Belajar Menerima ODHA, Belajar Menjadi Daun(Jawa Pos 2 Juli 2008)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Dirgo (nama samaran), seorang penderita HIV/AIDS (ODHA) stadium 4 yang ditolak pulang oleh warga seputar tempat tinggalnya di Surabaya bukan yang pertama mengalami nasib nahas itu. Mungkin juga bukan yang terakhir (Jawa Pos 29/6/08). Untuk kalangan medis pun, menghadapi dan merawat seorang penderita ODHA bukan perkara mudah.

Apalagi bagi masyarakat awam. Sebagian besar kita masih memiliki rasa enggan, mirip perasaan suci yang dimiliki seorang rahib Bani Israil, saat seorang pemuda bertanya, “Aku telah membunuh 99 manusia, masih adakah jalan bagiku untuk bertobat?”(HR Bukhari/Muslim). Tidak ada. Jawaban singkat itu mewakili kesombongan sebagian besar manusia. Seakan merekalah yang memiliki pintu-pintu surga.

Padahal, siapa tahu kalau sebenarnya pintu tertutup untuk ODHA adalah pintu Tuhan yang terbuka? Pintu terbuka yang mengajarkan ODHA memanfaatkan sisa hidup dan mengakhirinya dengan layak. Dan mungkin pintu terbuka untuk kita agar bisa berkaca, lebih rendah hati, dan akhirnya mati dengan layak pula. Kematian yang belum tentu lebih mulia dibanding mereka. Baca lebih lanjut