Mimpi Rakyat Sehat Negara Kuat(Jawa Pos 6/11/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Takjub rasanya melihat beratus orang melakukan jalan sehat bersama, Minggu (4/11), memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 di Surabaya. Latar belakangnya adalah spanduk bertuliskan tema HKN kali ini, Rakyat Sehat Negara Kuat yang terpampang megah. Ritual tiap tahun yang tampak indah.

Sayang, spanduk itu tak berarti apa-apa bagi sebagian besar warga Surabaya. Selain sekadar pemberitahuan kalau hari-hari ini dunia kesehatan Indonesia tengah memperingati sesuatu. Entah apa.

Apalagi bagi seorang lelaki berusia 50 tahun yang ketika itu menemui saya karena mengalami serangan jantung. Sang istri bertanya, “Dok, kami orang miskin, tapi syarat Askeskin Bapak lengkap. Apa Bapak bisa tertolong?”

Saya mengangguk. “Kita akan berusaha semaksimal mungkin Bu,” jawab saya semantap mungkin. Tapi dalam hati saya tahu bahwa memakai fasilitas Askeskin pada hari-hari ini berarti bersedia mendapat obat-obat sangat mendasar. Termasuk untuk serangan jantung, penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Desa Siaga

Ingatan akan kejadian itu terasa pilu di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 ini. Membuat segala basa-basi itu terasa hambar. Mungkin karena saya juga masih ingat dengan tema HKN ke-42 tahun lalu, yakni Melalui Desa Siaga, Rakyat Sehat. Kalau memang tema Rakyat Sehat, Negara Kuat tahun ini adalah kelanjutan tema HKN tahun kemarin, maka yakinkah pemerintah kalau desa siaga itu sungguh sudah terwujud?

Tak sulit mendapatkan jawabannya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengatakan bahwa program desa siaga di wilayahnya baru sampai tingkat pembentukan saja, sedangkan fungsi dan gerakan programnya belum optimal (Jawa Pos, 31/10/07). Sungguh hal yang patut disayangkan. Mengapa? Karena esensi desa siaga ini sebenarnya sangatlah mulia.

Kemuliaannya tercermin dari definisi desa siaga menurut Depkes di bawah ini. Desa siaga adalah suatu desa ideal yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya, kemampuan, serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri. Sungguh sebuah konsep yang sangat ideal.

Tapi jika program menuju desa siaga yang mulia itu belum berfungsi dan bergerak optimal, bukankah ini berarti perwujudan negara kuat masih sangat-sangat jauh, karena bahkan desa siaga sebagai jalan menuju rakyat sehatpun belum tercapai?

Askeskin

Kenyataannya, bukan hanya program desa siaga sebagai usaha promotif dan preventif yang belum terasa gaungnya di Surabaya. Program Askeskin sebagai usaha kuratif pun mengalami hambatan sangat serius. Sebuah rumah sakit di Surabaya bahkan menanggung Rp 51 milyar klaim Askeskin yang belum dibayar. Sebuah hutang yang luar biasa.

Bisa saja dalam beberapa bulan mendatang, rumah sakit-rumah sakit dengan hutang menumpuk itu akan terpaksa makin meminimalisir fasilitas untuk pasien Askeskin. Bahkan bukan tidak mungkin menghentikan pelayanan bagi mereka.

Sebenarnya, langkah-langkah penertiban yang dilakukan Pemerintah Pusat dalam masalah pengadaan obat dan anggaran tidaklah salah. Hal itu perlu sebagai pelajaran agar para pelaksana di lapangan lebih selektif, selain juga lebih efektif dan efisien mengeluarkan uang negara.

Yang saya sungguh tidak setuju adalah penundaan berlama-lama pencairan dana Askeskin, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Seharusnya, para pemegang kebijakan tahu bahwa tiap penundaan berarti akan makin banyak pasien miskin yang tak mendapat terapi yang semestinya. Dan ini berarti akan makin meningkatkan tingkat kematian sebagian rakyat Indonesia, terutama mereka yang sungguh-sungguh miskin.

Pertanda dan Impian

Lantas, darimana impian rakyat sehat itu akan bisa tercapai, jika bahkan Pemerintah membiarkan pembuluh darah jantung rakyatnya tetap tersumbat akibat obat yang tak terbeli? “Belajarlah mengenali pertanda,”kata Melkisedek, si raja bijak di novel The Alchemist-nya Paulo Coelho.

Tidakkah semestinya program desa Siaga yang macet adalah pertanda bahwa konsep yang baik tidak otomatis menjanjikan kerja maksimal? Serta diperlukan evaluasi ulang menyeluruh guna menjawab segudang pertanyaan tentang mengapa kelurahan siaga di Surabaya belum optimal terlaksana?

Tidakkah kekacauan program Askeskin ini juga pertanda, setidaknya agar para pelaku pelayanan kesehatan lebih selektif dalam memilah mereka yang “miskin” dan sungguh-sungguh miskin sekaligus berhemat agar hutang rumah sakit tak melimpah ruah?

Pun juga kematian pasien-pasien di bangsal karena tak mendapat terapi maksimal, bukankah itu juga merupakan pertanda agar pemerintah pusat dan daerah segera mencairkan dana klaim Askeskin untuk rumah sakit di daerah?

Bagaimanapun mustahilnya, sebenarnya saya masih yakin bahwa Rakyat Sehat Negara Kuat sebagai sebuah impian seharusnya bisa kita wujudkan. Tentu kita tak merasa cukup dengan slogan yang terpampang manis di spanduk. Pun juga tak puas dengan ritual tiap tahun yang sering tak sungguh-sungguh kita hayati.

“Karena jika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan bergerak membantu mencapainya,” kata Melkisedek di kesempatan lain. Bukankah ini berarti alam semesta tengah membantu kita mencapai Rakyat Sehat Negara Kuat?

Seharusnya memang demikian. Sayang, alam semesta hanya akan membantu mereka yang yakin dan sigap menangkap pertanda-pertanda, serta berjalan terus tak kenal menyerah. Slogan saja tak pernah cukup. Karena jika hanya berhenti di kata-kata, maka ia bukan lagi impian. Ia hanya sekedar khayalan.

Sebaiknya kita jangan lupa pada kalimat terakhir tokoh Coelho di tepi sungai Piedra, “Impian berarti bekerja.”

M. Yusuf Suseno
Dokter umum, tinggal di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: