For One More Day, Ibu…

baru saja menyelesaikan buku For One More Day-nya Mitch Albom.
buku itu mengingatkanku pada sosok ibu.

ibuku.

ah, adakah yang bisa menggantikan ibu?

bahkan ketika hariku kini telah lewat di atas 30.

beberapa keputusanku, adalah hasil dari didikannya.
sebagian pilihanku, terpengaruh oleh nilai2nya.
dan aku yakin, sebagian besar pencapaianku, terjadi karena doanya.

For One More Day mencambuk keras tentang minimnya rasa syukurku karena masih bisa bertemu ibu.

Bu,

matur nuwun sanget Bu….

Braunwald dan Patch Adams

Menjadi cardiologist tidak harus serupa Braunwald, Hurst, Grossman, Feigenbaum ataupun Topol, dewa-dewa pencipta textbook cardiology.

Patch Adams, dengan caranya sendiri, tetap memberi arti buat dunia kedokteran.

Sekali lagi, aku percaya bahwa tumbuh tidak mesti harus menjulang tinggi, tapi juga dengan mengakar, membagi daun, menyuburkan tanah sekitar rumah.

Tapi, mungkinkah kita menempuh kedua jalan itu bersamaan?

🙂

Batu Besar

kemarin ada sebuah batu yang cukup besar menghadang perjalanan.
dan layaknya batu2 karang lain dalam hidup, ia datang tiba-tiba, tak dinyana dan seringkali membuat sedih.
lantas sekali lagi aku memasrahkan segala sesuatu pada Allah.
Ia telah mengatur hidupku sedemikian rupa.
Ia telah membawaku sejauh ini.
akankah Ia mensia-siakanku? kurasa tidak.

apalagi saat aku mengingat segala hal yang sudah diberikan padaku selama ini.

nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat kaki yang kembali bisa berjalan, istri dan anak2ku, pengalaman hidup dan kasih sayang dari pasien2ku, segala yang pernah kumiliki dan kualami selama ini.

lantas memikirkan kembali teman2ku yang sudah tiada, juga almarhum pasien2ku…

sekali lagi, batu yang kini kuhadapi bukanlah apa2 dibanding itu semua…

33 tahun

33 tahun. 33 tahun. apa makna 33 tahun bagiku?
masih menjadi seorang pejalan tidur, kata Morrie..
seharusnya mulai hari ini, urusanku cuma satu : membuat hidupku sesadar-sadarnya, sepenuh2nya. itu saja.

🙂

“Tumbuh Berakar”

pohon.jpg

“Hidup cuma sekali, untuk itu mesti berarti.
Tapi hidup yang tumbuh tak selalu mesti menjulang tinggi.
Tumbuh dan berarti juga bisa dengan mengakar, daun rimbun melindungi.
Hidup dengan kesadaran penuh akan kini yang fana, mencintai seremeh apapun yang dikerjakan, memberi kasih sayang terluas yang bisa, dan tak lepas dari rasa syukur pada tiap tetes kehidupan yang dilimpahkan. “

‘ Itu lebih dari cukup.’

Forrest Gump

forrest.jpg

seseorang menulis untukku.
Tawaran bisa datang dalam bentuk macam-macam.
Pilihan hidup HARUS didasarkan pada tujuan hidup, BUKAN sekedar untuk mengambil jalan pintas yang akan disesali kemudian.

Nice quote!

lantas pagi ini nonton lagi Forrest Gump.
film yang menunjukkan sisi kuat dan tak kenal takut dari sikap sederhana, tulus dan lurus.
tapi tetap menikmati tiap detik hidup.
sikap pasrah pada garis takdir, sekaligus membuka peluang pada tiap detail perubahan yang disodorkan semesta.

Forrest Gump juga berkisah tentang nasib Jenny, kekasih tercinta Forrest yang tak pernah berhenti mencari.
meski pada akhirnya tahu, seperti juga Chairil anwar menulis menjelang kematiannya,

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

“masa depan”

“berumah di desa, terus menulis dan berbagi untuk dunia, menyembuhkan pasien2ku dengan sempurna, membesarkan anak2ku penuh kasih sayang,
menyebarkan ilmu pada sesama, menyiapkan pertemuan dengan Gusti Allah tercinta…”
sumilir angin

Sebuah Surat yang Indah dari Seorang Kawan

saat aku bertanya pada seorang kawan tentang pilihan, dan ia menjawab dengan sebuah surat. sebuah surat yang indah…

Alhamdulillah, kamu lagi diberi banyak kesempatan. Alhamdulillah, sedang disuguhkan pilihan-pilihan. Ingat-ingatlah rasa itu: berada di depan pintu-pintu terbuka. Ingatlah rasa ini manakala suatu hari nanti kamu berada di depan pintu-pintu tertutup agar kamu ingat bahwa segala sesuatu mengenal musim. Pasang-surut. Tapi ketika berhadapan dengan pintu tertutup, tetap bersyukurlah, karena setidaknya kamu tidak akan kebingungan harus memilih yang mana 😉

Tentang jalan mana yang harus kamu pilih, pilihlah jalan yang membuat hatimu bergetar. Pilihlah jalan yang membuatmu merasa bersemangat dan berpengharapan, rendah hati dan aktif. Kalau membuat kamu malas, enggan… aku pikir itu bukan jalan untuk kamu tempuh.

Jangan pernah takut soal rizki. “Belahan jiwa” kita akan mencukupi. Sekali lagi mencukupi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan. Percayalah, kecukupan akan selalu datang tepat pada waktunya.

Kamu boleh minta pendapat guru-gurumu, tapi menurutku dengarkanlah pendapat dari Guru Sejati. Dengarkanlah ucapanNya yang tanpa kata-kata — hanya bisa didengar melalui rasa.
Kamu boleh ke kota itu untuk menimbang-nimbang, tapi jangan lupa untuk pulang. Bahkan sebelum, selagi dan setelah ke mana-mana sebaiknya kamu pulang. Pulang ke intimu. Berpasrahlah. Berserahdirilah. Tidak perlu minta ini-itu karena kita nggak tahu apa yang harus kita minta… karena kita sendiri buta terhadap apa yang terbaik untuk diri kita. Percayalah, ketika kamu sudah benar-benar ikhlas… sudah ridho utuh, penuh, seluruh… kakimu bisa melangkah di jalan mana kamu harus melangkah, tanpa kamu harus menggerakkan apa-apa.

Apapun pilihanmu, jalan manapun yang akan kamu tempuh, ketahuilah bahwa sebenarnya semua itu sudah diatur oleh Sang Belahan Jiwa. Dia telah mengatur semua itu dengan detail. Sedetail-detailnya. Tidak ada satu noktah kecilpun yang luput. Jadi seandainya, kelak kamu merasa bahwa kamu telah salah melangkah, itu sebenarnya bukan kesalahan. Memang sudah semestinya jalannya seperti itu.

Aku setuju bahwa ini bukan perang. Kamu hanya melengkapi jalan yang mesti kamu tempuh. Memenuhi perjalanan takdirmu. Melengkapi mozaik masa depanmu. Benar kan komentarku kemarin… bahwa kamu sudah bisa melihat… bahwa gunung sebenarnya bukan gunung…

Akhirnya, aku tutup dengan kata-kata dari guru kita, The Warrior of Light:

For the warrior of light
there are no ends, only means.
Life carries him from unknown to unknown.
Each moment is filled with thrilling mystery:
the warrior does not know

Leon

tengah malam, habis nonton LEON.
sebuah film lama yang pertama kutonton lebih dari 10 tahun lalu.

200px-leon_poster.jpg

tentang seorang lelaki buta huruf bernama Leon(Jean Reno)  yang hidup hanya bersama sebuah tanaman hias selama bertahun-tahun, dan berprofesi sebagai pembersih. the cleaner.
dan ia memang sungguh bersih melakukan pekerjaannya. ia pembersih manusia. pembunuh bayaran. seorang pro. seseorang yang hidup dengan irama monoton selama bertahun-tahun.
lantas semua berubah saat ia membuka pintu apartemennya untuk Mathilda(Natalie Portman), seorang gadis kecil 12 tahun yang seluruh keluarganya dibunuh oleh polisi khusus narkotika (DEA), Stansfield dkk(Gary Oldman).
mathilda menganggap leon adalah lelaki sejati, seseorang yang akan bisa membantunya membalas dendam. mathilda jatuh cinta. tapi cinta di sini jauh dari masalah seksual, selain kadang ’intermezo’ mathilda yang dalam masa pubernya ingin bereksplorasi secara seksual, dan tak pernah ditanggapi leon.
leon tercerabut dari dunianya, memasuki dunia baru yang berwarna.
lantas datanglah hari yang paling bahagia.
hari setelah leon terpaksa menyerbu markas DEA untuk menyelamatkan mathilda yang nekat hendak membalas dendam.
malam itu mathilda mengenakan gaun pembelian leon, lantas ia memaksa leon tidur di kasur, meluruskan kakinya, mengatur agar tangan leon yang kaku memeluknya.
meninggalkan kebiasaan puluhan tahunnya yang selalu tidur di atas kursi dengan setengah mata terbuka.
inilah malam paling membahagiakan bagi leon. malam dimana ia bisa tidur nyenyak hingga mendengkur.
saat esoknya ia memaksa mathilda pergi karena apartemen mereka diserbu polisi, ia berkata, ”kau tak usah khawatir. aku akan hidup. inilah saatnya aku sungguh merasa ingin meneruskan hidup.”
sesuatu yang tak pernah ia miliki selama bertahun-tahun.
dari leon aku kembali belajar bahwa hidup selalu akan berubah.
meski hanya semata karena membuka pintu.
bersiaplah.
leon.jpg

Apapun yang Kau Dapatkan Hari Ini…

apapun yang kau dapatkan hari ini, itu jauh lebih baik daripada Pras, Anggek, dan Kothe.
mereka bertahun di dalam kubur, diam dan mati.
sedang kau bertahun pula masih diberi Allah kesempatan bernafas, hidup, menimang dan melihat anak2mu tumbuh, juga bermimpi… so, kenapa mesti bersedih?
jangan biarkan dunia melukai jiwamu, apapun yang mereka katakan dan perbuat padamu.
karena bukankah Allah terbukti sangat menyayangimu? kenapa tidak bersyukur, menikmati hari ini, menjadikan tiap detiknya sesuatu yang bisa dikenang sekaligus menjadi bekal menjelang kematian?
sungguh tiap harimu adalah anugrah. tiap harimu adalah keajaiban…

terima kasih gunung..

telaga warna

hari minggu pagi pulang kampung sekalian pergi ke telaga warna di dieng, wonosobo, jawa tengah.
termasuk menyambangi kembali gua semar, tempat Pak Harto pernah bersemadi. eh ternyata siangnya ia meninggal.

hmm, jadi ingat lembaran kelopak mawar yang tersebar di depan pintu gua. sekaligus bau wangi kemenyan menusuk hidung..

sesaat disana aku cuma ingin berhenti sejenak. diam. meniru gunung.

terima kasih gunung…

Pursuit of Happiness

jaden_smith16.jpg

Dari film itu ada satu kalimat yang sangat kuingat. Kalimat yang diucapkan Gardner pada Christopher saat mereka usai bermain basket. Satu hari aku ingin mengatakannya pada anakku.

“Hey… Don’t ever let somebody tell you that you can’t do something. Not even me. You got a dream, you’ve got to protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you that you can’t do it. You want something, go get it. Period…”

Making mistakes is just part of life.

Everything tells me that I am about to make a wrong decisions, but making mistakes is just part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back where I came from because I didn’t have the courage to say “yes” to life?[Paulo Coelho]

Kalimat yang kuambil dari seorang kawan sekaligus guru terasa memerihkan hati. Mengapa?  Karena ternyata aku kadang masih memilih untuk berkata tidak pada kehidupan.

Memilih untuk berlindung dibalik di balik tembok zona nyamanku.

Babel, Sendiri.

babel1

Malam ini aku menonton Babel.

Sebenarnya sudah lama kepingin, tapi belum sempat. Memang ada Brad Pitt di sana, tapi bukan itu yang terpenting.
Kurasa Babel sangat menyentuh. Ada kesepian di sana. Ketulusan dan kasih sayang. Terasa jauh, tapi mengada.
Juga hati rapuh. Luka mengerati jiwa manusia.
Mengarat. Menggerak-gerakkan daun kering di musim kemarau.
Perlahan. Jatuh. Tersapu angin.
Sendiri.

Tak ada yang biasa, sederhana, hanya dan sekadar

25 desember 2007 menjelang magrib

Aku masih belum tahu mau kemana setelah ini. Tapi apakah pertanyaan itu penting? Apakah pertanyaan : setelah ini tinggal dimana, bekerja dimana, berkarir dimana, itu sungguh berarti untuk dijawab? Bukankah kepastian yang ada adalah : hidup sesungguhnya cuma hari ini, sedang di depan sana yang pasti cuma satu : maut belaka?

‘hold on my heart’ nya phil collins melayang-layang di udara magrib surabaya yang mendung. hujan gerimis barusan. sebentar lagi malam.

Dan memang sungguh cuma hari ini yang akan kujalani. Kemarin dengan segala kesenangan, kesalahan, keburukannya telah berlalu. Sedang esok dengan bayang-bayangnya belum tentu terjadi, belum tentu datang.

Lantas, kenapa tidak sungguh2 menghisap kuat napas hari ini, jalani segala pengalamannya sepenuh hati, sesadar mungkin?

Mungkin cuma itu satu-satunya cara agar kita bisa merasa bahagia. Hadir pada detik ini. Pada tiap hela napas, tiap langkah, tiap kedipan mata, tiap suara melintas di telinga. tiap keputusan, tiap keindahan, tiap kegagalan, tiap kesalahan, tiap tawa, tiap rasa sakit, tiap apapun.

Lagipula aku tahu, ada banyak orang di dunia ini, saudaraku yang buta, stroke, dan cacat. Saudaraku yang tengah menghitung hari di bangsal rumah sakit. Saudaraku yang menunggu di depan pintu kamar operasi. Mereka pasti ingin sekali bisa melakukan sesuatu yang kuanggap biasa dan sederhana seperti yang kulakukan.

Hanya sekadar untuk duduk, melihat layar komputer, menggerakkan jari, dan menuliskan sederet kalimat ini. Kalimat yang bahkan berisi keluh kesah.

Ah, sesungguhnya tak ada yang biasa, sederhana, hanya dan sekadar!

Taman adalah simbol pikiran

Taman adalah simbol pikiran. Jika engkau merawatnya, bunga-bunga akan bermekaran. Jika kau biarkan racun pikiran bertebaran, kedamaian pikiran dan harmoni batin akan hilang darimu.

Jagalah pintu gerbang tamanmu, jangan biarkan satupun pikiran negatif muncul. Biasakan berpikir jernih dan sederhana.

Selalu ingat, bahwa kita tidak bisa mengendalikan dunia di sekitar kita. Tapi kita dapat mengendalikan pikiran kita, respon pikiran kita terhadap dunia. Ada perbedaan bermakna saat kau lihat cangkir setengah penuh dan bukan setengah kosong. Ketika kau membentuk kebiasaan mencari hal positif dalam setiap situasi, hidupmu akan bergerak menuju dimensi tertinggi. Kamu mulai mengendalikan takdirmu.

Dan satu hal : tidak ada kesalahan dalam hidup. Yang ada hanya pelajaran. Tidak ada pengalaman negatif. Yang ada adalah kesempatan untuk berkembang, belajar, dan kemajuan sepanjang jalan menuju penguasaan diri. Dari perjuangan muncul kekuatan. Bahkan rasa sakit dapat menjadi guru yang sangat baik.

disarikan dari  Robin Sharma, The Monk Who Sold His Ferrari

Beasiswa ke Perancis..

beasiswa3.jpg

Siapa tahu lembaran kertas ini adalah sebuah pertanda. Mungkin untuk saya. Tapi siapa tahu ini juga takdir Anda?

