Babel, Sendiri.

babel1

Malam ini aku menonton Babel.

Sebenarnya sudah lama kepingin, tapi belum sempat. Memang ada Brad Pitt di sana, tapi bukan itu yang terpenting.
Kurasa Babel sangat menyentuh. Ada kesepian di sana. Ketulusan dan kasih sayang. Terasa jauh, tapi mengada.
Juga hati rapuh. Luka mengerati jiwa manusia.
Mengarat. Menggerak-gerakkan daun kering di musim kemarau.
Perlahan. Jatuh. Tersapu angin.
Sendiri.

5 Tanggapan

  1. Salah satu film terbaik yang pernah aku liat.
    Betapa manusia meskipun tidak saling berdekata, tidak saling kenal, tetap saling berkaitan dengan cara yang kita sendiri pun tidak mengerti.
    Sudah nonton le Grand Voyage?

  2. belum. mau minjemin mbak? ada versi ‘murahnya’ gak? aku kalo mau pinjem ke rental selalu ditolak, soalnya gak punya ktp surabaya🙂

  3. lho, emang KTP mana mas?
    Versi DVD 15 ribuan? Belum nemu tuh mas… Paling murah VCDnya 49 ribu😦 kalo DVDnya 59rb

  4. KTP Paris…(y.a.d). sekarang KTP semarang..🙂

  5. komentarku soal film ini:

    Dalam kitab suci diceritakan tentang Menara Babel. Alkisah pada suatu waktu manusia bergotong-royong membangun sebuah menara. Mereka ingin menara ini menjadi tangga menuju ke surga. Perbuatan ini membuat Tuhan marah sehingga Tuhan membuat tiap orang yang ikut membangun menara itu tercerai-berai dan berbicara dalam bahasa berbeda-beda.

    Nonton Babel, kita jadi melihat bahwa bahasa sebenarnya bukan halangan besar bagi manusia untuk saling berkomunikasi. Dalam film ditampilkan orang-orang dari benua yang berbeda bisa berkomunikasi antar satu sama lain. Bahkan seorang gadis yang bisu dan tulipun bisa berkomunikasi dengan segala macam orang. Jadi persoalan hambatan bahasa untuk berkomunikasi sebenarnya bisa diatasi, dan pada akhirnya tidak menjadi persoalan bagi manusia.

    Yang menjadi persoalan adalah keangkuhan manusia yang tidak mau saling mengenal dan saling memahami. Masing-masing orang bersiteguh pada ide dan konsepsi masing-masing. Mereka tidak mau melihat pandangan yang lain, bukan hanya yang bersifat personal, tetapi juga yang bersifat kultural. Hubungan seperti ini terjadi antar negara, antar kawan, antar anak dan orangtua, antar suami dan istri. Tanpa adanya upaya untuk saling memahami maka pihak di luar kita hanya menjadi “the other” sesuatu yang abstrak dan asing.

    Nonton Babel, kita serasa sedang dipersilakan Tuhan menyaksikan manusia dan kehidupan mereka dari sudut padangNya, yakni sudut pandang yang banyak dan berbeda-beda. Kita dicemplungkan di dalam paradoks dan ambiguitas kehidupan. Seperti dua sisi koin yang terpisah namun menyatu. Bahwa manusia berada di tengah keramaian sekaligus dalam kesendirian. Bahwa manusia berbeda-beda sekaligus sama dalam banyak hal. Karena itu ukuran salah dan benar menjadi sangat relatif. Tidak hitam-putih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: