Paradoks India (1)

Ada banyak hal yang kudapat selama aku di India. Beberapa menghantamku hingga dalam.
Mungkin karena ini kali pertamaku menghadiri konferensi intervensi tingkat internasional.

Setelah perjalanan panjang hampir 18 jam(jika dimulai dari kamar kost), akhirnya aku mendarat di bandara Indira Gandhi Delhi.
Satu pagi yang hampir saja berbeda jika aku tak memaksa untuk ke bandara Juanda, padahal petugas Silk Air bilang seat sudah penuh.
Satu pagi yang bisa saja terbangun di kamar kost jika aku tak bertanya pada orang yang tepat.
Juga pagi yang akan seperti biasa jika aku tak membuka email, membacanya dengan teliti, dan bertekad untuk datang ke kursus khusus untuk fellow ini.

Kurasa, kalimat terakhirlah yang terpenting.
Dan tekad itu pula yang menghempaskan.
Karena ternyata, di sana aku bertemu dengan orang2 yang punya passion sangat besar pada karir intervensi jantung.
Juga pengalaman segudang.
Dan itu membuatku merasa kecil.

Di ruang kursus itu aku menciut.
Ruang pertemuan Medanta Hospital di Gurgaoun, Delhi, India itu berasa asing.
Kecil. Sendiri. Sepi.
Gagap pada lautan luas ilmu yang ternyata baru kucicipi seteguk. Sementara di depan sana ada manusia yang mungkin hampir muntah-muntah karena kembung.
Aku kecil. Sekecil semut.
Yang mengajar di sana terlihat besar. Sebesar gajah.
Sayangnya, ini bukan adu jari dimana semut yang akan menang, ini adu ilmu. Dan semut pun terinjak kalah.

Dan gerak menciutku makin mantap ketika hari berikut konferensi dimulai.
Orang2 sepenjuru Asia bicara. Tergagap rasanya mengetahui kalau ketrampilanku ternyata belum apa2.
Bagaimana mungkin aku bisa berjalan gagah di antara mereka? Terasinglah aku di sudut.

Berusaha menelan makan siang khas India yang masih aneh di lidah. Mual.
Kepalaku nyeri. Tak kunjung reda dengan tramadol. Mungkin aku butuh sedative agar bisa tidur.
Salah satu yang sangat terkenal adalah Dr Muramatsu. Seorang ahli CTO dari Yokohama, Jepang.
Here he is..

Tekanan di ruang konferensi merambat ke hidup. Kulihat kisahku. Ada beberapa hal yang entah kenapa terjadi.
Masuk ke RS pemerintah, dijanjikan jadi PNS, dan tak kunjung bisa. Lewat 2 tahun ujian CPNS dan lolos seleksi pun tidak.
Buset dah! ☺
Saat resign dan memutuskan sekolah, dibilang salah.

Juga banyak hal lain. Rasanya bebanku terlalu berat. Bisakah aku membahagiakan orang2 yang kusayangi?

That day, I really depressed.
Bisakah aku menyelesaikan semua?

to be contined.. (pesawat ke surabaya sudah mau boarding)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: