Menangisi Lebaran Bersama Laskar Pelangi

Sepanjang film Laskar Pelangi diputar mata saya basah oleh air mata. Diam-diam saya menangisi keikhlasan Bu Mus, kesungguhan Pak Harfan, ketekunan Lintang, menangisi Harun yang terbata tapi gembira.

Lebih dari itu, saya menangisi diri sendiri. Saya yang masih saja merasa kurang di tengah kecukupan, yang begitu mudah tergoda dengan iming-iming materi, yang sedikit-sedikit menyerah pada tantangan. Saya juga menangisi anak-anak saya yang tak sempat diasuh guru seperti Bu Mus, menangisi kalimat Pak Harfan yang hari-hari ini jarang sekali saya temui. “Memberi sebanyak-banyaknya. Bukan meminta sebanyak-banyaknya.” Ah, adakah yang masih memegang erat kalimat itu dalam hati?

Menonton film Laskar Pelangi membuat saya makin sadar akan kerinduan yang membuncah. Kerinduan untuk pulang pada ketulusan, keramahan, kasih sayang, kesederhanaan, dedikasi tanpa pamrih, cita-cita, impian.

Tak terasa lusa Lebaran. Seperti yang lain, saya pun akan pulang. Beberapa pertanyaan yang mengganggu antara lain, apakah saya berani menemui mereka? Tidakkah saya sudah terlalu asing dengan semua itu? Lantas, beranikah saya membawa sekeping ketulusan, keramahan, kasih sayang dan yang lain saat kembali ke Surabaya nanti?

Semoga. Setidaknya saya berharap, saat menonton kembali film Laskar Pelangi, produksi air mata saya sudah jauh berkurang. Bukan karena bosan, tapi karena ada sebagian kebaikan Pak Harfan yang saya telah saya miliki. Tapi itu tentu tak mudah. Saya tahu kalau saya harus bekerja keras, mengumpulkan kelembutan hati di liburan Lebaran besok. Selamat berhari raya. Mohon maaf lahir dan batin.

Forrest Gump

forrest.jpg

seseorang menulis untukku.
Tawaran bisa datang dalam bentuk macam-macam.
Pilihan hidup HARUS didasarkan pada tujuan hidup, BUKAN sekedar untuk mengambil jalan pintas yang akan disesali kemudian.

Nice quote!

lantas pagi ini nonton lagi Forrest Gump.
film yang menunjukkan sisi kuat dan tak kenal takut dari sikap sederhana, tulus dan lurus.
tapi tetap menikmati tiap detik hidup.
sikap pasrah pada garis takdir, sekaligus membuka peluang pada tiap detail perubahan yang disodorkan semesta.

Forrest Gump juga berkisah tentang nasib Jenny, kekasih tercinta Forrest yang tak pernah berhenti mencari.
meski pada akhirnya tahu, seperti juga Chairil anwar menulis menjelang kematiannya,

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Babel, Sendiri.

babel1

Malam ini aku menonton Babel.

Sebenarnya sudah lama kepingin, tapi belum sempat. Memang ada Brad Pitt di sana, tapi bukan itu yang terpenting.
Kurasa Babel sangat menyentuh. Ada kesepian di sana. Ketulusan dan kasih sayang. Terasa jauh, tapi mengada.
Juga hati rapuh. Luka mengerati jiwa manusia.
Mengarat. Menggerak-gerakkan daun kering di musim kemarau.
Perlahan. Jatuh. Tersapu angin.
Sendiri.