Selamat Jalan Dokter Pejuang !

lihat, bu, aku tak menangis

sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit

(Subagio Sastrowardojo)

Senja itu pastilah mendung, basah, dan hitam. Senja ketika dr Wendy, dr Hendy dan dr Boyke berakhir ditelan ombak. Senja saat cita-cita harus selesai. Berhenti diterjang maut. Malam berikutnya, dr Pranawa SpPD, ketua IDI Jatim menelepon saya dan bertanya, apakah kita, dokter dan rakyat Indonesia, sungguh-sungguh kehilangan mereka?

Ketiga dokter pejuang itu memang menjadi korban KM Risma Jaya yang tenggelam di Muara Kali Aswet, Kabupaten Asmat, Papua Barat 13 Januari lalu. Dr Wendyansah Sitompul, PNS lulusan FK UI adalah dokter ahli kandungan satu-satunya di Kabupaten Asmat. Juga dua rekan dokter umum, dr Hendy Prakoso dari FK Unair dan dr Boyke Mowoka dari FK Universitas Sam Ratulangi, yang tengah menjalani masa bakti sebagai dokter pegawai tidak tetap(PTT) di Kabupaten Asmat.

Jelas ada hal-hal yang tak bisa tergantikan. Bahkan dengan penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala dari Menkes dr. Fadillah Supari sekalipun. Rasa kehilangan bukan hanya milik keluarga dan pasien-pasien mereka di Asmat, tapi merambah hingga Jakarta, Surabaya, seluruh Indonesia.

Tentu. Dalam tataran jasad, kita sungguh kehilangan mereka. Namun seperti juga jasad dr Hendy yang sempat ditemukan dan dikubur oleh penduduk sekitar kejadian, kita juga bisa menggali kembali. Menemukan kembali. Mengembalikan pada yang berhak.

Bukan. Bukan sekadar jasad yang akan lapuk ditelan waktu. Tapi menggali semangat. Menemukan kembali jiwa suci pengabdian dan pengorbanan. Lantas mengembalikannya pada yang berhak. Rakyat Indonesia.

Jadi, jawabnya adalah tidak. Kita tak sungguh-sungguh kehilangan mereka. Mereka ada di dalam hati, menyemangati nurani.

Hati siapa, nurani siapa? Siapa pula yang masih memilikinya dan percaya? Benarkah dokter di Indonesia masih memiliki hati dan nurani? Nyatanya pemberitaan tentang kematian mereka di media toh tak sebesar berita tuduhan malpraktek pada dokter, kupas tuntas kasus hukum pada dokter yang melakukan aborsi, maupun kritik pada layanan lamban rumah sakit Pemerintah. Jawa Pos bahkan hanya mencantumkan kalimat Menkes pada kolom kutipan. “Mereka adalah aset bangsa yang sangat luar biasa. Mereka tulus mengabdikan diri pada masyarakat Asmat yang sangat jauh.”(Jawa Pos 19/1/09)

Benar, sangat jauh. Begitu jauh hingga senja luka yang berombak itu menyeret jasad mereka, mengisi paru-paru dengan air, membalikkan masa depan. Mungkin di saat yang sama sebagian besar kita tengah duduk menonton televisi, asyik melihat kontes idola cilik, tersenyum bersama artis sinetron, atau penat dihinggapi berita korupsi.

Doa-doa mereka bertiga tak terdengar oleh kita. Tak terbayang bahkan. Sungguhkah di zaman hedonis seperti ini masih ada dokter yang bertaruh nyawa, untuk masyarakat yang tak mereka kenal sama sekali sebelumnya?

Untunglah mereka ada. Banyak. Ribuan. Hanya saja tak bersuara. Tak pernah masuk dalam berita. Hingga kini, dokter adalah satu-satunya sarjana plus yang siap kirim, siap bekerja ke daerah terpencil Indonesia.

Mereka, para dokter PTT itu bertebaran di daerah terpencil. Meninggalkan sanak keluarga. Bekerja keras menolong sesama yang sakit. Tanpa pamrih. Gaji yang tersendat. Perhatian Pemerintah yang kurang. Tak ada jaminan keselamatan. Tak ada pelampung. Tak ada alat telekomunikasi. Sendiri.

Senja kemarin pastilah mendung, basah dan hitam. Dan di senja itu mereka sungguh sendiri. Berhadap-hadap dengan maut. Namun, mereka tak sungguh-sungguh pergi. Hingga kini mereka masih tetap menebar semangat. Menghidupi nurani. Terbang menembus langit hati.

Selamat jalan Dokter Pejuang!

6 Tanggapan

  1. haduhhh… baru kembali dari “tidur panjang” saya di RS… baca posting ini sungguh menyentuh. Iya, saya lihat beritanya di TV ketika saya dirawat, dan sayapun turut prihatin dan yakin bahwa seluruh nusantara ikut kehilangan dokter2 yang sangat berdedikasi seperti mereka…

    Semoga semangat melayani mereka masih terus membara dalam jiwa dokter2 muda penerusnya kelak.

    Selamat bertugas dok, sukses selalu yah. God Bless you all !!!

  2. Semangat mereka takkan pernah mati meski jasad terkubur dalam bumi pertiwi

  3. bukankah semangat dan jiwa mereka akan senantiasa menyebar pada manusia – manusia tangguh sebagai pejuang?🙂

  4. […] sumber tulisan: Selamat Jalan Dokter Pejuang! di blog dr. Yusuf Suseno. sumber gambar: blog http://dodovandbrugh.blogspot.com/ Related […]

  5. Sungguh mereka pejuang tak kenal pamrih, Dok. Berhadap-hadap dengan maut di medan yang tak pernah dikenal sebelumnya. Saya tak bisa membayangkan beratnya tugas di sana. Hanya doa, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah swt. dan ditempatkan-Nya mereka di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.

    Mohon ijin mengutip posting ini di blog saya. Terima kasih.

    Bahtiar HS

  6. Silakan Mas Bachtiar. Sudah saya baca kutipan di blog panjenengan. Waduh, kayaknya terlalu berlebihan tuh. Pake bahasa ‘beliau’ segala. Weleh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: