Because a blessing can not be saved..

The master says: “Make use of every blessing that God gave you today. A blessing can not be saved.
There is no bank where we can deposit blessings received, to use them when we see fit. If you do not use them, they will be irretrievably lost. God knows that we are creative artists when it comes to our lives. On one day, he gives us clay for sculpting, on another, brushes and canvas, or a pen. But we can never use clay on our canvas, nor pens in sculpture. Each day has its own miracle. Accept the blessings, work, and create your minor works of art today. Tomorrow you will receive others.”
(Paulo Coelho, The Maktub)

Hari ini seorang lelaki setengah baya datang menemuiku dengan membawa selembar kertas. “Dokter, saya mau mendaftarkan istri saya untuk pemeriksaan ekhokardiografi. Istri saya mau dilakukan kemoterapi.” Saya menghela napas panjang.

Teman yang duduk di meja pendaftaran membuka daftar antrian, mencoba mencarikan waktu. “Paling cepat tiga hari lagi Pak. Itupun sudah disisipkan. Maaf.”

Saya menatap seorang Ibu dengan benjolan besar di matanya. Aku tak bisa berkata banyak. Hidup kadang memang tak adil, kataku dalam hati.
“Bapak dari mana?” Entah kenapa pula kutanyakan itu.
“Dari Madiun Dok. Saya di Surabaya kost.”
“Sudah berapa hari?”
“Sebelas hari.”
“Sehari berapa?” Ah, kenapa aku terlalu ingin tahu.
“Dua puluh ribu.”
“Bapak kerja apa?” Pertanyaan terakhir, kataku pada mulutku.
“Tukang becak.”
Mendengar jawaban itu mataku terasa basah. Ah, hidup memang tidak adil.
“Baik Pak, saya akan memeriksa Ibu hari ini. Silakan tunggu di luar ya.”

Mungkin, inilah pahat yang diberikan oleh Tuhan padaku hari ini. Aku akan menggunakannya.