Kearifan Menyikapi Gizi Buruk(Jawa Pos 5/4/08, setelah 5 bulan menunggu…)

akhirnya…🙂

oleh M. Yusuf Suseno

Menonton Pak Dahlan Iskan di acara Kick Andy (MetroTV 3/4/08) membuat saya teringat pada sepotong kalimat di buku Tuesday with Morrie-nya Mitch Albom. Morrie, yang saat itu tengah menjelang ajal, seperti juga Pak Dahlan menjadi makin arif dan mempertanyakan banyak hal tentang esensi hidup. Tiap pagi ia bertanya pada diri sendiri, “Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan hal-hal yang bermakna dalam hidup? Apakah aku telah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh kuinginkan?”

Sayangnya kalimat itu tak berlaku untuk para balita gizi buruk dan orang tuanya di Surabaya. Mereka yang sebagian besar berada pada garis kemiskinan mungkin hanya bisa bertanya. ”Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan semua hal yang bisa kupikirkan untuk mempertahankan hidup?” Bagi mereka, kearifan dan kesempurnaan budi pekerti bukan tujuan utama. Perjuangan membebaskan diri dari kemiskinan dan gizi buruk masih harus disemangati.

Semangat ini tercermin dari 7,5 milyar dana anggaran untuk penanggulangan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya.(Jawa Pos 3/4/08) Sebagai respon dari Pemerintah untuk meniadakan balita kurus kering di Surabaya, masyarakat pasti berterima kasih. Begitu besar perhatian Pemerintah pada kasus ini. Hanya saja kita juga perlu ragu, bisakah uang sebesar itu menggairahkan kembali Posyandu? Mungkinkah sebagian dana 7,5 milyar itu membuat Pak Camat dan Lurah lebih waspada? Akankah tujuan akhir memberantas gizi buruk tercapai? Maybe yes, maybe not.

Berita gizi buruk adalah kaset rusak yang diputar tiap tahun. Suatu proses kronis, dan bukan kejadian yang kun fayakun tercipta. Angka 10.071 balita Surabaya yang mengalami kurang gizi, dengan 2239 kasus di antaranya mengalami gizi buruk adalah isu tahunan. Begitu pula, seperti tahun-tahun lalu akan ada anggota dewan yang bersuara keras, lantang mengkritik Pemerintah. Lantas akan ada counter dari pihak-pihak terkait, kemudian topik hangat ini mengendur dan menghilang, sepi. Tinggal anak-anak kurus bergantian tinggal di ruang rawat inap rumah sakit.

Seorang anggota dewan mengatakan bahwa pengobatan bagi para penyandang gizi buruk yang dirawat di rumah sakit harus digratiskan. Hampir semua orang setuju dengan pendapat itu. Tapi sungguhkah layanan gratis Askeskin menyelesaikan segala? Tidak. Layanan gratis di rumah sakit Pemerintah ibarat obat penghilang rasa sakit buat tumor yang ada di otak kita. Usaha kuratif yang menina bobokan. Seperti membangun tanggul pinggir Bengawan Solo di musim banjir. Sedang hutan tak pernah dipelihara dan sampah terus ditumpuk.

Rumah sakit bagi penyandang gizi buruk hanya sekadar rumah singgah sementara. Keluar dari bangsal mereka kembali menghadapi kenyataan pahit. Di luar rumah sakit ada hantu yang belum bisa dibasmi oleh Pemerintah dan wakil rakyat yang terhormat. Hantu kemiskinan.

Posyandu adalah pasukan anti gizi buruk di tengah belantara kemiskinan material dan informasi. Ia menjadi andalan Pemerintah, dan memang terbukti efektif.

