Warna dan Doa

Tulisan dan gambar almarhum Eyang Eni, aku cuma kebagian  mewarnai. Saat itu aku masih 5 tahun. Kurasa lebih bagus warna anakku kini.. 🙂

Ada satu adegan masa kecil yang masih kuingat hingga kini. Satu hari, seseorang menggendongku. Mungkin Bapak. Dibawanya aku masuk ke ruang tamu rumah Karangayu yang reyot. Atapnya yang begitu rendah, dengan plastik yang melapisi genting agar tak bocor.

Di sana, di atas meja panjang, ada sebuah peti mati kayu. Bapak menggendongku mendekat. Lantas dibukanya kain jarik penutup. Kutatap wajah tirus yang terbaring di sana. Lantas kudekatkan(atau didekatkannya ?) wajahku padanya. Kucium pipinya yang dingin. Keriputnya yang nyata. Di saat itu aku tahu, Eyang Eniku takkan pernah kembali bermain denganku.

Bapakpun kemudian menggendongku, menjauh sambil menghiburku. Entah apa. Mungkin ia ingin berkata, jangan menangis ya Nak.. Tapi aku tak menangis. Karena aku tahu, Eyangku, meski sudah tak bermain secara wadag denganku, ia masih ada di sana. Kusimpan dalam lipatan  kenangan masa lalu. Di sana, Yusuf Suseno kecil masih selalu dimandikannya,  lantas  memegang telinganya yang kendur saat menjelang tidur…

Setelah bertahun lalu, barulah aku tahu apa yang telah dialami oleh Eyang Eniku. Betapa meski harus kehilangan suami, lantas jatuhnya ekonomi keluarga, tak membuatnya berhenti berjuang, menghidupi, dan terus mendorong  putra-putrinya untuk menjadi ‘sesuatu’.

Lewat tulisan di dunia maya ini, aku cuma ingin titip doa padaMu. Ya Allah, ampuni, rahmati, peluk dan penuhi Eyang Eniku dengan kasih sayangmu…

Juga ampuni, sayangi, peluk dan hangati Eyang Soesatyoku. Aku tak tahu, tapi pastilah hari-hari terakhirnya sangatlah sunyi. Sangatlah sepi.

Kini, jangan biarkan ia dalam sepi. Dimanapun jasadnya kini, jangan biarkan jiwanya sendiri ya Allah Gusti. Berikanlah cahayaMu untuknya..

Amin.

Surat Eyang Eni (teruntuk Sri 29/4/1980)

Almarhumah Eyang Eni, Sri Eni Soesatyo is my grandmother.

She is a beautiful mother, a strong and wise woman for her children. And for me, even I only know her for about 5 years, I still remember her. From many ways, she influence me a lot.

This morning I found this letter, a letter that she wrote for my auntie, just 2 month before she passed away. It’s full of love.

This post is dedicated for her.

Semarang, 29-4-80

Sri, anakku sajang

Lajangmu+ duwit Rp 4000 wis tak tompo. Bijen  jo  wis tompo Rp 2000 nang jero lajang.  Jo tak enggo tuku brangkal lan papan.
Ibu ketrimo banget, anak2ku podo ngerti karo Ibu.
Ibu dikabari jen Sri  biso nerusake nang Lampung, jo melu seneng dadi isih biso nerusake sampai biso dadi sardjana.
Sri arep njambi njambut gawe jo sjukur, dadi jen bajarane akeh biso ngirimi Ibu kanggo tuku kangkung lan beras jen duwite Sri turah.
Kapan Sri lan Mas Budi tekan Semarang, bulan Mei?
Mb Gige isih nang Semarang.
O jo, lali ngabari jen Jusuf wis nduwe adik lanang, tgl 3 April djenenge Mohamad Wicaksono
Mb Gige slamet ora opo2 naliko nglahirake adik tjilik si Wicaksono,  tgl 10 Mei bali Plantungan, amargo wis rodo kuwat.
Sri soal beaja SPP kepriye?
Opo jo mbajare isih akeh banget? Ibu mundut kabar.
Sjukur  jen  biso ngabari sak durunge  tgl 8 Mei, dadi Mb Gige biso ngerti soal kebutuhanmu SPP.
Temenan  jo Sri, jen mrene karo Mas Boedi dadi biso plesir Plantungan.
Wis jo Sri, awakmu didjogo supojo sehat2.
Soentjes untuk Mb Nen lan adik.
Untuk Sri dari Ibu, Mas Moch, Mb Gige, Dudi, Jusuf lan adik tjilik.

Ibu Tresno

Sri Eni

Iki ono kirimane Jusuf, gambaran, deweke sing mulas.
Dikirimake Tante Sri, amargo Jusuf wis sekolah TK ketjil di Plantungan

Percakapan Tahun Ke-35

9 April 2010. Layar dibuka. Berlatar gelap, tampak dua buah topeng melayang-layang di panggung yang kosong.

Suara dari jauh (berbisik) :

kau benar. kini sudah 35 tahun.
dan aku belum jadi apa-apa.
belum cukup besar untuk jadi manusia.
belum cukup bermakna.

Topeng 1 :

Kawan, coba kau lihat hidupku.Secara duniawi tak ada yang bisa kubanggakan.Rumah masih ngontrak. Pekerjaan tak jelas. Sekolah belum kelar. Mau tinggal dimana tahun depan? Pertanyaan itu masih belum terjawab juga.Tingkat spiritual? Minus.Tingkat kebijaksanaan? Underground. Tingkat frustasi? High!
Kulihat catatanku di bertahun-tahun lalu. Target-target itu belum tercapai. Aku ternyata baru sampai di sini.
Berhenti di Surabaya.

Topeng 2 :

Ok. Fakta yang kau ceritakan memang nyata. Tapi tunggulah barang sebentar wahai kawanku. Kenapa kau selalu bilang baru, dan tidak bilang, sudah sampai di sini?
Kenapa tidak bilang, sudah sampai di Surabaya?
Memang, ada hal-hal yang kita inginkan di waktu dulu, yang ternyata belum kita temui. Belum jadi bagian dari takdir hari ini.
Tapi esok?
Lagipula, siapa yang tahu apa yang terbaik bagimu?
Siapa yang tahu waktu tertepat untukmu?

Topeng 1 :

Hmm. Entah kawanku. Tuhan mungkin?

Suara dari jauh (berbisik) :

kau benar. sudah 35 kini. dan aku belum jadi apa-apa.
tapi itu tak begitu penting kurasa.
setidaknya aku masih hidup. masih bisa menulis keluh kesah ini.
masih bisa bertemu denganmu.
mungkin memang belum cukup besar dan bermakna.
tapi, sesungguhnya, apa arti besar dan bermakna itu kawanku?
“Segala sesuatu dimulai dari pikiran Pak,” bisik Cinta, gadisku yang terbesar.
dan ia benar.

Layar ditutup.

-foto dua wajah topeng dari : KFK Kompas

Seribu Kota Seribu Kehidupan (Jawa Pos, 7 April 2010)

ADA sisi positif dari usainya musim penghujan. Genangan air berjentik nyamuk melenyap. Anak-anak tak lagi bermain di comberan besar. Pengap bangsal rumah sakit di kota-kota Indonesia mulai berkurang. Grafik angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah dan diare menurun. Masyarakat dan pemerintah kota bernapas lega. Satu krisis selesai.

Namun, benarkah krisis kesehatan kota kita telah berlalu? Tema Hari Kesehatan Sedunia (HKS) 2010 yang jatuh pada 7 April ini menjawab pertanyaan tersebut. WHO ternyata masih memilih urbanisasi dan kesehatan sebagai fokus utama dengan slogan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan”. Ini menunjukkan bahwa secara global masih ada masalah dengan kesehatan kota.

Menurut WHO, pada 2007 lebih dari 50 persen populasi penduduk dunia tinggal di kota, dan angka ini terus bertambah. Diperkirakan pada 2030 enam dari 10 orang di dunia tinggal di perkotaan, lantas meningkat menjadi 7 dari 10 orang pada 2050.

Bagaimana Indonesia? Pada 2009, lebih dari 43 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan pada 2025 akan ada lebih dari 60 persen penduduk yang tinggal di kota.

Mari kita lihat dua kota terbesar Indonesia. Pada 2002 penduduk Surabaya terdiri atas 2,4 juta jiwa, tapi 2009 telah mencapai 3,2 juta penduduk. Pada 1990 penduduk Jakarta sejumlah 8,23 juta jiwa, namun pada 2010 diperkirakan telah mencapai 12 juta jiwa pada siang hari, meski kembali pada angka 9 juta pada malam hari.

Pertumbuhan wilayah perkotaan adalah laku manusiawi yang tak terbendung. Apalagi jika dilihat dari kacamata ekonomi. Tingkat pendapatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia memang terkait dengan tingkat urbanisasi. Data UNEP 2002 menunjukkan bahwa Bangkok yang hanya terdiri atas 12 persen populasi Thailand menghasilkan 40 persen GNP negara tersebut.

Secara keseluruhan, kota-kota di negara berkembang memiliki andil antara 50 hingga 80 persen dari GNP negaranya. Jumlah yang sangat signifikan. Karena itu, adalah sangat wajar jika manusia terus bergerak ke tempat di mana uang dan perekonomian lebih banyak beredar. Kota menawarkan lapangan kerja, kualitas pendidikan yang lebih baik, informasi yang lebih lengkap dan layanan publik bermutu. Bahkan, diakui atau tidak, tingkat layanan kesehatan juga lebih baik. Seperti laron dan nyala api, penduduk Indonesia pelan tapi pasti akan terus bergerak menuju kota. Lantas, apa yang telah dan akan terjadi?

Rumah-rumah tak permanen di sepanjang bantaran sungai, rel kereta api, tempat penampungan sampah, dan tanah tak bertuan adalah fenomena kota. Begitu pula kemiskinan. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), terdapat 323 ribu orang miskin di Jakarta. Warga urban dan kemiskinan terus menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, sedangkan di sisi lain kebutuhan akan listrik, air bersih, dan layanan publik meningkat. Membebani kota. Pengangguran, satu ancaman kota akan terus ada. Tingkat pengangguran terbuka di Jakarta, mencapai 12,15 persen pada Agustus 2009, atau berkisar 560 ribu orang.

Efek urbanisasi yang tak terkontrol menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang masif. Rumah-rumah tak sehat diisi oleh banyak penghuni. Penyebaran penyakit infeksi tergolong tinggi, antara lain infeksi saluran napas akut, influensa (H1N1), tuberkulosis, diare, demam berdarah, penyakit jantung rematik, cacingan, juga HIV/AIDS. Belum penyakit lain yang terkait dengan polusi udara serta konsumsi rokok seperti infeksi paru, penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru, dan asma.

Beban kesehatan masyarakat kota juga meningkat akibat kasus penyakit gaya hidup. Konsumsi berlebih lemak dan makanan cepat saji, kurangnya olahraga, rokok, stres, dan gaya hidup tak sehat memicu diabetes, hipertensi, serangan jantung, dan stroke yang timbul lebih dini. Belum termasuk kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas.

Satu hal yang belum banyak disentuh adalah gangguan jiwa akibat urbanisasi. Anak-anak miskin kota memiliki masalah psikologis yang tinggi, termasuk ancaman kekerasan fisik dan seksual dari orang dewasa. Tingginya angka pengangguran, tingkat kemiskinan, dan minimnya layanan kesehatan jiwa di daerah miskin kota menjadikan masalah gangguan jiwa penduduk urban layaknya fenomena gunung es.

Namun, kota dengan segala kondisinya sebenarnya memiliki keuntungan. Peluang bagi warganya untuk tetap bisa hidup sehat. Pertama, adanya kaum urban yang kaya dan berpengaruh di perkotaan. Suara mereka, secara ekonomi dan politis, seharusnya lebih didengar oleh pemerintah. Ini terkait dengan kualitas lingkungan perumahan dan layanan kesehatan bermutu. Termasuk rumah sakit milik pemerintah.

Kedua, adanya kaum urban dengan pendidikan tinggi juga seharusnya lebih menguntungkan. Terutama jika mereka mau berbuat sesuatu demi kesehatan kota tempat tinggalnya. Pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri, gerakan bersepeda ke tempat kerja, penanaman dan penghijauan kota, serta usaha lain untuk mencintai dan menjaga kesehatan kota tempat tinggal mereka sangatlah penting.

Kedua komponen warga kota tersebut, mereka yang mapan secara ekonomi maupun pendidikan, seharusnya tak melupakan tanggung jawabnya terhadap kota tempat mereka tinggal. Wabah demam berdarah tak hanya menyerang warga miskin kota, tapi juga masyarakat kelas menengah. Bahkan, seorang direktur BUMN meninggal meski telah dirujuk ke rumah sakit luar negeri.

Pemerintah kota dengan segala hiruk-pikuk laku politiknya tetaplah menjadi komponen terpenting. Perencanaan tata kota yang sehat, tegaknya perda antirokok, taman kota yang diperbanyak, kontrol ketat pada tingkat polusi, adanya layanan transportasi masal yang aman dan nyaman, serta promosi kesehatan yang intensif adalah sebagian tanggung jawab pemerintah. Termasuk kembalinya puskesmas kota pada khitahnya sebagai tulang punggung usaha promotif dan preventif. Bukan melayani aspek pengobatan belaka. Kesadaran penuh dan laku tanggung jawab pemerintah kota yang bebas dari kolusi, korupsi, dan kepentingan politik sesaat sangatlah didamba.

Alangkah hidup dan indahnya kota jika warga kota dan pemerintahnya menyadari peran masing-masing. Dan, harapan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan” adalah benar adanya. (*)

*). dr. M. Yusuf Suseno, pemerhati sosial, tengah menjalani pendidikan spesialis di Kota Surabaya.