Tentang Surga

Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang kadang pergi ke Pura, Cinta bertanya.

”Pak, apa orang-orang yang beragama Kristen, Hindu, dan Budha juga akan masuk surga?

Istriku terdiam. Memandangku, mencari bantuan.

Setengah berbisik aku bilang, ”Nduk, nanti saja kita bicarakan lagi. Biar Bapak pikir dulu.” Untunglah anak pertamaku sangat pengertian. Ia mengangguk. Duh, lega rasanya.

Pertanyaan itu juga telah lama tersimpan dalam pikiranku.

Oya, aku tentu saja bukan pakar agama. Bahkan pernah aku tersandung batu gara-gara tak sengaja mengutip ayat Gusti Allah yang tak kuketahui tafsirnya secara utuh.

Namun perbedaan pendapat antara mereka yang mendukung pluralisme agama, satu pemikiran yang kumaknai sebagai  ”Semua anak sungai, akhirnya bermuara ke laut jua” dan mereka yang menentangnya telah lama kuketahui.

Setelah bermenung ria dan mencoba mendengarkan suara hati, malam itu menjelang tidur, dalam temaram lampu ruang tengah yang menerobos pintu kamar, aku berbisik pada Cinta.

”Nduk,  menurut Al Qur’an dan hadits Nabi yang Bapak pernah baca, asalkan kita masih percaya pada Allah dan Nabi Muhammad, setiap muslim ’akhirnya’ akan masuk surga.”

”Lalu bagaimana dengan mereka yang bukan muslim?” Aku berhenti sebentar, menarik napas panjang.

“Nduk, yang memiliki surga itu bukan kita, tapi Gusti Allah. Jadi ya terserah Allah saja. Biar Allah yang memutuskan. Gimana? ”

Anakku mengangguk dan tersenyum, wajahnya kelihatan marem pada penjelasan bapaknya.

Malam makin larut. Malam itu adalah salah satu tidur yang nikmat dalam hidupku.

-Ini jelas bukan foto surga. Ini foto di depan rumah dinas di Grabag, Magelang, saat Cinta masih bayi. Wonderful memory…-

10028