Sajak Ketika Kami Bertumbangan

Pelan-pelan.
Satu-satu.
Kami bertumbangan.

Ada yang kukenal.
Ada yang tidak.
Tapi mereka saudaraku.

Ya Allah, berilah ampunan dan keluasan kubur bagi teman-teman kami yang Kau panggil.

Kuatkan dan beri kesehatan pada kami yang ditinggalkan untuk tetap merawat makhluk-Mu yang sakit.

Tunjukilah kami jalan yang lurus..
Wafatkanlah kami sebagai seorang yang Engkau ridhai..

Ya Hayyu.. Ya Qoyyum…
Ya Hayyu.. Ya Qoyyum..
Ya Allah yang Maha Kekal dan Selalu Mengurus kami..
Ampuni kami..

Semarang, 26 Maret 2020.

Akankah Nasib Indonesia Lebih Baik, atau Lebih Buruk dari Italia?

Maaf kalau judul tulisan ini terkesan memprovokasi. Tapi terus terang saya geram bukan main. Karena sampai hari ini, masih saja banyak orang yang meremehkan wabah Covid-19. Bahkan ada beberapa orang yang meremehkan bahaya pandemi Covid-19 dengan alasan bahwa obat dari Covid-19 sudah ditemukan. Seakan dengan obat Chloroquin dan Avigan (Favipiravir) yang sebentar lagi didatangkan besar-besaran ini, ada kepastian bahwa pasien Covid-19 akan sembuh. Ah, sebagai dokter yang sayang pada pasien-pasien saya, saya sangat berharap angan-angan ini bisa terwujud. Tapi saya tahu, kalau ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien.

Korea Selatan, sebagai salah satu negara yang terbilang berhasil mengatasi wabah Covid-19, masih belum mau menggunakan Avigan sebagai salah satu terapi untuk pasien Covid-19. Mereka masih menunggu penelitian lebih lanjut terkait efek samping Avigan pada binatang coba. Ini menunjukkan bahwa obat ini bukan segala-galanya.

Berikut adalah transkrip bebas bahasa Indonesia dari kuliah Profesor Stefano Nava, Chief of Respiratory and Critical Care Unit dari Bologna Italy dalam sebuah telekonferens yang bisa diakses di youtube( link : https://youtu.be/rMT97toZNJw). Prof Nava mulai berbicara di menit ke 21:54. Jika kita mau mendengarkan(dan ini kadang susah dilakukan oleh kita), kuliah beliau akan menyadarkan kita bahwa wabah Covid-19 ini sangatlah serius. Kasus kematian yang tinggi di Iran mungkin karena fasilitas kesehatan Iran yang terbatas akibat embargo Amerika. Tapi bagaimana dengan Italia, salah satu negara dengan fasilitas kesehatan terbaik di dunia?

Berikut terjemah bebas dari kuliah Prof Nava dengan istilah medis yang sebagian saya awamkan.

Saat pandemi mulai terjadi, kami hanya menangani, sebagian besar pasien dengan usia lanjut dengan banyak penyakit penyerta sebelumnya. Dalam 3 minggu pertama, rata-rata berusia 75 tahun. Biasanya dengan hipertensi, obesitas dan atau diabetes. Tetapi pada seminggu sampai 10 hari terakhir, gambarannya berubah. Saat ini semakin banyak pasien usia muda yang masuk dalam kondisi kritis. Di unit kami ada pasien 30 tahun yang sebelumnya sangat-sangat sehat.  Dan begitu pula saat ini makin banyak pasien kritis yang berusia 40-50 tahun. Mereka yang berusia tua tetap ada, tapi epidemiologinya sangat berubah dalam 7-10 hari.

 “Saat ini fenotipe pasien juga berubah. Pada mulanya kami masih punya waktu 2,3, sampai 4 hari untuk melihat apakah seorang pasien akan berespon baik atau tidak terhadap pengobatan. Tapi 10 hari terakhir ini tidak. Sekarang pasien memburuk sangat-sangat-sangat cepat(beliau menyebut kata ‘very’ 3 kali). Seperti seakan sebelumnya Anda melihat pasien ini masih bisa membaca surat kabar, tapi tiba-tiba dalam 3,4, sampai 5 jam kemudian tiba-tiba pasien tersebut harus dilakukan intubasi(pemasangan selang untuk mesin alat bantu napas lewat mulut). Sekarang pasien kami memburuk sangat-sangat cepat dan tak terduga. Jika 12 sd 24 jam sebelumnya pasien datang ke RS dalam kondisi stabil dengan kadar oksigen 94 %, tapi tiba-tiba saja mereka memburuk dan jatuh dalam kondisi kritis ‘gagal napas’ yang berat.

Perlu diketahui, Italia memiliki problem yang berbeda dengan China. Di Eropa, Italia memiliki kebutuhan ruang perawatan intensif yang paling sedikit dibanding negara lain. Sepersepuluhnya dibanding Amerika. Dan ini menyebabkan saat pandemi terjadi ruang rawat intensif kami segera penuh dalam waktu sangat singkat. Kami terpaksa merawat pasien di ruang UGD, ruang operasi, bangsal bedah, bangsal THT, semua tempat yang ada di RS.

Contohnya adalah di RS di tempat saya bekerja. Dengan 60 tempat tidur ICU dari 1250 tempat tidur RS, maka ICU kami sangat cepat penuh dan akhirnya kami harus merawat pasien kritis di bangsal. Di sinilah keputusan untuk melakukan intubasi, misalnya pada pasien yang sangat tua menjadi dipertanyakan. Dan kami melihat trend penurunan usia pada kebijakan “Tidak usah intubasi” pada pasien yang sebenarnya membutuhkan (yang artinya membiarkan pasien tersebut meninggal).

 Mula-mula pada batas usia 80 tahun, kemudian turun menjadi 75 tahun, dan turun lagi hingga maksimal usia 70 tahun. Ini sangat menakutkan… Kami harus memutuskan apakah seorang pasien yang dalam kondisi ‘gagal napas’ harus kami masukkan ke ICU dan dipasang ventilator (mesin alat bantu napas) atau tidak (yang akhirnya berarti membiarkan pasien tersebut meninggal) berdasar usia dan kemungkinan ia akan bertahan hidup. Ini sangat menakutkan..”

Akankah nasib Indonesia lebih baik atau lebih buruk dari Italia? Jika masyarakat kita masih menganggap enteng wabah ini, jika Pemerintah masih kurang tegas pada mereka yang melanggar aturan “social distancing”, maka bisa saja kita akan berakhir lebih buruk. Perlukah opsi “lockdown’ dilakukan di sini seperti di Italia dan negara-negara lain? Jawabannya adalah entah, dan pasti  menuai perdebatan panjang seperti di TV.

Jadi, cara paling mudah adalah dengan menghitung jumlah tenpat tidur ICU di RS terbaik di kota tempat kita tinggal. RS terbaik dengan dokter-dokter terbaik. Berapa jumlah bed ICU di sana? Mungkin ada sepuluh, bisa saja 20, atau bahkan 30 bed. Tapi apakah itu cukup? Jika bahkan di RS Prof Nava dengan 60 tempat tidur ICU saja dokter tetap harus memilih, pasien mana yang diperjuangkan dan mana yang harus dibiarkan meninggal..

Akankah kita satu hari harus merelakan paman, bibi, bahkan ayah atau ibu kita meninggal di depan mata kita tanpa pertolongan yang layak karena ICU yang penuh? Bagaimana jika ternyata bahkan kita sendiri yang terinfeksi dan tiba-tiba memburuk dalam hitungan jam sedangkan ICU penuh? Hanya waktu yang bisa menjawab…

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh bangsa Indonesia. Semoga Allah menolong kita. Hanya saja, ingatlah wahai saudaraku, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum yang tidak berusaha mengubah apa yang ada pada diri mereka…

Dr. M. Yusuf Suseno, SpJP.

Semarang, dini hari 22 Maret 2020.

 

 

 

 

 

 

 

Surat Tentang COVID 19 Untuk Pasien2

Kepada Yth Bapak Ibu Pasien Poli Jantung RS Telogorejo Semarang, RS DKT Purwokerto, dan RS Harapan Ibu Purbalingga yang saya kasihi..

Assalamu alaikum wr wb.
Bersama tulisan ini, saya hanya bermaksud mengingatkan kepada Bapak Ibu pasien saya tentang keseriusan dari wabah virus COVID 19.

Mohon dengan sangat agar jangan menganggap remeh, salah satu analisa memperkirakan kalau wabah Covid 19 di Indonesia seperti fenomena gunung es. Dimana kelihatannya tidak banyak tapi sebenarnya banyak sekali. Dan demi Allah, virus ini tidak mengenal ras suku maupun agama. Semua orang bisa terkena.

Harus Bapak Ibu ketahui, salah satu faktor resiko yang menyebabkan komplikasi dan kematian akibat infeksi virus Covid 19 adalah pasien dengan masalah jantung sebelumnya. Selain juga diabetes, usia lanjut, dan kelainan paru.

Jadi adalah sangat sangat sangat penting bagi Bapak Ibu untuk menjaga diri agar tidak tertular virus ini.

Apapun, saya mohon tetap waspada. Karena, ingat, masa INKUBASI atau masa pertumbuhan virus dari terkena kontak sampai menimbulkan gejala antara 2 sd 14 hari!
Artinya : Bisa saja orang yang tampak sehat menjadi sumber penularan karena ia memang belum menunjukkan gejala.

Saya mohon agar Bapak Ibu sekalian melakukan langkah-langkah pencegahan terbaik yang bisa Bapak Ibu lakukan.

  1. Seringlah mencuci tangan dengan sabun. Terutama setelah keluar rumah. Setelah menyentuh barang yang bersifat ‘umum’ atau ‘bersama’. Sediakan hand sanitizers dan seringlah memakainya.
  2. Mohon menghindari kontak fisik ‘berjabat tangan’ dengan orang lain. Jika terpaksa, segera mencuci tangan setelah itu. Pikirkan keluarga kita. Siapa tahu tetangga kita tadi baru saja bersalaman dengan orang lain pembawa virus Covid 19.
  3. Jangan menyentuh area wajah Bapak Ibu kecuali dengan tangan yang sangat bersih.
  4. Pakailah masker ketika terpaksa pergi ke tempat umum. Kalau perlu tetaplah berada di rumah.
  5. Jaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain. Agar jika ternyata orang tersebut tiba2 batuk atau bersin, virus tidak langsung mengenai kita.
  6. Usahakan shalat dengan memakai sajadah Bapak Ibu sendiri. Terutama jika Bapak Ibu memutuskan untuk tetap shalat berjamaah di masjid. Kurangi kontak dengan siapapun selama melakukan ibadah.
  7. Hindari bepergian ke tempat umum kecuali jika sangat perlu.
  8. Setelah Bapak Ibu keluar rumah, segera cuci pakaian yang dipakai.
  9. Jaga kondisi dengan banyak istirahat, gunakan waktu untuk berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan dan tetap minum obat.

Lantas apa yang harus dilakukan jika Bapak Ibu mengalami gejala flu?
Saran saya, tetaplah konsumsi obat-obat jantung rutin Bapak Ibu, dan pakailah masker. Minum obat penurun demam untuk mengurangi gejala. Segera konsultasi dengan dokter jika kondisi memburuk terutama jika ada keluhan sesak. Jaga kesehatan, tidur cukup, minum vitamin, dan bagi yg ada diabetes, usahakan agar kadar gula benar-benar terkontrol.

Bismillah, saya berdoa semoga Allah melindungi kita semua. Semoga kita selalu dalam kondisi sehat.
Aaminn.

Wassalamu alaikum wr wb.

Dr. M Yusuf Suseno, SpJP.

Bagaimana Cara Saya Menjaga Ibu Bapak dari Pandemi COVID 19?

Ayah saya kelahiran 1940. Jadi usia beliau 80 tahun. Ibu saya usia 69 tahun dan ada kelainan jantung. Kebetulan beliau tinggal di rumah berdua saja.

Bagaimana cara saya menjaga Bapak Ibu saya dalam Pandemi Covid ini?

1. Beliau berdua saya anjurkan tetap di rumah. Tidak shalat berjamaah di masjid.

2. Tidak ada yg boleh berkunjung kecuali berbicara jarak jauh dan di halaman saja. Kemarin ada yang mengantar paket dan beliau saya anjurkan memakai sarung tangan sekali pakai dan paket disemprot dengan alkohol 70 % sebelum masuk rumah. Sebelum dan sesudah menerima paket memakai hand sanitizer.

3. Semua persediaan makanan saya supply. Jadi beliau tidak harus pergi ke toko manapun.

4. Jika saya membawa 1 bungkus telur, maka plastik telur harus disemprot dengan alkohol 70%. Dan saya sebagai pembawa harus mencuci tangan dan menggunakan hand sterilizer. Karena tidak ada yg menjamin kalau saya bukan carrier. Saat membawakan telur saya juga tidak masuk rumah.

5. Vitamin dan berbagai suplemen saya siapkan jauh2 hari.

6. Bahan makanan saya siapkan jauh2 hari supaya tidak perlu membeli barang di hari2 yang sudah terlalu banyak carrier di kota kami.

7. Saya mendoakan mereka. Semoga Allah memperpanjang usia Bapak Ibu saya dalam kesehatan yang baik agar bisa banyak beribadah kepada Allah..

Aaminn..

Semoga tulisan ini menginspirasi teman2 yang masih diberi kesempatan merawat orang tua yang lanjut usia…

M. Yusuf Suseno.

Tentang Al Fatihah dan Basmalah

Bismillahirrahmaanirrahim.

  • Apa arti Al Fatihah?

    Surat Al Fatihah diturunkan di Mekah, karenanya termasuk golongan surat Makkiyah. Disebut al Fatihah(Pembuka) karena ia terletak di awal Al Qur’an, juga sebagai pembuka shalat. 

 

  • Bolehkah kita berdzikir Al Fatihah?

Boleh. Diqiyaskan seperti pada amalan shalat, surat Al Fatihah juga boleh dibaca sebagai pembuka dari segala amal kebajikan. Amal kebajikan tidak selalu bersifat ibadah seperti membaca Al Qur’an atau shalat. Tetapi saat kita berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga, memeriksa pasien, memasang infus, menuliskan resep, mencarikan rekam medik, mendorong pasien di kursi roda, semua adalah amal kebajikan yang kita harapkan balasannya di sisi Allah swt. Harapannya adalah saat melakukan semua aktifitas tersebut, Allah senantiasa menjadi tujuan dan membimbing kita.

 

  • Siapa ulama yang berwirid surat Al Fatihah? 

Ibnu Taimiyah(wafat 728 H), sering sekali berdzikir membaca surat Al Fatihah. Salah seorang muridnya menulis, “Ketika sedang berada di Damaskus, saya selalu mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah, bisa dikatakan hampir sepanjang siang dan malam. Suatu ketika saya diminta duduk di samping beliau. Saya mendengar apa yang beliau dzikirkan, yaitu beliau selalu mengulang-ulang bacaan surat al-Fatihah, mulai dari fajar sampai matahari mulai meninggi di pagi hari.” (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib ibn Taimiyyah, hal. 38).

Wirid Al Fatihah ini juga biasa diijazahkan oleh ulama Indonesia seperti KH Abdul Hamid Pasuruan, Gus Miek, Gus Dur dll. Ini menunjukkan, meski tidak ada riwayat dari Nabi bahwa beliau berdzikir Al Fatihah, beberapa ulama membaca Al Fatihah hingga ratusan dan ribuan kali dalam sehari, dan berharap dengan bacaan tersebut akan makin mendekatkan pada Allah swt.

 

  • Apa Keistimewaan Surat Al Fatihah?

Rasulullah saw bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggamanNya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an suatu surat seperti as Sab ‘al-Mats’ani(Al Fatihah)”.(HR Turmudzi). 

Juga hadits yang lain. Satu hari ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi Saw, ia mendengar  suara gemuruh dari atas lalu Jibril melihat ke atas sambil berkata, “Itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini. Sebelumnya tidak pernah terbuka sama sekali.” Lalu turunlah malaikat darinya. Jibril berkata, ‘Inilah malaikat yang turun dari langit, ia belum pernah sama sekali turun ke bumi sebelumnya.” Lalu Sang Malaikat mengucap salam kemudian berkata, ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, keduanya belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang Nabi sebelum Engkau. Yaitu surat Al Fatihah dan penutup surat Al Baqarah. Jika kamu membacanya pasti akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Begitu besar khasiat Al Fatihah, karena saat membacanya seakan kita membaca saripati dari Al Qur’an, bahkan dari semua kitab Allah terdahulu. Tabi’in Hasan Al Basri berkata, “Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur’an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).

 

  • Benarkah Al Fatihah juga bisa menjadi obat?

Benar. Al Fatihah juga berfungsi sebagai obat. Jadi saat kita menolong pasien, kita bisa memulainya dengan bacaan Al Fatihah.  Diceritakan bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah  saw sedang berjalan melewati suatu kampung. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung  tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata kepada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati? Karena pembesar kampung  tersengat binatang dan demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu iapun mendatangi pembesar kampung tersebut dan ia membacakannya surat Al Fatihah. Maka pembesar kampung itupun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan 30 ekor kambing. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliaupun bersabda, “Ambil satu kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagian darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Qoyyim berkata,“Aku pernah menginap di Makkah selama beberapa saat lalu aku jatuh sakit, aku tidak mendapatkan satupun dokter di sana, maka aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan membaca surat Al-Fatihah, dan aku dapati perubahan yang sangat menakjubkan, sejak saat itu aku sering memberikan saran kepada orang-orang yang mengeluh akan penyakitnya untuk membaca Al-Fatihah dan banyak dari mereka mendapatkan kesembuhan dengan cepat.” 

Apa makna Bismillaahirrahmaanirrahiim ?

Kalimat Basmalah sering diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Dan Nabi kita bersabda, Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya. (HR. Al-Khatib). Beliau juga bersabda, Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya.” (HR Ahmad). 

Utsman bin Affan pernah bertanya tentang makna basmalah, maka beliau Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia adalah salah satu dari nama-nama Allah yang agung, begitu dekatnya basmalah dengan nama Allah, seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.”(HR Al Hakim).  Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin diselamatkan Allah dari 19 malaikat penghuni neraka, hendaklah ia membaca, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’.”. 

 

  • Mengapa kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim” ini sangat hebat? 

Pertama, karena saat kita mengucap kalimat Basmalah dengan penuh penghayatan, maka sebenarnya kita tengah menyatakan tauhid kita. Karena kita yakin kalau apa yang kita lakukan saat ini tidak lepas dari kekuasaan Allah. Kita butuh Allah. Dan dengan nama Allah kita menyatakan pada alam semesta bahwa kita bisa bekerja, bisa makan, bisa tidur, bisa datang ke pengajian, semua atas izin Allah. Di sinilah inti ilmu tauhid. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak terjadi atas sepengetahuan Allah. Karena Allahlah Tuhan Yang Maha Memelihara alam semesta. 

Kedua, kita hidup pasti selalu melewati tiga momen. Masa lalu(past), masa kini(present) dan masa nanti(future). Contoh, saat kita melakukan tindakan pada pasien, misalnya saat kateterisasi jantung. Seharusnya kita memulai kateterisasi dengan kalimat ‘Bismillah’. Ini artinya kita mengingat Allah Sang Pemelihara saat awal memulai(past). Lantas kita juga terus mengingat Allah saat sedang melakukannya(present). Akhirnya kita juga bertawakkal menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah(future). Tugas kita hanya melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. 

Ketiga, menyebut ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ berarti kita sadar bahwa apa yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk ibadah mencari ridha Allah, karena dengan Basmalah inilah ia akan menjadi kebaikan yang kekal di di sisi Allah. Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” QS Ad Dzariyat : 56. Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah bernilai ibadah dan kita mengekalkannya dengan Bismillah. Kita menyuapi anak dengan “Bismillah”, karena kita berharap ridha Allah. Kita menolong pasien dengan “Bismillah” karena kita berharap pertolongan Allah di dunia dan di akhirat.  Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”? (HR Muslim).

Keempat, saat mengucap bismillah kita menyebut dua dari nama Allah yang sangat mulia. Yakni sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim. Dua nama Allah ini adalah asmaul Husna yang terbanyak disebut dalam Al Qur’an’. Ar-Rahman adalah curahan rahmat-Nya yang diberikan di dunia ini kepada semua makhluk-Nya. Dan Allah memberikan rahmat-Nya sesuai sifat Ar-Rahman kepada semua makhluknya, tanpa pandang bulu. Baik itu binatang, tumbuhan, juga manusia. Baik manusia itu beriman maupun tidak. Allah Maha Pemurah. Siapa saja akan diberi rahmat oleh Allah. Dengan menyebut Ar-Rahman kita bersyukur atas rahmat Allah di dunia.

Sedangkan, Ar-Rahim adalah curahan rahmat-Nya khusus bagi mereka yang beriman. Terutama di akhirat. Bukti kasih sayang Allah adalah Allah telah memberikan nikmat iman, dan mengutus Rasulullah saw kepada kita karena rahmat-Nya. Allah memberi kita petunjuk iman yang sebagian orang lain tak merasakannya. Allah memberi kita kenikmatan lahir batin yang halal dan berkah karena rahmat-Nya. Semua rahmat Allah yang terkait dengan nasib kita di akhirat ini dikarenakan Allah memiliki sifat Ar-Rahim. Tanpa sifat Ar-Rahim dari Allah, kita akan dibiarkan menjadi manusia tanpa iman yang hidup tanpa tujuan. Dengan mengucap basmalah kita memanggil Ya Rahiim, berharap selalu diselimuti rahmatNya.

 

  • Adakah syarat agat rahmat Allah yang merupakan bagian dari sifat Rahiim-Nya selalu tercurah pada kita?

Ada. Salah satunya adalah dengan bertakwa dan berbuat baik. “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56). ”Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmatKu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami: (Al A’raf: 156). 

Maka marilah kita selalu berbuat baik, selalu berusaha untuk menambah ketakwaan, dan salah satunya dimulai dengan bacaan, “Bismillahirrahmaanirrahiiim.” Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

Sumber bacaan: Tafsir Al Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Qur’an UII, Tafsir Al Jailani, Tafsir Jalalain, Tafsir Al Munir Marah Labid, Tafsir Ibnu Mas’ud, Tafsir Al Ibriz, The Essential Message of Qur’an, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Tafsir Al Asas. Buku-buku lain khusus tentang Tafsir Al Fatihah oleh Bey Arifin, Idrus Abidin, Jalaludin Rahmat, dll. Juga sumber lain dari internet(rumahfiqih, tafsirweb, muslim.or.id, rumaysho, asysyariah,com, nuonline, dll).

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan saya dalam menulis tulisan ini. Semoga Allah memberikan jalan untuk mengamalkannya. 

 

     

 

Aku Ingin Bisa Menyayangi Kalian Semua..

Kalau ditanya, kenapa saya bisa bertahan bekerja di Purbalingga dan Purwokerto dengan ratusan pasien dan jam kerja yang panjang? Atau bekerja di Semarang, merawat dan melakukan tindakan dengan mandi radiasi selama berjam-jam?

Mungkin karena saya sayang kepada hampir 95% pasien2 saya di Purwokerto dan Purbalingga. Lho kok 95%? Lha wong saya juga manusia, pasti kadang ada yang nggak ‘klik’ sama beberapa pasien. Yang setelah saya hitung beneran, ternyata jumlahnya mengecil. Dari estimasi 20-an persen menjadi hanya 5 persen saja.

Pada beliau2 yang saya kurang ‘klik’ ini biasanya saya menempatkan diri sebagai profesional semata. Hubungan kami lebih secara kontrak profesi, melakukan yang terbaik, tapi bukan sebagai sahabat karib atau saudara seperti yang sering saya lakukan saat menghadapi sebagian besar pasien2 saya. Pasien2 yang saya ikut sedih ketika mereka tak kunjung membaik, pasien2 yang saya ikut menangis saat Allah menentukan takdir mereka. Tapi ya gimana lagi? Ini akibat jika kita menempatkan diri menjadi keponakan, adik atau kakak dari seorang pasien…

Tapi sejak membaca kisah ini, saya jadi ingin menyayangi kalian semuanya…

Kisah ini dimulai dari sebuah hadits Nabi..

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi)

Dan berlanjut dengan Khalifah Umar..

Ketika berjalan di kota Madinah, Khalifah Umar r.a. melihat seorang bocah tengah mempermainkan seekor burung pipit. Merasa iba melihat burung itu, beliau membelinya dan melepasnya ke angkasa. Ketika Umar wafat, salah seorang ulama terkemuka melihat Umar dalam mimpi.

“Apa kabar, Umar?” tanya sang ulama. “Apa yang telah dilakukan Allah kepadamu?“

“Allah telah mengampuniku dan menghapus segala dosaku, jawab Umar”

“Mengapa? Sebab kedermawanmu, keadilanmu, atau karena zuhudmu terhadap dunia?”

Umar menggeleng.

Kemudian ia berkata, “Ketika kalian menguburkanku dan menutupiku dengan tanah dan meninggalkanku sendiri, dua malaikat datang yang membuatku takut. Bulu kudukku berdiri. Sendi-sendi tulangku gemetaran. Dua malaikat itu mendudukkanku untuk ditanya.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara tanpa sosok yang menghardik keduanya:

“Tinggalkan hamba-Ku ini, jangan kalian takut-takuti. Aku menyayanginya dan dosa-dosanya telah Kuampuni karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia…”

Jika Khalifah Umar bisa diampuni dosa-dosanya karena telah menolong seekor burung pipit, semoga dosa-dosa saya yang jauhhh lebih banyak bisa juga dimaafkan dengan cara saya sendiri…

(Dari terjemahan kitab Ushfuriyah oleh Penerbit Qalam, Cetakan I hal 14)

M. Yusuf Suseno, Purwokerto, 5 Okt 2019.

Ketika Kangen Kanjeng Nabi..

Siapa yang kangen beri’tikaf di masjid Nabawi? Siapa yang kangen mendulang pahala shalat, tadarus Al Quran dan dzikrullah di masjid Nabawi? Siapa yang kangen sowan Kanjeng Nabi sallalahu alaihi wassalam?
Sepertinya kita semua kangen dan berharap bisa berlama-lama di masjid Rasulullah sallalahu alaihi wassalam.

Kalau saja ada program gratis utk sebulan i’tikaf di masjid Nabawi bersama seluruh keluarga dan semua keperluan hidup di sana ditanggung, kira-kira berapa banyak yang akan berangkat? Pasti jutaan umat muslim akan langsung mendaftar.

Tapi sebenarnya pahala i’tikaf di masjid Nabi kita tercinta dengan ratusan ribu rakaat itu sangat mudah didapat.

Bagaimana caranya?

Pergilah keluar rumah, carilah saudara kita yang membutuhkan pertolongan, dan tolonglah.
Tidak sempat? Kalau begitu, bukalah HP, cari nomor saudara atau teman yang sering mengalami kesusahan(baik fisik, finansial, maupun rohani), hubungi dan tanyakan, apa yang bisa kita bantu dari rumah? Lantas buatlah hatinya gembira dengan kata-kata yang baik, dan jika kita mampu, ringankanlah bebannya dengan membantu sedikit membayarkan hutangnya..

Dari Ibnu Umar Radiyallaahu ‘anhu bahwasanya dikisahkan suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam lalu dia pun bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? Dan adakah suatu amalan yang paling dicintai Allah?”

Maka Rasulullah menjawab, “Orang yang paling Allah cintai adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesamanya. Sedangkan amalan yang paling Allah SWT cintai adalah engkau menggembirakan hati seseorang muslim, atau engkau menghilangkan suatu kesukaran dalam hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya.

Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara di dalam sebuah keperluan itu lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ku (Masjid An-Nabawi) ini selama sebulan.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka”
(HR Thabrani)

Begitu juga dikisahkan saat sahabat Abu Hurairah i’tikaf di masjid sepeninggal Rasulullah sallalahu alaihi wassalam wafat. Abu Hurairah tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

“Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah. “Apakah kau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut.
“Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan’”. ( HR Thabrani & Ibnu Asakir)

Sudahkah kita berbuat baik kepada seseorang hari ini?

Kalau saja kita meniatkan untuk menolong saudara kita sekali saja dalam sehari untuk mencari ridha Allah? Berapa tabungan pahala kita untuk bekal di Hari Perhitungan nanti setelah sebulan merutinkannya?

Sesungguhnya Hari Perhitungan itu sangatlah berat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:

Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.”

Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.”
(HR Ahmad dan Al Hakim)

Sesungguhnya ampunan dan rahmat Allah terserak di seluruh alam raya.

Wallahu a’lam bis
shawab.

M. Yusuf Suseno
Purwokerto, 5 Okt 2019