Yang Ada Cuma Pilihan

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin menua dengan siapa.
Karena anak2 yang kau sayangi akan meninggalkanmu.
Kuliah, lantas kerja atau menikah.
Lantas tinggal di antah berantah.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin mati seperti apa.
Karena hidup yang jaya akan berakhir pula.
Merunduk, kejang yang sebentar.
Lantas diam yang lama. Sangat.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin dikenang sebagai apa.
Karena jangan harap ada yang mengingat dengan cinta.
Saat diam kita yang lama itu sudah terasa lama, mantan suami atau istri itu akan menikah lagi, lantas mereka tidur di rumahmu.
Tabunganmu dijadikan bekal bulan madu.
Hahaha.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, luka seperti apa yang ingin kau ingat.
Atau luka mana yang kau lupakan.

Pilihan

Hidup adalah setumpuk pilihan. Sayangnya, dalam situasi tertentu, kita mengalami kesulitan menentukan mana yang terbaik. Atau sebaliknya, setelah kita memilih, kita merasa ada sesuatu yang salah dengan pilihan kita. Entah kenapa.

Pagi ini saya membaca buku Greatness Guide, tulisan Robin Sharma. Ada kalimat di chapter 42 yang meresap. At least, ia telah membantu saya memantapkan pilihan hati. Akan saya coba menyadurnya.

Bangunlah pagi-pagi setiap hari dan bertanya pada diri sendiri,”Apa yang akan saya lakukan jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya?”

Sebagian besar kita membiarkan hidup yang mengatur kita. Kita terkantuk-kantuk di roda kereta kehidupan kita sendiri. Hari pun berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Tiba-tiba kita telah terbaring di ranjang kematian kita, berpikir dg sesal, “Ketika matahari bersinar dan toko toko dibuka –waduh!– saya lupa belanja. Sekarang malam sudah larut, dan saya baru ingat kalau harus belanja.”

Jalani hidup seakan hari esok tak akan pernah tiba. Ambil beberapa resiko. Bukalah hati lebih lebar. Katakan kebenaran. Ungkapkan cinta. Tersenyumlah. Menari. Bermain. Tolonglah mereka yang membutuhkan…

Bersinarlah…

Pagi ini saya merasa hidup, bersyukur dan ingin segera pulang. Tunggu Bapak di rumah ya Nak….

stasiun sidoarjo, minggu pagi 13/12/09


Memilih dan Menerima Takdir

pilihan

Beberapa hari lalu, aku merasa malu dengan sandal jepitku. Meskipun nyaman dipakai, ternyata ia sudah butut. Lantas masuklah aku ke Ramayana Bontang (swalayan terbesar di sini), kucari sandal baru yang menurutku, tampangnya lebih lumayan. Harganya tentu lebih mahal.

Tiga hari berlalu, ternyata sandal baru itu lebih berat dan permukaan talinya yang ‘keren’ membuat kakiku lecet.  Aku jadi mudah capek dengan sandal baru itu.

Sore ini, di depan kamar, entah kenapa mataku jatuh pada mereka berdua, lantas tersirat, bahwa Allah ingin aku berpikir. Lantas  belajar untuk menerima takdir.

Mengingatkan pada satu hal, bahwa apa-apa saja yang kita pandang baik, belum tentu baik menurut Allah.  Dan apa-apa yang dipandang jelek di sisi manusia, belum tentu jelek di sisi Allah.

Allah Maha Tahu. Kita tak tahu apa-apa.

Forrest Gump

forrest.jpg

seseorang menulis untukku.
Tawaran bisa datang dalam bentuk macam-macam.
Pilihan hidup HARUS didasarkan pada tujuan hidup, BUKAN sekedar untuk mengambil jalan pintas yang akan disesali kemudian.

Nice quote!

lantas pagi ini nonton lagi Forrest Gump.
film yang menunjukkan sisi kuat dan tak kenal takut dari sikap sederhana, tulus dan lurus.
tapi tetap menikmati tiap detik hidup.
sikap pasrah pada garis takdir, sekaligus membuka peluang pada tiap detail perubahan yang disodorkan semesta.

Forrest Gump juga berkisah tentang nasib Jenny, kekasih tercinta Forrest yang tak pernah berhenti mencari.
meski pada akhirnya tahu, seperti juga Chairil anwar menulis menjelang kematiannya,

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah