Tiga Gerimis di Malam Lebaran

Tiga Gerimis di Malam Lebaran

Satu

Jalan naik ke rumah, entah mengapa, kini bertambah terjal. Padahal baru setahun aku tak menengoknya. Atau aku memang tak segagah dulu? Ah, hitam asap Jakarta benar penuh mengisi paru.

Dingin senja dan gerimis pekat. Hujan yang sama pernah kutawarkan padamu dulu saat hendak kutinggal ke ibu kota. “Pasti aku akan segera pulang, lantas membayar hutang berobat Bapak.” Kau tersenyum, menelanku dalam kabut matamu. Kau sodorkan payung. Aku hampir menolaknya. Tapi saat itu pula hatiku berjanji, aku akan membawanya kembali.

Tapi berapa banyak janji yang tak bisa kupenuhi istriku? Payung itu hilang saat aku turun dan kencing di toilet umum Pulogadung,  termasuk tas butut berisi pakaian. Kopiah pemberian Ayah pun terpaksa kutukar dengan sepiring nasi rames di warteg. Lantas setelah berbulan bertahan memulung sampah dan hidup menggelandang, berapa banyak uang yang bisa kubawa pulang untuk sekadar berlebaran?

Kau benar istriku. Sekali lagi kau benar. Pertanyaan itu tak perlu kujawab. Toh, aku pulang kini, masih saja berjalan kaki. Tak kuhiraukan tawaran tukang ojek dan kicauan sopir omprengan. Ah, biar kutelan peluh ini. Tiga kilometer ke rumah takkan lama. Hanya saja, kenapa jalanan ini bertambah terjal kini?

Dua

Berdiri di pinggir jalan, dalam gerimis pula, tak pernah membuatku senang. Bedakku sebagian luntur. Parfum murahan yang kubeli dari warung sebelah rumah tak bersisa. Tinggal bau asap motor dan selokan kota, sebagian berisi kotoran manusia.Tapi wisma masih tutup, sedang aku butuh uang. Tanpa uang tak ada obat untuk Bapak. Kartu miskin bukan segalanya. Dokter bilang, ada beberapa obat yang tetap harus kubeli. Entah bualan atau benar.

Uang. Bukankah Ramadan telah usai dan kini malam Lebaran?

Stasiun Poncol mulai sepi. Dan puluhan pasang mata lelaki terlanjur  menelanjangi. Sialan, kenapa mereka tak mau berhenti? Sapa aku hei! Jeritku dalam diam. Aku tahu kau butuh belaianku, rayuanku, tubuhku. Aku butuh uang di dompetmu. Kenapa tergesa?

Suara takbir bertalu-talu. Mataku basah. Entah kenapa. Ah, mungkin aku cuma rindu masa kecil dulu di kampung. Rindu Abah dan Emak. Rindu suara abangku mendaras Qur’an. Sedang kami berlarian di kolong langgar.

Entah kekuatan apa yang tersimpan di malam ini, tapi aku tak laku. Cuma sekali, tiga puluh ribu rupiah, harga teman dengan seorang tukang becak kesepian yang tak bisa pulang kampung. Mungkin Gusti Allah tengah marah padaku. Tapi bukankah Ia Maha Mengerti? Termasuk pada kehilangan-kehilangan yang terjadi dalam hidupku?

Entahlah.

Tiga

Tulang menonjol dari balik kulit. Lelaki tua tertatih, berjalan ke teras rumah, sekuat tenaga meraih pinggiran kursi. Hampir terjatuh.

Tempias hujan membasahi kaki keriput. Terduduk dalam diam.  Rindu masa lalu. Saat ia cukup sehat untuk bekerja dan mencari uang. Juga bebas dari nyeri yang kian tak tertahan. Dirogohnya saku, obat yang tinggal sekali minum. Di kantong tak ada lagi. Besok rumah sakit tutup. Suara takbir dari musholla kampung terdengar jauh.

Sungguh, ia rindu pada  anak lelakinya yang kini entah kemana. Setahun berlalu. Adakah ia masih hidup? Benarkah Jakarta menelan manusia? Sedang menantunya, perempuan mulia yang telah menghidupinya pastilah tengah bekerja.  Tapi, adakah toko yang bekerja selarut ini, di malam lebaran pula? Mungkinkah celoteh busuk tetangga itu benar? Kenapa bau parfum murahan itu selalu datang tiap pagi?

Lelaki tua  memandang keluar rumah. Gerimis membasahi matanya.

–selesai—

Lama aku tak menulis cerpen. Kemarin saat naik sepeda motor menjemput istri di gerimis malam lebaran, aku melihat tiga sosok. Seorang laki-laki  yang tengah berjalan kaki menembus malam, perempuan yang menjajakan diri di depan stasiun Poncol Semarang, dan seorang laki-laki tua termenung di depan rumah.  Merekalah yang telah memaksaku menulis. Aku teringat pada diriku sendiri,  bersyukur karena masih bisa menikmati Lebaran bersama keluarga. Juga berdoa agar hidup semua orang, termasuk ketiga tokohku, menjadi lebih baik. Amin.


9 dari Nadira, by Leila S Chudori

Masih belum bisa lepas..

9

Pagi itu Nadira menemukan sosok Sang Ibu di lantai dingin, terbaring bukan karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan : hari ini aku bisa mati. Lantas mengalirlah cerita pendek beruntun yang berisi cinta, penderitaan, kesia-siaan, pengorbanan, lantas titik balik dimana segala menjadi terang. Atau seakan benderang. Masa lalu kelabu. Masa depan antah berantah yang entah kenapa hadir. Kepahitan yang menggerak-gerakkan ujung takdir.

Mungkin Ibu tak pernah bahagia, kata Nadira. Begitu pula ia. Tapi bagi pecinta setia Malam Terakhir, kumpulan cerpen Leila 20 tahun lalu, kebahagiaan cinta yang hadir lewat acara sinetron di televisi kita saat ini jadi tak terlalu penting. Semu bahkan. Yang lebih penting adalah pertanyaan Seno Gumira untuk buku ini. Cinta itu membahagiakan, atau menyakitkan?

9 dari Nadira tak menjawab lugas. Karena jawaban, bagi sebagian besar tokoh buku ini, sulit ditemukan. Pertanyaanlah yang sungguh-sungguh bermakna. Kumpulan cerpen inipun terus berpusar dalam kumparan problem psikologis. Masa kecil, masa lalu menghunjam, kadang mencabik.

Nadira, Kematian Tak Selalu Indah..

Sebelum Kucacah Jiwaku

Sebelum kucacah jiwaku, kutulis dalam blogku hari ini : aku sedang tidak ingin bercinta. Tapi terasa itu bohong belaka. Aku terdorong dalam lubang. Sekadar bergerak dalam kelam. Karena aku kangen padamu. Kangen yang tak kunjung padam.

Memang sudah jadi takdirku untuk selalu jatuh cinta tiap kali memikirkanmu. Jadi bayangkan, bagaimana payahnya jatuh cinta berkali-kali dalam sehari hanya gara-gara memikirkanmu? Dan sialnya, bukan pada siapa-siapa. Tapi cuma padamu. Cuma padamu kekasihku! Mungkin banyak orang akan bilang kalau aku cuma mengejar bayangan senja. Tapi kau adalah senja yang nyata, dan tiap saat memikirkanmu membuatku sengsara. Aku capek. Aku capek jatuh cinta padamu. Tapi, adakah yang bisa menyelamatkanku?

Saat ini aku lewat di depan kafe tempat pertama kali kita ketemu dulu, dan entah kenapa aku ingin sekali memencet nomormu, mengajakmu jalan-jalan di sore yang pasti akan membuatmu begitu mungil dalam tempias cahya. Sayangnya aku masih ingat sms-mu : mas, sore ini aku mesti menemani anakku. ini hari pertama les inggrisnya. sabar ya…

Lantas berhentilah aku di sini. Duduk di atas jembatan layang, melihat kereta gemuruh di kejauhan…

postingan ini adalah bagian pembuka dari sebuah cerpen yang sudah lama kubuat…