Sulitnya Menjadikan Sekolah Ideal (Jawa Pos 12/6/08, judul aslinya : Robohnya Sekolah dan Otak Kami)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Salah satu ruang kelas di SDN Pacarkeling ambruk. Membaca berita itu (Jawa Pos, 10/6), barulah saya tersadar. Mengapa ada yang hilang dari otak saya? Berikutnya, saya pun mengetahui mengapa bangsa ini masih saja terpuruk? Jawabannya adalah karena pendidikan telanjur dipandang sebelah mata.

Bangunan sekolah telantar dan keropos, tiba-tiba atapnya ambruk. Alasannya lagi-lagi terkait dengan birokrasi. Tapi, masih bersyukur, tidak ada siswa yang tertimpa dan mati. Di lain SDN, kalau toh tidak rusak, banyak ruang kelas sekolah di Surabaya yang overload atau sesak siswa. Padahal, ada anggaran Rp 1.290.000.000.000 sisa anggaran APBD Surabaya 2007 yang menganggur tak terserap (Jawa Pos, 10/6). Ironis!

Sebagian orang bisa saja bertanya kritis, buat apa bersekolah? Toh, sekolah tak selalu menjanjikan masa depan. Thomas Alfa Edison berhenti sekolah pada usia 12 tahun dan dia menjadi orang besar. Apa jadinya jika dia terus bersekolah? Mungkin dia akan berhenti bertanya, mencari, dan bereksperimen, lantas mengisi otaknya dengan hafalan nama-nama menteri serta dan ibu kota negara-negara dunia. Informasi yang jarang kita perlukan dan hanya memenuhi otak. Tapi, untuk bangsa yang sakit ini, tidakkah kita tetap memerlukan institusi beratap bobrok dan sesak itu? Baca lebih lanjut