Sore Terakhir

Di satu siang yang keruh, aku baru saja menyelesaikan shalatku saat lelaki tampan bersayap itu duduk di sampingku, sungguh-sungguh menatap. Matanya menelanjangi, memperkosa, mengiris, mencacah harapan hingga luntas.

”Saatnya sudah tiba. Bersiaplah.” Suara berat itu memaksa lututku jatuh, seketika merataplah aku memohon, ”Izrail, beri aku waktu. Hari ini saja.” Tangan mautnya berhenti di ujung ubun, sepersekian inci.

”Izrail, siang ini, hanya siang ini, ijinkan aku menemani anakku tidur. Memeluknya, membiarkan air mataku menyirami jiwa mungil yang sering kutinggalkan. Lantas ijinkanlah aku berbaring di dekat buah hatiku, menutup mata lelah, melupakan segala urusan kerja dan sekolah yang penat. Biarkan kami tidur pulas untuk bangun di sore hari sekadar mampir ke masjid dekat rumah, mengajari mereka berwudhu dan sholat jamaah.”

”Lantas ijinkan kami mampir ke toko depan gang buat beli es krim, dan biarkan kami menikmatinya sambil naik becak keliling kampung, merasakan angin yang mengacau halus rambutnya. Setelah itu wahai Izrail, tolong beri kami waktu untuk menatap keindahan matahari senja, membisikkan keagungan Tuanmu di telinganya. Dan saat kantuk menjelang, jadikan suaraku sebagai penutup hari, membacakan sebuah cerita sembari merasakan tangan mungilnya menyentuh pipi.”

Ia meringis. ”Sudah beratus kali kau ucapkan keinginan ini. Dan beratus kali pula kau ingkari siang, sore, senja dan malammu. Kau berikan mereka pada mahluk bernama : cita-cita, karir, dan uang!” Ia memalingkan muka. ”Ini adalah hari terakhirmu!”

Lega mendengar kata-katanya, kukemasi barang-barangku, kutitipkan pasienku pada dokter jaga di bangsal jantung, kukayuh sepeda onthel dan melaju keluar dari rumah sakit. Belum menyentuh jalan raya handphoneku berdering, seorang dokter muda berteriak di ujung sana,”Dok, pasien Dokter syok lagi!” Kembalilah aku terbirit-birit, berharap si pasien selamat.

Setelah suatu sesi tarik ulur dengan anak buah Izrail yang lain, aku berhasil.  Setidaknya untuk hari ini.  Semua selamat. Tapi saat kulihat isi dompet, ternyata uangku tinggal ribuan. Bagaimana bisa aku membeli susu untuk kekasih kecilku?

Uang. Uang. Uang. Aku butuh uang. Teringat tawaran kerja dari seorang kolega, akhirnya aku terus jalan menuju sebuah klinik, sekedar menggantikan praktek menyambung hidup. Langit makin tua saat aku pulang. Sampai depan rumah lampu gang terasa redup. Kubuka pintu kamar, buah hatiku sudah pulas bermimpi. Aku pun meletakkan tubuhku di sampingnya sambil mencoba mengingat sesuatu. Sesuatu yang seharusnya kulakukan hari ini. Entah apa.

untuk kekasih kecilku. maafkan Bapak ya nak…

(juga sebuah tulisan lama)

2 Tanggapan

  1. orang yang cerdas adalah org yg selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan baik..🙂

    thanks, it remains me a lot🙂

  2. Hidup ini pilihan. So, pilihlah yang terbaik bagimu. Bukan yang paling benar, tapi terbaik. Terbaik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain. Jadi….tak perlu bimbang dan ragu, tak perlu resah dan gelisah. Niatkan saja semuanya untuk ibadah. Sertakan disana keikhlasan. Iringi dengan doa. Apapun itu, kesetiaan kita untuk berbaik sangka dengan kehendakNya adalah anugerah yang terindah……dan Ia pasti akan setia menjaga kita. Percayalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: