kematian begitu akrab..

Seorang laki-laki, belum 30 tahun. Berbaring di bed rumah sakit. Napasnya cepat.
-hidup tak adil- kataku dalam hati.
Ia menderita kelainan jantung katup. Sebagian katup atau pintu penghubung ruang jantungnya bocor. Ada empat pintu dalam jantung, dan semuanya bocor. Mereka tak bisa menutup rapat. Dan yang gawat, kini ia mengalami infeksi, terjadi pertumbuhan bakteri di sekitar katup, dunia medis menyebutnya vegetasi.

Kami bertemu saat aku melakukan pemeriksaan echocardiography, matanya sayu, badannya demam.
“Saya periksa ya Mas.” Ia mengangguk.
Kondisi jantungnya memang berat. Hatiku terasa pilu. Hidup tak adil. Ia masih begitu muda.
“Mas, Mas harus dzikir terus ya…” Ia mengangguk.
“Mas, Mas harus terus berdoa, percaya kalau Allah akan memberi kesembuhan. Jangan sekali-kali ragu. Yakinlah kalau Allah pasti memberi sembuh.” Ia kembali mengangguk. Aku tertegun, berharap kata-kataku benar. Tapi inilah yang kubaca dari berbagai buku. Kekuatan keyakinan. Kekuatan pikiran. Kekuatan iman.

Beberapa hari ia masih bertahan. Kondisinya memang tak membaik. Tapi setidaknya ia masih bisa tersenyum. Tiap kali lewat aku selalu menyempatkan diri untuk menghampiri dan menyapa. Terakhir bertemu aku kembali berkata, “Mas berdoa terus ya. Mas harus yakin sembuh..”
Ia tersenyum. Aku tahu ia senang ada seorang dokter yang berhenti menyapanya. Memberi semangat.
Mungkin, itulah salah satu obat yang sebenarnya ia butuhkan.

Tapi beberapa hari yang lalu tempat tidurnya kosong. Aku tak bertanya ia ada dimana. Aku tahu dimana ia kini berada.
Seorang teman mengirim sms, itu adalah qodhar dari Allah. Hak prerogratifNya. Mungkin ia benar. Mungkin sekali ia benar…

seperti sepotong sajak, kematian memang begitu akrab..

kadang terlalu akrab…