quran dan dzikrullah di masjid Nabawi? Siapa yang kangen sowan Kanjeng Nabi sallalahu alaihi wassalam?
Sepertinya kita semua kangen dan berharap bisa berlama-lama di masjid Rasulullah sallalahu alaihi wassalam.

Kalau saja ada program gratis utk sebulan i’tikaf di masjid Nabawi bersama seluruh keluarga dan semua keperluan hidup di sana ditanggung, kira-kira berapa banyak yang akan berangkat? Pasti jutaan umat muslim akan langsung mendaftar.

Tapi sebenarnya pahala i’tikaf di masjid Nabi kita tercinta dengan ratusan ribu rakaat itu sangat mudah didapat.

Bagaimana caranya?

Pergilah keluar rumah, carilah saudara kita yang membutuhkan pertolongan, dan tolonglah.
Tidak sempat? Kalau begitu, bukalah HP, cari nomor saudara atau teman yang sering mengalami kesusahan(baik fisik, finansial, maupun rohani), hubungi dan tanyakan, apa yang bisa kita bantu dari rumah? Lantas buatlah hatinya gembira dengan kata-kata yang baik, dan jika kita mampu, ringankanlah bebannya dengan membantu sedikit membayarkan hutangnya..

Dari Ibnu Umar Radiyallaahu ‘anhu bahwasanya dikisahkan suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam lalu dia pun bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? Dan adakah suatu amalan yang paling dicintai Allah?”

Maka Rasulullah menjawab, “Orang yang paling Allah cintai adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesamanya. Sedangkan amalan yang paling Allah SWT cintai adalah engkau menggembirakan hati seseorang muslim, atau engkau menghilangkan suatu kesukaran dalam hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya.

Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara di dalam sebuah keperluan itu lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ku (Masjid An-Nabawi) ini selama sebulan.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka”
(HR Thabrani)

Begitu juga dikisahkan saat sahabat Abu Hurairah i’tikaf di masjid sepeninggal Rasulullah sallalahu alaihi wassalam wafat. Abu Hurairah tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

“Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah. “Apakah kau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut.
“Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan’”. ( HR Thabrani & Ibnu Asakir)

Sudahkah kita berbuat baik kepada seseorang hari ini?

Kalau saja kita meniatkan untuk menolong saudara kita sekali saja dalam sehari untuk mencari ridha Allah? Berapa tabungan pahala kita untuk bekal di Hari Perhitungan nanti setelah sebulan merutinkannya?

Sesungguhnya Hari Perhitungan itu sangatlah berat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:

Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.”

Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.”
(HR Ahmad dan Al Hakim)

Sesungguhnya ampunan dan rahmat Allah terserak di seluruh alam raya.

Wallahu a’lam bis
shawab.

M. Yusuf Suseno
Purwokerto, 5 Okt 2019

Matur Nuwun…

Dua hari yang lalu, tepatnya Jumat, 6 September 2019, saya kembali praktek di RS Harapan Ibu Purbalingga, Jawa Tengah.

Dan seperti diduga, pasien melimpah ruah. Ada 250 lebih. Tepatnya 259 pasien. Akibatnya saya harus bekerja mulai jam 9 pagi hingga pukul 2 dini hari. Tentu saja dipotong waktu shalat dan istirahat.

Dengan tubuh yang masih flu berat dan fisik tak bersahabat, perjalanan hampir 17 jam bersama 259 pasien terasa lambat. Ada beberapa saat saya harus berhenti praktek karena batuk-batuk tak tertahankan, istirahat minum obat, sampai minta ijin 10 menit untuk menutup mata karena pengaruh obat flu. Tentu saja saya tak pernah berhasil tidur. Terutama karena hati saya tidak tega pada simbah-simbah yang lama menunggu di luar.

Salah satu pasien simbah-simbah itu adalah Mbah Djuri. Kalau di status sih beliau kelahiran 1946. Jadi masih berusia 73 tahun.

Mbah Djuri sudah menjadi pasien saya selama 2 tahun lebih. Dulu beliau pertama kali ke Poli Jantung HI awal tahun 2017. Saat itu beliau terlihat sesak dan sakit. Dan ketika pertama kali bertemu, kalimat Mbah Djuri yang paling berkesan adalah, “Aduh Pak Dokter, kulo sampun madosi Pak Dokter meh sekawan tahun. Riyin kulo ke RS P tahun 2013 dan ternyata Pak Dokter sampun mboten wonten.. Insha Allah setelah ketemu Pak Dokter di sini, saya pasti sembuh!” Nada bahasa campuran khas Purbalingga itu sangat hangat dan ramah.

Saat itu saya kira pernyataan Mbah Djuri cuma basa-basi saja. Memang sejak tahun 2012, karena pengangkatan PNS yang tidak kunjung berhasil setelah dua kali periode pendaftaran, saya memutuskan resign dari RS P dan sekolah lagi. Jadi beliau salah satu pasien yang kecelik.

Tapi ternyata ucapan beliau bukan basa-basi. Wajah Mbah Djuri selalu bertambah sumringah setiap kali hadir ke Poli. Dan meski dengan kondisi jantung yang cukup berat, alhamdulillah kondisinya berangsur membaik.

Ada beberapa hipotesa mengapa beliau cepat pulih. Pertama, kebetulan komposisi obat-obat saya bisa ‘klik’ dengan kebutuhan tubuh beliau. Kedua, karena ternyata beliau sungguh-sungguh percaya dengan ucapannya, bahwa ada keyakinan akan kesembuhan setelah bertemu saya. Apapun itu, tentu saja perbaikan kondisi Mbah Djuri terjadi karena Allah Azza wa Jalla memutuskan demikian.

Di hari Jumat itu kondisi Mbah Djuri sebenarnya tidak terlalu bagus. Beliau harus menunggu hampir 12 jam sejak pagi hari, dan baru masuk menjelang shalat Isya. Dengan gangguan irama jantung dan pompa jantung yang tidak terlalu bagus, beliau harus berjalan perlahan untuk masuk ke ruang praktek. Setelah pemeriksaan selesai, Mbah Djuri tersenyum dan menjabat tangan saya, mengucapkan sederet doa agar haji saya kemarin menjadi haji mabrur. Aaminn.. Aaminn ya Rabbal alamiin..

Tapi yang tak saya sangka adalah kalimat terakhir selangkah sebelum keluar dari pintu praktek. “Pak Dokter, saat Pak Dokter haji kemarin, saya terussss wiriddd buat Pak Dokter..” Tangannya memperagakan gerakan memutar tasbih berulang-ulang. “Alhamdulillah kalau semuanya lancar.. Alhamdulillah… Alhamdulillah…..” Sambil mengucap itu beliau berjalan tertatih, dan pintu praktek menutup perlahan.

Terhenyak di kursi, tak terasa ada air mata menggenang di sudut mata saya. Sore itu saya baru tahu, bahwa ternyata ada doa banyak orang di balik haji saya kemarin. Allah mungkin bisa saja memberi cobaan yang berat karena dosa-dosa saya yang bertumpuk. Tapi mungkin karena doa-doa merekalah saya diringankan dan dimudahkan.

Mungkin secara wadag kemarin saya mengembarai Mekah dan Madinah selama 25 hari tanpa keluarga. Seakan semua saya putuskan dan lakoni sendiri. Mulai dari keputusan berat untuk memilih haji Ifrad dan berihram selama 8 hari, keputusan untuk bolak-balik ke Masjidil Haram selama menunggu hari Arafah, keputusan untuk Tawaf Ifadah sendiri karena takut akan maut. Dan banyak yang hal lain yang kadang terasa berat dilakukan.

Satu hal yang sangat saya takutkan adalah jika Allah tidak mau menerima haji saya. Selama delapan hari berihram saya selalu dihantui oleh kisah seorang yang berhaji dan bertalbiyah, tapi talbiyahnya tak disambut oleh para malaikat. “Hartamu haram, niatmu riya’ dan hajimu tak mungkin diterima!”ujar para malaikat. Saya sangat takut ada bagian dari harta dan niat saya untuk berhaji yang tak baik dan akibatnya para malaikat tak mau menyambut.

Tapi kini saya merasa lebih tenang. Sepertinya saja kemarin saya berhaji sendiri, tapi sebenarnya saya tak sendiri. Ada tangan lain yang menengadah, menyentuh pintu langit. Memohonkan ampun agar saya tak diazab di Tanah Suci. Memohonkan ampun agar haji saya dimaafkan atas segala kekurang tulusan niat dan tercampurnya harta syubhat dan mungkin haram.

Ternyata selain doa dari Bapak Ibu, keluarga, teman, dan kerabat, ada doa dari pasien-pasien yang kasihan pada saya. Salah satunya adalah wirid Mbah Djuri yang saya yakin lebih bisa menembus pintu-pintu rahmat di langit daripada wirid saya.

Labbaik Allahumma labbaik… Mungkinkah malaikat yang mau menolak saya terhenyak karena melihat kesungguhan Mbah Djuri memutar biji-biji tasbihnya di tengah malam untuk saya?

Air mata itu menderas di pipi saya.

Matur nuwun Mbah. Matur nuwun sanget….

Bersama Mbah Djuri, Jumat, 4 Oktober 2019. Semoga kita semua sehat dan bahagia dunia dan akhirat..

Lima Hari Pertama Sepulang Haji..

Lima Hari Pertama Sepulang Haji

Lima hari setelah kembali ke rumah, aku telah 3 kali ketinggalan shalat fardu berjamaah. Dua kali karena sibuk dengan pekerjaan. Sekali karena ketiduran. Ini berarti Arbain yang kuusahakan selama di masjid Nabi tercinta telah kukhianati.

Lima hari setelah sampai rumah, aku sudah beberapa kali membicarakan orang lain. Ghibah. Memakan bangkai saudara sendiri. Ini berarti latihan ihram yang diberikan Allah saat haji telah kulanggar dengan senang hati.

Lima hari setelah sampai rumah, halaman tadarus Al Qur’an mulai berkurang. Yang dulu sekian lembar, cuma jadi sekian baris dalam sehari. Alasannya komplit. Mulai dari sibuk kerja, keluarga yang masih kangen, tamu yang tak berhenti, atau tubuh yang masih jetlag dan kurang sehat. Ini berarti harapanku pada syafaat Al Quran di Hari Akhir mulai pudar. Aku mulai lupa pada ketakutanku pada neraka. Mulai merasa sombong berhadapan dengan apinya yang menyala-nyala.

Lima hari sepulang haji, shalat sunnahku makin pendek. Cuma yang muakkad saja, itupun tak cukup tumakninah. Tahajjud makin singkat. Kalau perlu witir 1 rakaat.
Apa arti ini semua?
Apa aku mulai menjauh lagi dariMu ya Allah? Gusti Allahku? Rabbku?

Yang kutahu, ada rasa sedih. Rasanya ingin menangis.
Aku rindu tersedu di depan Ka’bahMu. Aku rindu terisak di ArafahMu.
Aku rindu rasa tentram saat memakai ihramku.
Haji yang kuharapkan pertolongannya di Hari Akhir ternyata pelan-pelan kukhianati dan kutinggalkan.

Ya Allah..
Aku ingin kembali.
Aku ingin berihram lagi.
Aku ingin bertalbiyah lagi.
Aku ingin bisa menangis lagi.

Labbaik Allahumma labbaik.
Labbaika laa syarika laka labbaik.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak..

Panggillah aku ya Allah…
Panggillah aku kembali…
Ya Allah..
Panggillah aku…
Panggillah aku kembali..

Ijinkan aku berihram lagi…

Semarang, 4 Sept 2019.

Kepada Simbah2 yang Sudah Percaya.

Tiba2 mendengar kabar kalau ada pasien setia yang meninggal, dan entah kenapa saya ingin tuliskan ini..

Beberapa kali, saat tubuh saya terasa sangat lelah, saya meminta didoakan oleh pasien-pasien saya. ‘Mbah, nyuwun pangapunten sampun nengga dangu.. Dalem didongakke nggih, supados sehat..’

Mereka yang sudah menunggu berjam-jam, kadang hingga tengah malam itu tersenyum. ‘Nggih Nak dokter, Simbah mesti ndonggakke Nak dokter terus.. Mugi2 Nak dokter sehat terus.. Saged ngrumat simbah terus…’ Selalu air mata saya menetes mendengar doa mereka.

Mungkin karena sebagai manusia, saya tahu dosa2 saya sangat banyak. Dan hanya doa dari mereka, orang2 kecil yang merasa terbantu dan tertolonglah maka azab Allah itu tak diturunkan pada saya. Saya percaya, bahwa saya bisa hidup, naik mobil tanpa kecelakaan, melakukan tindakan invasif tanpa komplikasi, semua karena doa pasien2 tidak mampu yang berterima kasih. Doa tulus yang didengar Gusti Allah..

Matur nuwun sanget nggih Mbah… Kula tansah kangen kalih Simbah..

#in memoriam pasien2 setia saya yang sudah meninggal, guru2 saya yang sejati, yang bahkan saat saya menulis ini, ingatan akan mereka membuat saya menangis.. Kula tansah kangen kaliyan Simbah.. Mugi2 ketemu malih nggih Mbah ting swarganipun Gusti Allah… Kula dipadosi nggih Mbah, matur Gusti Allah yen kula dereng ketingal2…

Bakda subuh, 29 Ramadhan 1440

di Masjid, di Masjid (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin..

clone tag: 890859975819132359

Yang Terampas dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Chairil Anwar, 1949