Puskesmas yang ‘Sakit’ (Surabaya Post 13/8/08)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Di tengah sorotan publik terhadap pelaku korupsi, beberapa waktu lalu kota Surabaya diramaikan oleh isu pungli di sebagian Puskesmas. Campur aduk isi berita tentang instansi pelayanan kesehatan primer itu. Ada keprihatinan, tersirat permakluman, tapi jelas terasa kritik yang mengiris. Lepas dari peraturan daerah yang mungkin perlu direvisi, isu pungli di Puskesmas tetaplah menyengat kalangan kesehatan di Surabaya. (Surabaya Post 5/8/08)

Bagi penulis, bekerja di Puskesmas adalah periode hidup dimana idealisme harus bertarung dengan kenyataan tentang cara menghidupi institusi. Masalah menumpuk tinggi. Hormon stres meningkat. Mulai dari tenaga honorer yang terlalu tua untuk diangkat. Pertemuan informal dukun bayi yang butuh konsumsi dan ongkos transport. Atap ruang rawat inap yang hampir runtuh. Tabung oksigen yang rusak tak kunjung diganti. Sedang dana dari Pemerintah Daerah kadang tersendat tak kunjung turun.

Tapi semua itu tak seberapa dibanding teror moral menjelang Lebaran. Belasan pasang mata menatap, bertanya, bisakah sang pemimpin memberi sedikit tambahan tunjangan hari raya?

Ah, dua ribu lima ratus rupiah yang memalukan. Coba bandingkan dengan iklan di surat kabar besar tentang klinik pengobatan Cina. Atau rumah sakit Tiongkok yang rajin menjaring pasien di Surabaya. Hampir tiap minggu mereka mematut diri di media. Besar, sepertiga halaman, menyedot perhatian. Terlihat hebat. Pelan-pelan memaksa kita jadi penonton. Inilah efek industrialisasi layanan kesehatan. Mereka kelihatan berkelas. Sedang Puskesmas kita kampungan. Cuma dua ribu lima ratus saja. Lebih murah dari semangkok mie ayam. Itupun masih diisukan pungli! Baca lebih lanjut