Yang Ada Cuma Pilihan

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin menua dengan siapa.
Karena anak2 yang kau sayangi akan meninggalkanmu.
Kuliah, lantas kerja atau menikah.
Lantas tinggal di antah berantah.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin mati seperti apa.
Karena hidup yang jaya akan berakhir pula.
Merunduk, kejang yang sebentar.
Lantas diam yang lama. Sangat.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin dikenang sebagai apa.
Karena jangan harap ada yang mengingat dengan cinta.
Saat diam kita yang lama itu sudah terasa lama, mantan suami atau istri itu akan menikah lagi, lantas mereka tidur di rumahmu.
Tabunganmu dijadikan bekal bulan madu.
Hahaha.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, luka seperti apa yang ingin kau ingat.
Atau luka mana yang kau lupakan.

Gunung Slamet 1998

Hari ini gelap dan dingin. Matahari terbalut mendung di barat. Kakiku letih dan perih. Air di kantong tinggal setengah liter lagi. Lama kelamaan, berjalan seperti mau bunuh diri. Base camp Bambangan masih terasa di angan-angan.
Tersaruk-saruk di antara semak dan rumput basah kena hujan pagi-siang, lumpur di sepatu tak terkira tebal. Bukk! aku terduduk di lumpur berbatu. Ini sudah yang kedua belas kalinya. Memang keseimbangan yang kumiliki hampir mati inderanya. Terlalu mabuk oleh air hujan dan lumpur.

Ini adalah puncak gunung ketiga yang telah kuselesaikan dalam tourku. Siapa suruh memilih gunung Slamet sebagai pilihan ketiga. Padahal baru dua hari yang lalu aku menyelesaikan Sindoro dan Sumbing. Mestinya aku ke Boyolali dulu menyelesaikan Merbabu atau Merapi. Tapi kalau dilihat dari ongkos yang kupunya, Purbalingga jelas searah dengan Wonosobo. Dan lagi, di Purwokerto aku punya seorang kawan yang bisa kuandalkan untuk menginap barang beberapa hari setelah semua ini selesai. Mungkin. Baca lebih lanjut