Surabaya. Beribu Peristiwa.

20140821-225443.jpg

Tercerabut dan Kembali.

Ada hal2 yang bikin kangen. Yang aku tahu bahwa ini bagian dari sumber kebahagiaan. Meski tahu itu tak memberikan keuntungan finansial.
Dan itu adalah mengajar.
Setelah hampir setahun, minggu lalu aku datang lagi ke sebuah kampus. Mengajar tentang EKG.
Mata yang menatap bingung, mulut yang menganga atau menguap, ekspresi yang beragam.
Tertawa, bingung, marah, sedih mungkin.
Lepas dari itu, aku tersenyum.
Membuatku kembali bertanya, inikah seharusnya rumahku yang sebenarnya? Tempat satu hari kembali?

Hari-hari ini memang entah kenapa ada rasa tercerabut dari akar. Hidupku cuma berisi kerja kerja dan kerja.
Mengembara dari satu lorong RS ke lorong lain. Lorong yang aku tahu, tak sungguh2 membutuhkanku.
Aku kangen hari2ku di Aurora dulu. Aku merasa punya ‘rumah’ di sana.
Tapi begitulah hidup. Ia jalan terus. Seperti gasing yang memilin.
3656148480_4310192a6a_z

Suatu Siang Saat Langit Demam di Hari Imlek Ditemani Boneka Penjaga.

Langit. Demam. Imlek

Kadang2 kita lupa bersyukur. Dan inilah yang terjadi.
Langit demam.
Di hari Imlek.
Masih untung ditemani Boneka Penjaga, yg kata Langit namanya Viola.

Kadang2 kita juga lupa dan merasa besar. Padahal hidup kita sebenarnya tersambung cuma dari doa-doa orang2 kecil.
Mereka yang tak sengaja kubantu.
Mungkin para pasien. Mungkin juga orang lain yang pernah kutemui.

Alhamdulillah kita masih diberi hidup.
Terima kasih untuk kemarin, hari ini, dan esok.
Apapun yg Kau berikan. Entah itu rasa suka, sedih, sepi, apapun.
Terima kasih.

Singapura, Setahun Kemudian..

Hari-hari ini aku di Singapura. Setahun lalu juga.
Mirip. Tapi tak sama.
Dulu masih sekolah intervensi. Kini tak lagi.
Dulu masih bolak-balik ke Surabaya. Kini tak lagi.

Ah, hidup bergerak terus.
Ada beberapa hal yang harus dilepas.
Ada yang memang hilang.
Ada yang berubah.
Entah kenapa, terasalah kekosongan masa kini.
Rasa kangen pada masa lalu.
Harapan pada masa depan.
Yang seperti televisi hitam putih masa kecilku, terasa kabur. Menyedihkan.
Kadang menyebalkan.

Aku baca di internet hujan melanda tanah air.
Semarang hujan.
Menado dan Jakarta banjir.

Entah kenapa, Singapura hari2 ini biasa saja. Mendung. Tak berhujan.
Padahal kau tahu betapa kini aku merindukan hujan. Hujan yang deras hingga mengetuk kaca jendela.
Juga segelas kopi. Tak banyak. Setengah cangkir saja. Sedikit gula.

Hujan

Paradoks

Ada hal-hal yang tak bisa dimengerti. Termasuk hubungan yang tak linier antara tingkat kepercayaan diri seorang dokter, dengan jumlah pasien yang antri di tempat prakteknya. Dan itu terjadi padaku.

Entahlah. Aku sendiri merasa kecil di tengah duniaku. Di Semarang, kota dimana kini aku bekerja di sebuah RS swasta besar, aku bukan apa-apa. I’m nothing.

Sementara itu, selalu tiap Sabtu aku merasa ragu berangkat ke Apotek Aurora di kota Purwokerto, tempat praktekku yang lain. Masuk ke dalam, dan melihat mata para pasien yang berharap padaku. Why they expecting so much from me? Such a silly creature? Bisakah aku mewujudkan harapan kesembuhan mereka yang ditumpukan padaku? Pantaskah seorang Yusuf Suseno ditunggu-tunggu sedemikian?

Bahkan beberapa kali pasien2 bersedia menunggu 4 jam untuk bertemu denganku. Membuatku merasa sangat bersalah.

Terima kasih kepada para pasien, termasuk Ibu sepuh yang datang dari pojok Brebes, hampir 100 km dari tempatku praktek, dan tersenyum untukku.

Matur nuwun sanget… Tanpa Ibu, Yusuf Suseno bukan apa-apa…

Do you need sometimes, all alone?

Ada hal2 yang harus kita terima.
Termasuk jika kita memang mesti sendiri.

Saat ini aku di Nusa Dua, Bali.
Di Ayodya Resort, salah satu hotel mewah di Nusa Dua.
Sayangnya, sendiri.
Ditulis oleh Semesta kalau hari2 ini aku harus mengikuti Crossroad Institute, yang mengumpulkan para cardiac intervensionist muda di Indonesia.

Tapi, seperti tanya Guns and Roses di November Rain,
“Do you need sometimes, all alone?”

ayodya-resort-bali

Siapa Merenda Waktu di Hari Hujan?

IMG_1342Siapa merenda waktu di hari hujan, merajut benang detik dan menit, menjadikannya kenangan?
Siapa?

Seribu Kelereng

lingkaran-kelereng

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng. Aku ingin membeli dua ribu. Tapi seribu mungkin lebih realistis.

Jika tiap kelereng berarti satu minggu, dan setahun ada sekitar 52 minggu, kurasa 1000 kelereng cukup.

Sekarang aku 37. Kalau aku hidup sampai 67, rerata orang Indonesia, berarti sisa umurku 30 tahun. 30 tahun kali 52 = 1560 kelereng. Seharusnya.

Tapi aku jarang olahraga mbak. Dan tingkat stress pekerjaanku tinggi. Tiap hari mesti melawan Izrail, atau setidaknya berdebat dengannya. Jadi kurasa 20 tahun tambahan sudah cukup baik. Dan ini berarti 1000 kelereng. Mungkin.

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng, kumasukkan ke dalam toples bening, dan tiap minggu sebuah kelereng kularung ke sungai, atau kulempar ke lapangan sepak bola depan rumah.

Tiap hari kulihat toples penuh itu, yang terus kurang satu demi satu.

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng, dan menghabiskannya dengan melakukan hal2 yang sungguh2 ingin kulakukan. Seperti yang pernah kita bilang dulu..

#ditulis setelah membaca posting tentang kisah 1000 kelereng.

Walking After You

tonight I’m tangled in my blanket of clouds
dreaming aloud
things just won’t do without you
matter of fact
I’m on your back

if you walk out on me
I’m walking after you

if you’d accept surrender
I’ll give up some more
weren’t you adored
I cannot be without you
matter of fact
I’m on your back

if you walk out on me
I’m walking after you

another heart cracked
in two
I’m on your back

Lagu jadul Foo Fighter ini jadi ringtone di bulan2 akhir episode hidup di Surabaya.
Hari2 yang kata seorang teman, adalah bulan madu yang kedua dalam kehidupan.
Karena setelah ini, You have to face the fu*king real world
Kalimat yang dalam. Sayangnya, sangat kurang ajar benarnya.

Dan beruntunglah, sebelum terjebak ‘the fu*king real world’, kemarin fellow ndeso ini diberi kesempatan oleh Semesta untuk belajar ke Singapura, ikut AsiaPCR.
Dan bukan aku jika tanpa perjuangan ekstra keras. Termasuk mengurus paspor baru karena yang lama hilang entah kemana.
Meski sponsor terbatas dan harus tidur di hotel kelas backpacker bersama bule, kujalani saja.
Bangun pagi2, dan sarapan roti di pinggir River side.
Sejuk udara sungai dan kesunyian seorang pengembara.
What a hard and wonderful days..
pow

Lepas dari apapun, aku sangat bersyukur karena di sana ketemu orang2 hebat.
Termasuk Antonio Colombo, Shigeru Saito, dll. Pencipta2 textbook cardiac intervensi.
Master dunia.
Dan yang tak terduga, diam2 di pojok, kulihat Prof Teguh Santoso, master intervensi jantung Indonesia membuka buku di stand PG Books.
Meski sedikit malu, begitu beliau terlihat senggang, mulutku kusuruh memperkenalkan diri.
“Saya praktek di Purwokerto Prof. Banyak pasien Prof yang datang ke saya.”

PCR2

Senyumnya langsung melebar.
“Saya waktu kecil mainnya di Kali Kranji dekat rumah,”kata Prof Teguh sumringah. Beliau memang asli Purwokerto, kota yang kini kutinggali.
Kujabat tangan dinginnya yang terkenal. Dalam hati berdoa, semoga satu hari akan tertular virus intervensi dunia dari Prof Teguh.

Kembali ke kehidupan nyataku as a fellow dan bulan madu yang hampir berakhir,
kini, memang ada beberapa hal yang memberati kepala.
Tapi bukankah itu bagian hidup, yg mau tak mau mesti dilalui juga?
Meski kadang berharap, ada seseorang yang dengan ikhlas berbisik padaku.

‘I’m o n y o u r b a c k . . .’

Little Wing

Malam ini, aku kembali mendengarkan lagu lama itu di sebuah resto yang hampir setahun tak pernah kutengok.
Entah kenapa tadi Cinta dan Lintang mengajakku ke sana.
Dan ia, gitaris di Lumbung yang tak kutahu namanya itu masih menyanyikannya seperti bertahun lalu.
Mencabik. Menyayat. Memotong hatiku hingga entah jadi apa.
Hmm… Little Wing, by Jimi Hendrix.

“Little Wing”

Well, she’s walking through the clouds,
With a circus mind that’s running wild,
Butterflies and Zebras,
And Moonbeams and fairy tales.
That’s all she ever thinks about.
Riding with the wind.

When I’m sad, she comes to me,
With a thousand smiles she gives to me free.
It’s alright, she says it’s alright,
Take anything you want from me,
Anything.
Fly on little wing.

Pulang

Image

Malam sudah turun, tanpa gerutu dan tanpa siasat. Seperti jala hitam yang mengepung kota; seperti segalon tinta yang ditumpahkan seekor cumi raksasa ke seluruh permukaan Jakarta. Seperti juga warna masa depan yang tak bisa kuraba.

Paragraf pertama novel Leila S Chudori itu membawaku pada masa lalu. Tentang Eyang Soesatyoku. Juga tentang masa depanku yang seperti juga ia, tak bisa kuraba..

Tapi kurasa, tidak hanya Hananto yang dijemput di April 1968 itu. Tidak juga Eyang Soesatyoku. Hampir semua kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Gelap seperti malam yang dikepung jala hitam, ditumpahi segalon tinta dari seekor cumi raksasa..

Gerimis

Surabaya jarang hujan.
Tapi seminggu ini terus menggerimis.

Lagunya Noah mengawani siang. Sore. Malam. Dini hari.
Termasuk saat primary PCI jam 3 pagi.
Suara kereta lamat2 di kejauhan..

20121206-160324.jpg

Sekolah Memperpanjang Hidup

Hari ini membaca artikel kalau ternyata ada korelasi antara sekolah dan usia. So, bersekolahlah agar hidup lama.

Tapi jangan lupa, sekolah lebih lama berarti penderitaan yang lebih lama. Selain ‘mungkin’ adrenalin rush yang lebih lama pula.. Hanya saja, sampai kapan?

But at least, aku senang menemukan artikel ini.
Jadi punya alasan kenapa aku sekolah lagi. Dan lagi….
🙂

Image

Don’t Take Anything Personally

“Don’t Take Anything Personally. Nothing others do is because of you. What others say and do is a projection of their own reality, their own dream. When you are immune to the opinions and actions of others, you won’t be the victim of needless suffering.”

Kurasa Don Miguel Ruiz benar. Lepas dari kontroversi yang ada, tapi di beberapa sisi ia benar.
Sayangnya ia benar.
Duh, betapa kesepiannya kita..

Hujan yang Menderas di Satu Siang Berpeluh

Sering kita ingin segera berpindah dari satu momen ke momen berikut.
Tak sabar. Bergegas.
Padahal momen berikut itu belum tentu seperti yang kita bayangkan.
Dan satu hari, terjebaklah kita pada kerinduan masa lalu.
Kangen pada ketidaksempurnaan yang kita miliki di momen sebelumnya.

Seperti hujan yang menderas di satu siang berpeluh.
Iklan jeans di desktop yang lupa kuganti. Menghantui tidur.

Sampai dimana kita. Akan kemana kita. Tak ada jawab.
Tak ada yang bisa memberi jawab.
But, at least, we agree that the most beautiful and memorable moment is the journey it self. The experience.
Not the result, the destination.

Di depanku seorang lelaki berjalan di pinggir rel. Tak menoleh padaku. Hidup terus berlanjut seperti biasa.

*foto diambil di stasiun Mojokerto saat berangkat ke Surabaya

Hujan dan Tempat Tak Terpetakan.

Siang tadi hujan. Hujan awal November.
Aku melihatnya dari jendela ruang pertemuan cath lab Tan Tock Seng Hospital, Singapore.
Tempat tak terpetakan di masa laluku.
But it happen.

Hujan yang terasa mirip pernah kulihat dari jendela kamarku di Saigon, Vietnam.
Juga bertahun lalu di rumah dinas Puskesmas saat PTT di Grabag, Magelang.

Tidak semata karena secangkir kopi yang kebetulan ada.
Tapi mereka menyusupkan rasa sepi dalam pikuk.
Menyentak.
Mengirim tanya.
Mengingatkan pada sesuatu.
Sesuatu yang terkait dengan jalan hidup. Takdir. Ketidaktahuan. Momentum. Maktub.
Sesuatu yang entah.
Entah apa.


*foto dari google

Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.

Dini hari. Terperangkap di dalamnya.
Perjalanan sudah begitu jauh.
Tiba-tiba menumpuk tanya.
Lantas sadar, hidup tak teramalkan. Unknown prognosa.

Dini hari. Lamat2 kemresek kaset pengajian dari musholla.
Suara kipas angin. Mencoba menepis panas udara.
Membaca tulisan lama.
Tersentak.
Ah, tujuan hidup yang sering terlupa.

Dini hari.
Dini hari yang kesekian.
Sendiri saja.
Masih di Surabaya.
Sadar, masih belum jadi apa-apa.

Menjadi daun pun belum bisa.

Dini Hari. Dini Hari yang Kesekian.
Esok entah dimana.
Ini kereta.
Jalan.
Tak sampai juga.

Taj Mahal From My Eyes

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kidung Rumekso Ing Wengi

Entah mengapa, hari-hari ini saya sering rengeng-rengeng mendengarkan  kidung Sunan Kalijaga. “Kidung Rumekso Ing Wengi”.

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Yang ingin download mp3-nya ada di sini

Paradoks India (2)

Di hotel Fortune Select Excalibur, aku sekamar dengan seorang fellow dari India. Namanya Ahmad. Ia muslim.
Dan ia bertanya banyak hal.
Ahmed lebih muda dariku. Awal 30-an tahun. Anaknya 2. Laki dan perempuan. Tapi seperti kebanyakan lelaki India, ia agak gemuk.
Tapi jelas ia cukup cerdas. Dan ia berusaha menunjukkan padaku. That’s fine. Itu memang sudah kutahu tentang beberapa ilmuwan India.
Mereka sangat percaya diri. Sometimes intimidatif. Sorry I have to say that..

Hotel tempat konferensi, Oberoi Gurgaon, sangat mewah. Lebih mewah dari Shang Ri La Surabaya kurasa.

Juga RS Medanta yang mensponsori konferensi, punya dokter2 yang pintar. Mereka sudah melakukan hybrid operation di cath lab.
Di saat bersamaan mereka melakukan pemasangan LIMA ke LAD, kemudian merevaskularisasi pembuluh darah lain yang buntu.
Something yang belum bisa dilakukan di Surabaya. Aku tak tahu dengan Harapan Kita atau RSCM.
Tapi di sebelah hotel Fortune, tempatku menginap, berdiri tenda-tenda tempat kaum papa hidup.
Dan ternyata mereka berada di seluruh penjuru India.

Di India, semua ada. Semua mungkin.
Dokter2 pintar, orang2 kaya(orang kaya no-6 sedunia adalah warga negara India).
Juga manusia2 miskin yang sangat-sangat kumuh. Lebih kumuh dari manusia waras Surabaya yang pernah kulihat(at least di Surabaya mereka terlihat pernah mandi meski entah kapan).

Di jalan raya kota Agra dan Delhi kulihat sapi dan anjing yang berkeliaran. Sementara sedan mewah di sampingnya harus berjalan pelan.
Tukang becak yang sangat kumuh. Berpadu dengan lelaki perlente yang menjadi guideku.

Taj Mahal yang sangat cantik.
Di luar tamannya tergeletak gelandangan, tenda mereka yang tak berumah, sampah dan banyak hal yang kurasa tak ada di sekitar Borobudur, icon budaya Indonesia.
India tak bisa lepas dari kitaran manusia-manusia terpinggirkan.

That’s India Sir. Everything is possible here, kata penjaga hotel M House, Agra.
You must be careful during your journey at India. We can be a liar, also a holy man with Cobra at our hand..

Kurasa kalimat yang sama bisa terjadi di Indonesia. Hanya saja mungkin tak seekstrim India. Tak ada orang Indonesia yang jadi nomor 6 paling kaya sedunia. Tapi juga, aku bersyukur masih bisa melihat terminal yang cukup bersih seperti Bungurasih.
Terminal bus Sara Karai Khan, tempatku bertolak ke Agra sangat kumuh. Tak pantas rasanya melihat ia berada di kota New Delhi, ibu kota India.

That’s India. Paradoks India. Tempat dimana mereka yang cantik dan kumuh berpadu. Mereka yang kaya dan buruk lupa menari bersama. Tarian kehidupan yang majemuk dan kaya. Menggairahkan kadang. Tapi sekaligus menyedihkan.

Membuatku bertanya. Siapa di antara kita yang bisa memilih ibu dengan rahimnya tempat kita tumbuh?
Memilih keluarga dimana ia akan dibesarkan, hingga menjadi Dr Praven Chandra, seorang intervensionist India yang sangat handal, atau sim salabim!
Jadilah kau bakal tukang becak kurus yang terbatuk saat membawa turis !
Kenapa ini terjadi? Is it fair?
Siapa yang berani bertanya pada Tuhan tentang hal ini?

That’s India. Paradoks India.

Paradoks India (1)

Ada banyak hal yang kudapat selama aku di India. Beberapa menghantamku hingga dalam.
Mungkin karena ini kali pertamaku menghadiri konferensi intervensi tingkat internasional.

Setelah perjalanan panjang hampir 18 jam(jika dimulai dari kamar kost), akhirnya aku mendarat di bandara Indira Gandhi Delhi.
Satu pagi yang hampir saja berbeda jika aku tak memaksa untuk ke bandara Juanda, padahal petugas Silk Air bilang seat sudah penuh.
Satu pagi yang bisa saja terbangun di kamar kost jika aku tak bertanya pada orang yang tepat.
Juga pagi yang akan seperti biasa jika aku tak membuka email, membacanya dengan teliti, dan bertekad untuk datang ke kursus khusus untuk fellow ini.

Kurasa, kalimat terakhirlah yang terpenting.
Dan tekad itu pula yang menghempaskan.
Karena ternyata, di sana aku bertemu dengan orang2 yang punya passion sangat besar pada karir intervensi jantung.
Juga pengalaman segudang.
Dan itu membuatku merasa kecil.

Di ruang kursus itu aku menciut.
Ruang pertemuan Medanta Hospital di Gurgaoun, Delhi, India itu berasa asing.
Kecil. Sendiri. Sepi.
Gagap pada lautan luas ilmu yang ternyata baru kucicipi seteguk. Sementara di depan sana ada manusia yang mungkin hampir muntah-muntah karena kembung.
Aku kecil. Sekecil semut.
Yang mengajar di sana terlihat besar. Sebesar gajah.
Sayangnya, ini bukan adu jari dimana semut yang akan menang, ini adu ilmu. Dan semut pun terinjak kalah.

Dan gerak menciutku makin mantap ketika hari berikut konferensi dimulai.
Orang2 sepenjuru Asia bicara. Tergagap rasanya mengetahui kalau ketrampilanku ternyata belum apa2.
Bagaimana mungkin aku bisa berjalan gagah di antara mereka? Terasinglah aku di sudut.

Berusaha menelan makan siang khas India yang masih aneh di lidah. Mual.
Kepalaku nyeri. Tak kunjung reda dengan tramadol. Mungkin aku butuh sedative agar bisa tidur.
Salah satu yang sangat terkenal adalah Dr Muramatsu. Seorang ahli CTO dari Yokohama, Jepang.
Here he is..

Tekanan di ruang konferensi merambat ke hidup. Kulihat kisahku. Ada beberapa hal yang entah kenapa terjadi.
Masuk ke RS pemerintah, dijanjikan jadi PNS, dan tak kunjung bisa. Lewat 2 tahun ujian CPNS dan lolos seleksi pun tidak.
Buset dah! ☺
Saat resign dan memutuskan sekolah, dibilang salah.

Juga banyak hal lain. Rasanya bebanku terlalu berat. Bisakah aku membahagiakan orang2 yang kusayangi?

That day, I really depressed.
Bisakah aku menyelesaikan semua?

to be contined.. (pesawat ke surabaya sudah mau boarding)

Delhi, Oktober 2012

Hidup toh harus jalan terus.. Dan di sinilah aku. Di Delhi, India..

Di atas pesawat.

aku menulis ini di atas pesawat menuju delhi, india.
padahal seharusnya tidak.
menurut rencana, seharusnya aku masih tidur di kamar kostku, ngobrol dengan ibu kost yang putrinya barusan operasi kandungan di griu.
makan malam, lantas berpikir apakah besok kasus-kasus yang ada bisa kuselesaikan dengan baik atau tidak.

tapi itu semua tak terjadi.
pagi aku bangun, lantas berpikir tentang oleh2 yang pagi ini akan kuberikan pada seorang teman yang sudah banyak membantu.
berangkat ke RS, naik sepeda.
menyelesaikan 2 kasus. sempat terpikir untuk lanjut, tapi karena satu dua hal aku memutuskan untuk ke RS Soetomo.
eh, ternyata di sana belum mulai. tiwas kesusu pikirku..
iseng aku membuka ipad dan ternyata 3G dari simpati sudah lancar.
lantas kuputuskan untuk sinkronisasi email yahoo.

ada email dari India… kupikir biasa saja. pemberitahuan kalo konggres multi tanggal 5..
kubaca lebih teliti..
wedeww…
ternyata tertanggal 29 Sept, dan aku diundang mengikuti kursus untuk fellow hari Kamis!
saat itu rabu siang, padahal tiketku berangkat baru esok! ini berarti besok aku akan melewatkan kursus utk fellow di India.
segera kuprint email, telpon berusaha utk mengubah jadwal tiket(yang tak kunjung ada jalan keluar), sembari tetap mengasisteni dr Jeff..

saat kasus CTO ditunda dengan sukses, segera kukayuh sepeda, pulang ke kost, ngepack barang, masukkan ke koper.
sempat terpikir untuk berhenti di sini.
kenapa harus tergesa?
kenapa harus memaksa diri?
ini bukan perjalanan naik bus ke jakarta atau jogja. ini ke india!
so, kansku untuk join course hari Kamis sangat kecil. karena bahkan dari Silk Air bilang tempat duduk utk ke Singapur hari ini penuh.

tapi kuputuskan utk mencoba. hingga titik terakhir.
berjalan di bawah panas matahari, menyeret koper.
bertekad berangkat malam ini ke Delhi.
aku harus sampai ke sana besok. how? entah.

naik becak ke jalan raya, naik taksi, dan untungnya aku tak mampir2 ke silk air di basuki rachmad. padahal sempat terpikir.
telpon travel agent. dari situ aku tahu bahwa pemikiran untuk mencari tiket pesawat lain ke Singapur lantas berganti dg SQ(Sing Airlines) tidaklah mungkin. itu akan menyebabkan semua tiketku hangus tak terpakai.

di bandara, aku sempat bingung mau bertanya pada siapa.
akhirnya kudatangi loket jas dan petugasnya tiada. insist aku bertanya, dan ternyata yang menemuiku malah petugas dari silk air.
ia yang menyarankanku untuk menunggu dan mencoba hingga loket cek in buka.
even it looks impossible, but it worth to try in next 2 hours.

dan…
alhamdulillah dapat tiket!
🙂

then, now I’m flying…

Don’t Take Yourself So Seriously..

Drop the idea that you are Atlas carrying the world on your shoulders. The world would go on even without you. Don’t take yourself so seriously.

Kalimat di atas menghantuiku hari2 ini…. So, biar saja…

Taman Langit

Kebahagiaan. Pernahkah kita benar2 bisa menggenggamnya?

Ada tumpukan buku di rak. Puluhan jumlahnya. Mulai dari yang berbau agama seperti La Tahzan, sampai tulisan ilmiah Prof Daniel Gilbert dari Harvard. Stumbling on Happiness.

Tapi tak semuanya menjawab pertanyaanku tentang kebahagiaan. Dan jika aku mendengarkan versi instrument dari lagu Peter Pan, Taman Langit, maka makin lengkaplah pertanyaanku tentang kebahagiaan. Idris Sardi bermain apik. Mengiris hati. Bahagiakah dia?

Ah, adakah taman, dimana cinta dan kebahagiaan sungguh2 hadir mengisi ruang? Tak sekadar utopia?

Tebu

Di masa lalu aku pernah mencarinya. Lebih tepatnya, mencuri.

Sore itu aku berlari di sepanjang rel, mengejar kereta tua yang gemuruh. Menarik batang tebu, lantas bersama beberapa teman, termasuk sahabat kecilku Din (dimana kau sekarang Din?), menjauh dari suara teriak pengawas yang marah. Bertelanjang kaki. Wajah kecil yang beringus dan penuh keringat. Lelah namun puas karena telah menaklukkan sesuatu.
20120920-225257.jpg

Entah kenapa, ingatan akan hari-hari mencari tebu itu bermain kembali di pelupuk mataku.
Selain karena satu momen yang ditakdirkan hadir, tapi juga karena akhirnya kusadari, aku tak pernah sungguh2 berubah.
Aku masih tetap memilih untuk berlari, mencari tebu lain untuk ‘dicuri’. Meski itu bukan pertaruhan yang mudah.
Tapi, bukankah sebagian orang memang ditakdirkan untuk tak berhenti?

Dan terjebaklah aku di sini. Pelarian yang lain.

Dan bukan tanpa resiko. Termasuk bangun di kamar kos. Sendiri…

Risk Unusual

Sebagian keputusan yang kuambil memang tak biasa.
Aku tahu itu. Sebagian beresiko. Sayangnya tak hanya satu. Banyak. Tak terhitung.
Termasuk saat aku meninggalkan RS Margono, memutuskan untuk sekolah intervensi.
Budeku di Purwokerto mencandaiku, Mas Yusuf ki SpS, alias spesialis sekolah…:)
Dan sepertinya beliau benar. Aku telah dikutuk untuk tak berhenti.

Tapi seperti Jim Rohn bilang,
If you are not willing to risk unusual, you will have to settle for the ordinary.

Sayangnya resiko melihat waktu berlalu begitu saja itu lebih tak bisa kuterima.
Lantas, jika hari2 ini aku harus naik kereta tiap minggu, sekolah lagi di Surabaya daripada menjadi ‘cardiologist’ satu2nya di RS Margono dg segala attributnya, kurasa itu harus kuterima dg lapang dada.
Begitu juga dengan kamar kostku yang sempit, sepeda onthel yg mesti kukayuh tiap hari menuju Soetomo.. Persis seperti saat aku menjadi resident bertahun lalu..
Juga rasa sepi kehilangan kesempatan untuk mendidik, membagi inspirasi pada para murid.
I really miss that moment.. Berdiri dan memberikan sesuatu pada mereka..

But, anyway, let’s enjoy the ride…

20120905-063141.jpg

Welcome Noah

Senang Ariel keluar. Lepas dari apapun, kurasa lagu2nya bagus. Termasuk yang terakhir..


NOAH – SEPARUH AKU

Dan terjadi lagi
kisah lama yang terulang kembali
kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani

Aku ingin kau merasa
kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Didekatmu saat engkau terjatuh

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi milikku
karena separuh aku dirimu

Langit

Langitku. Kangenku.

20120816-031716.jpg

Never let the moment pass and always take the risk, because 30 years from now you’d rather be saying ” Oh, well ” than ” What if “…….

20120816-043551.jpg

Sekali Lagi, Pagi yang Entah

Pagi terakhir di Vietnam. At least untuk tahun ini.
Ada hal2 yang kubawa. Ada beberapa tertinggal.
Atau ditinggalkan. That’s life, isn’t?

20120707-065306.jpg