Perjalanan Ke Barat(2)

Kereta menuju Barat melaju cepat. Tempat duduk hanya terisi sebagian. Ada ibu-ibu ngerumpi di depannya. Seorang mahasiswi membawa helm duduk di dekat pintu. Matahari tengah hari terasa menyengat. Tak ada AC. Cuma kipas angin berputar malas di atap kereta.

Lelaki itu duduk sendiri. Dengan ransel berisi laptop dan segumpal pakaian, ia layaknya seorang pengembara. Dan sungguh, bukankah tiap jiwa kita sebenarnya adalah pengembara?

Lelaki itu teringat dengan masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketika ia bahkan sempat ’menjual diri’, mengirim surat pada puluhan daerah di Jawa dan Sumatra. Semua percuma. Semua berakhir sia-sia. Tak ada satupun yang bersedia membantu. Meskipun ia berani menukarnya dengan beberapa tahun bekerja di sana. Lantas kini, saat sebuah tempat, yang bahkan sangat dikenalnya menawarkan masa depan, mengapa ia masih berani menolak? Baca lebih lanjut

Perjalanan ke Barat (1)

Lelaki itu turun dari bis dengan wajah mengantuk. Kota di tengah Jawa itu masih sepi. Jam tangannya menunjukkan pukul enam pagi. Rencananya ia akan turun di terminal, tapi seperti biasa, tiba-tiba ia berubah pikiran. Saat rumah sakit tujuannya terlihat di pinggir jalan ia bangkit dan menuju pintu bis malam.

Menapak tanah dan ia mengucek matanya yang kurang tidur. Berangkat dari rumah tengah malam lantas naik bis jam satu dini hari bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi selalu ada antusiasme tersendiri saat ia hendak bepergian. Denyut nadinya meningkat. Ia bersemangat. Baca lebih lanjut