Seribu Rupiah di Satu Senja

Kemarin senja Surabaya mendung. Sebagian hujan. Kularikan motorku agak cepat, mengejar rintik. Dekat perempatan jalan Kertajaya, lampu kuning mulai memerah di kejauhan. Di sampingnya, seorang Bapak tua menjual koran. Biasanya yang dijual adalah koran pagi yang beritanya sudah agak kadaluwarsa.

Satu yang agak berbeda, ia memakai ‘kruk’. Salah satu kakinya cacat, tak ada.

“Pak, minta korannya nggih,”kataku dalam bahasa jawa. “Kompas atau Jawa Pos ada?”

“Nggak ada Mas. Adanya Surabaya Post.”jawabnya. Meski tak biasa membaca Surabaya Post, rasanya kasihan juga pada Bapak tua ini kalau  tak jadi beli.

“Tiga ribu to Pak?” Aku mengulurkan uang 3 ribu. Ini berdasar asumsiku bahwa harga JP or Kompas biasanya turun di sore hari.

“Nggak Mas. Dua ribu cukup.” Ia hanya mengambil dua ribu rupiah dari tanganku  sambil tersenyum. Wajahnya terlihat senang karena korannya terbeli.

Kalimat itu pendek, tapi bagiku cukup bermakna.

Seribu rupiah, bagi Bapak tua itu adalah makna kejujuran, harga diri, dan rasa syukur. Ia tak membutuhkan lebih.