Reinkarnasi Sebuah Lilin

Ini bukan tentang reinkarnasi secara religi.
Hanya kelahiran kembali passionku.

Karena mungkin sudah nasibku untuk terus mencari.
Untuk tak tinggal diam dalam zona nyaman.
Seperti juga kepergianku kali ini, pencarianku pada beberapa hal yg tak kunjung berhenti.

Dan ternyata terjun dalam dunia kardiologi intervensi membiusku.
Membuatku lupa pada carut marut dunia.
Juga ‘jancuk’nya manusia2…
Pada luka2 menganga.

Ia juga membuatku merasa berarti.
Semangat hidup yang kembali.

Hidup cuma sekali. Seperti lilin.
Cahaya yang memberi. Memberi. Memberi.
Menginspirasi. Menghidupi.
Menghidupi secara harfiah, as a cardiologist-intervensionist, maupun maknawi.
Lantas, seperti juga yg lain, mati.

Padam.
Pulang.

20120309-015341.jpg

4 Tanggapan

  1. Saya selalu mengikuti blog ini. Dan satu hal yg ingin saya katakan, keep writing ya Dok.. Never give up. God bless u..

  2. Wooo mempesona.
    Teruslah menerangi..
    Jgn berfikir akan mati..

  3. Baik sekali menjadi lilin menjadi sumber cahaya di tempat situasi dan kondisi yang memang sangat dibutuhkan.
    Tapi sungguh ironi kalau setelah itu harus padam karena terus terbakar tanpa mendapat kan “apa-apa”

  4. Hmmmm.
    Lilin…
    Smg lilin nya tetap menyala
    walaupun dgn ‘membakar’ dirinya sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: