Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.

Dini hari. Terperangkap di dalamnya.
Perjalanan sudah begitu jauh.
Tiba-tiba menumpuk tanya.
Lantas sadar, hidup tak teramalkan. Unknown prognosa.

Dini hari. Lamat2 kemresek kaset pengajian dari musholla.
Suara kipas angin. Mencoba menepis panas udara.
Membaca tulisan lama.
Tersentak.
Ah, tujuan hidup yang sering terlupa.

Dini hari.
Dini hari yang kesekian.
Sendiri saja.
Masih di Surabaya.
Sadar, masih belum jadi apa-apa.

Menjadi daun pun belum bisa.

Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.
Esok entah dimana.
Ini kereta.
Jalan.
Tak sampai juga.

Indonesia Bertabur Laskar Pelangi

Maaf, judul di atas cuma mimpi di siang bolong. Meski demikian, bagi Anda yang telah menonton film Laskar Pelangi, lirik lagu Nidji saat film berakhir pastilah terngiang di telinga. Mengingatkan kita pada kepolosan dan optimisme masa kecil, mempertanyakan prinsip rasionalitas yang saat ini terlanjur kita percaya. Mimpi adalah kunci… Untuk kita menaklukkan dunia…

Sayangnya, mimpi dan air mata sepertinya tak cukup. Hati haru jutaan penonton Laskar Pelangi  bisa saja tak berarti apa-apa. Meski demikian, seperti juga Anda, saya pun diam-diam tetap meneteskan air mata melihat kesungguhan Bu Mus mendidik, keikhlasan Pak Harfan memberi, perjuangan Lintang memperbaiki nasib. Adegan Lintang kecil memegang sepeda tua besarnya lantas berucap, “Namaku Lintang Bu. Aku nak sekolah”, selalu menggetarkan hati.

Sepanjang film diputar saya pun masih terus menangisi diri sendiri. Mengutuki diri yang masih saja merasa kurang di tengah kecukupan, yang mudah tergoda dengan iming-iming materi, yang sedikit-sedikit menyerah pada tantangan, yang sering merasa ketakutan pada hantu masa depan. Saya juga menangisi anak-anak saya yang tak sempat diasuh Bu Mus, menangisi budi luhur Pak Harfan yang kini jarang saya temui. “Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan meminta sebanyak-banyaknya.” Ah, adakah yang masih memegang erat kalimat Pak Harfan itu dalam hati? Baca lebih lanjut

Geger Band di Surabaya, Sepotong Kenangan. Viva Rock n Roll!

Malam ini Geger Band, sebuah band perempuan yang dibentuk tahun 1996, main di Balai Pemuda, Surabaya. Formasi mereka kini : Intan(vocalis baru), Dewi(drummer), Hera(gitar), Cynthia(bass), Wiwik(keyboard).

Acara formal semalam berjudul : Kartini Nite. Tapi buatku, ini malam kenangan. Lagu2nya Guns and Roses, Cranberries, semua digeber habis. Ternyata mbakyu-mbakyu di Geger Band masih kuat juga nyanyi. Dari jauh juga masih terlihat cantik. Terutama Mbak Dewi. Meski setelah dekat, terlihat juga keriputnya. 🙂

Aku yakin tidak banyak (atau bahkan nggak ada?) resident dan dokter, yang menyempatkan diri untuk nonton konser music rock seperti ini. Apalagi yang seumuran aku. Tapi, kurasa ini memang sudah nasib . Kata seorang teman, otak kananku terlalu berkembang. Buset dah…

Meski Geger cuma main sebentar, tapi lumayan, bisa ngobatin kangen pada lagu Rock saat aku SMA dan kuliah dulu. Geger Band, maju terus! Viva Rock n Roll! Halah….!

Kearifan Menyikapi Gizi Buruk(Jawa Pos 5/4/08, setelah 5 bulan menunggu…)

akhirnya… 🙂

oleh M. Yusuf Suseno

Menonton Pak Dahlan Iskan di acara Kick Andy (MetroTV 3/4/08) membuat saya teringat pada sepotong kalimat di buku Tuesday with Morrie-nya Mitch Albom. Morrie, yang saat itu tengah menjelang ajal, seperti juga Pak Dahlan menjadi makin arif dan mempertanyakan banyak hal tentang esensi hidup. Tiap pagi ia bertanya pada diri sendiri, “Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan hal-hal yang bermakna dalam hidup? Apakah aku telah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh kuinginkan?”

Sayangnya kalimat itu tak berlaku untuk para balita gizi buruk dan orang tuanya di Surabaya. Mereka yang sebagian besar berada pada garis kemiskinan mungkin hanya bisa bertanya. ”Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan semua hal yang bisa kupikirkan untuk mempertahankan hidup?” Bagi mereka, kearifan dan kesempurnaan budi pekerti bukan tujuan utama. Perjuangan membebaskan diri dari kemiskinan dan gizi buruk masih harus disemangati.

Semangat ini tercermin dari 7,5 milyar dana anggaran untuk penanggulangan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya.(Jawa Pos 3/4/08) Sebagai respon dari Pemerintah untuk meniadakan balita kurus kering di Surabaya, masyarakat pasti berterima kasih. Begitu besar perhatian Pemerintah pada kasus ini. Hanya saja kita juga perlu ragu, bisakah uang sebesar itu menggairahkan kembali Posyandu? Mungkinkah sebagian dana 7,5 milyar itu membuat Pak Camat dan Lurah lebih waspada? Akankah tujuan akhir memberantas gizi buruk tercapai? Maybe yes, maybe not. Baca lebih lanjut

Ramadhan dan Kuman(Jawa Pos 24/9/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Ramadhan seharusnya bisa membersihkan kotoran dan kuman dari hati kumuh kita. Layaknya air wudhu membasuh wajah berdebu. Ia membasahi kerak-kerak nafsu. Menggerus karat cinta kita pada dunia. Tapi bagaimana jika air wudhu itu berasal dari sumur yang tercemar septic tank? Jelas Anda tak jadi bersih, tapi malah melumuri wajah Anda dengan beribu kuman e.coli.

Dinkes Surabaya menemukan angka pencemaran sumur yang cukup tinggi di Surabaya. Dari sembilan sumur, hanya satu yang dianggap layak dengan kandungan kuman kurang dari 50 per 100 milimeter air . “Bahkan, ada yang mencapai 1.600 kuman per 100 milimeter air,” kata kepala Seksi Higiene dan Sanitasi Dinkes (Jawa Pos 20/9/07).

Inilah akibat dari urbanisasi. Surabaya kian padat. Rumah-rumah, termasuk septic tank-nya, tak mengenal sela. Ditambah kebutuhan hidup yang terus menghimpit. Siapa peduli pada kuman e.coli di sumur belakang rumah? Baca lebih lanjut