Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.

Dini hari. Terperangkap di dalamnya.
Perjalanan sudah begitu jauh.
Tiba-tiba menumpuk tanya.
Lantas sadar, hidup tak teramalkan. Unknown prognosa.

Dini hari. Lamat2 kemresek kaset pengajian dari musholla.
Suara kipas angin. Mencoba menepis panas udara.
Membaca tulisan lama.
Tersentak.
Ah, tujuan hidup yang sering terlupa.

Dini hari.
Dini hari yang kesekian.
Sendiri saja.
Masih di Surabaya.
Sadar, masih belum jadi apa-apa.

Menjadi daun pun belum bisa.

Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.
Esok entah dimana.
Ini kereta.
Jalan.
Tak sampai juga.

Perjalanan Ke Manila (1) : Surabaya-Changi

Aku menulis catatan ini di atas pesawat Silk Air dari Surabaya ke Changi. Ya. Changi, Singapura.

Ndeso memang, tapi ini memang jadi perjalanan pertamaku ke luar negeri. Tentu saja selain ke Timor Leste saat bertugas untuk UNICEF beberapa tahun lalu.

Tapi 10 tahun lalu aku tak memerlukan paspor.  Keadaan tengah genting.  Pengungsi berseliweran dimana-mana. Aku pergi ke NTT dan Timor Leste untuk menolong dan mencari nafkah.

Kini berbeda. Aku pergi untuk menyampaikan sesuatu di World Conggress of Echocardiography di Manila, Filipina. Kumpulannya para pakar ekhokardiografi dunia.  Dan itu semata karena hasil risetku tentang ekhokardiografi pada pasien-pasien mitral stenosis. Duh, memikirkannya membuatku merinding. Betapa kecil ilmuku dibanding para ahli yang nanti duduk di sana. Menatapku..

Bismillah. Bismillah…

Perjalananku dimulai dari membuat  paspor, mengurus  NPWP, lantas menunggu travel agent mendapatkan tiket dan akomodasi.  Dan tentu saja meminta restu.

Seperti kata Ibnu Athaillah, aku hanya mengikuti takdirku. Dan tangan Tuhan selalu hadir tiba-tiba tanpa dinyana. Mengagetkanku malah. Semua terjadi di luar kuasaku untuk mewujudkannya. Terima kasih pada guru-guruku…

Tapi terbang ke Singapura dengan Silk Air, lantas bersama Singapore Airlines ke Manila jelas di luar segala harapanku saat menjadi dokter umum dulu. Siapa menyangka, seorang dokter dari desa Grabag yang berumah di tengah sawah dan gunung bisa terbang ke luar negeri.

Yah, kau benar. Hidup penuh rahasia. Dan kini, saat aku menulis  tulisan ini di atas pesawat yang sebentar lagi mendarat di Changi, aku satu persatu mulai membuka rahasia yang disediakan Allah untukku. Kini, doaku makin sederhana.

Ya Allah, berikanlah kekuatan padaku untuk terus bergerak menuju ridhaMu. Janganlah Kau beri aku beban yang tak bisa kutanggung. Amin.

Batu Besar

kemarin ada sebuah batu yang cukup besar menghadang perjalanan.
dan layaknya batu2 karang lain dalam hidup, ia datang tiba-tiba, tak dinyana dan seringkali membuat sedih.
lantas sekali lagi aku memasrahkan segala sesuatu pada Allah.
Ia telah mengatur hidupku sedemikian rupa.
Ia telah membawaku sejauh ini.
akankah Ia mensia-siakanku? kurasa tidak.

apalagi saat aku mengingat segala hal yang sudah diberikan padaku selama ini.

nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat kaki yang kembali bisa berjalan, istri dan anak2ku, pengalaman hidup dan kasih sayang dari pasien2ku, segala yang pernah kumiliki dan kualami selama ini.

lantas memikirkan kembali teman2ku yang sudah tiada, juga almarhum pasien2ku…

sekali lagi, batu yang kini kuhadapi bukanlah apa2 dibanding itu semua…

Perjalanan Ke Barat(2)

Kereta menuju Barat melaju cepat. Tempat duduk hanya terisi sebagian. Ada ibu-ibu ngerumpi di depannya. Seorang mahasiswi membawa helm duduk di dekat pintu. Matahari tengah hari terasa menyengat. Tak ada AC. Cuma kipas angin berputar malas di atap kereta.

Lelaki itu duduk sendiri. Dengan ransel berisi laptop dan segumpal pakaian, ia layaknya seorang pengembara. Dan sungguh, bukankah tiap jiwa kita sebenarnya adalah pengembara?

Lelaki itu teringat dengan masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketika ia bahkan sempat ’menjual diri’, mengirim surat pada puluhan daerah di Jawa dan Sumatra. Semua percuma. Semua berakhir sia-sia. Tak ada satupun yang bersedia membantu. Meskipun ia berani menukarnya dengan beberapa tahun bekerja di sana. Lantas kini, saat sebuah tempat, yang bahkan sangat dikenalnya menawarkan masa depan, mengapa ia masih berani menolak? Baca lebih lanjut

Perjalanan ke Barat (1)

Lelaki itu turun dari bis dengan wajah mengantuk. Kota di tengah Jawa itu masih sepi. Jam tangannya menunjukkan pukul enam pagi. Rencananya ia akan turun di terminal, tapi seperti biasa, tiba-tiba ia berubah pikiran. Saat rumah sakit tujuannya terlihat di pinggir jalan ia bangkit dan menuju pintu bis malam.

Menapak tanah dan ia mengucek matanya yang kurang tidur. Berangkat dari rumah tengah malam lantas naik bis jam satu dini hari bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi selalu ada antusiasme tersendiri saat ia hendak bepergian. Denyut nadinya meningkat. Ia bersemangat. Baca lebih lanjut

terima kasih gunung..

telaga warna

hari minggu pagi pulang kampung sekalian pergi ke telaga warna di dieng, wonosobo, jawa tengah.
termasuk menyambangi kembali gua semar, tempat Pak Harto pernah bersemadi. eh ternyata siangnya ia meninggal.

hmm, jadi ingat lembaran kelopak mawar yang tersebar di depan pintu gua. sekaligus bau wangi kemenyan menusuk hidung..

sesaat disana aku cuma ingin berhenti sejenak. diam. meniru gunung.

terima kasih gunung…