Kepada Simbah2 yang Sudah Percaya.

Tiba2 mendengar kabar kalau ada pasien setia yang meninggal, dan entah kenapa saya ingin tuliskan ini..

Beberapa kali, saat tubuh saya terasa sangat lelah, saya meminta didoakan oleh pasien-pasien saya. ‘Mbah, nyuwun pangapunten sampun nengga dangu.. Dalem didongakke nggih, supados sehat..’

Mereka yang sudah menunggu berjam-jam, kadang hingga tengah malam itu tersenyum. ‘Nggih Nak dokter, Simbah mesti ndonggakke Nak dokter terus.. Mugi2 Nak dokter sehat terus.. Saged ngrumat simbah terus…’ Selalu air mata saya menetes mendengar doa mereka.

Mungkin karena sebagai manusia, saya tahu dosa2 saya sangat banyak. Dan hanya doa dari mereka, orang2 kecil yang merasa terbantu dan tertolonglah maka azab Allah itu tak diturunkan pada saya. Saya percaya, bahwa saya bisa hidup, naik mobil tanpa kecelakaan, melakukan tindakan invasif tanpa komplikasi, semua karena doa pasien2 tidak mampu yang berterima kasih. Doa tulus yang didengar Gusti Allah..

Matur nuwun sanget nggih Mbah… Kula tansah kangen kalih Simbah..

#in memoriam pasien2 setia saya yang sudah meninggal, guru2 saya yang sejati, yang bahkan saat saya menulis ini, ingatan akan mereka membuat saya menangis.. Kula tansah kangen kaliyan Simbah.. Mugi2 ketemu malih nggih Mbah ting swarganipun Gusti Allah… Kula dipadosi nggih Mbah, matur Gusti Allah yen kula dereng ketingal2…

Bakda subuh, 29 Ramadhan 1440

di Masjid, di Masjid (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin..

clone tag: 890859975819132359

Yang Terampas dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Chairil Anwar, 1949

Setelah Sekian Tahun yang Entah.

20120816-043551.jpg

Setelah sekian tahun yang entah, apa yang berubah dari diriku? Banyak. Aku makin tua. Makin sibuk. Makin sedikit waktu untuk anak-anak. Makin tak punya waktu buat diri sendiri. Makin tak sempat menulis. Hidupku ditelan ribuan pasien. Ribuan radiasi. Ribuan pikuk dunia. Inikah yang sungguh-sungguh kuinginkan? Entah.

Salah satu kalimat yang sejak lama ada di kepalaku adalah, “Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti.” Sudah berartikah hidupku? Mungkin iya kalau dilihat dari kaca mata orang lain yang kebetulan Allah menakdirkan aku membantu mereka. Tapi berartikah buat diriku sendiri? Entah.

Aku merasa begitu kecil di dunia kedokteran yang besar. Merasa begitu rapuh di hadapan maut yang tak bisa kulawan. Dan jujur, aku kangen masa-masa ketika anak-anak masih kecil, ketika mereka tak terlalu kompleks sebagai remaja.

Setelah sekian tahun yang entah, apa yang berubah dari diriku? Banyak. Tapi ada satu hal yang sama dengan 10 tahun lalu. Yakni selalu ada hasrat untuk berhenti.

Kadang saat aku bepergian dengan kereta, kulihat rumah-rumah sederhana di kota-kota kecil yang kulewati. Dan layaknya seorang pengembara, sering aku ingin berhenti, tinggal di sebuah sudut desa, dan menjadi seorang pegawai biasa. Berangkat pagi, pulang sore, tanpa tanggung jawab terhadap banyak manusia.

Tapi seperti juga 10 tahun lalu, itu tak jua kulakukan. Dan tetaplah aku di sini. Terseok-seok di tengah padang pertempuranku sendiri.

 

Tentang Buku Belajar Menjadi Daun

Beberapa tahun lalu, saat saya masih sempat mengumpulkan tulisan yang tercecer. Dan jadilah kumpulan tulisan dg judul ‘Belajar Menjadi Daun’. Beberapa buku ternyata masih tersisa di rak penerbit. Rasanya eman2..  Harga 45.000 diskon 10 % (belum termasuk ongkir). Silakan bagi yang berminat untuk WA ke nomor +6281240421158 (Mbak Tri). Semua hasil penjualan buku akan diberikan untuk membantu pasien yang kekurangan, dan untuk pengelolaan Rumah Baca Kopi Cokelat. Matur nuwun…

Ada berapa Tuhan?

Ada berapa Tuhan dalam diriku? Banyak. Tuhan dalam wujud anak2. Dalam wujud tabungan, investasi, mobil, angsuran rumah. 

Ada berapa Tuhan dalam hatiku? Banyak. Berbentuk istri. Berupa pasien2. Berwajah manusia2. Termasuk sebagian orang2 di dunia maya yang kuperTuhankan.

Ada berapa Tuhan dalam hidupku? Banyak.

Dan tiap kali kukhianati Tuhan, Ia masih saja memberi. 

Dengan menuhankan yang lain, Tuhanku yang Maha Pencemburu tetap mencintaiku.

Dan itu seharusnya membuatku malu. Seharusnya. Semestinya. Tapi kenapa aku terus mempermalukan diriku? Kemana urat maluku?

EKG = Eh Kok Gampang…

Terinspirasi oleh beberapa guru saya di alam maya. Terutama kuliah dari Dr Emmanoulis S Brilakis di youtube tentang intervensi koroner, akhirnya kuberanikan membuka sebuah channel youtube.

Saat ini isinya tentang pembelajaran pembacaan EKG alias elektrokardiografi. Harapannya sih besok2 akan lebih banyak ilmu perjantungan yg bisa aku share..
Silakan diklik nggih…
Dr MYS (youtube channel).

Jalan Pulang

Ada hal-hal yang kusesali dalam hidup.
Ada hal-hal yang harus kuterima.
Hari ini, apapun yang kudapat.
Itu lebih baik dari kematian yang dulu hampir berkali diberikan padaku.
Dan pasti. Satu hari ia akan datang juga.
Sakaratul maut itu.

Ada hal-hal yang kini harus kujalani.
Beberapa hal berubah.
Diterima saja.
Mungkin, itu semua karma masa.

Kini saatnya berpendek angan.
Sekadar menerima apa yang ada.
Menjadi pohon yang lebih besar.
Agar lebih banyak menaungi orang lain dari panas dan hujan.

Sadar, bahwa aku tidak lebih lambat dari orang lain.
Tidak pula lebih cepat.
Aku menapaki jalanku sendiri.

Bayangan adalah satu-satunya teman.
Jalan pulang adalah satu-satunya jalan kukenal.

Xi’an, China, 15 November 2017