Kebahagiaan Itu Linier

Percaya atau tidak.

Kebahagiaan kita sebenarnya bersifat linier. Datar. Sebelum dan sesudah pergi. Sebelum dan sesudah mencapai sesuatu, seseorang, apapun. Sesaat seperti bertambah dan naik. Tapi pada akhirnya grafik itu akan turun lagi. Kembali datar.

Percaya atau tidak, kebahagiaan itu linier.

Dan sebenarnya tak perlu mendaki puncak 10 gunung dan menjadi dokter spesialis jantung dengan ratusan pasien untuk bertemu pada kalimat ini.

Karena agama sudah bilang, kebahagiaan, ketenangan hati itu hanya pada ingatan akan Allah semata. Itu saja.

Bukan bersandar pada sesuatu, seseorang, atau apapun.

Silakan mendengar saya membacanya di sini.

Batas

Di Surabaya. Malam-malam. Mendengarkan Olafur Arnalds.
Tiba-tiba bungsuku Angin berkata,”Pak, baca puisi Pak. Yang New York.” Kata New York tak bisa kudengar dengan jelas. Baru kumengerti ketika kakaknya menerjemahkan untukku. Lantas diteriakinya sang kakak saat tak berhasil juga ia temukan buku itu.
“Ini Pak. Ini saja.” Disodorkannya puisi ini. Batas. Karya M Aan Manshur.
Ia duduk menggelesot di bawah meja saat aku membacanya. Silakan mendengarkannya di sini.

Pagi yang Berhujan

Pagi ini berhujan. Aku di rumah Bapak Ibu Ngaliyan. Sendiri saja. Mau ke RS rasanya entah. Aku tengah merasa asing dengan tempat kerjaku. Mungkin memang aku ini alien di tengah manusia-manusia normal.

Dan aku jadi kangen pada gunung-gunung dingin yang pernah kudaki. Gunung yang kedinginan dan kesepian. Dingin sepi yang membuat aku sadar akan rapuh fananya hidup.

Kurasa, sudah waktunya aku kembali.

Pagi ini sudah kubaca sajak M Aan Mansur. Akhirnya Kau Hilang. Sekadar menjaga kewarasanku. Ini linknya.

Mungkin Aku Capek. Entah.

Hari2 ini aku tengah tak sehat. Padahal sudah lama tidak. Sekian lama Allah memberikan nikmat kesehatan yang sering tak kupedulikan. Kata beberapa orang yang kukenal, “Kau terlalu capek.” Mungkin. Entah.

Sehabis dari Roma, yang sampainya di tanah air Kamis sore, jumat paginya aku harus melakukan 5 jam perjalanan darat ke Purbalingga dari Semarang. Dan di sana disambut 100 lebih pasien di RS Harapan Ibu. Lantas melayani mereka mulai jam 16 hingga jam 1.30 dini hari.

Esoknya, Sabtu pagi aku mulai jam 9 pagi di RS DKT Purwokerto dan sudah ditunggu sekian ratus pasien. Total 370 pasien. Dan Poli Jantung DKT pun buka sampai jam 6 Minggu pagi.

Aku sholat dhuhur, ashar, magrib, isya, dan subuh di Poli Jantung DKT.

Minggu siangnya perjalanan 6 jam ke Semarang, dan Seninnya masuk di RS Telogorejo seperti biasa. Juga dengan pasien poli yang melebihi hari-hari lain karena tutup sekian lama. Kerja di cathlab THC. Diagnostik. PCI. Terpapar radiasi. Radiasi yang membuatku bertambah tua. Juga menyelesaikan CT Scan yang tertunda. Dst. Dst. Dst…

Dan hari2 ini aku tengah tak sehat. Padahal sudah lama tidak. Mungkin aku capek. Entah.

Satu Sore di Roma

Sambil menunggu bis di halte Veneto. Dekat Hardrock Roma. Bis nomor 160. Tak kunjung tiba. Seorang perempuan Eropa memandangku dari sudut mata. Cahaya matahari sore suam-suam di kulitnya.

Bis nomor 160 datang dari kejauhan. Riuh manusia turun. Aku menunggu. Bergegas.

Di atas bis. Kulihat manusia-manusia. Asing. Tak kenal. Tak menyapa. Di balik kaca ada seorang perempuan bersepatu merah. Berbaju lusuh. Tatapan kosong. Takut. Mungkin perempuan itu merasa sendiri di sini. Atau ia takut pada kematian yang entah menunggu di mana. Menyergap diam-diam. Pengkhianat yang pasti dinanti.

Sampai dekat hotel, aku berhenti. Sebentar. Ada yang berbeda. Persis di sebelah hotel memang sebuah gereja. Dindingnya coklat. Tampak tua dan sunyi. Gereja itu bertaman tak terawat di sampingnya, bisa kulihat dari kamarku. 

Sore itu ada banyak orang di sana. Sebagian memakai pakaian hitam. Mereka merayakan sesuatu. Aku lewat dalam diam. Sungkan. 

Di kamar. Kubuka pintu balkon samping. Taman gereja yang sepi tak terawat menungguku. Lonceng berbunyi. Suara burung gagak terdengar gelisah. 

 

 

Roma dan New York.

Roma dan New York itu dekat. Dari mataku cuma sejengkal.
IMG-20160829-WA0042

Ini saat aku membaca puisi pertama buku ini di Roma. Satu pagi di akhir Agustus 2016.

Roma 2016 (bag ke-2)

Siang ini, setelah lelah menyusuri jalanan kota Vatican, aku duduk di sebuah sudut kota Roma.
Di sebuah bar yang tiap kali kulewati menuju stasiun metro Circo Massimo.
Aku duduk di sana. Dan bukan satu-satunya yang sendiri.
Ada lagi seorang yg super gemuk duduk di depanku. Laki2 Eropa.

Ia tampak tak bahagia. Entah kenapa.

Lantas sepasang laki2. Entah sepasang kekasih atau bukan di sudut lain.

Pelayan, yang gantengnya melebihi artis Indonesia mendekat. ‘Aku pesan pizza. Yang kecil saja.’ Tapi tak ada yang kecil. Semua seloyang.
Baik.
Kupikir nanti kubungkus buat makan malam. Entah dimana.
Sambil menunggu, kembali kubaca buku puisinya Aan Mansyur. Beberapa terlewat. Yang terngiang satu.  Judulnya “Ciuman Perpisahan”.

Hmm, kurasa sebenarnya aku bisa lebih baik dari dia. Lebih baik membuat puisi maksudku. Tapi kapan? Kesombongan yang tak perlu. Satu yang perlu. Bukti. Dan itu aku yang tak punya.
Hehehe. Mungkin sore ini. Kataku beralasan. Dasar.

Segera setelah paragraf ini selesai, Bar Circo Massimo jadi ramai. Dan aku tengah benci keramaian.
Entah kenapa.

Ini beberapa foto yang sempat kuambil di Roma.

Dan ini link saat aku membaca pusi Aan Manshur yang cantik, Ciuman Perpisahan dg latar belakang musik Olafur Arnalds, Film Credit.

Roma 2016

Aku tak tahu kenapa tulisan ini kuberi judul Roma 2016. Apakah akan ada Roma 2017? Entahlah.

Kota ini terasa sepi. Beda dengan Paris yang hiruk pikuk dan high tech. Roma sunyi dan sepi. Tua.

Kebetulan aku tinggal di hotel Domus Aventina. Sisi kota yang tak terlalu pikuk. Kamarku juga ada di lantai bawah. Dengan taman berbalkon yang kurang terawat. Pohon tua di samping bangunan lama tak berwarna.

20160827_080940

Tapi aku tak peduli. Aku cuma butuh ketenangan yang sunyi. Mencekam yang diam. Ditemani  Olafur Arnalds, musiknya mengiris, tak lekang dipecah kepakan burung di taman luar.

Diam-diam, lirih kubaca puisi M Aan Mansyur.

Silakan klik judul puisinya jika ingin mendengar rengeng2 saya dan aransemen Olafur Arnalds sebagai latar.. 

Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta. 

Surat yang Terlambat

untuk almarhumah guruku Dr Dyah, SpJP. Al Fatihah..

Dokter..
Aku cuma ingin minta maaf.
Karena surat ini terlambat.
Seharusnya ditulis sejak dulu.
Sejak lulus kuliah spesialis dan meninggalkan Surabaya.
Tapi Dokter tahu, sangat tahu kalau muridmu ini super sibuk.
Dan Dokter pasti tak pernah berharap surat ini datang tepat waktu.
Iya, aku yang salah.
Aku yang harus membayar mahal.
Membayar mahal karena surat ini jadi terlambat.
Sangat terlambat hingga hari Izrail menjemputmu.

Dok..
Aku cuma ingin berterima kasih.
Terima kasih karena telah percaya pada muridmu ini.
Terima kasih karena telah membantu hidup keluarga kami saat kami kesusahan dulu.
Terima kasih karena membuatku bisa menyekolahkan anak2 dengan memberikan jatah menjadi tutor pengajar EKG. Meski Dokter tahu aku masih belum cukup pantas.
Tapi Dokter juga tahu aku butuh uang itu.
Agar bisa hidup cukup layak di Surabaya.

Dokter..
Terima kasih karena telah memarahiku.
Terima kasih karena telah mendidikku dengan selayaknya.
Terima kasih karena telah menginspirasiku.
Maaf kalau aku belum cerita kalau kini aku juga membuka kursus EKG. Seperti juga Dokter dulu.
Tapi yang ini kecil-kecilan. Gratis pula.
Aku pingin bisa menjadi bermakna untuk banyak orang seperti Dokter.

Coba Dokter bayangkan, berapa pasien yang bisa selamat karena murid-murid kursus EKGmu Dok?

Dok..
Sekali lagi aku minta maaf karena surat ini terlambat.
Aku minta maaf.

m.y.s

Bagi yang ingin mendengar saya membacanya. Silakan klik di sini.

Hidup Hanya 3 Hari.

2016/03/img_7068.jpg

Buku Belajar Menjadi Daun

Akhirnya buku Belajar Menjadi Daun sudah terbit.. Ada di toko buku Gramedia terdekat atau pesan via email ke ksatriacahaya@gmail.com

2015/05/img_3537.jpg

Irisan dan Doa. Ya Allah kabulkanlah..

Satu hal yang mengiris tiap kali berbincang dengan pasien yang sakit adalah karena kadang saya melihat diri saya di sana. Apalagi sebagai dokter yang hampir 75 % mereka yang datang dan percaya pada saya adalah lansia. Saya melihat hidup yang rapuh. Masa jaya yang akhirnya harus mengalah pada proses degeneratif. Tapi terkadang proses ‘melihat’ masa depan itu tak terlalu sakit.

Tapi ketika datang hari bersejarah saat satu hari saya harus merawat hampir 300 pasien poli jantung dalam 20 jam, maka irisan itupun sangat terasa.

Adalah salah saya karena memilih menutup praktek minggu kemarin dan minggu depan. Dan jadilah Sabtu 28 Maret 2015 ini saya diberi Allah ujian harus membuka poli sejak jam 8 pagi hingga jam 21 malam di RS DKT Purwokerto, lantas melanjutkan jam 22 hingga jam 4 pagi minggu dini hari tadi di RS Harapan Ibu Purbalingga. Betapa Allah sangat sayang pada saya dengan memberikan irisan itu.. Mengingatkan saya pada hidup yang tak abadi. Sekaligus terharu karena kesetiaan puluhan lansia yang tersenyum lega saat nama mereka dipanggil. Juga seruan, ‘Alhamdulillah..’ ketika mereka memasuki ruang praktek, lantas doa mereka, ‘Mugi2 Pak dokter diparingi sehat..’ saat melihat mata saya yang kadang sayu.

Saya selalu ingin menangis saat mendengar ucapan itu..

Matur nuwun sanget pada Ibu2 dan Bapak2 sepuh yang rela menunggu berjam-jam, menghabiskan siang atau malamnya untuk sekadar 5 menit bertemu saya.. Matur nuwun sudah merasa sayang pada saya..

Semoga Allah memberikan kesehatan pada Ibu2 dan Bapak2 semua.. Amin ya rabbal alamiin…

Kabulkanlah doa kami ya Allah, dan sehatkanlah saya agar dengan cara ini bisa Kau ringankan beban hamba di akhirat nanti..

Hidup yang Biasa Saja..

Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin dicari, semakin entah kemana. Itu prinsip kebahagiaan. Jadi mungkin seharusnya kita hidup yg biasa saja. Asal manfaat. Toh sebentar lagi kita mati.
Mungkin prinsip dasarnya seharusnya kita hidup cuma belajar menjadi daun. As simple as that. Daun yang selama hidup menyejukkan, membagi oksigen. Dan saat mati, kering dan layu, ia jatuh ke tanah, membusuk, menjadi kompos bagi orang lain. Itu saja cukup.

Hujan dan Surat Kecil Mengetuk Jendela

Satu hari, seorang perawat menyodorkan amplop kecil.
“Dari keluarga almarhum pasien Dok.”
Terlintas di kepala tentang complain dari keluarga pasien pada dokter lain karena pasien mereka meninggal.
Membuat saya enggan membuka saat itu juga.
Saya tersenyum, berterimakasih, lupa. Atau sengaja lupa.
Bersembunyilah amplop putih itu di dalam tas. Berhari-hari.

Hingga datang hari lelah itu.
Hari dimana saya hampir-hampir membenci diri saya sendiri.
Hari saat saya merasa tidak cukup baik menjadi dokter.
Hari dimana saya berpikir untuk membuka toko kelontong saja.
Ah, mungkin ini saatnya saya mendapat hukuman.
Amplop putih itu.

Ternyata isinya sepucuk surat kecil.
Yang menjadi hujan deras di siang terik.
Butir-butir hujan yang mengetuk, memukul, menempel di dinding jendela.

Ah, betapa saya membutuhkannya.
Terima kasih..
IMG_2936

Yang Ada Cuma Pilihan

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin menua dengan siapa.
Karena anak2 yang kau sayangi akan meninggalkanmu.
Kuliah, lantas kerja atau menikah.
Lantas tinggal di antah berantah.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin mati seperti apa.
Karena hidup yang jaya akan berakhir pula.
Merunduk, kejang yang sebentar.
Lantas diam yang lama. Sangat.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin dikenang sebagai apa.
Karena jangan harap ada yang mengingat dengan cinta.
Saat diam kita yang lama itu sudah terasa lama, mantan suami atau istri itu akan menikah lagi, lantas mereka tidur di rumahmu.
Tabunganmu dijadikan bekal bulan madu.
Hahaha.

Dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, luka seperti apa yang ingin kau ingat.
Atau luka mana yang kau lupakan.

Surabaya. Beribu Peristiwa.

20140821-225443.jpg

Tercerabut dan Kembali.

Ada hal2 yang bikin kangen. Yang aku tahu bahwa ini bagian dari sumber kebahagiaan. Meski tahu itu tak memberikan keuntungan finansial.
Dan itu adalah mengajar.
Setelah hampir setahun, minggu lalu aku datang lagi ke sebuah kampus. Mengajar tentang EKG.
Mata yang menatap bingung, mulut yang menganga atau menguap, ekspresi yang beragam.
Tertawa, bingung, marah, sedih mungkin.
Lepas dari itu, aku tersenyum.
Membuatku kembali bertanya, inikah seharusnya rumahku yang sebenarnya? Tempat satu hari kembali?

Hari-hari ini memang entah kenapa ada rasa tercerabut dari akar. Hidupku cuma berisi kerja kerja dan kerja.
Mengembara dari satu lorong RS ke lorong lain. Lorong yang aku tahu, tak sungguh2 membutuhkanku.
Aku kangen hari2ku di Aurora dulu. Aku merasa punya ‘rumah’ di sana.
Tapi begitulah hidup. Ia jalan terus. Seperti gasing yang memilin.
3656148480_4310192a6a_z

Suatu Siang Saat Langit Demam di Hari Imlek Ditemani Boneka Penjaga.

Langit. Demam. Imlek

Kadang2 kita lupa bersyukur. Dan inilah yang terjadi.
Langit demam.
Di hari Imlek.
Masih untung ditemani Boneka Penjaga, yg kata Langit namanya Viola.

Kadang2 kita juga lupa dan merasa besar. Padahal hidup kita sebenarnya tersambung cuma dari doa-doa orang2 kecil.
Mereka yang tak sengaja kubantu.
Mungkin para pasien. Mungkin juga orang lain yang pernah kutemui.

Alhamdulillah kita masih diberi hidup.
Terima kasih untuk kemarin, hari ini, dan esok.
Apapun yg Kau berikan. Entah itu rasa suka, sedih, sepi, apapun.
Terima kasih.

Singapura, Setahun Kemudian..

Hari-hari ini aku di Singapura. Setahun lalu juga.
Mirip. Tapi tak sama.
Dulu masih sekolah intervensi. Kini tak lagi.
Dulu masih bolak-balik ke Surabaya. Kini tak lagi.

Ah, hidup bergerak terus.
Ada beberapa hal yang harus dilepas.
Ada yang memang hilang.
Ada yang berubah.
Entah kenapa, terasalah kekosongan masa kini.
Rasa kangen pada masa lalu.
Harapan pada masa depan.
Yang seperti televisi hitam putih masa kecilku, terasa kabur. Menyedihkan.
Kadang menyebalkan.

Aku baca di internet hujan melanda tanah air.
Semarang hujan.
Menado dan Jakarta banjir.

Entah kenapa, Singapura hari2 ini biasa saja. Mendung. Tak berhujan.
Padahal kau tahu betapa kini aku merindukan hujan. Hujan yang deras hingga mengetuk kaca jendela.
Juga segelas kopi. Tak banyak. Setengah cangkir saja. Sedikit gula.

Hujan

Paradoks

Ada hal-hal yang tak bisa dimengerti. Termasuk hubungan yang tak linier antara tingkat kepercayaan diri seorang dokter, dengan jumlah pasien yang antri di tempat prakteknya. Dan itu terjadi padaku.

Entahlah. Aku sendiri merasa kecil di tengah duniaku. Di Semarang, kota dimana kini aku bekerja di sebuah RS swasta besar, aku bukan apa-apa. I’m nothing.

Sementara itu, selalu tiap Sabtu aku merasa ragu berangkat ke Apotek Aurora di kota Purwokerto, tempat praktekku yang lain. Masuk ke dalam, dan melihat mata para pasien yang berharap padaku. Why they expecting so much from me? Such a silly creature? Bisakah aku mewujudkan harapan kesembuhan mereka yang ditumpukan padaku? Pantaskah seorang Yusuf Suseno ditunggu-tunggu sedemikian?

Bahkan beberapa kali pasien2 bersedia menunggu 4 jam untuk bertemu denganku. Membuatku merasa sangat bersalah.

Terima kasih kepada para pasien, termasuk Ibu sepuh yang datang dari pojok Brebes, hampir 100 km dari tempatku praktek, dan tersenyum untukku.

Matur nuwun sanget… Tanpa Ibu, Yusuf Suseno bukan apa-apa…

Do you need sometimes, all alone?

Ada hal2 yang harus kita terima.
Termasuk jika kita memang mesti sendiri.

Saat ini aku di Nusa Dua, Bali.
Di Ayodya Resort, salah satu hotel mewah di Nusa Dua.
Sayangnya, sendiri.
Ditulis oleh Semesta kalau hari2 ini aku harus mengikuti Crossroad Institute, yang mengumpulkan para cardiac intervensionist muda di Indonesia.

Tapi, seperti tanya Guns and Roses di November Rain,
“Do you need sometimes, all alone?”

ayodya-resort-bali

Siapa Merenda Waktu di Hari Hujan?

IMG_1342Siapa merenda waktu di hari hujan, merajut benang detik dan menit, menjadikannya kenangan?
Siapa?

Seribu Kelereng

lingkaran-kelereng

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng. Aku ingin membeli dua ribu. Tapi seribu mungkin lebih realistis.

Jika tiap kelereng berarti satu minggu, dan setahun ada sekitar 52 minggu, kurasa 1000 kelereng cukup.

Sekarang aku 37. Kalau aku hidup sampai 67, rerata orang Indonesia, berarti sisa umurku 30 tahun. 30 tahun kali 52 = 1560 kelereng. Seharusnya.

Tapi aku jarang olahraga mbak. Dan tingkat stress pekerjaanku tinggi. Tiap hari mesti melawan Izrail, atau setidaknya berdebat dengannya. Jadi kurasa 20 tahun tambahan sudah cukup baik. Dan ini berarti 1000 kelereng. Mungkin.

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng, kumasukkan ke dalam toples bening, dan tiap minggu sebuah kelereng kularung ke sungai, atau kulempar ke lapangan sepak bola depan rumah.

Tiap hari kulihat toples penuh itu, yang terus kurang satu demi satu.

Mbak, hari ini aku ingin membeli kelereng, dan menghabiskannya dengan melakukan hal2 yang sungguh2 ingin kulakukan. Seperti yang pernah kita bilang dulu..

#ditulis setelah membaca posting tentang kisah 1000 kelereng.

Walking After You

tonight I’m tangled in my blanket of clouds
dreaming aloud
things just won’t do without you
matter of fact
I’m on your back

if you walk out on me
I’m walking after you

if you’d accept surrender
I’ll give up some more
weren’t you adored
I cannot be without you
matter of fact
I’m on your back

if you walk out on me
I’m walking after you

another heart cracked
in two
I’m on your back

Lagu jadul Foo Fighter ini jadi ringtone di bulan2 akhir episode hidup di Surabaya.
Hari2 yang kata seorang teman, adalah bulan madu yang kedua dalam kehidupan.
Karena setelah ini, You have to face the fu*king real world
Kalimat yang dalam. Sayangnya, sangat kurang ajar benarnya.

Dan beruntunglah, sebelum terjebak ‘the fu*king real world’, kemarin fellow ndeso ini diberi kesempatan oleh Semesta untuk belajar ke Singapura, ikut AsiaPCR.
Dan bukan aku jika tanpa perjuangan ekstra keras. Termasuk mengurus paspor baru karena yang lama hilang entah kemana.
Meski sponsor terbatas dan harus tidur di hotel kelas backpacker bersama bule, kujalani saja.
Bangun pagi2, dan sarapan roti di pinggir River side.
Sejuk udara sungai dan kesunyian seorang pengembara.
What a hard and wonderful days..
pow

Lepas dari apapun, aku sangat bersyukur karena di sana ketemu orang2 hebat.
Termasuk Antonio Colombo, Shigeru Saito, dll. Pencipta2 textbook cardiac intervensi.
Master dunia.
Dan yang tak terduga, diam2 di pojok, kulihat Prof Teguh Santoso, master intervensi jantung Indonesia membuka buku di stand PG Books.
Meski sedikit malu, begitu beliau terlihat senggang, mulutku kusuruh memperkenalkan diri.
“Saya praktek di Purwokerto Prof. Banyak pasien Prof yang datang ke saya.”

PCR2

Senyumnya langsung melebar.
“Saya waktu kecil mainnya di Kali Kranji dekat rumah,”kata Prof Teguh sumringah. Beliau memang asli Purwokerto, kota yang kini kutinggali.
Kujabat tangan dinginnya yang terkenal. Dalam hati berdoa, semoga satu hari akan tertular virus intervensi dunia dari Prof Teguh.

Kembali ke kehidupan nyataku as a fellow dan bulan madu yang hampir berakhir,
kini, memang ada beberapa hal yang memberati kepala.
Tapi bukankah itu bagian hidup, yg mau tak mau mesti dilalui juga?
Meski kadang berharap, ada seseorang yang dengan ikhlas berbisik padaku.

‘I’m o n y o u r b a c k . . .’

Little Wing

Malam ini, aku kembali mendengarkan lagu lama itu di sebuah resto yang hampir setahun tak pernah kutengok.
Entah kenapa tadi Cinta dan Lintang mengajakku ke sana.
Dan ia, gitaris di Lumbung yang tak kutahu namanya itu masih menyanyikannya seperti bertahun lalu.
Mencabik. Menyayat. Memotong hatiku hingga entah jadi apa.
Hmm… Little Wing, by Jimi Hendrix.

“Little Wing”

Well, she’s walking through the clouds,
With a circus mind that’s running wild,
Butterflies and Zebras,
And Moonbeams and fairy tales.
That’s all she ever thinks about.
Riding with the wind.

When I’m sad, she comes to me,
With a thousand smiles she gives to me free.
It’s alright, she says it’s alright,
Take anything you want from me,
Anything.
Fly on little wing.

Pulang

Image

Malam sudah turun, tanpa gerutu dan tanpa siasat. Seperti jala hitam yang mengepung kota; seperti segalon tinta yang ditumpahkan seekor cumi raksasa ke seluruh permukaan Jakarta. Seperti juga warna masa depan yang tak bisa kuraba.

Paragraf pertama novel Leila S Chudori itu membawaku pada masa lalu. Tentang Eyang Soesatyoku. Juga tentang masa depanku yang seperti juga ia, tak bisa kuraba..

Tapi kurasa, tidak hanya Hananto yang dijemput di April 1968 itu. Tidak juga Eyang Soesatyoku. Hampir semua kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Gelap seperti malam yang dikepung jala hitam, ditumpahi segalon tinta dari seekor cumi raksasa..

Gerimis

Surabaya jarang hujan.
Tapi seminggu ini terus menggerimis.

Lagunya Noah mengawani siang. Sore. Malam. Dini hari.
Termasuk saat primary PCI jam 3 pagi.
Suara kereta lamat2 di kejauhan..

20121206-160324.jpg

Sekolah Memperpanjang Hidup

Hari ini membaca artikel kalau ternyata ada korelasi antara sekolah dan usia. So, bersekolahlah agar hidup lama.

Tapi jangan lupa, sekolah lebih lama berarti penderitaan yang lebih lama. Selain ‘mungkin’ adrenalin rush yang lebih lama pula.. Hanya saja, sampai kapan?

But at least, aku senang menemukan artikel ini.
Jadi punya alasan kenapa aku sekolah lagi. Dan lagi….
🙂

Image

Don’t Take Anything Personally

“Don’t Take Anything Personally. Nothing others do is because of you. What others say and do is a projection of their own reality, their own dream. When you are immune to the opinions and actions of others, you won’t be the victim of needless suffering.”

Kurasa Don Miguel Ruiz benar. Lepas dari kontroversi yang ada, tapi di beberapa sisi ia benar.
Sayangnya ia benar.
Duh, betapa kesepiannya kita..

Hujan yang Menderas di Satu Siang Berpeluh

Sering kita ingin segera berpindah dari satu momen ke momen berikut.
Tak sabar. Bergegas.
Padahal momen berikut itu belum tentu seperti yang kita bayangkan.
Dan satu hari, terjebaklah kita pada kerinduan masa lalu.
Kangen pada ketidaksempurnaan yang kita miliki di momen sebelumnya.

Seperti hujan yang menderas di satu siang berpeluh.
Iklan jeans di desktop yang lupa kuganti. Menghantui tidur.

Sampai dimana kita. Akan kemana kita. Tak ada jawab.
Tak ada yang bisa memberi jawab.
But, at least, we agree that the most beautiful and memorable moment is the journey it self. The experience.
Not the result, the destination.

Di depanku seorang lelaki berjalan di pinggir rel. Tak menoleh padaku. Hidup terus berlanjut seperti biasa.

*foto diambil di stasiun Mojokerto saat berangkat ke Surabaya