Rakyat Sehat Negara Kuat, Sebuah Mantra?

dr M. Yusuf Suseno

Tulisan ini bukan semata untuk menjawab tulisan Sdr Maria Endang Pergiwati yang berjudul Hak Warga Negara Atas Pelayanan Medis(Surya 9/11), yang merupakan tanggapan atas tulisan saya sebelumnya, Penyebab Askeskin Tak Sakti(Surya 5/11).

Karena sungguh saya sepakat dengan substansi yang disampaikan. Semua warga negara berhak menerima pelayanan medis paripurna. Tak peduli ia menggunakan gakin ataupun tidak. Apalagi saat Pemerintah tengah memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-43 tanggal 12 November dengan tema besarnya, Rakyat Sehat Negara Kuat.

Kemarin saya baru saja beranjak pulang dari rumah sakit saat tiba-tiba langkah dan mata saya terhenti. Seorang perempuan 50-an tahun terduduk di tangga depan ruang rawat inap. Tangannya menggenggam gelisah beberapa lembar resep, dan kadang ditekankannya kertas-kertas itu ke kepalanya. Lantas didekatkannya mata pada lembaran tulisan itu. Tulisan di atas dua lembar resep Askeskin, selain selembar resep umum yang berukuran lebih kecil tapi juga berisi beberapa jenis obat.

Bajunya yang berwarna kusam makin lusuh karena ujungnya berkali-kali terpakai untuk mengusap sudut matanya yang gelap gelisah. Cemas karena tahu, seseorang yang dicintainya tengah menunggunya. Menunggu obat penting berharga mahal yang tak lagi ditanggung Askeskin.

Pemandangan seperti itu sebenarnya tak ingin saya lihat dua hari menjelang peringatan HKN ke-43 berlangsung dengan slogannya yang megah, Rakyat Sehat Negara Kuat. Ngilu hati ini. Sebagai bagian kecil dari sistem kesehatan di Indonesia saya pun merasa malu.

Saya jadi ingin bertanya, apakah tema itu tak termasuk untuk mereka yang sungguh-sungguh miskin? Kalau termasuk, mengapa perempuan itu masih harus menggenggam selembar resep umum yang dipukul-pukulkannya ke kepala? Bagaimana nasib seseorang di dalam rumah sakit yang mesti ditanggung oleh perempuan paruh baya itu? Siapa yang menjamin orang-orang miskin ini akan sehat jika tunggakan Askeskin di rumah sakit belum terbayar hingga mereka harus menangisi obat yang tak terbeli?

Mungkin kita ini memang sudah terlalu banyak berkata-kata. Termasuk dengan tulisan ini. Lantas berkata-kata pun menjadi rutinitas yang menumpulkan. Ritual yang membekukan.

Padahal kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Ia meloncat-loncat dan menari di atas kertas(Sutardji Calzoum Bachri, 1973).

Jika kita yang berkata tak menyadari akan ‘kehidupan’ kata yang kita tulis dan ucapkan, Rakyat Sehat Negara Kuat, adakah ia sebangsa mantra seperti yang dimaksud Sutardji? Kalau begitu mari kita ucapkan berulang-ulang : rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat negara kuat rakyat sehat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: