Anak Merokok Jangan Diancam(Intisari Mei 2007-setelah setahun menunggu..)

oleh M. Yusuf Suseno

Stop dulu niat itu. Simpan dalam relung hati terdalam dan mulai berpikir jernih. Merokok bukanlah kebiasaan buruk yang datang secara tiba-tiba. Seorang perokok dewasa biasanya sudah mulai mencoba merokok sejak usia muda. Di Amerika Serikat (AS), 90% dari perokok dewasa mulai merokok sejak anak-anak.

Data dari Central for Disease Control AS menunjukkan, satu dari lima remaja SMU yang merokok menyatakan, pertama kali menghisap rokok ketika usianya belum 13 tahun. Bahkan dari sebuah penelitian terungkap, ada yang merokok sebelum menginjak usia delapan tahun! Di AS hampir tiap hari 2.000-an anak usia belasan tahun menjadi perokok.
Memang, data tadi berasal dari AS yang memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa. Okelah, dengan penduduk 200-an juta itu, berarti sekitar 1.000 anak per hari menjadi perokok. Bukankah angka ini cukup mengagetkan?

Lagilagi, Indonesia masih lemah dalam data. Namun, seorang teman mengaku, ia mengisap rokok pertamanya saat kelas 1 SMP, sekitar tahun 1990-an. Padahal saat itu ia juara kelas dan salah satu orangtuanya dokter! Lucunya, kebiasaan itu berlanjut hingga ia menjadi dokter pula.

Apa yang bisa ditarik hikmahnya dari cerita teman saya tadi? Meski kita telah bekerja keras, seorang anak yang paling pintar dan stabil pun – tanpa sepengetahuan kita – bisa saja merokok. Semua anak rentan untuk mengisap rokok mereka yang pertama; dan payahnya, semakin muda seseorang mencoba, semakin mudah ia kecanduan, dan selanjutnya menjadi perokok sejati.

Jendela yang terbuka
Ada beberapa alasan mengapa seorang anak tertarik untuk merokok. Bisa karena rasa ingin tahu, terpengaruh iklan, ingin melawan orangtua, meniru anggota keluarga, sebagai syarat diterima di kelompok atau gengnya, ingin terlihat dewasa, atau mencoba lari dari masalah di keluarga, lingkungan, atau sekolah.

Susah-susah gampang mengenali anak Anda sudah berkenalan dengan rokok atau belum. Orangtua memang harus jeli dan tiap hari memantau si anak. Cium bau pakaian anak. Rokok meninggalkan bau pada baju. Apakah ia sering batuk-batuk, iritasi pada tenggorokan, suara serak, bau rokok pada mulut dan rambut, dan makin banyak noda pada gigi.

Hati-hati bila menemui jendela kamar terbuka tanpa alasan yang jelas. Ada korek api di ruang kamar, lubang bekas terbakar pada baju, atau ia mulai menggunakan cairan penyegar mulut. Waspada jika Anda tahu ada seorang temannya yang merokok. Menurut penelitian dari AS, anak yang memiliki teman perokok, sembilan kali lebih rentan untuk mencoba rokok pertamanya. Begitu mencoba, mereka jadi kecanduan.

Seperti diinformasikan di kemasan rokok atau setiap iklan rokok, bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Sebagian besar perokok tentu pernah membacanya. Akan tetapi, mengapa peringatan itu bisa menjungkalkan akal sehat? Sehingga mereka tetap tak mau lepas dari rokok? Jawabannya, nikotin!

Nikotin dalam rokok menyebabkan kecanduan layaknya putauw (heroin), ganja, dan sabu. Nikotin dikenal sebagai salah satu faktor resiko penyakit jantung koroner. Penyempitan pembuluh darah jantung terjadi lebih dini pada remaja yang merokok. Tembakau merusak jaringan paru-paru dan mengurangi kandungan oksigen darah yang dibutuhkan seseorang saat beraktivitas.

Nikotin juga mempengaruhi suasana hati anak, membuat anak lebih mudah mengalami stres dan gangguan psikologis lain. Yang lebih gawat lagi, biasanya anak perokok juga lebih tertarik untuk mencoba alkohol, ganja, sabu, putauw, dan seks bebas!

Lihat diri sendiri
Mungkin Anda kecolongan. Putra tersayang Anda benar-benar ketangkap basah sedang merokok. Anda berhak marah dan kecewa. Tetapi usahakan untuk menyalurkan energi marah pada usaha efektif untuk membantunya mengatasi kecanduannya pada rokok. Anda bisa mengatakan, “Saya sangat kecewa karena engkau merokok. Tetapi kita akan bicarakan hal ini nanti.”
Langkah-langkah berikut bisa Anda lakukan sebagai tindakan selanjutnya.
– Ajak si anak bicara dari hati ke hati. Misi pertamanya, cari alasan mengapa ia merokok. Mungkin sulit memperoleh jawaban, tapi hindari menginterogerasinya. Ingat, Anda bukan polisi dan anak bukan tersangka. Bila sumber api sudah diketahui, peraslah otak untuk mencari cara memadamkannya.
– Ingatkan anak akan dampak merokok pada kesehatannya sebagai remaja. Buatlah daftar kerugian merokok bersama-sama.
– Buat aturan yang jelas. Tidak ada rokok di rumah.
– Jangan intimidasi anak untuk berhenti merokok. Usahakan ia sendiri yang memutuskan. Bahkan orang dewasa pun tidak mudah untuk berhenti merokok.
– Jika anak menjawab, “Aku bisa berhenti setiap saat aku mau.” Doronglah ia untuk mencoba. Kalau perlu dengan imbalan, saat ia berhasil.
– Sering didapatkan withdrawal syndrome (gejala putus nikotin) saat mencoba berhenti. Anjurkan untuk bernapas dalam, minum segelas air putih, dan menekuni aktivitas lain. Harap maklum bila ia menjadi sedikit pemarah.
– Berhenti merokok untuk satu dua hari mungkin mudah. Berhenti selamanya cukup sulit. Minggu pertama adalah periode yang sangat berat. Bila gagal, ingatkan ia pada alasan mengapa berhenti. Mungkin perlu beberapa kali mencoba, bahkan beberapa bulan, saat ia benar-benar berhenti merokok. Berikan hadiah yang sangat istimewa bila ia berhasil.
– Bila perlu, bertemulah dengan dokter keluarga Anda, atau seorang psikolog.

Namun, jauh sebelum melakukan hal-hal di atas, lihat diri Anda sendiri. Apakah Anda sendiri juga perokok? Jika ya, temani ia berjuang menghadapi nikotin. Anda adalah idolanya! Bila ia melihat kerja keras Anda untuk berhenti, ia pasti sangat terdorong untuk berbuat yang serupa.

JAUHKAN ROKOK DARI MEJA

Mencegah memang lebih baik dari mengobati. Namun, mencegah anak untuk tidak merokok tidak segampang kita mencegah timbulnya sakit perut. Intinya, komunikasi yang baik dan waspada selalu.
– Bicaralah sesering mungkin tentang ketidaksukaan Anda pada rokok beserta alasannya. Mulai dari alasan merusak kesehatan, membuat napas jadi bau, gigi jadi berwarna jelek, dan yang jelas, mengurangi uang jajan.
– Bila ada anggota keluaga yang merokok, mintalah untuk tidak merokok di depan anak. Jangan membiarkan rokok tergeletak di meja tanpa pengawasan.
– Sebisa mungkin jauhkan dia dari teman perokoknya.
– Bantu dia menemukan alasan untuk menolak ajakan temannya. Bisa saja dengan mengatakan, “Rokok membuat gigiku jelek.” atau “Aku masih ingin bisa main basket.”
– Dorong anak untuk bersosialisi pada lingkungan yang tidak merokok. Misalnya, remaja mesjid atau klub olahraga.

http://www.intisari-online.com/majalah.asp?tahun=2007&edisi=526&file=warna0901

http://simpatizone.telkomsel.com/web/newszone/content/61/Jangan_Mengancam_Anak_Merokok_

3 Tanggapan

  1. Aku menemukan seorang anak pak lurah di lokasi penelitianku usianya 3 tahun, mulai merokok sejak usia 2 tahun. Gara2 nyobain rokok bapaknya, sekarang sehari tidak merokok pasti rewel…

  2. wah2,gila amat anak pak lurah.^^.suruh bapaknya nabokin aja,biar ga brani ngerokok lagi.anak lurah aja gitu gmana anak rakyat biasanya??kacau dah

  3. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: