Yayasan Jantung Indonesia Itu Apa Dok?(Juara 3 Lomba Tulis Artikel HUT YJI ke-25 tahun 2006)

Seorang Bapak berusia 45 tahun, sebut saja Pak Sukur, memang sangat bersyukur karena berhasil bertahan dari sebuah serangan jantung yang luas. Pada hari kelima opname di sebuah rumah sakit pemerintah tempat saya belajar dan bekerja ia bertanya, “Dok, adakah orang yang bernasib sama seperti saya, dan tetap bahagia?” Pertanyaan itu menghentak hati. Membuat saya ikut bertanya, ketika ia pulang, dengan siapa ia akan berbagi?

Seorang dokter yang baik selalu ingin pasiennya sembuh. Itu tak terbantahkan. Tapi apakah masalah berhenti setelah sang pasien pulang dari rumah sakit, selamat dari serangkaian peristiwa buruk yang menghempas semangat? Tentu saja tidak. Pasien membutuhkan lingkungan dan tempat berbincang. Pasien membutuhkan tempat berteduh dari kegalauan hati. Karena ada satu hal yang tidak bisa diberikan oleh seorang dokter, perasaan senasib. Baca lebih lanjut

Kematian Mendadak bagi Penonton Piala Dunia 2006(Kompas, 9/6/2006)

oleh M. Yusuf Suseno

Siapkah Anda menghadapi risiko menonton Piala Dunia 2006? Selain merogoh kocek untuk meramaikan pasar taruhan dan rasa kantuk di kantor, Anda juga bisa mendapat bonus kematian mendadak akibat gangguan jantung.

Jangan anggap remeh. Salah satu yang terdata adalah saat kekalahan tak terduga Brasil dari Uruguay di partai final Piala Dunia 1950 yang menggagalkan pesta-pesta kemenangan. Terdapat tiga orang yang mati mendadak setelah bola masuk pada injury time di gawang Brasil. Nah!

Mari kita hitung risiko kematian mendadak untuk diri Anda. Coba pegang pergelangan tangan Anda. Letakkan dua ujung jari tangan tepat di atas nadi. Sudah terasa denyutnya? Baca lebih lanjut

Nyeri Dada = Serangan Jantung ?(Kompas, Jumat 28/4/06-tulisan pertamaku di media..)

oleh M. Yusuf Suseno

Mungkin saat itu Anda tengah menonton final sepak bola piala dunia 2006, atau makan malam bersama seorang klien sangat penting, ketika tiba-tiba Anda merasa sensasi rasa nyeri pada dada. Anda berusaha melupakannya, tetapi ternyata rasa nyeri tersebut makin mengganggu. Saat itu mungkin sekali Anda mulai panik.

Apakah ini serangan jantung? Haruskah saya segera pergi ke UGD? Apa yang harus dilakukan selama perjalanan ke sana? Akankah saya bertahan? Bagaimana kalau rasa nyeri ini sebenarnya bukan apa-apa?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin saja menimpa diri kita suatu saat. Dan ternyata cukup sulit bukan menjawabnya? Selain karena kita tidak tahu, tetapi kadang karena kita terlalu takut. Kita tiap sore disuguhi sinetron di televisi, dan di sana kita melihat seorang tokoh jahat menggelepar di akhir episode sambil memegang dadanya, dan tamatlah sinetron itu dengan akhir yang bahagia. Akankah kita tamat seperti sang tokoh jahat di sinetron? Semoga tidak.

Nyeri dada atau chest pain sebenarnya adalah suatu sensasi rasa nyeri pada dada, suatu area antara leher dan perut, yang mengganggu seseorang.

Gejala ini sering menjadi alasan seseorang datang ke ruang UGD rumah sakit. Dan hampir setiap pasien datang dengan segumpal pertanyaan di kepala. Berita baiknya adalah : tidak setiap nyeri dada disebabkan karena serangan jantung.

Penyebab Nyeri Dada
Mengapa begitu? Karena rongga dada memang terdiri atas berbagai organ. Yang paling memakan tempat adalah paru-paru dan saluran napasnya, kemudian jantung, dan tentu saja saluran pencernaan atau dalam istilah medis disebut esofagus, yang menghubungkan kerongkongan dengan lambung kita. Dan jangan lupa, di luar itu terdapat otot, tulang, syaraf serta kulit yang membungkus rongga dada kita. Jadi memang sangat nalar apabila nyeri dada tidak selalu disebabkan oleh penyakit jantung.

Lantas bagaimana membedakan antara satu dengan yang lainnya? Tentu saja hal itu tidak mudah bagi seorang awam. Bahkan dokter pun perlu belajar bertahun-tahun, itu pun tidak selalu menjamin, bahwa ia bisa membedakan sumber penyebab nyeri dada pada pasiennya. Intinya adalah pada menyingkirkan diagnosis banding dari tiap gejala, hingga kita bisa mendapatkan suatu diagnosis yang paling sesuai dengan gejala dan tanda yang ada. Dan karena nyeri dada sebagian besar bersumber dari kelainan dalam dada, maka kita perlu tahu, bagaimana sifat nyeri dada yang terjadi bila masing-masing organ tersebut terganggu.

Cara Kerja Jantung
Jantung adalah organ yang secara normal terletak di dada bagian kiri, dan berfungsi bagaikan tukang pompa darah ke seluruh tubuh. Jantung sendiri juga membutuhkan suplai darah agar bisa bekerja dengan baik. Suplai darah untuk jantung dilakukan oleh pembuluh darah jantung yang disebut arteri koroner. Apabila terdapat kekurangan suplai darah ke salah satu bagian otot jantung, otot yang kekurangan darah tadi akan bereaksi nyeri di dada. teriakan otot jantung yang merasa dizhalimi tercermin dalam reaksi rasa nyeri di dada yang khas.

Nyeri akibat penyempitan maupun pembuntuan arteri koroner bersifat mendadak, terasa seperti mencengkeram, menekan, meremas, ataupun rasa terbakar. Kadang digambarkan seperti ditimpa benda berat, atau layaknya diikat oleh seutas tali di seputar dada. Serangan nyeri yang sangat khas tersebut sering disebut Angina.

Lokasi nyeri biasanya di bagian tengah dan kiri dada, sering dengan penyebaran ke lengan kiri, leher maupun dagu. Lama rasa nyeri bisa berlangsung kurang lebih sepuluh sampai dua puluh menit, dan sering timbul pada saat sedang melakukan aktifitas fisik maupun emosi. Karena kuantitas nyeri yang sangat, sering menimbulkan rasa cemas yang sangat pula. Anda yang pernah mengalami hal ini sebelumnya, mungkin akan lebih tenang. Apalagi bila pernah mendapat obat mujarab dari dokter bernama nitrogliserin atau isosorbid dinitrat. Anda boleh menaruhnya di bawah lidah, sambil duduk menenangkan diri.

Sayangnya ada beberapa kondisi dimana rasa nyeri terus berlanjut hingga lebih dari 20 menit. Hal tersebut menandakan bukan lagi sekadar penyempitan, tetapi telah terjadi penyumbatan arteri koroner yang terus berlanjut. Yang akhirnya menyebabkan terjadinya kerusakan pada otot jantung yang disebut sebagai serangan jantung atau Infark Miokard Akut.

Mari kita lihat diri Anda saat ini. Apakah Anda seorang perokok? Memiliki riwayat darah tinggi atau kencing manis? Anda seorang laki-laki usia lebih dari 40 tahun, berperawakan gemuk dan karena kesibukan kantor jarang berolahraga? Atau Anda wanita yang telah mengalami menopause? Dan ternyata, setelah diingat kembali, ada saudara dekat yang meninggal karena serangan jantung. Kalau salah satu jawabannya adalah ya, ada baiknya mulai berhati-hati. Semua itu adalah faktor-faktor resiko yang menunjang terjadinya serangan jantung.

Apa yang harus dilakukan apabila Anda mendapatkan nyeri dada seperti itu? Apalagi dengan faktor resiko yang memang belum sempat diperbaiki? Pertolongan yang cepat dan tepat dari dokter sangat dibutuhkan pada kondisi seperti ini. Telponlah ambulan, atau segeralah ke Unit Gawat Darurat (UGD) !

Dokter UGD akan melakukan wawancara sembari memeriksa kondisi Anda secara umum. Jangan berburuk sangka dengan menuduh dokter bersikap lambat dengan mewawancarai anda. Perlu Anda ketahui, bahwa hampir 80% diagnosis dapat ditegakkan melalui sebuah wawancara yang baik. Berikut hal-hal yang mungkin ditanyakan oleh dokter Anda.

Pertama, lokasi nyeri dan penyebarannya. Apakah nyeri berada di dada sebelah kiri dengan penyebaran ke leher, lengan kiri atau rahang? Kedua, sifat nyeri. Apakah bersifat seperti diremas-remas, seperti ditimpa beban berat, atau ditusuk-tusuk? Ketiga, lama dan frekuensi nyeri. Nyeri yang bersifat mendadak dan berat serta berlangsung lama biasanya berhubungan dengan kondisi yang cukup serius. Keempat, faktor-faktor yang mempengaruhi rasa nyeri. Apakah nyeri memberat pada aktivitas fisik yang berat seperti berolahraga atau bekerja? Kelima adalah gejala lain yang menyertai nyeri dada. Keluhan penyerta yang dicari adalah adanya batuk, sesak, berdebar-debar, bengkak pada kaki, mual atau muntah.

Setelah itu akan dilakukan rekaman elektrokardiografi (EKG). EKG adalah rekaman dari arus listrik jantung. Rekaman ini akan memberi informasi kepada dokter kondisi secara umum dari jantung Anda.

Sayangnya ada beberapa kondisi kerusakan otot jantung yang tidak terwakili dari EKG. Untuk itu dokter perlu melakukan pemeriksaan laboratorium dari darah Anda, yakni diperiksa suatu enzim yang akan meningkat apabila terjadi kerusakan otot jantung. Enzim itu bernama Troponin dan Creatin Kinase-Myocardial Band (CKMB). Berdasar data itu seharusnya dokter telah bisa menentukan apakah nyeri dada Anda berasal dari gangguan jantung atau tidak. Apabila ya, maka diperlukan konsultasi dengan seorang ahli jantung atau cardiologist.

Pilihan terapi pada penyumbatan arteri koroner yang bersifat akut ada dua. Pertama adalah Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA) atau sering disebut stenting, yakni pelebaran secara mekanik dari pembuluh darah jantung. Kedua, adalah diberikan obat trombolitik. Yakni suatu jenis obat yang bertujuan mencairkan gumpalan darah (trombus) yang menyumbat pembuluh darah jantung. Pilihannya akan disesuaikan dengan kondisi fisik pasien, waktu, keuangan, dan sarana yang terdapat di RS tersebut. Jangan ragu-ragu untuk bertanya pada ahli jantung Anda.

Kadang jika kondisi memaksa, dokter jantung akan memberikan pilihan bedah jantung. Operasi ini disebut coronary artery bypass grafting (CABG). Namun tentu saja diperlukan pemetaan arteri jantung melalui angiografi koroner.

Paru-paru
Organ dalam rongga dada selanjutnya adalah paru-paru. Paru-paru Anda mengisi rongga dada dan berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dengan udara luar. Karenanya paru-paru cukup rentan mengalami iritasi dan infeksi. Apabila paru-paru mengalami infeksi, walaupun jarang, rasa nyeri bisa saja timbul. Tetapi tidaklah sedahsyat seperti pada serangan jantung.

Nyeri terutama saat batuk, disertai demam tinggi, dan dan terdapat dahak kental yang berwarna kuning kehijauan atau kemerahan seperti karat. Gejala seperti ini menjurus pada keradangan akibat infeksi pada paru-paru yang disebut pneumonia. Sedangkan infeksi pada bronkus atau pipa penyambung dari tenggorokan ke paru-paru disebut bronkitis. Pada kelainan ini dahak yang terbentuk biasanya masih putih dan nyeri terasa seperti adanya lecet di belakang tulang dada bagian tengah.

Paru-paru juga dilapisi oleh selaput tipis yang disebut pleura. Selaput ini berfungsi untuk memisahkan paru-paru dengan dinding dada dan organ lain di dalam rongga dada. Apabila terdapat nyeri dada yang bersifat tajam seperti diiris, bertambah saat bernapas dalam atau batuk, dan hanya menimpa salah satu sisi dada, maka bisa dicurigai terlah terjadi peradangan pada pleura atau pleuritis. Semua kelainan paru di atas seharusnya ditangani oleh dokter.

Silakan menelepon dokter keluarga Anda, tanyakan kapan Anda bisa bertemu. Mungkin diperlukan pemeriksaan foto dada dan konsultasi dengan seorang ahli paru atau pulmonologist untuk penyakit yang telah lanjut.

Pada kondisi lain yang agak jarang, bisa terjadi penyumbatan pembuluh darah di paru atau disebut dengan emboli paru. Sifat nyerinya datang secara mendadak, diikuti oleh penurunan tekanan darah dan sesak. Kondisi ini memang mirip dengan kelainan pembuntuan pembuluh darah pada jantung atau Infark Miokard Akut. Anda tidak perlu pusing memikirkannya. Segeralah ke UGD untuk mendapatkan pertolongan. Semakin cepat semakin baik.

Esofagus
Nyeri dada akibat peradangan esofagus disebut esofagitis. Gejalanya adalah rasa nyeri saat menelan makanan. Bisa juga nyeri terjadi akibat berlebihnya asam lambung, suatu kondisi yang sering disebut gastritis, dimana gejala yang tersering adalah nyeri ulu hati.

Pada beberapa kasus, rasa nyerinya dijalarkan ke bagian dada. Anda bisa mencoba mengurangi rasa nyeri akibat kelainan di atas dengan makan makanan yang lebih lembut, minum susu, maupun minum obat maag yang dijual bebas. Tetapi pada beberapa kondisi, terutama bila nyeri berlangsung lebih dari dua minggu, mungkin sekali diperlukan konsultasi dengan seorang dokter ahli saluran pencernaan atau gastroenterologist. Ia akan memberikan terapi tambahan, dan bila perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi atau teropong lambung untuk melihat kelainan pada esofagus atau lambung Anda.

Penyebab Lain
Bagaimana bila nyeri terjadi setelah bekerja terlalu keras, olahraga berat atau terbentur sesuatu? Mungkin sekali nyeri dada Anda tersebut terjadi akibat kelainan pada otot dan tulang dinding dada.

Biasanya nyeri bertambah berat dengan pergerakan atau perubahan posisi tubuh. Anda boleh mencoba mengurangi nyeri tersebut dengan obat anti rasa nyeri yang biasa Anda minum. Tetapi bila nyeri menetap atau bertambah berat, ada baiknya Anda menemui dokter keluarga Anda. Mungkin diperlukan pemeriksaan rontgen dada dan tulang belakang, dan konsultasi pada seorang ahli tulang apabila terdapat kelainan tulang, atau seorang ahli bedah syaraf apabila terdapat syaraf yang tertekan.

Penyebab yang lain adalah kelainan kulit. Sebelumnya mungkin terdapat kelainan di kulit yang berbentuk seperti gelembung dengan dasar kemerahan yang mula-mula terasa pedih. Mungkin itu adalah nyeri akibat infeksi pada kulit akibat virus yang disebut Herpes Zoster. Sayangnya obat anti virus belum dijual secara bebas, tetapi sementara anda menunggu bertemu dengan dokter, Anda boleh mengurangi rasa nyeri dengan obat anti rasa sakit.

Penyebab nyeri dada yang juga cukup sering adalah faktor psikis. Salah satunya adalah serangan mendadak disertai nafas dangkal yang cepat, rasa tertekan di dada, dan mungkin didahului oleh stress emosional yang cukup berat. Apabila penderita masih muda dan tidak ada faktor resiko untuk terjadinya penyakit jantung, sangat mungkin ini adalah suatu kondisi hiperventilasi. Cobalah untuk duduk tenang, atur pernapasan, bila perlu gunakan kantong kertas kosong yang dikenakan secara longgar pada hidung dan mulut. Usahakan untuk bernapas secara perlahan. Apabila tidak berhasil, Anda perlu bertemu dengan dokter sesegera mungkin.

Nah, tidak sulit bukan? Cermati gejalanya, dan pikirkan penyebab yang paling sesuai. Kini Anda bisa menjadi ‘dokter’ untuk diri Anda sendiri. Bila masih ragu-ragu, langkah terbaik adalah luangkan waktu untuk bertemu dokter sungguhan. Apapun hasilnya, minimal Anda mendapatkan tidur yang nyenyak malam nanti. Amin.

http://kompas.com/kompas-cetak/0604/28/kesehatan/2612078.htm