Kenangan, Ketidakabadian

Saat kereta api memasuki Surabaya, hatiku penuh gairah. Berbagai kenangan memenuhi kepala.

Ah, betapa aku kangen pada kota ini, Surabaya yang kutinggali hampir 7 tahun lamanya. Aku melalui jalan-jalan lama itu dengan penuh antusias. Padahal baru sekitar 9 bulan aku meninggalkannya. Wajah-wajah kota, bersama dengan kenangan yang tersisa bermunculan. Membuatku terasa bebas dari rutinitas hidup di Purwokerto.

Namun bukan itu misi utamaku. Hari ini aku mengunjungi seorang guruku yang tengah sakit. Seorang Profesor yang sangat baik kepadaku. Salah satu orang pertama yang mengucapkan selamat saat tulisanku dimuat Jawa Pos. Lantas kadang dipanggilnya aku, dan kami berdiskusi tentang kehidupan. Bahkan kami juga bertukar buku. Satu hari aku menghadiahkan “Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad, dan beliau memberiku “Para Pecinta Tuhan.”

Aku ingat, salah satu kisah favorit beliau adalah tentang filsafat di balik kisah perang Baratayuda di padang Kurusetra. Betapa nurani manusia ibarat kusir kereta, yang harus mengendalikan nafsu..

Kini kulihat beliau terbaring. Rapuh. Tak berdaya. Baru saja lepas dari alat bantu napas. Tubuhnya yang dulu tinggi besar jadi mengecil. Otot betis melayu. Nafas yang memendek. Mata yang sendu itu menatapku. Ingatan yang mulai pudar.
“Yusuf ya?”
Aku mengangguk, mencium tangannya.
“Nggih Prof. Yusuf. Dalem saking Purwokerto Prof. Khusus menengok Prof.”
Beliau terdiam. Mataku basah. Aku menangis dalam diam. Gerimis di luar. Aku tak sanggup melihatnya berlama-lama.

Keluar dari RS, wajahku tak secerah saat memasukinya. Diam-diam aku mencoba mencari jejakku di jalanan kota. Kumasuki gang yang melewati rumahku dulu. Tukang becak yang sama masih mangkal di depan gang. Rumah-rumah yang sama. Penjual pisang goreng yang tak berbeda. Mereka yang memutuskan untuk menua, lantas mati di satu tempat.

Itulah sebabnya dulu, satu saat dalam periode hidupku, aku pernah ingin jadi seorang pengembara. Seperti sajakku untuk seorang teman lama.

mau kemana lagi?
entah.
tuhan di langit diam saja.
kau kawin, beranak dan berbahagia.
aku juga bisa, pikirku.
berhenti di telpon umum, kujual motor tuaku, juga harga diri.
aku kawin, kerja, beranak, dan kata orang : berbahagia.
tiap kali kupandang langit, gunung dan jalan raya.
terasa maut menungguku di pojokan kamar mandi itu.
so, tak pernah aku berhenti
kusongsong ia kemana aku pergi
motor menderu, udara subuh dingin membeku
impian berlari sepanjang jalan

Ah, tiba-tiba aku ingin pulang. Di sini, aku dihimpit kenangan. Didera ketidakabadianku sendiri…

2 Tanggapan

  1. Hidup adalah pilihan, berjalannya waktu dan kematian adalah kepastian.

  2. prosanya keren dok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: