Kisah Dokter yang Tak Mengenal Hatinya

Kau tahu aku seorang dokter. Dan kau tahu pula kalau ketiga anakku juga menjadi dokter. Mereka telah selesai menjalani pendidikan spesialis dari sebuah Universitas terkenal di kota Antah Berantah, dan kini mulai merintis karir di kota Antah Berantah.

Beberapa tahun lalu, saat memulai pendidikannya, yang terbesar pernah bertanya.
”Bapak, apa yang harus dilakukan saat kita melihat kebenaran?”
Kujawab, ”Kau harus menutupinya Nak. Karena kebenaran menyakitkan sebagian orang. Tutupilah dengan kebohongan yang menyenangkan mereka.”
Dan tumbuhlah anakku tertua dan tersayang itu menjadi seorang anak yang menyenangkan bagi orang lain, tapi tak pernah bahagia. Bukan karena ia tak punya teman dan disayang banyak orang, tapi karena ia tak lagi bisa mendengar suara hatinya.

Esoknya anakku yang kedua, bertanya.
”Bapak, apa yang harus dilakukan saat kita melihat ketidakadilan?”
Tentu saja kujawab, ”Kau harus mendiamkannya Nak. Setidaknya agar ia tak berimbas padamu.”
Karenanya anakku tercinta itu pun tumbuh menjadi seorang anak yang selalu beruntung, tapi juga tak bahagia. Bukan karena ia tak sukses dalam kehidupan, tapi karena ia lebih sering menutup mata hatinya.

Hari berikut anakku yang ketiga, bertanya.
”Bapak, apa yang harus dilakukan agar kita selalu selamat dalam perjalanan?”
Sambil menarik napas panjang kujawab, ”Kau harus pintar menempatkan diri Nak. Diamlah, dan hanya katakan apa yang mereka ingin dengar. Hidup akan berpihak padamu.”
Akhirnya bungsu terkasihku pun belajar menjadi seorang yang lurus dan menyenangkan, dan seperti harapanku iapun berhasil menjadi orang besar dan kaya. Tapi entah mengapa, sejak itu ia juga tak bisa bahagia. Mungkin karena ia terlanjur menjadi orang lain dan membisukan nuraninya.

Akhirnya, di sebuah hari yang naas saat malaikat maut datang menghampiriku, mereka bertiga bertanya,”Apa keinginan Bapak yang terakhir di dunia?”
Aku diam, bukan karena aku tak mengerti apa yang sungguh-sungguh kuinginkan, atau terlalu capek karena terlalu banyak pasien.
Tapi semata karena aku ingin berkata jujur di hari terakhirku.
Sayangnya lidahku kelu, mataku buta, telingaku tuli.
Aku tak lagi mengenali hatiku.
Lagipula aku tahu, kalau bahkan tembok pun bisa mendengar dan berbicara.

Tulisan di atas cuma sekadar fiksi belaka. Segala kesamaan tokoh, lokasi dan alur cerita di luar kesengajaan.

3 Tanggapan

  1. beautiful writing😉

  2. idealis pd kebenaran adalah lebih penting dari kepandaian dan kekayaan.

  3. Menjunjung tinggi kebenaran,menegakkan keadilan,melakukan sesuai dg hati nurani,mengatakan yg benar adalah benar dan yg salah adalah salah,niscaya hidup ini akan tenang dan bahagia.Ada hal2 yg jauh lebih penting dari sekedar lembaran uang plastik merah,yaitu memberi kontribusi positif di dalam sepanjang hidup ini,dan yg lbh penting ridla ilahi rabbi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: