Normal Life..

Satu hari aku berkata pada seorang teman. “Back to your normal life..”

Tapi hari ini aku bertanya pada diri sendiri. Adakah hidup yang normal itu? Tidakkah sebagian besar peristiwa yang kini kita jalani adalah pilihan sadar?  Dan karenanya segala sesuatu yang terjadi adalah konsekuensi dari hal-hal yang kita pilih di masa lalu?

Kadang aku berpikir, kalau saja mesin waktu bisa kuputar, bagian mana dari hidup yang ingin kuubah? Jalan mana yang ingin kutempuh lagi, jalan mana yang ingin kuhindari? Sayangnya, jawaban pertanyaan itupun tak berguna. Cuma sekedar mengorek luka.

Akhirnya, mungkin memang tak ada  hidup yang normal. Sekaligus tak ada hidup yang tak normal. Yang ada cuma kini yang nyata. Setumpuk pilihan segera. Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti. Entah normal atau tidak, tak peduli.

Hanya saja, seperti kata Musashi

“Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.”

Kapan aku sampai ke titik itu sensei?

musashi

Tentang Surga

Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang kadang pergi ke Pura, Cinta bertanya.

”Pak, apa orang-orang yang beragama Kristen, Hindu, dan Budha juga akan masuk surga?

Istriku terdiam. Memandangku, mencari bantuan.

Setengah berbisik aku bilang, ”Nduk, nanti saja kita bicarakan lagi. Biar Bapak pikir dulu.” Untunglah anak pertamaku sangat pengertian. Ia mengangguk. Duh, lega rasanya.

Pertanyaan itu juga telah lama tersimpan dalam pikiranku.

Oya, aku tentu saja bukan pakar agama. Bahkan pernah aku tersandung batu gara-gara tak sengaja mengutip ayat Gusti Allah yang tak kuketahui tafsirnya secara utuh.

Namun perbedaan pendapat antara mereka yang mendukung pluralisme agama, satu pemikiran yang kumaknai sebagai  ”Semua anak sungai, akhirnya bermuara ke laut jua” dan mereka yang menentangnya telah lama kuketahui.

Setelah bermenung ria dan mencoba mendengarkan suara hati, malam itu menjelang tidur, dalam temaram lampu ruang tengah yang menerobos pintu kamar, aku berbisik pada Cinta.

”Nduk,  menurut Al Qur’an dan hadits Nabi yang Bapak pernah baca, asalkan kita masih percaya pada Allah dan Nabi Muhammad, setiap muslim ’akhirnya’ akan masuk surga.”

”Lalu bagaimana dengan mereka yang bukan muslim?” Aku berhenti sebentar, menarik napas panjang.

“Nduk, yang memiliki surga itu bukan kita, tapi Gusti Allah. Jadi ya terserah Allah saja. Biar Allah yang memutuskan. Gimana? ”

Anakku mengangguk dan tersenyum, wajahnya kelihatan marem pada penjelasan bapaknya.

Malam makin larut. Malam itu adalah salah satu tidur yang nikmat dalam hidupku.

-Ini jelas bukan foto surga. Ini foto di depan rumah dinas di Grabag, Magelang, saat Cinta masih bayi. Wonderful memory…-

10028

Menukar Hidup

Hari ini aku melihat seseorang hendak menukar hidupnya dengan sesuatu. Entah apa. Mungkin untuk mendapatkan uang, memiliki pekerjaan, menunjukkan kesetiaan, atau mungkin sekadar cinta.

Ia, lelaki itu, dengan sepeda motornya, menyalip truk di depan, saat dari arah sebaliknya sebuah bus kota jurusan jembatan merah-sidoarjo melaju tak kalah kencang.

Nyaris. Mungkin tinggal beberapa sentimeter saja, ia hampir menukar hidupnya dengan celaka,  kematian. Kematian demi tak terlambat ke tempat kerja, segera sampai rumah, atau sekadar memenuhi janji, menyenangkan seseorang yang ia panggil, ”Sayang.”

Ternyata, begitu pula aku. Aku menukar hidupku, sebagian hidupku, juga masa kecil anak2ku, dengan karir, dengan uang.

Hari ini,  setelah seharian di kantor demi karir,  siang ini aku pulang, hanya sekadar untuk sholat, mandi dan berangkat lagi. Kerja. Kerja. Kerja hingga malam nanti.

Padahal aku tahu gadis keduaku, Lintang, yang cemberut menyambutku di ruang tamu itu, mengerutkan kening  semata karena kangen pada Bapaknya.

”Kenapa pergi lagi Pak?”

”Bapak harus kerja.”

”Kenapa Pak?”

”Supaya dapat rejeki. Jadi kita bisa beli lauk.”

Benarkah demikian? Mungkin tidak. Mungkin sebenarnya aku bisa saja tetap di rumah, bermain dan membelikan putriku donat seperti yang ia minta. Dan kami toh tetap bisa makan. Mungkin tidak berlebihan. Mungkin tak harus mewah. Tapi toh tak akan kekurangan. Takkan kelaparan.

Tapi aku tetap saja berangkat ke klinik. Kerja. Sekadar untuk mendapatkan uang tambahan, atau merasakan kenyamanan finansial.

Atau  untuk mencicipi rasa aman? Entahlah.

Catatan Januari 2003 : Nurcinta Zahida

anakku,

aku tahu, bahwa segala sesuatu itu milik Allah semata.

dan segalanya juga akan kembali.

tapi sungguh, bapak dan ibumu memang masih terus melakukan kesalahan manusiawi ini.

kami mencintaimu nak.

dan kami ingin kau sehat selalu.

jangan sakit. jangan susah. jangan sedih.

padahal sehat, kemudahan dan kebahagiaan, bukankah itu cuma mainan kanak belaka?

dan lagi : bukan kita yang punya.

tapi memang sulit untuk mendapatkan pencerahan sejati.

dan terus, kami terus mencintaimu.

padahal seperti juga nyawa di wadag  ini,  kau pun juga semu.

dan bukankah kekayaan sejati cuma satu : Allah semata?

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan omong kosong belaka. Sungguh akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya?” (al An’aam 32)

pasti cah ayu. pasti kau memahaminya. bukankah itu sebabnya kunamai kau Zahida ?