Keresahan Seorang Bapak

Matematika Progresif. Speed Up English. Brilliant Seni Budaya. Judul buku yang memukau. Isi yang berat dan penuh. Terutama bagi anak-anak kelas 1 SD. Silakan Anda baca paragraf berikut.

Apa itu identitas. Identitas adalah ciri-ciri. Atau keadaan khusus seseorang. Contoh identitas adalah nama, alamat, tempat tanggal lahir.

Isi yang lengkap dan bagus. Tapi kurasa tidak untuk kelas 1 SD. Terlalu lengkap. Terlalu bagus. Terlalu bersemangat. “Identitas. Barang apa itu Pak?” “Hmm, identitas adalah keadaan khusus seseorang Nak.” Percakapan yang aneh. Terutama jika sang anak masih kelas 1 SD.

Ah, betapa absurdnya dunia pendidikan Indonesia. Kita menyukai kulit. Mulus, indah. Sedangkan isi? Entahlah. Setiap hari anak kita menghafalkan hal-hal yang tak mereka perlukan dalam hidup. Melewatkan bagian terpenting dari hidup.

Hari-hari pertama Cinta sekolah terasa berat buatku. Padahal mungkin tidak untuk Cinta sendiri. Ia baik-baik saja. Saking beratnya, rasanya aku ingin mengeluarkannya dari sekolah. Mata pelajaran yang banyak. Buku-buku yang sulit. Segala yang superfisial. Kenapa tidak mengurangi mata pelajaran? Bukankah terlalu banyak berarti cuma sebentar? Sebentar berarti hafalan, dan bukan pengertian? Terasa benar jika sekolah membuat sesak dan penuh.

Tapi jika ia tak di sekolah, kemana ia akan belajar? Home schooling? Dengan siapa? Aku merasa bersalah.
Setiap kali selalu kutanya, “ Cinta senang sekolah?” “Senang Pak.” Alhamdulillah. Itu yang terpenting kurasa. Setidaknya ia masih cukup bahagia.

Tapi ketika sang Ibu mencoba memasukkannya di kelas Sempoa (yang sudah tak kusetujui sebelumnya), ia mengeluh, “Bu, Cinta capek.” Kurasa itu pertanda untuk berhenti. Kurasa, yang terpenting untuk anak kelas 1 SD adalah bisa membaca, menulis dan menghitung. Juga budi pekerti. Mengapa kita harus jujur? Bolehkah kita mencuri? Mengapa tidak boleh? Jawaban ‘mengapa’ jauh lebih penting. Karena ia akan mengendap.

Sempoa? Identitas? Makanan sumber vitamin? Ah, ia terlalu hambar. “Apa vitamin itu Pak?” Aku tersenyum. Aku berharap seorang guru akan menjawab,”Vitamin itu kecil sekali. Lebih kecil dari semut. Tapi ia membuat kita sehat. Vitamin ada di dalam buah dan sayuran, contohnya wortel. Oya, mbak Cinta membawa wortel kan? Apa anak-anak tahu cara memotong wortel? Coba sini lihat Bu Guru mengupas dan memotong wortel. Gimana, kelihatan nggak vitaminnya?”

Aku tahu itu cuma mimpi. Tapi, bukankah seseorang boleh bermimpi? Tolong, Bu, hidupkan mimpi anak-anak kami…