Sayangnya, data menunjukkan adanya penurunan kualitas dan kuantitas kegiatan Posyandu pasca krisis moneter. Tahun 2001 dari 245.154 posyandu di Indonesia hanya 3,1% yang mandiri, dan tahun 2002 Posyandu yang memiliki kader aktif hanya 43,3%. Peneliti dari Makassar menemukan bahwa kegiatan Posyandu umumnya hanya dilakukan 2-3 orang kader. Padahal dalam Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu disebut bahwa Posyandu adalah organisasi fungsional yang terdiri dari seorang penanggung jawab, 4-5 orang kader dan seorang tenaga administrasi.

Studi lain dari UGM menunjukkan adanya tingkat partisipasi yang meningkat dari masyarakat saat program revitalisasi Posyandu dicanangkan. Tetapi kemudian menurun setelah program selesai. Ini berarti bahwa peningkatan strata Posyandu menjadi Posyandu mandiri bukan atas inisiatif dan kreatifitas masyarakat, tetapi hasil intervensi Puskesmas. Pendekatan manajemen kesehatan yang bersifat top down seperti ini terbukti tidak bertahan lama. Posyandu memang seharusnya menjadi tulang punggung pencegahan gizi buruk. Tapi menyerahkan nasib anak-anak pada campur tangan Puskesmas dan aparat Pemerintahan jelas tak efektif.

Kegagalan kita mendeteksi kasus gizi buruk secara menahun seharusnya tidak membuat kita terus melakukan kesalahan yang sama. Jika 7,5 milyar hanya digunakan dalam kegiatan yang bersifat top down seperti di masa lalu, kok rasanya tidak akan berhasil. Akan lebih bermakna jika uang tersebut digunakan untuk membuat Posyandu benar-benar menjadi program yang kata seorang ahli gizi, dari-oleh-untuk rakyat.

Rasanya kita memerlukan seorang ahli komunikasi yang handal untuk membuat program Posyandu ini benar-benar ’masuk’ ke masyarakat. Seperti program KB, yang meski kini kampanyenya tak segencar dulu, toh masih tetap berjalan. Masyarakat secara mandiri datang ke tenaga kesehatan, atau pergi ke apotek untuk mendapat alat kontrasepsi. Semua ini adalah akibat perubahan cara pandang pada KB. Ia bukan lagi program Pemerintah, tapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

Bagaimana agar kader bersemangat menyiapkan Posyandu, dan bukan hanya bergerak karena mendapat uang jalan dari Puskesmas? Bagaimana agar masyarakat berbondong ke Posyandu, dan bukan sekadar memenuhi perintah Camat, Lurah dan ketua RT? Bagaimana agar masyarakat tergerak untuk protes saat kader Posyandu-nya malas berangkat? Perubahan pola pikir ini yang harus diolah oleh para pemegang kebijakan.
Sebagian besar dari kita tidak memiliki cukup waktu untuk bertransformasi seperti Pak Dahlan saat kematian hampir datang. Kearifan, untuk sebagian orang adalah cita-cita kabur yang entah tercecer dimana. Tapi itu tidak berlaku untuk orang-orang yang dibebani tanggung jawab besar sebagai wakil rakyat, pemimpin, petugas negara, para pemegang kebijakan. Masyarakat ingin sekali percaya bahwa mereka memiliki pandangan yang berbeda. Manusia terpilih yang pasti berkemampuan berpikir besar dan kearifan memandang jauh ke depan.

Sungguh, di tangan para pemegang kebijakanlah sebagian suratan takdir Tuhan dilaksanakan. Termasuk nasib para balita gizi buruk dan calon balita gizi buruk di Surabaya. Kemunduran intelektual mereka, kemungkinan proses pendidikan yang gagal, masa depan tak jelas, pekerjaan seadanya, kualitas hidup secukupnya, dan akhirnya siklus kemiskinan yang tak terputus.

Harus ada terobosan untuk mengatasi masalah ini. Mengatasi menahun dan berulangnya kasus gizi buruk memerlukan kearifan dan pikiran besar milik para wakil rakyat, pemimpin dan pemegang kebijakan. Bukan sekadar jawaban jangka pendek semata. Kami menunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: