comfort zone

hari ini seorang kawan menawarkan sesuatu padaku.
sesuatu yang kadang kupikirkan, terutama saat perjalanan terasa berat dan melelahkan.
beberapa teman menyebutnya sebagai zona nyaman atau comfort zone.

tawaran itu membuatku jadi bertanya, siapkah aku untuk berhenti berjalan? berumah, membesarkan anak dan kata sebagian orang : berbahagia? beranikah aku melupakan mimpi2ku?
tapi, ini pertanyaan yang sering mendera pula,  sungguhkah mimpi2 itu, sesuatu yang kadang terasa samar, benar2 berarti?

aku jadi ingat satu paragraf dalam the alchemist-nya Paulo Coelho : Baca lebih lanjut

mati

malam ini aku banyak berpikir tentang mati. dan entah kenapa aku sering sekali merasa kalau mati terasa begitu dekat padaku.

dan seperti malam ini, saat pikiran itu datang, betapa aku ingin merebahkan diriku, menarik diri dari seluruh petualangan dan berhenti di sebuah tempat yang nyaman.
sekadar melihat anak2ku tumbuh, sembari menunggu izrail di sebuah bukit, di bawah pohon rindang pada suatu sore yang cerah berangin..

ah, betapa tiap hari adalah keajaiban. betapa tiap hari adalah anugrah..

Kutukan Askeskin(Jawa Pos, 14 Agt 2007)

oleh M. Yusuf Suseno

Membaca kolom jati diri di lembar Opini Jawa Pos tentang mark up klaim Askeskin memaksa saya berkaca pada diri sendiri. “Ini sungguh-sungguh perbuatan yang tidak manusiawi. Ini perbuatan yang perlu bersama-sama harus dikutuk sekeras-kerasnya.”(Jawa Pos 7/8/07)

Pertanyaan pertama yang segera timbul di benak adalah, apakah saya termasuk yang dikutuk oleh redaktur tersebut dan pembacanya, dan karenanya harus segera meruwat diri agar tak terkena imbas kalimat sugestif itu?

Saya melirik sepasang bolpoin yang tergeletak di meja, ia bertuliskan salah satu jenis obat yang pernah saya resepkan. Salah satu obat berharga mahal yang dulu sempat disediakan Askeskin, dan kini tidak lagi karena dianggap tak efisien. Meski mungkin tak termasuk mark up, apakah saya bisa dianggap mencari keuntungan pribadi dari dana untuk kaum dhuafa ini? Perlukah bolpoin itu saya buang untuk menghindari kutukan Askeskin? Baca lebih lanjut

Askeskin, Pembelajaran Menjadi Kaya (Jawa Pos 18/7/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Ada seorang pejabat desa yang tengah bingung karena sebagian besar warganya meminta kartu Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) untuk berobat gratis. Padahal, ada di antara mereka yang menurutnya cukup mampu dan tidak bisa dibilang miskin. Apa yang harus dilakukannya? Akhirnya, ia membuat dan memfotokopi beberapa lembar pengumuman, menempelnya di seluruh penjuru lingkungan desa. Bunyinya sederhana. Dicari : Warga Miskin untuk mendapatkan kartu Askeskin. Syarat dan ketentuan berlaku. Baca lebih lanjut

Aborsi, Menutup dan Membuka Pintu(Jawa Pos, 22 Juni 2007-salah satu tulisan favoritku)

oleh dr. M. Yusuf  Suseno

Berita tentang penahanan kembali seorang dokter akibat praktik aborsi ilegal di Surabaya membuat saya teringat kejadian beberapa tahun lalu. Malam itu, seorang perempuan berusia tiga puluhan tahun yang terlambat haid dua bulan datang ke ruang gawat darurat Puskesmas tempat saya bertugas sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT). Kondisinya begitu lemah dan pucat, kain kebayanya basah menghitam karena rembesan darah.

Jarak rumah sakit dari puskesmas tersebut sekitar 1 jam perjalanan memakai ambulans. Tapi. keluarga pasien menolak untuk dirujuk. Tekanan darahnya mulai turun, nadinya cepat dan tangannya dingin. Di sela-sela tetesan infus yang mengalir cepat, bisik-bisik para pengantar di belakang kepala mengatakan kalau ia adalah “sisa” seorang dukun penggugur kandungan dari sebuah desa di lereng gunung. Baca lebih lanjut

Rumah Sakit Tercinta(Jawa Pos, 15 Juni 2007-kudedikasikan untuk RS tempatku kini belajar..)

oleh M. Yusuf Suseno

Membaca laporan Jawa Pos tentang Royal Adelaide Hospital memaksa saya berkaca pada kondisi rumah sakit(RS) di negeri sendiri. Rumah sakit rujukan milik pemerintah Australia digambarkan memiliki suasana yang begitu tenang, ramah, dan bahkan dilengkapi fasilitas gedung sepuluh lantai yang bisa digunakan keluarga pasien dari luar kota untuk menginap.

Akhir laporan itu juga menunjukkan rasa cinta dan harapan sang wartawan yang besar terhadap RS pemerintah di Surabaya. “Alangkah mulianya jika pengelola RSU dr Soetomo juga mendirikan gedung serupa. Tentu akan bisa menghapus kekumuhan yang timbul dari keluarga pasien yang keleleran. Mungkin lebih efektif daripada menutupinya dengan membangun fasilitas-fasilitas rawat inap mewah.” (Jawa Pos, 2/6/07)

Sementara itu, tiap pagi yang tampak adalah antrean panjang pendaftar di depan loket Askes Maskin di instalasi rawat jalan sebuah RS pemerintah di Surabaya. Kadang, begitu banyaknya para pengantri hingga antrean itupun keluar dari ruangan, memenuhi pelataran parkir. Menjelang siang, instalasi rawat jalan tersebut juga begitu penuh, dan meskipun para dokter dan perawat RS sudah bersimbah keringat, toh pasien tetap harus menunggu dalam hitungan jam. Baca lebih lanjut

SIM untuk Traditional Chinese Medicine(Jawa Pos,26/05/2007)

oleh dr. M. Yusuf  Suseno

Suatu hari seorang guru besar emeritus Unair menulis keheranannya terhadap pendapat Kepala DKK Surabaya yang mengatakan bahwa surat izin praktek (SIP) dokter sama dengan surat ijin mengemudi (SIM). Menurut beliau, berbeda dengan para sopir yang bila tak punya SIM hanya ditilang, dokter yang tidak punya SIP malah dipidana, dan persoalannya jauh lebih berat dan panjang daripada sekadar sopir ditilang. (Jawa Pos 11/5/07).

Lebih berat dan panjang? Pasal 76 UU Praktek Kedokteran tahun 2004 memang mengancam para dokter yang tidak memiliki SIP dengan ancaman pidana maksimal 3 tahun penjara, atau denda paling banyak Rp 100 juta. Wah!

Di akhir tulisannya, sang guru menutup keresahannya dengan satu kalimat penjelasan yang pilu. “Sebab, derajat dokter (dianggap) lebih rendah dari sopir truk sampah…”

Ternyata kisah SIM itu juga bisa ditemukan pada cover story Jawa Pos tentang Traditional Chinese Medicine (TCM). Ulasan tentang TCM itu membuat saya bertanya, apa mereka punya SIM juga? Kalau ya, bagaimana derajat mereka dibandingkan dokter ataupun para sopir truk sampah? Atau hanya dokter yang dianggap berbahaya, sehingga perlu diancam kurungan untuk pelanggaran administratif seperti itu? Baca lebih lanjut