Seribu Kota Seribu Kehidupan (Jawa Pos, 7 April 2010)

ADA sisi positif dari usainya musim penghujan. Genangan air berjentik nyamuk melenyap. Anak-anak tak lagi bermain di comberan besar. Pengap bangsal rumah sakit di kota-kota Indonesia mulai berkurang. Grafik angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah dan diare menurun. Masyarakat dan pemerintah kota bernapas lega. Satu krisis selesai.

Namun, benarkah krisis kesehatan kota kita telah berlalu? Tema Hari Kesehatan Sedunia (HKS) 2010 yang jatuh pada 7 April ini menjawab pertanyaan tersebut. WHO ternyata masih memilih urbanisasi dan kesehatan sebagai fokus utama dengan slogan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan”. Ini menunjukkan bahwa secara global masih ada masalah dengan kesehatan kota.

Menurut WHO, pada 2007 lebih dari 50 persen populasi penduduk dunia tinggal di kota, dan angka ini terus bertambah. Diperkirakan pada 2030 enam dari 10 orang di dunia tinggal di perkotaan, lantas meningkat menjadi 7 dari 10 orang pada 2050.

Bagaimana Indonesia? Pada 2009, lebih dari 43 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan pada 2025 akan ada lebih dari 60 persen penduduk yang tinggal di kota.

Mari kita lihat dua kota terbesar Indonesia. Pada 2002 penduduk Surabaya terdiri atas 2,4 juta jiwa, tapi 2009 telah mencapai 3,2 juta penduduk. Pada 1990 penduduk Jakarta sejumlah 8,23 juta jiwa, namun pada 2010 diperkirakan telah mencapai 12 juta jiwa pada siang hari, meski kembali pada angka 9 juta pada malam hari.

Pertumbuhan wilayah perkotaan adalah laku manusiawi yang tak terbendung. Apalagi jika dilihat dari kacamata ekonomi. Tingkat pendapatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia memang terkait dengan tingkat urbanisasi. Data UNEP 2002 menunjukkan bahwa Bangkok yang hanya terdiri atas 12 persen populasi Thailand menghasilkan 40 persen GNP negara tersebut.

Secara keseluruhan, kota-kota di negara berkembang memiliki andil antara 50 hingga 80 persen dari GNP negaranya. Jumlah yang sangat signifikan. Karena itu, adalah sangat wajar jika manusia terus bergerak ke tempat di mana uang dan perekonomian lebih banyak beredar. Kota menawarkan lapangan kerja, kualitas pendidikan yang lebih baik, informasi yang lebih lengkap dan layanan publik bermutu. Bahkan, diakui atau tidak, tingkat layanan kesehatan juga lebih baik. Seperti laron dan nyala api, penduduk Indonesia pelan tapi pasti akan terus bergerak menuju kota. Lantas, apa yang telah dan akan terjadi?

Rumah-rumah tak permanen di sepanjang bantaran sungai, rel kereta api, tempat penampungan sampah, dan tanah tak bertuan adalah fenomena kota. Begitu pula kemiskinan. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), terdapat 323 ribu orang miskin di Jakarta. Warga urban dan kemiskinan terus menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, sedangkan di sisi lain kebutuhan akan listrik, air bersih, dan layanan publik meningkat. Membebani kota. Pengangguran, satu ancaman kota akan terus ada. Tingkat pengangguran terbuka di Jakarta, mencapai 12,15 persen pada Agustus 2009, atau berkisar 560 ribu orang.

Efek urbanisasi yang tak terkontrol menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang masif. Rumah-rumah tak sehat diisi oleh banyak penghuni. Penyebaran penyakit infeksi tergolong tinggi, antara lain infeksi saluran napas akut, influensa (H1N1), tuberkulosis, diare, demam berdarah, penyakit jantung rematik, cacingan, juga HIV/AIDS. Belum penyakit lain yang terkait dengan polusi udara serta konsumsi rokok seperti infeksi paru, penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru, dan asma.

Beban kesehatan masyarakat kota juga meningkat akibat kasus penyakit gaya hidup. Konsumsi berlebih lemak dan makanan cepat saji, kurangnya olahraga, rokok, stres, dan gaya hidup tak sehat memicu diabetes, hipertensi, serangan jantung, dan stroke yang timbul lebih dini. Belum termasuk kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas.

Satu hal yang belum banyak disentuh adalah gangguan jiwa akibat urbanisasi. Anak-anak miskin kota memiliki masalah psikologis yang tinggi, termasuk ancaman kekerasan fisik dan seksual dari orang dewasa. Tingginya angka pengangguran, tingkat kemiskinan, dan minimnya layanan kesehatan jiwa di daerah miskin kota menjadikan masalah gangguan jiwa penduduk urban layaknya fenomena gunung es.

Namun, kota dengan segala kondisinya sebenarnya memiliki keuntungan. Peluang bagi warganya untuk tetap bisa hidup sehat. Pertama, adanya kaum urban yang kaya dan berpengaruh di perkotaan. Suara mereka, secara ekonomi dan politis, seharusnya lebih didengar oleh pemerintah. Ini terkait dengan kualitas lingkungan perumahan dan layanan kesehatan bermutu. Termasuk rumah sakit milik pemerintah.

Kedua, adanya kaum urban dengan pendidikan tinggi juga seharusnya lebih menguntungkan. Terutama jika mereka mau berbuat sesuatu demi kesehatan kota tempat tinggalnya. Pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri, gerakan bersepeda ke tempat kerja, penanaman dan penghijauan kota, serta usaha lain untuk mencintai dan menjaga kesehatan kota tempat tinggal mereka sangatlah penting.

Kedua komponen warga kota tersebut, mereka yang mapan secara ekonomi maupun pendidikan, seharusnya tak melupakan tanggung jawabnya terhadap kota tempat mereka tinggal. Wabah demam berdarah tak hanya menyerang warga miskin kota, tapi juga masyarakat kelas menengah. Bahkan, seorang direktur BUMN meninggal meski telah dirujuk ke rumah sakit luar negeri.

Pemerintah kota dengan segala hiruk-pikuk laku politiknya tetaplah menjadi komponen terpenting. Perencanaan tata kota yang sehat, tegaknya perda antirokok, taman kota yang diperbanyak, kontrol ketat pada tingkat polusi, adanya layanan transportasi masal yang aman dan nyaman, serta promosi kesehatan yang intensif adalah sebagian tanggung jawab pemerintah. Termasuk kembalinya puskesmas kota pada khitahnya sebagai tulang punggung usaha promotif dan preventif. Bukan melayani aspek pengobatan belaka. Kesadaran penuh dan laku tanggung jawab pemerintah kota yang bebas dari kolusi, korupsi, dan kepentingan politik sesaat sangatlah didamba.

Alangkah hidup dan indahnya kota jika warga kota dan pemerintahnya menyadari peran masing-masing. Dan, harapan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan” adalah benar adanya. (*)

*). dr. M. Yusuf Suseno, pemerhati sosial, tengah menjalani pendidikan spesialis di Kota Surabaya.

Satu Tanggapan

  1. Hehehe…kesannya saat ini seribu kota cuma ada satu atau dua yang hidup…lainnya berkesan mati karena gaya hidupnya menginvestasikan diri pada kematian itu sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: