Pilihan Hidup. Menjadi Sehat atau Sakit ya?

Pilihan hidup ada di tangan Anda. Apakah Anda memilih naik lift atau mendaki tangga, bermobil atau bersepeda, makan pecel atau hamburger. Yang jelas masih banyak dari kita yang tidak menyadari konsekuensi dari gaya hidup yang kita pilih.

Begitu pula dengan Pak Sukur, ia baru berusia 40 tahun, yang meskipun ia tetap bersyukur karena berhasil selamat dari serangan jantung yang luas, toh tetap menyesal karena ia salah pilih. ”Saya memilih rokok, makan gulai kambing dan nonton sepak bola di televisi dibanding menerima ajakan untuk main bola dengan teman-teman kantor.”

Nah, bagaimana dengan Anda?

Jujur saja, sebagian dari kita memang cenderung memilih pola makan tidak sehat, ini berarti memperbanyak karbohidrat, lemak dan gula, dibanding sayur dan buah. Ditambah dengan rokok, kurang aktifitas dan olahraga. Kehidupan di rumah dan di tempat kerja pun tak lepas dari stres yang menumpuk.

Entah kenapa, mungkin pilihan itu yang lebih mudah dinikmati. Padahal akibatnya jelas. Penyakit yang dulu tak pernah terpikirkan pun mulai datang. Hipertensi misalnya. Saat ini ia tidak lagi didominasi oleh usia tua, tapi usia muda pun rentan terhadap hipertensi.

Padahal jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi sebagai konsekuensi dari pilihan hidup yang “salah” bisa menyebabkan banyak gangguan organ tubuh. Termasuk gagal ginjal. Betapa repotnya naik haji dengan selang terpasang di tubuh, dan harus membawa bekal obat-obatan dan cairan yang beratnya hingga 2 kwintal selama proses naik haji.

Begitu pula dengan pembunuh nomor satu di dunia saat ini, serangan jantung. Serangan jantung ternyata makin dini menyerang usia muda, bahkan saat seseorang tengah asyik meniti karir. Mungkin Anda pun beresiko mengalami serangan jantung. Tidak percaya? Coba sekarang Anda ukur lingkar pinggang Anda.

Caranya sederhana. Ambil seutas tali atau pita, lantas lingkarkan di pinggang, kurang lebih pertengahan di antara tulang rusuk dan tonjolan tulang panggul. Usahakan agar tidak terlalu ketat, dan diukur saat menghembuskan napas. Berapa lingkar pinggang Anda?

Sembilan puluh sentimeter adalah batas atas bagi pria, dan 80 cm bagi wanita. Anda lebih dari itu? Wah, sebaiknya Anda mulai waspada!

Ukuran lingkar pinggang yang lebih dari normal menunjukkan kalau Anda sudah terlibat dengan suatu sindroma yang disebut sindroma metabolik. Ini pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Mengapa?

Sindroma Metabolik adalah suatu kumpulan faktor resiko untuk terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. Ia terdiri dari ukuran lingkar pinggang yang di atas normal, kadar trigliserida yang tinggi (≥150 mg/dL), kadar kolesterol HDL yang rendah(<40 mg/dl), tekanan darah > 130/85, dan kadar glukosa darah puasa ≥ 110 mg/dL. Apabila terdapat tiga dari lima kriteria dia atas, maka Anda telah terkena Sindroma Metabolik.

Ini berarti Anda memiliki resiko mendapat serangan jantung hampir 4 kali lipat dibanding seseorang tanpa Sindroma Metabolik. Baca lebih lanjut

Mimpi Rakyat Sehat Negara Kuat(Jawa Pos 6/11/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Takjub rasanya melihat beratus orang melakukan jalan sehat bersama, Minggu (4/11), memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 di Surabaya. Latar belakangnya adalah spanduk bertuliskan tema HKN kali ini, Rakyat Sehat Negara Kuat yang terpampang megah. Ritual tiap tahun yang tampak indah.

Sayang, spanduk itu tak berarti apa-apa bagi sebagian besar warga Surabaya. Selain sekadar pemberitahuan kalau hari-hari ini dunia kesehatan Indonesia tengah memperingati sesuatu. Entah apa.

Apalagi bagi seorang lelaki berusia 50 tahun yang ketika itu menemui saya karena mengalami serangan jantung. Sang istri bertanya, “Dok, kami orang miskin, tapi syarat Askeskin Bapak lengkap. Apa Bapak bisa tertolong?”

Saya mengangguk. “Kita akan berusaha semaksimal mungkin Bu,” jawab saya semantap mungkin. Tapi dalam hati saya tahu bahwa memakai fasilitas Askeskin pada hari-hari ini berarti bersedia mendapat obat-obat sangat mendasar. Termasuk untuk serangan jantung, penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Desa Siaga

Ingatan akan kejadian itu terasa pilu di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 ini. Membuat segala basa-basi itu terasa hambar. Mungkin karena saya juga masih ingat dengan tema HKN ke-42 tahun lalu, yakni Melalui Desa Siaga, Rakyat Sehat. Kalau memang tema Rakyat Sehat, Negara Kuat tahun ini adalah kelanjutan tema HKN tahun kemarin, maka yakinkah pemerintah kalau desa siaga itu sungguh sudah terwujud? Baca lebih lanjut