Bercakap dengan Tuhan

Sudah hampir sebulan tulisanku tidak lolos di media. Kadang terasa capek juga menunggu. Tapi kurasa semua itu memang harus kulalui. Bukankah dulu aku berasal dari tiada? Mengapa sedih kalau sekarang ‘sementara’ tak ada?

Jadi ingat dengan definisi zuhud yang kutulis 5 tahun lalu di cermin rumah :

  1. Tidak senang saat mendapat dunia
  2. Tidak sedih saat ditinggalkan dunia.
  3. Tidak sibuk oleh dunia hingga lupa.

Rasanya sudah jauh sekali aku dari rasa zuhud itu. Terlalu disibukkan dengan segala ‘esemelekete’ dan ributnya jagad pewayangan ragawi.

Ah, kurasa sudah saatnya aku kembali pada gua hiraku. Semoga saat keluar bisa berbisik, “Nak, Bapak sudah bisa lagi mendengar suara dan bercakap dengan Tuhan. Kamu sekarang pingin apa Nak? Bahagia?”