Blues

Kurasa, setiap manusia kadang melarikan diri dari sesuatu.

Dan sesuatu itu bisa saja pekerjaan yang menumpuk, rasa sakit fisik, nyeri relasi antar manusia, suami pencemburu, tetangga yang pemarah, dosen yang tak adil, perkawinan yang entah kenapa, kekasih yang tengah PMS, hutang menumpuk, pembunuh bayaran, penggemar rahasia yang menyebalkan, atau kesedihan karena kondisi pasien yang berprognosis buruk.

Begitu juga saya. Apapun alasannya, malam ini saya melarikan diri ke sebuah kafe, mendengarkan musik blues.

Di sana, pemain gitar sekaligus penyanyinya, selalu berhasil membuat saya terpana. Terutama jika ia memainkan lagu-lagu penuh rasa menyayat, yang membuat hati saya tertekuk-tekuk. Ia memainkan gitarnya dengan penuh penghayatan. Dengan ‘soul’!
Ah, kalau saja saya ini perempuan, saya pasti jatuh cinta padanya.

Karena mau tak mau ia membuat saya berkaca pada hidup yang saya jalani. Benarkah saya telah mengisi hidup yang saya jalani dengan ‘soul’ pula?

Bekerja dengan cinta yang berlimpah, seakan hidup kita sungguh bertumpu padanya? Bangun pagi hari, dan tak sabar melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi? Seperti seorang pemuda tanggung yang tak sabar berangkat sekolah lantaran tahu gadis pujaannya akan lewat di depan kelas?

Kurasa, tiap diri kita kadang melarikan diri dari sesuatu. Noktah masa lalu yang hendak dihapus, bayangan masa depan yang tak jelas, atau masa kini yang belum sepenuhnya dinikmati, dihayati.

Pertanyaannya adalah, kemana?

Mendengarkan dan menonton musik blues, bisa menjadi alternatif. Sungguh. Tapi tentu saja itu tergantung selera. Anda bisa saja melarikan diri dengan cara menonton film korea, bersepeda di tengah malam, bungee jumping dari pesawat terbang, atau sekadar tidur menyehatkan jantung dan hati.

Hidup memang kadang tak nyaman. Contohnya adalah bagi manusia yang harus menanggung nyawa sekian banyak orang, menemui 100 klien sehari, dan dituntut untuk berbagi empati terus menerus.

Sayangnya, musik blues cuma ada di Purwokerto tiap hari Rabu.

Tapi syukurlah, saya punya Langit, pemijat nomor satu di dunia. Bersamanya saya melarikan diri. Pergi ke rumahnya, di langit ketujuh…

Terima kasih ya nak.. Satu hari, saat banyak orang memilih menjauh, kuharap kau masih bersedia bersama. Then we’ll fight the blues..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: