Tentang Al Fatihah dan Basmalah

Bismillahirrahmaanirrahim.

  • Apa arti Al Fatihah?

    Surat Al Fatihah diturunkan di Mekah, karenanya termasuk golongan surat Makkiyah. Disebut al Fatihah(Pembuka) karena ia terletak di awal Al Qur’an, juga sebagai pembuka shalat. 

 

  • Bolehkah kita berdzikir Al Fatihah?

Boleh. Diqiyaskan seperti pada amalan shalat, surat Al Fatihah juga boleh dibaca sebagai pembuka dari segala amal kebajikan. Amal kebajikan tidak selalu bersifat ibadah seperti membaca Al Qur’an atau shalat. Tetapi saat kita berangkat bekerja mencari nafkah untuk keluarga, memeriksa pasien, memasang infus, menuliskan resep, mencarikan rekam medik, mendorong pasien di kursi roda, semua adalah amal kebajikan yang kita harapkan balasannya di sisi Allah swt. Harapannya adalah saat melakukan semua aktifitas tersebut, Allah senantiasa menjadi tujuan dan membimbing kita.

 

  • Siapa ulama yang berwirid surat Al Fatihah? 

Ibnu Taimiyah(wafat 728 H), sering sekali berdzikir membaca surat Al Fatihah. Salah seorang muridnya menulis, “Ketika sedang berada di Damaskus, saya selalu mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah, bisa dikatakan hampir sepanjang siang dan malam. Suatu ketika saya diminta duduk di samping beliau. Saya mendengar apa yang beliau dzikirkan, yaitu beliau selalu mengulang-ulang bacaan surat al-Fatihah, mulai dari fajar sampai matahari mulai meninggi di pagi hari.” (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib ibn Taimiyyah, hal. 38).

Wirid Al Fatihah ini juga biasa diijazahkan oleh ulama Indonesia seperti KH Abdul Hamid Pasuruan, Gus Miek, Gus Dur dll. Ini menunjukkan, meski tidak ada riwayat dari Nabi bahwa beliau berdzikir Al Fatihah, beberapa ulama membaca Al Fatihah hingga ratusan dan ribuan kali dalam sehari, dan berharap dengan bacaan tersebut akan makin mendekatkan pada Allah swt.

 

  • Apa Keistimewaan Surat Al Fatihah?

Rasulullah saw bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggamanNya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an suatu surat seperti as Sab ‘al-Mats’ani(Al Fatihah)”.(HR Turmudzi). 

Juga hadits yang lain. Satu hari ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi Saw, ia mendengar  suara gemuruh dari atas lalu Jibril melihat ke atas sambil berkata, “Itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini. Sebelumnya tidak pernah terbuka sama sekali.” Lalu turunlah malaikat darinya. Jibril berkata, ‘Inilah malaikat yang turun dari langit, ia belum pernah sama sekali turun ke bumi sebelumnya.” Lalu Sang Malaikat mengucap salam kemudian berkata, ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, keduanya belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang Nabi sebelum Engkau. Yaitu surat Al Fatihah dan penutup surat Al Baqarah. Jika kamu membacanya pasti akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Begitu besar khasiat Al Fatihah, karena saat membacanya seakan kita membaca saripati dari Al Qur’an, bahkan dari semua kitab Allah terdahulu. Tabi’in Hasan Al Basri berkata, “Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur’an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).

 

  • Benarkah Al Fatihah juga bisa menjadi obat?

Benar. Al Fatihah juga berfungsi sebagai obat. Jadi saat kita menolong pasien, kita bisa memulainya dengan bacaan Al Fatihah.  Diceritakan bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah  saw sedang berjalan melewati suatu kampung. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung  tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata kepada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati? Karena pembesar kampung  tersengat binatang dan demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu iapun mendatangi pembesar kampung tersebut dan ia membacakannya surat Al Fatihah. Maka pembesar kampung itupun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan 30 ekor kambing. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliaupun bersabda, “Ambil satu kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagian darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Qoyyim berkata,“Aku pernah menginap di Makkah selama beberapa saat lalu aku jatuh sakit, aku tidak mendapatkan satupun dokter di sana, maka aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan membaca surat Al-Fatihah, dan aku dapati perubahan yang sangat menakjubkan, sejak saat itu aku sering memberikan saran kepada orang-orang yang mengeluh akan penyakitnya untuk membaca Al-Fatihah dan banyak dari mereka mendapatkan kesembuhan dengan cepat.” 

Apa makna Bismillaahirrahmaanirrahiim ?

Kalimat Basmalah sering diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Dan Nabi kita bersabda, Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya. (HR. Al-Khatib). Beliau juga bersabda, Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya.” (HR Ahmad). 

Utsman bin Affan pernah bertanya tentang makna basmalah, maka beliau Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia adalah salah satu dari nama-nama Allah yang agung, begitu dekatnya basmalah dengan nama Allah, seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.”(HR Al Hakim).  Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin diselamatkan Allah dari 19 malaikat penghuni neraka, hendaklah ia membaca, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’.”. 

 

  • Mengapa kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim” ini sangat hebat? 

Pertama, karena saat kita mengucap kalimat Basmalah dengan penuh penghayatan, maka sebenarnya kita tengah menyatakan tauhid kita. Karena kita yakin kalau apa yang kita lakukan saat ini tidak lepas dari kekuasaan Allah. Kita butuh Allah. Dan dengan nama Allah kita menyatakan pada alam semesta bahwa kita bisa bekerja, bisa makan, bisa tidur, bisa datang ke pengajian, semua atas izin Allah. Di sinilah inti ilmu tauhid. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak terjadi atas sepengetahuan Allah. Karena Allahlah Tuhan Yang Maha Memelihara alam semesta. 

Kedua, kita hidup pasti selalu melewati tiga momen. Masa lalu(past), masa kini(present) dan masa nanti(future). Contoh, saat kita melakukan tindakan pada pasien, misalnya saat kateterisasi jantung. Seharusnya kita memulai kateterisasi dengan kalimat ‘Bismillah’. Ini artinya kita mengingat Allah Sang Pemelihara saat awal memulai(past). Lantas kita juga terus mengingat Allah saat sedang melakukannya(present). Akhirnya kita juga bertawakkal menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah(future). Tugas kita hanya melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. 

Ketiga, menyebut ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ berarti kita sadar bahwa apa yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk ibadah mencari ridha Allah, karena dengan Basmalah inilah ia akan menjadi kebaikan yang kekal di di sisi Allah. Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” QS Ad Dzariyat : 56. Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah bernilai ibadah dan kita mengekalkannya dengan Bismillah. Kita menyuapi anak dengan “Bismillah”, karena kita berharap ridha Allah. Kita menolong pasien dengan “Bismillah” karena kita berharap pertolongan Allah di dunia dan di akhirat.  Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”? (HR Muslim).

Keempat, saat mengucap bismillah kita menyebut dua dari nama Allah yang sangat mulia. Yakni sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim. Dua nama Allah ini adalah asmaul Husna yang terbanyak disebut dalam Al Qur’an’. Ar-Rahman adalah curahan rahmat-Nya yang diberikan di dunia ini kepada semua makhluk-Nya. Dan Allah memberikan rahmat-Nya sesuai sifat Ar-Rahman kepada semua makhluknya, tanpa pandang bulu. Baik itu binatang, tumbuhan, juga manusia. Baik manusia itu beriman maupun tidak. Allah Maha Pemurah. Siapa saja akan diberi rahmat oleh Allah. Dengan menyebut Ar-Rahman kita bersyukur atas rahmat Allah di dunia.

Sedangkan, Ar-Rahim adalah curahan rahmat-Nya khusus bagi mereka yang beriman. Terutama di akhirat. Bukti kasih sayang Allah adalah Allah telah memberikan nikmat iman, dan mengutus Rasulullah saw kepada kita karena rahmat-Nya. Allah memberi kita petunjuk iman yang sebagian orang lain tak merasakannya. Allah memberi kita kenikmatan lahir batin yang halal dan berkah karena rahmat-Nya. Semua rahmat Allah yang terkait dengan nasib kita di akhirat ini dikarenakan Allah memiliki sifat Ar-Rahim. Tanpa sifat Ar-Rahim dari Allah, kita akan dibiarkan menjadi manusia tanpa iman yang hidup tanpa tujuan. Dengan mengucap basmalah kita memanggil Ya Rahiim, berharap selalu diselimuti rahmatNya.

 

  • Adakah syarat agat rahmat Allah yang merupakan bagian dari sifat Rahiim-Nya selalu tercurah pada kita?

Ada. Salah satunya adalah dengan bertakwa dan berbuat baik. “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56). ”Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmatKu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami: (Al A’raf: 156). 

Maka marilah kita selalu berbuat baik, selalu berusaha untuk menambah ketakwaan, dan salah satunya dimulai dengan bacaan, “Bismillahirrahmaanirrahiiim.” Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

 

Sumber bacaan: Tafsir Al Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Qur’an UII, Tafsir Al Jailani, Tafsir Jalalain, Tafsir Al Munir Marah Labid, Tafsir Ibnu Mas’ud, Tafsir Al Ibriz, The Essential Message of Qur’an, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Tafsir Al Asas. Buku-buku lain khusus tentang Tafsir Al Fatihah oleh Bey Arifin, Idrus Abidin, Jalaludin Rahmat, dll. Juga sumber lain dari internet(rumahfiqih, tafsirweb, muslim.or.id, rumaysho, asysyariah,com, nuonline, dll).

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan saya dalam menulis tulisan ini. Semoga Allah memberikan jalan untuk mengamalkannya. 

 

     

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: