Rengeng-Rengeng

Malam pekat sekali. Aku berjalan terantuk-antuk batu sepanjang gang. Sol sepatu yang tipis tak kuat lagi menahan tubuh dari terjangan batu-batu.

Aku tak begitu suka lewat gang ini. Terlalu gelap, berbatu dan becek di musim hujan. Penghuninya pun tak ramah. Tapi gang ini jadi jalan pintas ke rumah kosku. Meskipun hampir tiap malam kulalui, tapi tak banyak yang bisa diperhatikan. Dan memang tak ada yang istimewa. Semuanya kelihatan sama. Miskin. Kumuh. Kecua¬li sebuah rumah. Nomor tiga dari mulut gang.

Rumah itu tak beda dengan yang lain. Kecil. Sederhana saja. Lampu depannya cukup lima watt, tapi di remang itu dinding pa¬pannya terlihat putih bersih. Halaman yang terbatas luasnya senantiasa rapi. Ada beberapa kuncup mawar yang tumbuh merambati pagar bambu. Selera aneh di tengah-tengah gang kumuh. Satu hal yang sungguh-sungguh membuatku tertarik adalah rengeng-rengeng suara perempuan.

Rengeng-rengeng itu begitu memilukan bersemu tangis. Nadanya membentuk tembang jawa. Entah apa. Luruh bersama angin, mencipta¬kan malam yang sungguh kelam sepanjang perjalanan melintasi gang. Bulu kudukku berdiri saat kulewati rumah itu. Tidurku terganggu mimpi-mimpi. Seakan eyang kakung hidup kembali dan menembang untukku.

Ah, rengeng-rengeng perempuan itu betul-betul mengiris dadaku. Tercipta pisau daging yang besar, dan dengan alun nada-nada tembangnya diirisnya hatiku, jantungku, paru-paruku, tulang sumsumku. Diperasnya darahku. Ditampung dalam ember buat menyiram mawar-mawarnya. Ingin sekali aku menyuruhnya berhenti nembang. Berhenti rengeng-rengeng. Berhenti membunuhku setiap kali aku lewat.

Berdiri diam di depan pagar rumahnya, rengeng-rengeng semakin merasuk dada. Suaranya pelan, halus. Angin malam menyusup di sela baju. Dingin. Kupegang pintu pagar. Batinku berperang melawan otakku. Apa kau sudah gila, kata otakku nyinyir. Malam-malam bertamu di rumah orang. Batinku diam, keras kepala. Mereka bertengkar, berkelahi, saling mencakar sementara tanganku masih bertahan di pagar rumah itu.

Kudorong pintu pagar ke dalam. Tak terkunci. Suaranya agak kasar. Tapi tak membuat rengeng-rengeng berhenti. Hujan yang turun tadi sore sedikit membuat becek halaman. Kuketuk pintu pelan-pelan. Akankah dibuka? Seorang tamu malam-malam dan tak dikenal. Mungkin aku memang sudah agak kurang waras. Kehilangan common sense.

Rengeng-rengeng melirih. Suara sandal menggesek lantai mendekat. Hatiku berdebar-debar. Agak lama kunci pintu diputar. Bersama suara menderit, pintu terbuka perlahan dan seraut wajah tersembul keluar. Wajah seorang perempuan muda. Dahinya berkerut dan mata itu sedikit menyipit melihat mukaku. Ia tengah mengingat sesuatu. Dan tidak berhasil.

“Anda siapa?” Aku diam. Wajah perempuan itu bertanya-tanya. Aku gugup sekali. “Saya Hardi.” Ingin rasanya aku berbalik tubuh dan pergi. Tapi otot kakiku mogok kerja. “Ada perlu apa?”

“Tidak apa-apa.” Mulutku bisa menjawab juga rupanya. Tiba-tiba otot kakiku mau kontraksi lagi. Kubalikkan badan.”Tunggu,”katanya lunak. “Masuklah.”Kaget juga aku mendengar nada suara itu. Ramah dan baik hati. Begitu cerobohnya perempuan ini. Mempersilakan masuk seorang tak dikenal. Kakiku melangkah ke dalam.

Ruang tamunya agak sempit. Tapi bersih dan rapi. Lampu neon menerangi hingga sudut ruangan. Ada empat kursi mengelilingi sebuah meja kayu kokoh terbuat dari kayu jati. Sebuah televisi berwarna 14 inci di pojok ruangan. Vas berisi mawar menghias meja. Ada foto keluarga terpasang di dinding. Sekilas kulirik wajahnya. Kurasa ia lebih tua dariku. Perempuan itu kira-kira tiga puluh tahun. Wajahnya khas jawa. Manis. Matanya bulat dan bagus. Bentuk mukanya bulat telur, dan rambutnya lurus tergerai. Ia memakai rok terusan warna coklat.

“Silakan duduk.” Kuambil kursi.”Siapa namamu tadi?” Suaranya halus dan teratur.
“Hardi Mbak.”
“Ada perlu apa?” Diulanginya pertanyaan tadi.
“Nggak ada apa-apa.”
“Lha kok bisa tersesat sampai di sini? Kamu yang sering lewat gang ini waktu malam kan?” Kaget juga aku.”Kok Mbak bisa tahu?”
“Saya sering mendengar suara sepatu lewat gang pas jam-jam segini. Kadang juga berhenti sebentar di depan rumah. Betul kan?”
Peka sekali perempuan ini. Aku mengangguk malu.

“Maaf, Boleh tahu nama Mbak?”
Ia tersenyum, manis sekali. Matanya indah.
“Narti. Lengkapnya Sunarti.”

Jam di tembok berbunyi. Sembilan kali. Malam larut betul. Aku baru berniat untuk pamit saat Mbak Narti bertanya,”Apa yang membuatmu mampir kemari?”
Meski semula ragu, kupikir sudah waktunya berterus-terang.

“Apa Mbak yang sering rengeng-rengeng nembang jawa kalau saya lewat di sini ?”

“Ya,”jawabnya pendek. Matanya menatap tajam padaku.

Jadi, inilah perempuan yang sering mengganggu tidurku dengan rengeng-rengengnya. Perempuan yang mengingatkanku pada almarhum kakek. Perempuan yang punya selera aneh menanam mawar di tengah kumuhnya kampung. Perempuan yang mau membukakan pintu untukku cuma karena selalu lewat di gang depan rumahnya. Perempuan yang…

“Apa Dik Hardi tertarik pada rengeng-rengeng saya? Dik Hardi ini seniman ya?” katanya sambil tersenyum. Aku jadi sedikit malu. “Tidak kok Mbak, saya cuma mahasiswa.”

“Lho mahasiswa kok pakai cuma.” Ia tersenyum lagi. Senyum yang manis.

Lantas aku sedikit bercerita tentang keadaanku. Bahwa aku kos di jalan yang ditembus gang ini. Bahwa aku tertarik pada rengeng-rengengnya karena mengingatkanku pada eyang kakung. Bahwa selera bunga mawarnya mengagumkan. Bahwa aku masih kuliah. Mbak Narti mendengarkan ceritaku dengan serius. Agaknya sambil menilaiku.

Setelah mengambilkan segelas teh, ia berkata,”Saya ini seorang janda. Almarhum suami saya meninggal saat ia sekolah di luar negeri. Anak saya satu, perempuan. Sekarang sudah TK B. Dan kalau Dik Hardi sering mendengar saya nembang, ya itu untuk pengantar tidur Anik. Soalnya bapaknya Anik dulu sering nembang untuknya sebelum tidur. Setelah nggak ada, ya saya gantinya.”

“Lha Dik Hardi kuliah di mana?”
“Di FK Undip Mbak.”
“Kok kosnya jauh ?”
“Iya Mbak, sudah sejak SMA. Terlanjur cocok. Mbak Narti pernah kuliah?”
“Ya, dulu. Lantas setelah lulus menikah sama Bapaknya Anik. Meski orang tua tidak setuju, tapi tetap kawin. Terlanjur cinta,”sahutnya sambil tersenyum. Hari sudah larut, aku pamit pulang. “Kapan-kapan mampir lagi ya,”katanya sambil menutup pintu.

Sejak itu aku sering bertamu ke rumah Mbak Narti. Tentu saja tidak malam-malam seperti dulu. Aku toh tak ingin tetangganya bergosip. Biasanya di hari minggu atau siang usai kuliah.

Tak sadar jalannya waktu, sudah setahun aku kenal dengan keluarga ini. Ia perempuan yang cerdas dan kritis. Mungkin profesinya sebagai penerjemah buku-buku bahasa asing, terutama bahasa Inggris membuat wawasannya sangat luas. Dan tentu saja bahasa Inggrisnya jauh lebih baik dariku. Kadang ia juga menulis cerpen dan puisi. Meski aku tak begitu mengerti tentang puisi, ia sering membacanya untukku.

Ia layaknya seorang sahabat dan kakak. Dan Anik sudah menganggapku sebagai Om. Saat aku ngobrol dengan ibunya, ia selalu minta pangku padaku. Kelihatannya Anik kangen pada bapakn¬ya.

“Oom Hardi lulusnya masih lama?”tanya Anik sambil bermain-main dengan boneka barbienya.
“Mungkin.”jawabku. Ia menatapku. Matanya bulat dan lucu seperti ibunya.
“Kalau lulus jadi dokter?”
“He eh,”jawabku sambil tersenyum.
“Kalau Anik nggak mau jadi dokter. Anik mau jadi insinyur seperti Bapak.” Mbak Narti tersenyum sayu. Matanya berkaca-kaca.

Hampir dua minggu aku tidak dolan ke rumahnya karena sibuk stase anak, dan rumah Mbak Narti agak berubah. Halamannya tak begitu bersih dan rapi. Mawar-mawarnya tak secerah dulu. Agaknya kurang air. Anik yang melihatku datang berlari menyambut.

“Oom Hardi, ibu pergi.”
“Kemana?”
“Nggak tahu.”
“Sudah makan?”
“Sudah. Mbah Semi tadi mengantar makan siang buat Anik.”
“Ibu sering pergi ya?”
“Iya. Kok Oom Hardi nggak pernah mampir sih?”

Kugendong Anik ke dalam rumah. Lantai sedikit berdebu. Aku bersih-bersih rumah bersama Anik. Meski masih kecil, ia sudah pintar mengatur ruangan. Setelah rumah dan halaman beres, kusuruh ia mandi sore. “Om, jalan-jalan yuk!” Kuturuti kemauannya, dan kami jalan-jalan ke Simpang Lima.

Jamku hampir pukul delapan ketika becak berhenti di depan rumah. Lampu depan menyala. Pasti Mbak Narti sudah pulang. Anik tertidur dalam gendongan. Pintu dibuka dari dalam, wajah Mbak Narti menatapku penuh terima kasih.

“Biar kubayar becaknya.” Ia keluar.
Kubaringkan anak itu di kamarnya. Ibunya duduk di ruang tamu menulis sesuatu. Aku duduk di sampingnya menonton televisi. “Anik rewel ya. Merepotkan saja.”
“Ah nggak. Habis mid semester kok Mbak. Dan jalan-jalan sama Anik bisa jadi obat stres.” Ia tersenyum. Terlihat letih. Ada barut hitam di bawah mata. “Apa Mbak Narti lagi sibuk?”
“Iya. Ada masalah.”
“Apa itu.”
“Terkait limbah..” Aku diam mendengarkan.

“Sudah berkali-kali aku menulis dan protes tentang masalah ini, tapi tak ada gunanya. Akhirnya aku memilih bergabung dengan sebuah organisasi lingkungan hidup. Sudah sejak tiga bulan lalu.” Lalu disebutnya nama organisasi dunia yang aku tahu punya perhatian besar terhadap lingkungan Indonesia. “Dan sungguh kebetulan sekali Dik Hardi datang. Mungkin sebagai tugas pertama aku ke Kalimantan sekitar dua minggu. Apa Dik Hardi bisa menjaga Anik selama aku pergi?”
“Apa tidak lebih baik kalau Anik dititipkan di rumah embahnya di Jogja?”
“Tidak. Cuma Dik Hardi yang jadi teman kami ibu dan anak.”

Mbak Narti memandang keluar rumah. Tatapannya membiaskan sepi dan lelah. Aku tak mungkin menolak permintaannya. Tapi akhir-akhir ini aku sering kuatir tentang kondisi fisiknya. Pekerjaan itu cukup berat dan berbahaya. Kurasa ia bersibuk diri untuk melupakan kesedihannya ditinggal suami. Ah, kalau saja aku bisa menghiburnya. Membuatnya bahagia.

“Bagaimana?”
“Iya Mbak. Saya akan menginap di sini selama Mbak Narti pergi. Tapi apa Mbak Narti sudah memikirkan sungguh-sungguh termasuk resikonya?”
“Ya.” Kami terdiam. Kalau saja aku punya hak melarangnya pergi.
“Kamu kok lama nggak dolan kemari?” Kadang ia memanggilku dengan kamu atau kau. Begitu juga sebaliknya.
“Kangen ya,”celetukku ngawur. Ia tertawa.
“Iya.” Hatiku deg-degan tak karuan. Rupanya ia bisa membaca perasaanku. Ah, mata yang indah.

“Iya. Maksudku yang kangen Anik.”
“Sialan.” Kami tertawa. Lantas ia menulis dan aku nonton televisi lagi.
“Ini malam minggu kan.”
“He eh.”
“Kok kamu nggak ngapeli pacarmu Har.”
“Nggak, aku lebih suka apel ke sini.” Ia tersenyum. Manis sekali.
“Maksudku, ngapelin Anik.”
“Sialan juga kau!”

Keesokan harinya kami pergi bertiga ke supermarket. Belanja untuk dua minggu mendatang, selain mencari barang-barang yang dibutuhkan Mbak Narti.
. “Har, aku pantas nggak pakai ini.” Tangannya memegang sehelai gaun warna biru muda.
“Nggak.”
“Lho?”
“Kamu lebih pantas pakai ini.” Kuambil gaun berwarna merah jambu. Ia tersenyum.
“Kamu romantis Har.”
“Hii Om Hardi romantis,”teriak Anik. Duh, malu aku.

Setelah pulang sebentar ke rumah kos, sorenya aku pergi lagi ke sana. Kami akan nonton Dangerous Mind. Kata Mbak Narti, jalan ceritanya bagus banget. Tentang kekuatan puisi mengurangi kebandelan anak-anak muda Amerika. Di bioskop Anik malah tidur di pangkuan¬ku. Mbak Narti yang duduk di sampingku juga kelihatan mengantuk.
“Har, boleh ya,”katanya seraya meletakkan kepalanya di bahuku. Duh Gusti, mengapa besok aku mesti berpisah denganmu.

Pagi-pagi aku berangkat ke rumah Mbak Narti. Dua tas besar sudah siap di ruang tamu. Anik berdandan manis. Ibunya lebih manis lagi. “Ayo Har, berangkat.”

Perjalanan ke bandara dengan taksi terasa cepat sekali. Anik tahu akan ditinggal oleh ibunya. Wajahnya cemberut. Tangannya memegang jari Mbak Narti erat-erat. Entah mengapa aku bersikap persis seperti dia. Kugenggam tangan yang satunya kuat-kuat. Ia diam saja di antara kami berdua.

Di bandara pesawat sudah akan berangkat. Dipeluknya Anik sambil memandangku. Matanya berkaca-kaca. “Titip Anik ya Har.”
“Iya Mbak.” Suaraku tersekat di tenggorokan.
“Kamu juga jaga diri baik-baik.”
“Iya Mbak.”
“Anik jangan nakal. Kasihan Om Hardi.”
“Ibu cepat pulang ya.” Mbak Narti tersenyum. “Pasti sayang,”jawabnya sambil mengecup pipi. Dipindahkannya Anik ke tanganku. Anak itu tak menangis. Cuma diam membisu.

Tiga hari pertama Anik sulit sekali makan. Mungkin sehari cuma dapat lima enam sendok. Aku sempat kuatir. Tapi lebih sukar lagi saat tiba waktu tidur. Ia tak mau tidur kalau aku tak nem¬bang. Padahal satu tembang jawa pun aku tak bisa. Tapi rengeng-rengeng tak beraturan hasil kursus kilat Mbak Narti mempan juga. Tak lelo lelo leloo le gung. Duh cah ayu, anakku sing ayuu…

Tapi setelah itu segalanya lancar. Pagi-pagi kuantar Anik pergi sekolah lantas berangkat ke kampus. Aku berhenti dulu dari kegiatan organisasi pecinta alam. Rasanya tak tega membiarkan Anik sendirian di rumah. Meski Mbah Semi, tetangga sebelah yang mengurus makan siangnya Anik, bersedia menjaga jika aku belum pulang. Aku sudah berjanji pada Mbak Narti.

Dan tibalah hari kepulangan Mbak Narti. Kan janjinya cuma dua minggu. Tapi kutunggu sampai malam tak kunjung ada yang mengetuk pintu. Besoknya masih kutunggu lagi, tapi ia belum pulang juga. Empat hari berlalu. Anik mulai rewel. Aku bingung. Lantas siang itu ada yang mencariku di kampus. Seorang laki-laki berseragam polisi.
“Anda yang namanya Hardi Yusuf?”
“Ya.”
“Anda kenal Sunarti?”
“Ya.” Kakiku tiba-tiba jadi dingin.
“Saya punya kabar buruk dari Samarinda. Saudari Sunarti menghilang dari hotel. Sudah tiga hari. Mungkin diculik.” Aku terdiam. Kepalaku berat.

Sorenya seorang kawan Mbak Narti dari salah satu LSM datang ke rumah. Ia banyak memberitahuku tentang apa yang dikerjakan Mbak Narti di Kalimantan. Seperti yang kuduga, pekerjaan itu terlalu berbahaya. Sedih, marah, bingung, semuanya campur aduk. Anik menatapku dari balik jendela. Mata indah warisan dari ibunya itu terlihat murung dan sepi. Pipi mungilnya basah.

“Om Hardi jangan pergi ya,”bisiknya lirih. Kupeluk ia erat. Erat sekali.

Hari ini tepat setahun Mbak Narti pergi. Masih saja belum ada kabar dari pihak kepolisian. Dengar-dengar dari kawan-kawan Mbak Narti, ada campur tangan oknum pengusaha. Barang-barang yang ada di hotel dikirim ke rumah. Ternyata Mbak Narti tinggal berangkat pulang saat ia diculik. Dua tas besar yang dulu dibawa sudah rapi. Ditambah buku tua antik tentang pengobatan tradisional suku dayak, oleh-olehnya untukku. Untuk Anik ia membeli boneka kayu berukir. Catatan perjalanannya di Kalimantan tak ada. Kameranya hilang. Semua dokumen dan arsip lenyap. Cuma tersisa halaman terakhir dari catatan hariannya yang disobek rapi dan diselipkan di buku oleh-oleh untukku. Kubaca bersama Anik saat kami kangen.

15 Mei di samarinda

ini hari terakhir di sini.
semua tugasku sudah selesai.
barusan beli oleh2. sambil melancong ke tepi sungai mahakam.
aku kangen sama anik. semoga ia tak marah padaku karena kutinggal.
aku kangen sekali padanya.
bisakah kau tidur anakku? semoga bisa. hardi sudah kuajari nembang untuknya.
rengeng-rengeng yang dulu bisa mendatangkannya padaku.
aku kangen juga pada hardi.
ada sajak kecil untuknya, lahir tadi malam dalam mimpi.
hai lelaki kecil
kulihat hatimu untukku
tak ada lagikah perawan di dunia?
tapi pasti
angin tak lagi dingin di rumah
pulang
aku ingin pulang
entahlah. aku sendiri tak bisa obyektif pada perasaanku.
hardi begitu muda, baru 23 tahun.
sedang aku sudah 30.
masihkah ia menyayangiku saat aku beranjak tua?
entahlah.

Kini aku tinggal bersama Anik. Ia adalah anakku sekarang. Sudah kuputuskan jika suatu hari ibunya pulang, akan kulamar pemilik mata indah itu. Biaya hidup bisa kuatasi. Aku bekerja sambilan sebagai wartawan lepas. Aku juga belajar menulis fiksi. Karena tak bisa bersajak, kucoba menulis cerpen. Hasilnya lumayan. Bisa menutup keperluan sehari-hari.

Mbak Narti punya wawasan jauh ke depan. Ia sudah mengasuransikan pendidikan Anik. Jadi aku tak perlu kuatir. Paling tidak, sebelum aku lulus dan jadi dokter, pendidikan Anik tak terganggu. Ia sudah agak besar sekarang. Kelas dua SD. Tadi pagi ia pesan martabak untuk makan malam. Bungkus plastiknya sedikit berminyak, Terasa hangat di tanganku.

Gang ini sama sekali tak berubah. Tak ada penambahan lampu jalan. Di malam tak berbulan tanpa bintang, permukaan jalan cuma terlihat remang-remang saja. Kakiku sakit. Tapi Anik sudah menunggu di rumah. Menunggu martabak untuk makan malam, dan rengeng-rengengku untuk pengantar tidur. Tak lelo lelo leloo le gung. Duh cah ayu, anakku sing ayuu…

Malam pekat sekali.

kutulis di Semarang, bertahun lalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s