Anak Merokok Jangan Diancam(Intisari Mei 2007-setelah setahun menunggu..)

oleh M. Yusuf Suseno

Stop dulu niat itu. Simpan dalam relung hati terdalam dan mulai berpikir jernih. Merokok bukanlah kebiasaan buruk yang datang secara tiba-tiba. Seorang perokok dewasa biasanya sudah mulai mencoba merokok sejak usia muda. Di Amerika Serikat (AS), 90% dari perokok dewasa mulai merokok sejak anak-anak.

Data dari Central for Disease Control AS menunjukkan, satu dari lima remaja SMU yang merokok menyatakan, pertama kali menghisap rokok ketika usianya belum 13 tahun. Bahkan dari sebuah penelitian terungkap, ada yang merokok sebelum menginjak usia delapan tahun! Di AS hampir tiap hari 2.000-an anak usia belasan tahun menjadi perokok.
Memang, data tadi berasal dari AS yang memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa. Okelah, dengan penduduk 200-an juta itu, berarti sekitar 1.000 anak per hari menjadi perokok. Bukankah angka ini cukup mengagetkan? Baca lebih lanjut

Pasien vs Dokter (Jawa Pos 11/5/07-terima kasih pada guruku, dr Jatno..)

oleh dr M. Yusuf Suseno

Apa yang dirasakan oleh seorang pasien saat mengalami efek samping obat dari seorang dokter? Bingung? Marah? Kecewa? Sedih? Hilang rasa percaya? Merasa sendiri?

Lantas, apa yang akan dilakukannya? Meminta penjelasan? Menuntut secara hukum? Ternyata setelah berbagai rasa yang campur aduk disertai ekstra opname di rumah sakit, mengambil langkah hukum adalah pilihan Ibu Lucy dan keluarga.

Sayangnya, mungkin karena merasa sudah tak ada titik temu, dokter Fatimah dan tim RS Pelabuhan Surabaya pun tak tinggal diam. Mereka balik akan menuntut Lucy atas tuduhan pencemaran nama baik.(Jawa Pos 25/4/07)
Semua peristiwa itu memang mencerminkan hubungan pasien-dokter yang unik, rumit, dan complicated. Ia tak bisa disamakan dengan hubungan antara Tukul Arwana sebagai pemilik laptop dan programmernya, dimana ada garansi dan bila perlu install ulang dengan program baru, serta jaminan service gratis selama jangka waktu tertentu. Meskipun pasien juga memberikan uang jasa, persis seperti yang dilakukan Tukul.

Karena tubuh manusia jauh lebih kompleks dari laptop. Baca lebih lanjut

Belajar Menjadi Daun

“Saya lagi nungguin suami Dok,”ujarnya pelan. Wajah manis perempuan duapuluhan tahun itu tampak kusut dengan mata cekung bergurat lelah. Sudah hampir seminggu sang suami, seorang sarjana lulusan perguruan tinggi ternama di Surabaya tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Selain gadis muda itu, sebut saja dia Ida, tak ada seorangpun anggota keluarga lain yang mau menjenguk.
“Saya memang sendiri,” suaranya melirih. Matanya indahnya membasah saat bercerita tentang kondisi suaminya yang tanpa pernah mereka ketahui ternyata telah mencapai tahap akhir perjalanan AIDS.
“Dia baru saja lulus saat kami menikah 2 tahun lalu, dan saya tahu kalau dia bekas pemakai narkoba. Tapi saya mencintainya.” Kalimat terakhir itu membuatnya tersenyum.

Suami Ida tidak sendiri. Ada puluhan pasien AIDS yang juga dirawat di sebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya, dan sebagian besar ada di tahap akhir perjalanan AIDS. “Selama ini suami saya sehat-sehat saja. Badannya memang agak kurus, dan sebulan ini sering sekali diare. Tapi tak ada keluhan lain. Seminggu yang lalu, tiba-tiba dia tak sadarkan diri di kantor, dan dari hasil scanning kepala ternyata ada infeksi toksoplasma di otak. Dokter curiga ia kena HIV. Dan hasil tesnya memang positif.” Bagaimana denganmu Ida? Perempuan 22 tahun ini menjawab dengan napas tertahan,”Saya juga positif.” Baca lebih lanjut

Antibiotika dan Proses Tumbuh Bersama(Jawa Pos 19/2/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Beberapa siang yang lalu saya sempat terlibat perbincangan dengan tiga orang senior saya di kantor IDI Jatim, termasuk di antaranya ketua IDI Jatim dr Pranawa SpPD, KGH. Topiknya cukup menarik, yakni tentang masa depan dokter di Indonesia. Dalam diskusi itu sempat terlontar pernyataan dr Pranawa kalau nasib dokter Indonesia saat ini sangat mengenaskan. Dipojokkan, diikat dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran yang beberapa pasalnya kurang rasional dengan ancaman hukuman sangat berat, bahkan, entah sengaja atau tidak, secara sistematis dilunturkan integritasnya di masyarakat.

Begitu berat beban yang harus ditanggung oleh seorang dokter di Indonesia, hingga muncul pertanyaan ironis dari salah seorang di antara dokter senior tersebut, “Mengapa ya, masih ada yang mau masuk fakultas kedokteran dengan biaya pendidikan yang saat ini juga makin mahal, hanya untuk memikul tanggung jawab sebesar itu, dengan reward yang tidak sebanding dengan risikonya?” Baca lebih lanjut

Serangan Jantung, Setelah Liburan Akhir Tahun Usai(Suara Pembaruan 7/1/07-thanks utk mbak oya..)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Bersyukurlah kalau Anda bisa selamat melewati liburan Natal dan Tahun Baru kemarin. Karena menurut penelitian dokter Philips yang dimuat Circulation 2004 ternyata puncak kematian di Amerika akibat kelainan jantung ada di hari istimewa umat kristiani ini, yakni Natal dan Tahun baru.

Tapi penyebabnya jelas bukan karena semata-mata tanggal 25 Desember dan 1 Januari. Buktinya adalah pola serangan jantung di negara-negara yang berpenduduk muslim. Penelitian dari Kuwait yang dipublikasikan dalam European Journal of Epidemiology bulan Maret 2006 menghasilkan data kalau angka serangan jantung di hari-hari sekitar hari Idul Fitri di sana pun meningkat tajam. Nah, bagaimana dengan liburan akhir tahun 2006 lalu di Indonesia, dimana ada Natal, Idul Adha, dan Tahun Baru? Kalau saja dilakukan pendataan yang baik, mungkin saja terjadi peningkatan serangan jantung di Indonesia.

Pertanyaannya adalah, mengapa justru di saat hari raya dan liburan serangan jantung meningkat? Baca lebih lanjut

Pingsan, Jangan Dianggap Remeh!(SUARA PEMBARUAN 10/12/2006)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Anda pernah pingsan? Hati-hati. Menurut sebuah studi, seseorang yang pernah mengalami episode pingsan memiliki resiko kematian akibat serangan jantung 1,3 kali lipat dari yang tidak pernah pingsan. Sedangkan apabila riwayat pingsan tersebut benar-benar karena kelainan jantung maka peningkatan risiko kematian dalam satu tahun mendatang meningkat 2 kali lipat! Nah, sekarang Anda boleh menebak, kira-kira apa komentar kebanyakan orang ketika mendengar teman sekantor digosipkan pingsan saat hendak berangkat kerja pada pagi hari?

Lima dari 10 orang mengatakan, ia pingsan karena belum sarapan alias lapar, kurang tidur, dan kecapekan. Sebagian yang lain mengira itu hanya taktik untuk mencari perhatian suaminya yang sudah lama pisah ranjang.

Satu orang berpikir bahwa itu akibat salah minum obat tidur. Dua orang terakhir mengatakan kalau itu gejala lemah jantung. Jadi hampir sebagian besar tidak memikirkan kelainan jantung sebagai masalah utama. Bagaimana menurut Anda?

Mungkin memang Andalah yang benar. Lho, kok bisa? Baca lebih lanjut

Flu Burung, Tirulah Resep Thailand(Jawa Pos, 20 Jan 2007)

dr. M. Yusuf Suseno

SUATU sore seorang Ibu dengan wajah gelisah bertanya kepada saya. “Dok, suami saya saat ini bekerja di Jakarta. Padahal Jakarta sedang diserang flu burung. Apa sebaiknya saya meminta dia pindah ke Surabaya? Bukankah Surabaya aman (dari flu burung, Red.)?”

Saya terdiam. Saya bertanya-tanya dalam hati, benarkah Surabaya aman? Siapa yang berani menjamin?

Tak ada yang bisa menjamin keselamatan Anda dari serangan flu burung di kota ini. Saya teringat seorang tetangga baik yang memelihara ayam di sudut gang kami yang sempit. Kotorannya menyebar hingga depan rumah. Sekelompok anak kecil bermain tanah di dekat kandang. Siapa yang akan memastikan kalau mereka mencuci tangan dengan bersih saat pulang nanti? Haruskah kematian datang menjemput lebih dulu dan peti mati dipaku rapat, baru kesadaran tertatih menyusul di belakang bersama barisan pelayat? Baca lebih lanjut