Bercakap dengan Tuhan

Sudah hampir sebulan tulisanku tidak lolos di media. Kadang terasa capek juga menunggu. Tapi kurasa semua itu memang harus kulalui. Bukankah dulu aku berasal dari tiada? Mengapa sedih kalau sekarang ‘sementara’ tak ada?

Jadi ingat dengan definisi zuhud yang kutulis 5 tahun lalu di cermin rumah :

  1. Tidak senang saat mendapat dunia
  2. Tidak sedih saat ditinggalkan dunia.
  3. Tidak sibuk oleh dunia hingga lupa.

Rasanya sudah jauh sekali aku dari rasa zuhud itu. Terlalu disibukkan dengan segala ‘esemelekete’ dan ributnya jagad pewayangan ragawi.

Ah, kurasa sudah saatnya aku kembali pada gua hiraku. Semoga saat keluar bisa berbisik, “Nak, Bapak sudah bisa lagi mendengar suara dan bercakap dengan Tuhan. Kamu sekarang pingin apa Nak? Bahagia?”

Lowongan CPNS, Membunuh atau Menghidupi Impian?

Abdul Kalam, mantan presiden India selalu mengatakan, “Bermimpilah, karena mimpi akan menuntun kepada pikiran dan pikiran menuntun pada tindakan.” (Kompas 21/11/07)

Tapi kenyataannya bukan itu yang terjadi. “Mengapa hati manusia tidak menyuruh mereka untuk terus mengejar impian-impian mereka?” Pertanyaan Paulo Coelho dalam novel legendaris The Alchemist itu mencuat di tengah bertebarannya informasi tentang lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di internet.

Ah, siapa yang tak ingin memiliki pekerjaan, berpenghasilan tetap serta memiliki status di masyarakat seperti mereka? Sebagian besar dari kita  sepertinya akan menjawab ‘ya’ untuk pertanyaan itu.

Hal ini dibuktikan oleh membludaknya peminat tes penerimaan calon Pegawai negeri sipil(CPNS) yang dilakukan oleh berbagai departemen. Contohnya adalah tes CPNS Departemen Kehutanan beberapa minggu yang lalu. Terdapat 42.000 pelamar se-Indonesia hanya untuk memperebutkan 550 kursi.

Apa sebenarnya apa yang mendasari sebagian dari kita berbondong-bondong mengikuti tes yang sangat kompetitif seperti itu? Mengapa kita cenderung memilih berlindung di zona nyaman sebagai PNS dan bukannya membuka peluang tanpa harus menghamba pada orang lain, termasuk pada Pemerintah? Baca lebih lanjut

Because a blessing can not be saved..

The master says: “Make use of every blessing that God gave you today. A blessing can not be saved.
There is no bank where we can deposit blessings received, to use them when we see fit. If you do not use them, they will be irretrievably lost. God knows that we are creative artists when it comes to our lives. On one day, he gives us clay for sculpting, on another, brushes and canvas, or a pen. But we can never use clay on our canvas, nor pens in sculpture. Each day has its own miracle. Accept the blessings, work, and create your minor works of art today. Tomorrow you will receive others.”
(Paulo Coelho, The Maktub)

Hari ini seorang lelaki setengah baya datang menemuiku dengan membawa selembar kertas. “Dokter, saya mau mendaftarkan istri saya untuk pemeriksaan ekhokardiografi. Istri saya mau dilakukan kemoterapi.” Saya menghela napas panjang.

Teman yang duduk di meja pendaftaran membuka daftar antrian, mencoba mencarikan waktu. “Paling cepat tiga hari lagi Pak. Itupun sudah disisipkan. Maaf.”

Saya menatap seorang Ibu dengan benjolan besar di matanya. Aku tak bisa berkata banyak. Hidup kadang memang tak adil, kataku dalam hati.
“Bapak dari mana?” Entah kenapa pula kutanyakan itu.
“Dari Madiun Dok. Saya di Surabaya kost.”
“Sudah berapa hari?”
“Sebelas hari.”
“Sehari berapa?” Ah, kenapa aku terlalu ingin tahu.
“Dua puluh ribu.”
“Bapak kerja apa?” Pertanyaan terakhir, kataku pada mulutku.
“Tukang becak.”
Mendengar jawaban itu mataku terasa basah. Ah, hidup memang tidak adil.
“Baik Pak, saya akan memeriksa Ibu hari ini. Silakan tunggu di luar ya.”

Mungkin, inilah pahat yang diberikan oleh Tuhan padaku hari ini. Aku akan menggunakannya.

Nous allons visiter Paris….

kursus-perancis5.jpgkursus-perancis3.jpg

kursus-perancis4.jpg

Kursus Perancis. Sungguh satu perjuangan yang cukup berat.

Mungkin karena selama ini aku belum pernah merasa sebodoh ini.

Belum pernah merasa menjadi yang ‘tertua’ tapi yang ‘terbelakang’. – emang biasanya di depan mas? 🙂

Tapi toh akhirnya aku bisa menyelesaikan langkah kecilku ini. Setelah sempat beberapa kali terpikir untuk menyerah. 😦

Terima kasih pada madame Ami yang telah sabar membimbing muridnya yang
agak malas dan telmi ini. Juga pada teman-temanku seperjuangan  : nisa, prahesa, felix, ully, ginza, patricia, ifa, linda, hafidz, ravi… Satu hari kita reuni di Paris ya.. Tepat di halaman Le Musée du Louvre…

Ke Paris2

paris_musee_louvre_08.jpg

Paris, Musim Dingin 2006

Meski ajang pembantaian bagi para pembangkang itu sudah berlangsung hampir dua tahun yang lalu, bayang-bayang peristiwa itu masih sering menyergap, menghisap sebagian hidupnya sampai habis. Pagi itu, dini hari setahun lalu yang lelaki itu ingat benar dinginnya, suara dering telpon terus tak henti-henti. Tangannya gagap meraih.

“Halo.” Suara di lawan bicaranya hampir tak terdengar, cuma ada desau angin dan deras hujan. Cuaca begitu buruk, gumamnya gelisah.
“Halo.”
“Halo Dok. Ini dari UGD rumah sakit. Ada banyak korban gawat darurat datang. Sebagian besar dengan luka tembak. Dokter jaga mengharap bantuan Dokter.”
“Ok. Segera ke sana.”

Saat menutup telpon dan menatap sosok wajah di cermin, dilihatnya wajah yang letih dan berkabut. Tapi entah mengapa kantuk tiba-tiba menguap dari kamar. Diliriknya jam dinding, tepat pukul 3 pagi. Lelaki itu teringat pada ancaman kelompok pembangkang untuk melakukan aksi besar ke kota memprotes hasil referendum yang mereka nilai dimanipulasi Pemerintah Pusat. Tapi itu besok. Bukan malam ini. Mungkinkah militer sudah bergerak?

Lelaki itu harus menguatkan diri saat melihat begitu banyak pasien berdarah di UGD. Dua puluh korban luka-luka, separuhnya luka tembak di organ vital. Hampir semua dengan syok akibat perdarahan. Berliter-liter darah mengalir, dan kata seorang kawan, jalur bantuan Palang Merah Internasional ditutup.

Pasien pertamanya adalah seorang pedagang pakaian di pasar kota berusia tiga puluh dua tahun, luka tembak di dada. Paru-paru kanannya mengempis. Pneumothorax. Seorang perawat berbisik,”Bagaimana Dok?” Ia menggeleng. Pasien itu datang dengan paru-paru kiri tak tersisa karena TBC. Baca lebih lanjut

the butterfly effect and my life without me

habis nonton the butterfly effect di transtv.
film fiksi yang bagus. tentang seseorang yang bisa menggunakan ingatannya buat kembali ke masa lalu, dan mengubah masa kini.
di tengah2 nonton film itu aku juga teringat film yang pernah diputar di metrotv.
judulnya : my life without me.
tentang seorang perempuan muda yang terkena kanker, dan ia menggunakan sisa waktunya untuk melakukan apa yang ia inginkan sebelum mati.
pun juga menyiapkan segala sesuatu untuk kehidupan orang2 terdekatnya sebelum ia mati.

ingatan akan my life without me memaksaku berpikir : apa yang sebenarnya kuinginkan dalam hidup?
dan anggap saja aku akan mati dalam hari-hari ini, sungguhkah aku telah melakukan hal-hal yang sungguh bermakna, sungguh2 kuinginkan dalam hidup?

the butterfly effect juga membuatku sungguh2 sadar, bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi yang sering kita sesali.
sayangnya kita tak memiliki kemampuan untuk mengubahnya seperti evan, tokoh utama film itu.
mungkin karena sebenarnya kita tak sungguh2 sadar saat memilihnya.

ah, sungguh kita ini pejalan tidur, kata seorang teman.
jarang sekali bangun dan hidup untuk detik ini. saat ini.
padahal seharusnya tidak.

tidak ada yang kebetulan dalam hidup. dan aku yakin film ini adalah pelajaran dari Allah untukku.

Gunung Slamet 1998

Hari ini gelap dan dingin. Matahari terbalut mendung di barat. Kakiku letih dan perih. Air di kantong tinggal setengah liter lagi. Lama kelamaan, berjalan seperti mau bunuh diri. Base camp Bambangan masih terasa di angan-angan.
Tersaruk-saruk di antara semak dan rumput basah kena hujan pagi-siang, lumpur di sepatu tak terkira tebal. Bukk! aku terduduk di lumpur berbatu. Ini sudah yang kedua belas kalinya. Memang keseimbangan yang kumiliki hampir mati inderanya. Terlalu mabuk oleh air hujan dan lumpur.

Ini adalah puncak gunung ketiga yang telah kuselesaikan dalam tourku. Siapa suruh memilih gunung Slamet sebagai pilihan ketiga. Padahal baru dua hari yang lalu aku menyelesaikan Sindoro dan Sumbing. Mestinya aku ke Boyolali dulu menyelesaikan Merbabu atau Merapi. Tapi kalau dilihat dari ongkos yang kupunya, Purbalingga jelas searah dengan Wonosobo. Dan lagi, di Purwokerto aku punya seorang kawan yang bisa kuandalkan untuk menginap barang beberapa hari setelah semua ini selesai. Mungkin. Baca lebih lanjut

Pertanda

Les bahasa Perancisku sudah berlangsung hampir 2 bulan, tapi rasanya aku masih belum ngerti2 juga. Kadang ada rasa ingin menyerah. Tapi kok rasanya tak pantas aku lakukan.

Tiba-tiba saja waktu les kemarin guruku berkata, “Kalo kamu menyerah, nanti nggak jadi berangkat ke Perancis.” Aku tertawa dalam hati mendengarnya.

Meski demikian, biar saja kata-kata itu kuanggap sebagai pertanda, bahwa sesungguhnya Allah melalui segenap alam semestanya tengah mendorongku mencapai mimpi2ku. Aku lupa siapa yang menulis, tapi kata2nya sepertinya begini :

Yang terberat bukanlah perjuangan yang harus dilakoni hari ini. Tapi yang terberat adalah jika kita menua, melihat waktu lantas menyesal, mengapa dulu kita tak mencoba meraih mimpi-mimpi dan takdir kita hanya karena takut menjalaninya.

crossroads..

Paulo Coelho wrote this :

The master says: “A crossroad is a holy place. There, the pilgrim has to make a decision. That is why the gods usually sleep and eat at crossroads. Where roads cross, two great forces are concentrated -the path that will be chosen, and the path to be ignored. Both are transformed into a single path, but only for a short period of time. The pilgrim may rest, sleep a bit, and even consult with the gods that inhabit the crossroad.

But no one can remain there forever: once his choice is made, he has to move on, without thinking about the path he has rejected.

Otherwise, the crossroad becomes a curse.”

I pass the crossroad today, and I know it won’t be a curse.

tired.

hari2 ini aku masuk bagian echocardiografi. suatu bagian yang mendalami pemeriksaan usg khusus untuk jantung.
ilmu yang aneh dan cukup sulit.

akhirnya aku pun terlibat dalam jadwal tak sehat.  datang tiap hari ke rumah sakit jam 6 pagi, pulang jam 4-5 sore. pergi lagi jam 6 buat les bahasa : selasa inggris, rabu-jumat perancis. pulang les jam 9 malem di rumah, habis itu kadang berangkat echo pasien di iccu rs lantas pulang larut. larut sekali.
itu pun nggak ngerti2 juga. ditambah les bahasa perancis yang terus saja gak mudeng. sudah 4 kali pertemuan di cccl dan yang kutahu cuma : bonjour.. merci…”dasar katrok!” 🙂

payahnya di sela2 itu kadang aku mesti kerja di klinik, sekadar mencari nafkah. juga mencari bahan tulisan, dan tentu saja mencoba menulis. dan hasilnya : macet 😦

ah, aku capek. sungguh. kadang pingin berhenti, sekadar merebahkan diri.
comfort zone.. betapa aku merindukanmu..

jadi ingat sebuah kisah paulo coelho berikut :

An explorer, a white man, anxious to reach his destination in the heart of Africa , promised an extra payment to his bearers if they would make greater speed. For several days, the bearers moved along at a faster pace. One afternoon, though, they all suddenly put down their burden and sat on the ground. No matter how much money they were offered, they refused to move on. When the explorer finally asked why they were behaving as they were, he was given the following answer: “We have been moving along at such a fast pace that we no longer know what we are doing. Now we have to wait until our soul catches up with us.”

terbalik dengan mereka, kini tubuhku yang tertinggal oleh jiwaku..

comfort zone

hari ini seorang kawan menawarkan sesuatu padaku.
sesuatu yang kadang kupikirkan, terutama saat perjalanan terasa berat dan melelahkan.
beberapa teman menyebutnya sebagai zona nyaman atau comfort zone.

tawaran itu membuatku jadi bertanya, siapkah aku untuk berhenti berjalan? berumah, membesarkan anak dan kata sebagian orang : berbahagia? beranikah aku melupakan mimpi2ku?
tapi, ini pertanyaan yang sering mendera pula,  sungguhkah mimpi2 itu, sesuatu yang kadang terasa samar, benar2 berarti?

aku jadi ingat satu paragraf dalam the alchemist-nya Paulo Coelho : Baca lebih lanjut

mati

malam ini aku banyak berpikir tentang mati. dan entah kenapa aku sering sekali merasa kalau mati terasa begitu dekat padaku.

dan seperti malam ini, saat pikiran itu datang, betapa aku ingin merebahkan diriku, menarik diri dari seluruh petualangan dan berhenti di sebuah tempat yang nyaman.
sekadar melihat anak2ku tumbuh, sembari menunggu izrail di sebuah bukit, di bawah pohon rindang pada suatu sore yang cerah berangin..

ah, betapa tiap hari adalah keajaiban. betapa tiap hari adalah anugrah..

mengikuti mimpi2..

akhir minggu ini aku banyak pergi, meyakinkan diriku kalau aku tidak salah mencari dan mengambil jalan.
aku pergi ke luar kota, berjalan, mencari.
nongkrong di stasiun, berbincang dengan seorang penjual jagung godog dari pasuruan, melihat manusia2..
kemudian aku bertanya pada seseorang tentang rusuh jiwaku, ia berkata : ikuti saja mimpi2 itu. lantas aku bertanya, bagaimana kita yakin kalau mimpi2 kita itu benar? ia menjawab, memang nggak mudah, tapi sabar saja, tuhan akan memberi tahu lewat hati kita, kita hanya perlu berpasrah diri.
suara kereta gemuruh di telingaku. kulihat di luar, rumah2 begitu jauh ditelan cahaya senja.