Nous allons visiter Paris….

kursus-perancis5.jpgkursus-perancis3.jpg

kursus-perancis4.jpg

Kursus Perancis. Sungguh satu perjuangan yang cukup berat.

Mungkin karena selama ini aku belum pernah merasa sebodoh ini.

Belum pernah merasa menjadi yang ‘tertua’ tapi yang ‘terbelakang’. – emang biasanya di depan mas? 🙂

Tapi toh akhirnya aku bisa menyelesaikan langkah kecilku ini. Setelah sempat beberapa kali terpikir untuk menyerah. 😦

Terima kasih pada madame Ami yang telah sabar membimbing muridnya yang
agak malas dan telmi ini. Juga pada teman-temanku seperjuangan  : nisa, prahesa, felix, ully, ginza, patricia, ifa, linda, hafidz, ravi… Satu hari kita reuni di Paris ya.. Tepat di halaman Le Musée du Louvre…

Ke Paris2

paris_musee_louvre_08.jpg

Paris, Musim Dingin 2006

Meski ajang pembantaian bagi para pembangkang itu sudah berlangsung hampir dua tahun yang lalu, bayang-bayang peristiwa itu masih sering menyergap, menghisap sebagian hidupnya sampai habis. Pagi itu, dini hari setahun lalu yang lelaki itu ingat benar dinginnya, suara dering telpon terus tak henti-henti. Tangannya gagap meraih.

“Halo.” Suara di lawan bicaranya hampir tak terdengar, cuma ada desau angin dan deras hujan. Cuaca begitu buruk, gumamnya gelisah.
“Halo.”
“Halo Dok. Ini dari UGD rumah sakit. Ada banyak korban gawat darurat datang. Sebagian besar dengan luka tembak. Dokter jaga mengharap bantuan Dokter.”
“Ok. Segera ke sana.”

Saat menutup telpon dan menatap sosok wajah di cermin, dilihatnya wajah yang letih dan berkabut. Tapi entah mengapa kantuk tiba-tiba menguap dari kamar. Diliriknya jam dinding, tepat pukul 3 pagi. Lelaki itu teringat pada ancaman kelompok pembangkang untuk melakukan aksi besar ke kota memprotes hasil referendum yang mereka nilai dimanipulasi Pemerintah Pusat. Tapi itu besok. Bukan malam ini. Mungkinkah militer sudah bergerak?

Lelaki itu harus menguatkan diri saat melihat begitu banyak pasien berdarah di UGD. Dua puluh korban luka-luka, separuhnya luka tembak di organ vital. Hampir semua dengan syok akibat perdarahan. Berliter-liter darah mengalir, dan kata seorang kawan, jalur bantuan Palang Merah Internasional ditutup.

Pasien pertamanya adalah seorang pedagang pakaian di pasar kota berusia tiga puluh dua tahun, luka tembak di dada. Paru-paru kanannya mengempis. Pneumothorax. Seorang perawat berbisik,”Bagaimana Dok?” Ia menggeleng. Pasien itu datang dengan paru-paru kiri tak tersisa karena TBC. Baca lebih lanjut