Surat Eyang Eni (teruntuk Sri 29/4/1980)

Almarhumah Eyang Eni, Sri Eni Soesatyo is my grandmother.

She is a beautiful mother, a strong and wise woman for her children. And for me, even I only know her for about 5 years, I still remember her. From many ways, she influence me a lot.

This morning I found this letter, a letter that she wrote for my auntie, just 2 month before she passed away. It’s full of love.

This post is dedicated for her.

Semarang, 29-4-80

Sri, anakku sajang

Lajangmu+ duwit Rp 4000 wis tak tompo. Bijen  jo  wis tompo Rp 2000 nang jero lajang.  Jo tak enggo tuku brangkal lan papan.
Ibu ketrimo banget, anak2ku podo ngerti karo Ibu.
Ibu dikabari jen Sri  biso nerusake nang Lampung, jo melu seneng dadi isih biso nerusake sampai biso dadi sardjana.
Sri arep njambi njambut gawe jo sjukur, dadi jen bajarane akeh biso ngirimi Ibu kanggo tuku kangkung lan beras jen duwite Sri turah.
Kapan Sri lan Mas Budi tekan Semarang, bulan Mei?
Mb Gige isih nang Semarang.
O jo, lali ngabari jen Jusuf wis nduwe adik lanang, tgl 3 April djenenge Mohamad Wicaksono
Mb Gige slamet ora opo2 naliko nglahirake adik tjilik si Wicaksono,  tgl 10 Mei bali Plantungan, amargo wis rodo kuwat.
Sri soal beaja SPP kepriye?
Opo jo mbajare isih akeh banget? Ibu mundut kabar.
Sjukur  jen  biso ngabari sak durunge  tgl 8 Mei, dadi Mb Gige biso ngerti soal kebutuhanmu SPP.
Temenan  jo Sri, jen mrene karo Mas Boedi dadi biso plesir Plantungan.
Wis jo Sri, awakmu didjogo supojo sehat2.
Soentjes untuk Mb Nen lan adik.
Untuk Sri dari Ibu, Mas Moch, Mb Gige, Dudi, Jusuf lan adik tjilik.

Ibu Tresno

Sri Eni

Iki ono kirimane Jusuf, gambaran, deweke sing mulas.
Dikirimake Tante Sri, amargo Jusuf wis sekolah TK ketjil di Plantungan

Sebuah Surat yang Indah dari Seorang Kawan

saat aku bertanya pada seorang kawan tentang pilihan, dan ia menjawab dengan sebuah surat. sebuah surat yang indah…

Alhamdulillah, kamu lagi diberi banyak kesempatan. Alhamdulillah, sedang disuguhkan pilihan-pilihan. Ingat-ingatlah rasa itu: berada di depan pintu-pintu terbuka. Ingatlah rasa ini manakala suatu hari nanti kamu berada di depan pintu-pintu tertutup agar kamu ingat bahwa segala sesuatu mengenal musim. Pasang-surut. Tapi ketika berhadapan dengan pintu tertutup, tetap bersyukurlah, karena setidaknya kamu tidak akan kebingungan harus memilih yang mana 😉

Tentang jalan mana yang harus kamu pilih, pilihlah jalan yang membuat hatimu bergetar. Pilihlah jalan yang membuatmu merasa bersemangat dan berpengharapan, rendah hati dan aktif. Kalau membuat kamu malas, enggan… aku pikir itu bukan jalan untuk kamu tempuh.

Jangan pernah takut soal rizki. “Belahan jiwa” kita akan mencukupi. Sekali lagi mencukupi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan. Percayalah, kecukupan akan selalu datang tepat pada waktunya.

Kamu boleh minta pendapat guru-gurumu, tapi menurutku dengarkanlah pendapat dari Guru Sejati. Dengarkanlah ucapanNya yang tanpa kata-kata — hanya bisa didengar melalui rasa.
Kamu boleh ke kota itu untuk menimbang-nimbang, tapi jangan lupa untuk pulang. Bahkan sebelum, selagi dan setelah ke mana-mana sebaiknya kamu pulang. Pulang ke intimu. Berpasrahlah. Berserahdirilah. Tidak perlu minta ini-itu karena kita nggak tahu apa yang harus kita minta… karena kita sendiri buta terhadap apa yang terbaik untuk diri kita. Percayalah, ketika kamu sudah benar-benar ikhlas… sudah ridho utuh, penuh, seluruh… kakimu bisa melangkah di jalan mana kamu harus melangkah, tanpa kamu harus menggerakkan apa-apa.

Apapun pilihanmu, jalan manapun yang akan kamu tempuh, ketahuilah bahwa sebenarnya semua itu sudah diatur oleh Sang Belahan Jiwa. Dia telah mengatur semua itu dengan detail. Sedetail-detailnya. Tidak ada satu noktah kecilpun yang luput. Jadi seandainya, kelak kamu merasa bahwa kamu telah salah melangkah, itu sebenarnya bukan kesalahan. Memang sudah semestinya jalannya seperti itu.

Aku setuju bahwa ini bukan perang. Kamu hanya melengkapi jalan yang mesti kamu tempuh. Memenuhi perjalanan takdirmu. Melengkapi mozaik masa depanmu. Benar kan komentarku kemarin… bahwa kamu sudah bisa melihat… bahwa gunung sebenarnya bukan gunung…

Akhirnya, aku tutup dengan kata-kata dari guru kita, The Warrior of Light:

For the warrior of light
there are no ends, only means.
Life carries him from unknown to unknown.
Each moment is filled with thrilling mystery:
the warrior does not know