Lagi2 Lupa Bersyukur..

Hari ini aku bertemu dengan seorang anak perempuan, sebut saja namanya Rahma. Ia baru 3 tahun, seumuran Langit gadis bungsuku, dan memiliki kelainan jantung bawaan sejak lahir.

Saat alat ekokardiografi(sejenis pemeriksaan USG jantung) menyentuh dadanya, Rahma gelisah. Menangis tak henti-henti. Ibunya, seorang perempuan muda berwajah muram, ikut pula gelisah.

Karena tahu ada beberapa pasien di luar yang antri, entah kenapa tiba-tiba terasa kalau kamar periksa itu jadi gerah dan tak nyaman. Padahal biasanya dingin minta ampun.
“Duh, kenapa anak ini rewel banget ya?”gumamku resah.
Tapi saat kulihat wajahnya, kurasakan ada lelehan es beku yang membasahi hatiku.

Di bola matanya yang kecil itu ada dua mutiara putih. Keruh dan mengkilat. Kami, para dokter, menyebutnya katarak. Satu kondisi dimana lensa mata mengeruh, dan tentu saja menghalangi cahaya bagi Rahma kecil yang penuh rasa  ingin tahu.

Lelehan es itu melumerkan resahku. AC ruang periksa pun terasa dingin kembali. Aku tersenyum pahit. Ada ngilu menghunjami hati. Pertanyaan seputar takdir yang sejak dulu dibiarkan tanpa jawaban.

Lantas sepanjang hari ini aku berpikir, bahwa apapun yang kualami hari-hari ini, pastilah tak seberapa dibandingkan rasa sedih ibu Rahma, si kecil dengan mutiara di matanya. Setidaknya aku masih memiliki Langit yang sehat, meski kadang rewel. Begitu pula aku masih bisa memeluk dan melihat Cinta dan Lintang berlarian, meski kadang sifat keras kepala mereka muncul.

Ah, ternyata masih banyak yang belum kusyukuri dalam hidup…

Seribu Rupiah di Satu Senja

Kemarin senja Surabaya mendung. Sebagian hujan. Kularikan motorku agak cepat, mengejar rintik. Dekat perempatan jalan Kertajaya, lampu kuning mulai memerah di kejauhan. Di sampingnya, seorang Bapak tua menjual koran. Biasanya yang dijual adalah koran pagi yang beritanya sudah agak kadaluwarsa.

Satu yang agak berbeda, ia memakai ‘kruk’. Salah satu kakinya cacat, tak ada.

“Pak, minta korannya nggih,”kataku dalam bahasa jawa. “Kompas atau Jawa Pos ada?”

“Nggak ada Mas. Adanya Surabaya Post.”jawabnya. Meski tak biasa membaca Surabaya Post, rasanya kasihan juga pada Bapak tua ini kalau  tak jadi beli.

“Tiga ribu to Pak?” Aku mengulurkan uang 3 ribu. Ini berdasar asumsiku bahwa harga JP or Kompas biasanya turun di sore hari.

“Nggak Mas. Dua ribu cukup.” Ia hanya mengambil dua ribu rupiah dari tanganku  sambil tersenyum. Wajahnya terlihat senang karena korannya terbeli.

Kalimat itu pendek, tapi bagiku cukup bermakna.

Seribu rupiah, bagi Bapak tua itu adalah makna kejujuran, harga diri, dan rasa syukur. Ia tak membutuhkan lebih.