Pilihan

Hidup adalah setumpuk pilihan. Sayangnya, dalam situasi tertentu, kita mengalami kesulitan menentukan mana yang terbaik. Atau sebaliknya, setelah kita memilih, kita merasa ada sesuatu yang salah dengan pilihan kita. Entah kenapa.

Pagi ini saya membaca buku Greatness Guide, tulisan Robin Sharma. Ada kalimat di chapter 42 yang meresap. At least, ia telah membantu saya memantapkan pilihan hati. Akan saya coba menyadurnya.

Bangunlah pagi-pagi setiap hari dan bertanya pada diri sendiri,”Apa yang akan saya lakukan jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya?”

Sebagian besar kita membiarkan hidup yang mengatur kita. Kita terkantuk-kantuk di roda kereta kehidupan kita sendiri. Hari pun berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Tiba-tiba kita telah terbaring di ranjang kematian kita, berpikir dg sesal, “Ketika matahari bersinar dan toko toko dibuka –waduh!– saya lupa belanja. Sekarang malam sudah larut, dan saya baru ingat kalau harus belanja.”

Jalani hidup seakan hari esok tak akan pernah tiba. Ambil beberapa resiko. Bukalah hati lebih lebar. Katakan kebenaran. Ungkapkan cinta. Tersenyumlah. Menari. Bermain. Tolonglah mereka yang membutuhkan…

Bersinarlah…

Pagi ini saya merasa hidup, bersyukur dan ingin segera pulang. Tunggu Bapak di rumah ya Nak….

stasiun sidoarjo, minggu pagi 13/12/09


Taman adalah simbol pikiran

Taman adalah simbol pikiran. Jika engkau merawatnya, bunga-bunga akan bermekaran. Jika kau biarkan racun pikiran bertebaran, kedamaian pikiran dan harmoni batin akan hilang darimu.

Jagalah pintu gerbang tamanmu, jangan biarkan satupun pikiran negatif muncul. Biasakan berpikir jernih dan sederhana.

Selalu ingat, bahwa kita tidak bisa mengendalikan dunia di sekitar kita. Tapi kita dapat mengendalikan pikiran kita, respon pikiran kita terhadap dunia. Ada perbedaan bermakna saat kau lihat cangkir setengah penuh dan bukan setengah kosong. Ketika kau membentuk kebiasaan mencari hal positif dalam setiap situasi, hidupmu akan bergerak menuju dimensi tertinggi. Kamu mulai mengendalikan takdirmu.

Dan satu hal : tidak ada kesalahan dalam hidup. Yang ada hanya pelajaran. Tidak ada pengalaman negatif. Yang ada adalah kesempatan untuk berkembang, belajar, dan kemajuan sepanjang jalan menuju penguasaan diri. Dari perjuangan muncul kekuatan. Bahkan rasa sakit dapat menjadi guru yang sangat baik.

disarikan dari  Robin Sharma, The Monk Who Sold His Ferrari