Mengambil resiko

Saya percaya pada kalimat ini.

Dengan berjalannya waktu, bukanlah kegagalan yang sungguh-sungguh kita sesali.

Tapi penyesalan itu akan menumpuk pada hal-hal yang malah tak pernah kita lakukan, padahal sesungguhnya kita menginginkannya setengah mati.

Semata karena menyerah pada rasa takut, rasa kuatir meninggalkan zona nyaman, dan tak berani mengambil resiko. Juga sering karena langkah yang hendak diambil tak sesuai dengan keinginan banyak orang di sekitar kita.

Mungkin ada baiknya kita sekali-kali duduk menyendiri dan bertanya, apakah hidup yang sekarang kujalani sudah sesuai dengan apa yang ada dalam benakku bertahun lalu?

Saat kita masih muda, saat kita masih optimis dan berani bermimpi?

Bung Karno tak pernah menyesali cita-citanya untuk menyatukan nasionalis, agama, dan komunis dalam Nasakom. Meskipun toh pada akhirnya ia terbukti gagal. Karena ia tahu, jika ia tak berusaha mewujudkan Nasakom semata karena takut dikritik, ia akan lebih menyesal.

Menyesal karena tak mendengarkan suara hatinya. Impian2nya.

Begitu juga kita.

Menurut saya, mewujudkan mimpi tak harus dimulai dari sebuah perubahan besar dan drastis. Seperti meninggalkan pekerjaan atau rumah. Tapi ia bisa dimulai dari yang kecil.

Pada diri saya, ia dimulai dari perjalanan menuju Gramedia dan membeli buku tentang cara menulis artikel yang baik. Lantas membacanya dalam diam.

Saat inipun saya masih terus berjuang mengalahkan ketakutan2 lain dalam diri saya. Dan sungguh itu tak mudah. Hasilnya sering mengecewakan malah.

Namun, setidaknya saya masih dan akan terus mencoba. Adakah cara lain selain mencoba?