Percakapan Tahun Ke-35

9 April 2010. Layar dibuka. Berlatar gelap, tampak dua buah topeng melayang-layang di panggung yang kosong.

Suara dari jauh (berbisik) :

kau benar. kini sudah 35 tahun.
dan aku belum jadi apa-apa.
belum cukup besar untuk jadi manusia.
belum cukup bermakna.

Topeng 1 :

Kawan, coba kau lihat hidupku.Secara duniawi tak ada yang bisa kubanggakan.Rumah masih ngontrak. Pekerjaan tak jelas. Sekolah belum kelar. Mau tinggal dimana tahun depan? Pertanyaan itu masih belum terjawab juga.Tingkat spiritual? Minus.Tingkat kebijaksanaan? Underground. Tingkat frustasi? High!
Kulihat catatanku di bertahun-tahun lalu. Target-target itu belum tercapai. Aku ternyata baru sampai di sini.
Berhenti di Surabaya.

Topeng 2 :

Ok. Fakta yang kau ceritakan memang nyata. Tapi tunggulah barang sebentar wahai kawanku. Kenapa kau selalu bilang baru, dan tidak bilang, sudah sampai di sini?
Kenapa tidak bilang, sudah sampai di Surabaya?
Memang, ada hal-hal yang kita inginkan di waktu dulu, yang ternyata belum kita temui. Belum jadi bagian dari takdir hari ini.
Tapi esok?
Lagipula, siapa yang tahu apa yang terbaik bagimu?
Siapa yang tahu waktu tertepat untukmu?

Topeng 1 :

Hmm. Entah kawanku. Tuhan mungkin?

Suara dari jauh (berbisik) :

kau benar. sudah 35 kini. dan aku belum jadi apa-apa.
tapi itu tak begitu penting kurasa.
setidaknya aku masih hidup. masih bisa menulis keluh kesah ini.
masih bisa bertemu denganmu.
mungkin memang belum cukup besar dan bermakna.
tapi, sesungguhnya, apa arti besar dan bermakna itu kawanku?
“Segala sesuatu dimulai dari pikiran Pak,” bisik Cinta, gadisku yang terbesar.
dan ia benar.

Layar ditutup.

-foto dua wajah topeng dari : KFK Kompas