Koin Prita dan Dokter Indonesia

Koin Prita dan Dokter Indonesia

Oleh: M. Yusuf Suseno

SAAT vonis denda 204 juta rupiah dijatuhkan kepada Prita Mulyasari, sontak beribu simpati datang dari masyarakat. Rakyat merasakan ketidakadilan telah menimpa Prita. Kemarahan publik melahirkan gerakan pengumpulan koin untuk Prita. Mengapa koin? Sebab, uang receh itu didaulat sebagai lambang perlawanan rakyat kecil kepada sistem yang lebih besar. Dalam kasus ini, kubu yang besar adalah RS Omni Internasional yang dipandang sebagian orang telah bersikap cukup arogan, plus sistem peradilan yang dinilai tak memihak rasa keadilan rakyat kecil.

Bukan hanya anggota Komisi Yudisial yang prihatin atas putusan itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pun ikut gerah. Tim mediasi dari Depkes diutus untuk kembali menengahi pertikaian antara Prita dan RS Omni. ”Hubungan dokter-pasien seharusnya tolong-menolong, bukan tuntut-menuntut,” kata Menkes (JP 9/12/09). Kegelisahan Menkes itu membuktikan bahwa selain mengganggu rasa keadilan, gerakan koin untuk Prita juga merepotkan pucuk pimpinan birokrasi kesehatan di negeri ini.

Mengapa demikian? Sebagai kasus yang semula berbau dugaan malapraktik yang dilakukan RS Omni Internasional terhadap Prita (meski tak terbukti), konflik ini telah menjadi cermin bagi dunia kesehatan di tanah air. Kericuhan yang diliput luas oleh media tersebut mewakili hubungan pasien, dokter, serta rumah sakit yang makin rapuh.

Komentar dan pertanyaan masyarakat pun beragam. Salah satu yang paling penting dijawab adalah pertanyaan tentang kualitas pelayanan kesehatan di tanah air. Apa yang terjadi dengan pelayanan kesehatan dalam negeri? Mengapa banyak orang kaya yang lari ke Singapura dan Penang untuk berobat? Apakah semata karena teknologi kesehatan? Benarkah berita tentang dugaan malapraktik di media massa yang muncul tiap minggu itu?

Era krisis kepercayaan tersebut telah diramalkan jauh-jauh hari. Suatu hari, Sir William Osler, Bapak Kedokteran Modern, ditanya tentang definisi dokter yang pintar. Dia dengan lugas menjawab, ”Sesungguhnya tak ada seorang pun yang bisa disebut dokter yang pintar. Di dunia ini hanya ada dua macam dokter. Dokter yang baik dan dokter yang buruk.”

Kita boleh tidak setuju terhadap Sir William. Namun secara tak langsung, Profesor Abraham Verghese, seorang ahli penyakit infeksi sekaligus penulis terkenal dari Amerika, berkata, ”Seorang pasien yang menyukai dokternya takkan pernah menuntut, apa pun yang terjadi, apa pun bujukan si pengacara.”

Kedua pernyataan tokoh dunia kedokteran dari era yang berbeda itu sebenarnya telah menjawab penyebab meruncingnya hubungan pasien dan dokter dalam beberapa kasus. Sayang, hal itu tak kunjung disadari oleh para pemegang kebijakan, pemilik industri kesehatan, maupun para komunitas dokter.

S.G. Jeffs, seorang dokter Inggris, yang jika masih hidup pastilah akan dianggap puritan, puluhan tahun lalu menulis hal yang sangat mendasar. Satu prinsip yang seharusnya terus ditekankan para dosen kepada para mahasiswa di fakultas kedokteran. ”Nobody is another case of… You have no cases. You have patients who are human beings with feelings and emotions.” Kalimat ini mungkin terdengar aneh. Siapa pula yang masih berbicara tentang perasaan dan emosi dalam dunia masa kini yang tergesa?

Para perumus kurikulum pendidikan dokter di masa mendatang seharusnya terus memberikan porsi lebih besar kepada pendidikan dan latihan komunikasi. Sehingga mahasiswa kedokteran memiliki bekal kemampuan berkomunikasi yang lengkap, jujur, sabar, empatis, positif, dan mudah dimengerti. Sebab, hanya dokter yang dapat berkomunikasi dengan baik, berempati, dan bisa meletakkan dirinya pada sudut pandang pasienlah yang akan selamat dari ancaman krisis tuntutan malapraktik.

Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, praktik kedokteran kadang-kadang dipaksa berubah hanya untuk menjadi baut kecil dari bisnis jasa rumah sakit. Hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain. Apa arti dokter yang pintar tapi dianggap kurang ramah, yang kesibukannya tenggelam di tengah keluhan pasien? Bukankah ini berarti para dokter Indonesia juga harus siap mengumpulkan koin guna menghadapi jutaan rupiah tuntutan malapraktik?

Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Alat-alat di rumah sakit rujukan pun cukup lengkap. Bahkan, Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik yang akrab dengan kedokteran Indonesia tak selalu dikuasai Barat.

Namun, mengapa RS di Singapura dan Penang menjadi tujuan pasien dari Indonesia? Itu disebabkan mereka berusaha membuat nyaman pasien dan keluarga. Juga kesiapan dokter untuk berkomunikasi dan memberikan informasi secara utuh. Apalagi mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi yang tak kembali.

Saat ini dunia layanan kesehatan Indonesia tengah menghadapi tantangan sangat berat. Dan jawabannya ada di tangan pihak-pihak yang memegang kendali masa depan. Selain pemerintah dan organisasi profesi, yang tak kalah bermakna adalah fakultas kedokteran, pencetak dokter Indonesia yang kini mulai muncul dan menjamur di mana-mana.

Di tangan mereka dokter Indonesia dibentuk. Apakah mereka nanti memandang pasien secara holistik, sebagai manusia seutuhnya, atau semata melihat pasien yang hanya terjangkit kasus maag yang tak sembuh-sembuh.

Saya teringat dengan nasihat almarhum Prof Boedhi Darmojo, seorang guru besar yang bersahaja, saat mengutip kalimat bernas Henry B Adams. “A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” Itulah mengapa seorang guru harus dihormati. Karena sentuhannya bersifat abadi.

*) M. Yusuf Suseno , dokter umum, saat ini tinggal di Surabaya

Catatan : paragraf terakhir tentang hakikat guru telah dipotong oleh redaksi JP. Mungkin karena pertimbangan ruang.  Padahal itu adalah bagian paling emosionil ..

Versi online ada di http://www.jawapos.com, klik : opini

Susu Sapi dan Hari Bakti Dokter (Jawa Pos 24 Mei 09)

Susu Sapi di Jawa Pos

Sungguh menarik tulisan Pak Dahlan Iskan berjudul Susu Sapi Bukan untuk Manusia (JP, 15/5/09). Menggelitik dan mengundang kontroversi. Yang pasti, tulisan itu membuat sebagian pembaca membeli buku Prof Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Termasuk saya.

Pubmed, mesin pencari artikel ilmiah dari perpustakaan nasional Amerika, menghasilkan 40-an artikel ilmiah tulisan Prof Hiromi. Sebagian besar tulisan itu mengulas kolonoskopi, penyakit usus besar, dan masalah medis pencernaan lain.

Namun, tak satu pun artikel ilmiah beliau di Pubmed yang terkait susu dan daging sapi. Tak ada juga topik gizi lain. Artikel ilmiah yang menghubungkan jenis makanan dan kondisi pencernaan pasien pun tak ada.

Timbul pertanyaan, apakah pernyataan beliau tentang susu sapi itu betul-betul didasari data ilmiah yang telah teruji secara statistik? Atau itu semua berdasar pengalaman klinis dan asumsi semata?

Seorang petugas KPK dan koruptor bisa saja ditemukan sama-sama berada di padang golf. Tapi, apakah keberadaan petugas itu karena diundang koruptor, mengawasi koruptor, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama? Atau, ada faktor lain? Bertemu caddy yang sama, misalnya.

Begitu pula halnya dengan susu. Hingga saat ini belum ada kata sepakat tentang manfaat dan bahaya susu sapi bagi manusia. Pihak yang pro, termasuk sebagian besar ahli gizi, menyebut berbagai penelitian yang positif. Subjek yang minum susu berisiko stroke dan serangan jantung lebih rendah, lebih jarang mengalami hipertensi, dan lebih terlindungi dari patah tulang pada usia tua.

Sebaliknya, pihak yang kontra menyebutkan hasil penelitian yang negatif. Antara lain, susu sapi dicurigai sebagai pencetus diabetes pada anak dan dewasa, sering terjadi reaksi intoleransi dan alergi, serta ada peningkatan risiko kanker prostat pada subjek yang banyak minum susu.

Namun, belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan susu menyebabkan usus menjadi “jelek”. Buku Prof Hiromi, yang tidak bisa dikatakan artikel ilmiah murni karena banyak asumsi di dalamnya, adalah satu-satunya sumber pernyataan tersebut. Bisa saja itu benar, ada sebab akibat antara susu dan kondisi pencernaan manusia yang “jelek”. Tetapi, bisa saja kesimpulan tersebut berlebihan. Susu mungkin bermanfaat pada kondisi tertentu, mungkin juga tidak.

Jadi, berikan ASI kepada bayi Anda. Jangan paksa anak minum susu sapi jika dia tak suka. Gantilah sumber kalsium dari buah dan sayur. Namun, jika suka dan tak ada efek samping, biarkan dia minum susu sapi. Menurut saya, hukum susu sapi dari sudut pandang medis adalah boleh alias mubah.

Orang besar memang selalu punya ide dan pandangan berbeda. Tugas mereka menginspirasi dan membuat orang berpikir. Prof Hiromi dan Pak Dahlan melakukannya dengan baik. Salah satunya adalah kalimat Pak Dahlan tentang pandangan Prof Hiromi terhadap dunia kedokteran.

“Dokter melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.”

Kalimat terakhir itu sangat mencubit. Cubitan yang makin terasa karena 20 Mei lalu adalah Hari Bakti Dokter Indonesia. Cubitan yang membutuhkan perenungan.

Benarkah pendidikan dokter spesialis menghancurkan ilmu kedokteran? Bukankah sistem pendidikan dokter di Amerika termasuk salah satu yang terbaik di dunia? Kenyataannya, dunia medis Amerika kebanjiran dokter spesialis. Perbandingan dokter umum dan spesialis di Amerika 2 : 1. Itu memicu kritik.

Pendidikan kedokteran di Amerika dianggap kurang berhasil mendorong lulusannya mendalami etika, hambar dalam pemahaman manusiawi pada pasien penyakit terminal, dangkal nuansa spiritual dan agama, serta berlebihan dalam penggunaan teknologi. Padahal, ilmu dan teknologi tanpa jiwa dan empati tidak hanya tak efektif dan mahal, tapi juga berbahaya.

Bagaimana di Indonesia? Dengan perbandingan dokter umum dan spesialis 5 : 2, dunia medis Indonesia masih butuh banyak dokter spesialis. Namun, pendidikan dokter spesialis tidak seharusnya membuat penyelenggara pendidikan kedokteran melupakan esensi penting dokter keluarga. Bagaimanapun, tujuan utama kita adalah menyehatkan masyarakat, bukan sekadar menyembuhkan seseorang dari sakit. Itu hanya bisa dicapai dengan dokter keluarga yang kompeten, percaya diri, bergaji cukup, dan berwawasan luas.

Agar tidak terjebak pada lubang yang sama seperti Amerika, alangkah baiknya jika fakultas kedokteran di Indonesia senantiasa mendorong muridnya untuk mendekati pasien secara holistik. Seperti sepotong kalimat almarhum Prof Boedhi Darmojo, ahli penyakit dalam dan jantung yang bijak, saat memulai kuliah awal tahun. “Nak, medicine is science and art.”

Kemajuan ilmu dan teknologi harus diimbangi maturitas jiwa, soul, seorang dokter. Keputusan medis tidak bisa direduksi semata pada pertimbangan empiris. Seorang dokter seharusnya berusaha mengenal pasiennya sebagai seorang pribadi.

Seorang dokter dari Inggris, S.G. Jeffs, puluhan tahun lalu menulis hal mendasar yang seharusnya tidak dilupakan. ”… You have patients who are human beings with feelings and emotions who often have a greater dignity and self-respect than you possess yourself.” Mungkinkah hal itu terwujud dalam dunia modern yang makin asing dan sibuk? Semoga.